Bayang Bayang Keraton Pada Denyut Pasar Kanoman

Oleh: Bambang Supriadi*

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Pasar Kanoman mulai dipenuhi suara. Bunyi mobil, sepeda motor yang datang dan pergi, percakapan para pedagang yang saling bersahutan, suara roda gerobak yang bergesekan dengan lantai pasar, serta aroma masakan yang perlahan memenuhi udara menjadi penanda bahwa hari baru telah dimulai.

Di antara keramaian itu, orang-orang bergerak dengan tujuan masing-masing. Ada yang datang untuk membeli kebutuhan dapur, ada yang mencari bahan dagangan, ada pula yang sekadar mencari sarapan sebelum memulai pekerjaan. Namun Pasar Kanoman bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Ia adalah ruang tempat di sebuah kota yang menyimpan ingatan dan kebudayaannya.

Pasar Kanoman tumbuh berkelindan dengan sejarah Kota Cirebon. Eksistensinya tak terpisahkan dari berdirinya Keraton Kanoman pada penghujung abad ke tujuh belas, yang lahir dari pembagian kekuasaan di Kesultanan Cirebon pada tahun 1677. Peristiwa perpecahan kekuasaan menjadi dua entitas besar yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, sebagaimana diulas dalam kajian H.J. de Graaf dan T.G. Pigeaud dalam buku Islamic States in Java 1500–1700, menjadi titik balik penting dalam peta sejarah Cirebon.

Hubungan antara keraton dan pasar telah lama terjalin dalam ikatan logistik dan keberkahan. Dahulu, Pasar Kanoman merupakan jantung penyokong kehidupan keluarga sultan. Segala kebutuhan dapur keraton, mulai dari rempah-rempah pilihan, hasil bumi terbaik, hingga bahan untuk jamu tradisi, semuanya dipasok dari pasar ini. Di balik tembok bata merah Keraton Kanoman, sejarah bukan sekadar artefak yang tersimpan di ruang-ruang sunyi museum. Sejarah itu justru hidup dan berdenyut di Pasar Kanoman, sebuah tempat di mana dapur keraton dan keringat rakyat bertemu dalam satu irama yang telah terjaga selama berabad-abad.

Sejarah itu justru hidup dan berdenyut di Pasar Kanoman, sebuah tempat di mana dapur keraton dan keringat rakyat bertemu dalam satu irama yang telah terjaga selama berabad-abad. Pasar ini menjadi jembatan hidup antara kemegahan istana dan realitas perjuangan harian masyarakat Cirebon.

Ada kisah yang diwariskan turun-temurun bahwa para pedagang di sini selalu berusaha memilah bahan terbaik sebagai bentuk pengabdian kepada keluarga Sultan. Bagi mereka, melayani kebutuhan dapur agung keraton adalah sebuah kehormatan. Ada kebanggaan tersendiri saat seorang pedagang tahu bahwa rempah yang mereka jual akan diolah untuk hidangan keluarga keraton maupun suguhan bagi tamu-tamu kehormatan yang datang berkunjung.

Dedikasi menjaga standar ini membentuk reputasi Pasar Kanoman sebagai pusat penyedia bahan unggulan di Cirebon. Hal yang terbangun melalui promosi historis yang tertanam secara bergenerasi. Masyarakat percaya bahwa berbelanja di sana berarti mendapatkan kualitas istimewa. Filosofi “kualitas untuk keraton” tersebut menjadikan pasar ini destinasi utama bagi mereka yang mencari bahan makanan prima dengan standar yang teruji waktu.

Selain keterikatan logistik, terdapat pula narasi tentang hubungan emosional antara pemimpin dan rakyatnya. Kisah yang tak lekang oleh waktu adalah tentang bagaimana para Sultan Kanoman di masa lalu sering berjalan melintasi pasar untuk berinteraksi langsung dengan rakyatnya.

Kehadiran Sultan di pasar bukan bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa denyut ekonomi rakyatnya tetap stabil. Konon, jika harga bahan pokok melambung tinggi dan rakyat mulai kesulitan, Sultan akan turun langsung untuk menenangkan pasar serta memberikan teladan mengenai pentingnya menjaga harmoni sosial. Interaksi ini menciptakan ikatan yang kuat, di mana pasar merasa dipayungi oleh keraton, sementara keraton merasa dihidupi oleh pasar.

