Sajak-Sajak Seno Joko Suyono

Bukit Semut

Siwa menjelma menjadi bukit tandus ini
Agar semut-semut bisa merayap
dan memujaNya di puncak

Suatu hari datang seorang laki-laki
gamang di kaki undakan
Ia membaca aksara-aksara yang tergores di batu
Ia tak mengerti rahasia apa yang tertoreh

Ia hanya tak ingin menoleh
Pada pandita buta yang tengah mandi
Menggosok dakinya
di danau penuh sampah depan gerbang

Bukit semut, kalau rangrang-rangrang itu sampai ke atas
Akankah suara mantram purana terdengar?

Bukit semut, kalau kaki-kaki terpeleset menginjak
Akankah terhitung karma ?

Di undakan ke 200, lelaki itu bersandar sembari menengadah
Jam lima, panorama menetralisir siut angin
Lereng padas merah meredup warnanya
Ia menunggu celah sakramen dibuka

Dan lalu tampak padanya samar sebuah kuil
arca-arca Nandi berderet meringkuk di atas tembok
Bayangan brahmana terpatri menunggu darshan
Altar kosong membeku tanpa lafal

Siwa mengubah diri menjadi tebing kering ini
Kokoh, kuat padat
Menanti lelaki dari jauh itu datang
Untuk meruwat Kaliyuga
Dan mengusapkan abu tinja sapi suci di keningNya

 

Eksil

“Jam 2-4 siang ini tak ada pentasbihan
Anda buka dulu kasut
Dan duduk sabar di samping Dwarapala.”

Berkali-kali datang, penjaga itu mengusirku
Ia mengira aku akan mencuri arca tiga lembu
Yang bertengger di puncak stambha itu

Membungkusnya
Dan menyerahkan kembali
kepada turunan seorang resi yang ada di sabrang

Aku tak pernah putus asa
Berulang kali ia mengucapkan kata dan perintah sama
Aku tak pernah mematuhinya

Semenit pun aku enggan menunggu
Di naungan taring gergasi

Aku akan mengelana
Tapi akan balik tepat
Pada jam dan waktu
Ia biasa menghalangiku masuk

Tak jemu meski beratus-ratus tahun
Ia menolakku, dan sudah bisa mencium
Bau kulitku dari radius kiloan meter
Tak jeri-jeri, meski berkalpa-kalpa ia mengancamku

Aku hanya ingin berkhidmad sebentar di dalam
Menyalakan lilin dan mengucapkan syukur
Pada Ia yang menuliskan
Mitologi penciptaan

 

Di Makam Sri Aurobindo

Bahkan malaikat pun terpekur
Tak kuasa menanggung kesunyian
Mereka yang bersandar pada nisan

Tak ada bunga di pagi itu
Seseorang langsung mendekatkan telunjuknya di bibir
Begitu nafasku terdengar kasar

Rambutnya yang demikian panjang saat wafat
Tak pernah kubayangkan menjadi relik
untuk dibagikan ke berbagai Ashram

Bau laut yang tak jauh dari sini
Menempel di buku-buku yoganya

Beringsut dari keheningan peziarah
Di perpustakaan, aku membolak balik halaman tanpa gambar asana
Tapi bunyi sst pertanda diam pun ada di tiap bab

—-

*Seno Joko Suyono, pernah kuliah di Fak Filsafat UGM, tinggal di Bekasi.