Warisan keterkaitan itu masih terasa kental hingga hari ini. Saat acara-acara besar keraton seperti perayaan Maulid, aktifitas di pasar ini menjadi sangat dinamis. Para pedagang berpacu dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan hajatan keraton. Pada momen-momen tersebut, batas antara istana dan rakyat seolah melebur. Pedagang-pedagang kecil yang menjual jajanan pasar maupun bumbu racikan merasa diri mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari kemegahan perhelatan keraton.

Hubungan erat antara Pasar Kanoman dan Keraton Kanoman sesungguhnya telah tertanam jauh ke dalam tata ruang kawasan itu sendiri. Sebagaimana diulas dalam kajian Teritorialitas Keraton Kanoman karya Pandu Adikara Hidayat Nugrahadi dan Franseno Pujianto yang diterbitkan dalam Jurnal Riset Arsitektur (RISA) pada tahun 2020, posisi Pasar Kanoman yang berada di sisi timur kawasan keraton yaitu berdampingan dengan elemen penting lainnya seperti masjid dan alun-alun, menegaskan bahwa pasar ini sejak awal merupakan bagian integral dari kehidupan keraton, bukan sekadar ruang ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Menilik dari jejak sejarahnya, Pasar Kanoman adalah tempat di mana keluarga Sultan dan keluarga pedagang berbagi tanah yang sama, matahari yang sama, dan masa depan yang sama. Pasar bukanlah tempat yang terpisah dari keraton, melainkan lengan panjang keraton yang memeluk rakyatnya. Keberadaan pasar ini menjadi bukti hidup bahwa di Cirebon, sebuah kekuasaan yang agung selalu bersandar pada kerendahan hati serta kesejahteraan masyarakatnya. Pasar Kanoman adalah bukti bahwa denyut nadi kehidupan kota tak pernah benar-benar padam selama rakyat dan penguasa masih berbagi napas sejarah yang sama.

Memasuki masa kolonial Belanda, Pasar Kanoman mengalami perkembangan yang semakin pesat. Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda menata kawasan pasar dan membangun los-los perdagangan yang menjadi salah satu penanda penting kawasan tersebut. Sebagai kota pelabuhan di jalur pantai utara Jawa, Cirebon sejak lama menjadi tempat pertemuan berbagai budaya.  Orang Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, dan berbagai kelompok etnis lainnya hadir dalam denyut perdagangan yang berlangsung di kota ini. Pasar Kanoman menjadi salah satu ruang tempat perjumpaan itu terus berlangsung hingga hari ini.

Pasar Kanoman Era Kolonial Belanda. Olahan Bambang Supriadi

 

Namun sejarah pasar sesungguhnya tidak hanya tersimpan dalam bangunan atau catatan masa lalu. Sejarah juga hidup dalam aktivitas sehari-hari yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Di salah satu sudut pasar, seorang ibu penjual docang sibuk menyiapkan pesanan pembeli. Docang merupakan kuliner khas Cirebon yang dalam narasi tradisi lisan masyarakat, memiliki keterkaitan erat dengan kebiasaan jamuan di lingkungan keraton pada masa lampau. Kuliner ini terdiri dari perpaduan lontong, irisan daun singkong, serta parutan kelapa, yang disajikan hangat dengan kuah kaya rempah. Tangannya bergerak cepat menyusun bahan-bahan ke dalam mangkuk sebelum menyiramnya dengan kuah hangat yang harum.

Tidak jauh dari sana, penjual empal gentong melayani antrean pelanggan yang datang silih berganti sejak pagi. Asap tipis dari tungku bercampur dengan aroma rempah yang menguar ke seluruh penjuru pasar.

Di bagian lain, seorang pedagang laki-laki membolak-balik pepes yang dibungkus daun pisang di atas bara api. Deretan pepes oncom, pepes rajungan, ikan dan berbagai masakan lain yang dibungkus daun pisang berjajar menunggu matang.

Asap yang mengepul tipis seperti menari dan mengambang di udara. Perlahan menghilang, mengusung aroma khas yang bercerita tentang jejak yang menapak sejak masa lalu, dari kakek, ayah, sampai ke dirinya sendiri. Jejak perjalanan serta peristiwa yang juga diketahui oleh pelanggan secara turun temurun.

Kepercayaan yang terjalin selama puluhan tahun ini, yang lebih dari sekadar transaksi dagang, adalah warisan lisan yang terus merawat keaslian rasa dan kehangatan hubungan. Dan kini, perlahan namun pasti, ilmu dan semangat ini terus dijaganya, memastikan nama keluarga dan olahan tradisional yang langka ini terus menghidupi.

Makanan-makanan itu mungkin tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan pengetahuan budaya yang panjang. Cara membungkus makanan dengan daun pisang, penggunaan rempah-rempah lokal, hingga teknik memasak yang diwariskan turun-temurun merupakan bagian dari warisan budaya yang hidup. Pengetahuan semacam ini tidak diajarkan di ruang kelas, melainkan dipelajari melalui praktik sehari-hari yang terus dilakukan selama puluhan tahun.

 

Docang dan Empal Gentong. Olahan Bambang Supriadi

Makanan berbungkus daun pisang yang dibakar. Olahan Bambang Supriadi

Pasar sejatinya adalah panggung kehidupan, bukan sekadar ruang untuk menjual dan membeli dagangan. Di sanalah pengetahuan diwariskan melalui napas yang panjang. Saat seorang bocah beranjak membantu orang tuanya, ia tak sekadar belajar berdagang, namun tengah meresapi rahasia bahan, meracik simfoni rasa, menyelami jiwa para pelanggan, serta merawat nyala api tradisi keluarga agar terus berpijar.

Proses mewariskan tradisi. Olahan Bambang Supriadi

Yang menarik, Pasar Kanoman juga memperlihatkan bagaimana hubungan sosial masih tumbuh di tengah kehidupan modern. Di sini, transaksi tidak selalu berhenti pada pertukaran uang dan barang. Ada percakapan, canda, tawar-menawar, hingga hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun antara pedagang dan pelanggan.

Tidak sedikit pembeli yang datang bukan semata-mata karena harga atau kebutuhan. Mereka datang karena mengenal penjualnya. Mereka datang karena sudah terbiasa membeli di tempat yang sama sejak lama. Ada rasa percaya yang dibangun melalui pertemuan-pertemuan kecil yang berulang untuk kesekian kalinya.

Di tengah menjamurnya minimarket, supermarket, dan aplikasi belanja daring, keberadaan pasar tradisional seperti Kanoman menghadirkan sesuatu yang sulit digantikan. Pasar menawarkan pengalaman manusiawi yang tidak dapat ditemukan dalam transaksi digital. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga untuk bertemu, berbincang, dan merasakan suasana yang menjadi bagian dari kehidupan kota.

Mungkin karena itulah pasar tradisional tetap bertahan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi rakyat, tetapi juga sebagai ruang sosial dan ruang budaya. Di sinilah masyarakat berinteraksi, bertukar informasi, dan menjaga hubungan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Di bawah bayang-bayang Keraton Kanoman, pasar ini terus menjalankan perannya. Keraton menyimpan sejarah para sultan dan perjalanan panjang Cirebon sebagai pusat kekuasaan. Sementara itu, pasar menyimpan sejarah yang berbeda: sejarah orang-orang biasa yang setiap hari bekerja, memasak, berdagang, dan menghidupi keluarganya.

Barangkali di situlah makna penting Pasar Kanoman berada. Ia bukan sekadar kumpulan kios dan lapak dagangan. Ia adalah ruang tempat kebudayaan hidup dalam bentuknya yang paling nyata. Dalam aroma empal gentong yang mengepul, dalam pepes yang dipanggang di atas bara, dalam percakapan antara penjual dan pembeli, serta dalam langkah-langkah orang yang terus berdatangan sejak pagi.

Selama suara-suara pasar itu masih terdengar dan tradisi-tradisi kecil itu masih dijalankan, Pasar Kanoman akan tetap menjadi salah satu penjaga ingatan Kota Cirebon. Sebuah ruang budaya yang terus hidup, tumbuh, dan bertahan di tengah perubahan zaman.

—-
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.