Perbincangan atas Tembok

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Komik gubahan Jan Mintaraga (1942-1999) yang belum tamat, adalah komik Jan paling unik, karena proses terputus-putus dan kehadirannya dalam berbagai format, bagai representasi budaya urban yang selalu berubah itu sendiri.
—–

Rangkaian naratif Tembok terselidiki dalam dua bagian. Tembok 1 dan Tembok 2 adalah bagian dari 38 komik roman Jan Mintaraga yang menjadi bahan riset risalah “In the Mood of Urban Culture” pada 2018, menggunakan konsep dan metode Martin Barker dalam buku Comics, Ideology and Power (1989). Sedangkan Tembok 3 adalah bagian dari 37 komik roman Jan tambahan, yang di bawah judul “Dalam Gairah Berkelanjutan” diperbincangkan dalam bentuk esai–untuk keduanya, perbincangan setiap judul sama-sama diawali sinopsis. 

Kedua bentuk survai atas Tembok ini akan tetap terpisah, apabila kedua survai itu kelak terbit dalam satu judul Dalam Gairah Urban, yang berarti hanya di sinilah keduanya hadir berurutan. 

Berhubung risalah tahun 2018 ditulis dalam bahasa Inggris, perbincangan Tembok 1 & 2  di sini adalah terjemahan Landung Simatupang, sedangkan tentang Tembok 3  tertulis langsung dalam bahasa Indonesia. Mohon maklum.

Tembok 1 (1969)                    Tembok 2 (1970-1)               Tembok 3 (1971-2)

Tembok 1 (64/1969);
Tembok 2 (bersambung dalam 16 bagian /1970-71)

Kedua himpunan gubahan ini membentuk satu alur yang berkelanjutan. Tembok 1 berawal dengan situasi di rumah mewah keluarga Burhan, tempat si anak sulung, Hendra, karena lama sakit tidak dapat mengikuti ujian akhir Sekolah Menengah, sehingga harus tinggal kelas dan tersusul oleh Fajar, adiknya yang semula kelasnya di bawah Hendra. 

Adegan pembuka menampilkan bagaimana Burhan menekan Hendra untuk belajar keras, yang aneh bagi Hendra karena sakitnya bukanlah kesalahannya. Meski begitu, Hendra berjanji akan belajar sekuat tenaga untuk mengejar ketinggalan. Kemudian waktu Judi, sobat terbaiknya, membawanya ke sebuah konser musik klasik suatu malam, Hendra berjumpa seorang gadis yang kebetulan duduk di sebelahnya. 

Benarkah penonton konser harus berdasi? Gambaran 1969.

Pulang ke rumah kemalaman, Hendra ditegur ayahnya karena lagi-lagi keluar rumah tanpa minta izinnya. Sementara itu, Fajar belum pulang. Waktu Fajar pulang mereka bertengkar dan Burhan, menurut Hendra, selalu memihak Fajar. 

Konflik yang akan berkembang fatal pada Tembok 2.

Pada hari pertama masuk sekolah, dia bertubrukan dengan gadis yang dijumpainya di konser itu, dan buku-buku mereka jatuh. Sesudah berkenalan, ternyata mereka berdua berada di kelas yang sama. Namanya Meta. Waktu Pak Guru Anwar memulai pelajaran, Fajar mengingatkan Pak Anwar bahwa di kelas itu ada satu veteran. 

Meta dan Hendra berjalan berdua seusai sekolah, dan Hendra tinggal sebentar selagi Meta mengenalkan Hendra kepada ibunya. 

Kemudian, di rumah Hendra  bertengkar dengan Fajar, karena Fajar mempermalukan Hendra pagi itu di kelas, yang berakhir dengan Hendra memukul Fajar, sesudah Fajar mengatakan Hendra gelandangan. Saat itu Burhan menengahi. (BERSAMBUNG).

Akhir Tembok 1 (kiri) dan awal Tembok 2 (kanan)

Bagian kedua diawali dengan lanjutan pertengkaran. Kali ini pun Hendra merasa bahwa Burhan memihak Fajar, dan itu tidak adil. Namun  dibiarkannya saja hal itu, dan dia merasa damai tiap kali berjumpa Meta. Kemudian keluarga Arifin tiba kembali setelah bertahun-tahun mukim di Amerika Serikat dengan anak perempuan mereka, Peggy, yang boleh dikata sudah ‘menjadi Amerika’. Kedua keluarga ini tampak begitu akrab, dan itu hendak didekatkan lagi dengan perkawinan Peggy dengan Fajar. Ternyata Peggy tertarik dengan Hendra dan dengan agresif berusaha menarik perhatian Hendra, dan ini terkadang membuat Meta cemburu; tapi jelas menjadikan Fajar lebih cemburu lagi. Di pesta ulang tahun Fajar, Peggy masuk ke kamar Hendra dan boleh dikata merayu dan mencoba menjebaknya. 

Titik yang mengawali beralihnya Hendra, dari dunia kelas atas ke dunia kelas bawah

Saat itu Fajar membuka pintu kamar dan melihat apa yang sedang diperbuat Peggy. Waktu Hendra dan Peggy keluar, Fajar mengumumkan kepada tamu-tamu pesta itu, bahwa ada gelandangan yang mencoba mencuri tunangannya. 

Waktu Hendra menanyakan apa yang barusan dikatakannya, Fajar berkata bahwa Hendra sebenarnya anak pungut. Ini punya dampak psikologis sangat parah atas Hendra. Lalu Hendra berkali-kali memukul Fajar dan pergi diikuti Peggy. 

Setelah halaman-halaman ini, peran Hendra tak pernah kembali ke dunia kelas atas. Panil terakhir adalah ikon komik roman Jan (diperbesar).

“Night walker”: lelaki urban mengembarai malam.

Saat sedang ngeluyur di jalanan malam-malam, Hendra dijemput Peggy yang sudah mengetahui status Hendra dalam keluarganya, dan memberitahu Hendra karena berpikir tak ada gunanya terus merahasiakannya. Ya, Hendra diadopsi sebelum keluarga Burhan punya keturunan, dan waktu Burhan hendak mengembalikan Hendra ke rumah yatim-piatu setelah Fajar lahir, Arifin melarangnya. Hendra merasa mungkin dia hanyalah anak haram. Sesudah itu, dalam mobil Hendra menantang Peggy untuk ngebut, yang dituruti oleh Peggy untuk meringankan beban Hendra. 

Di tengah jalan raya Hendra melompat keluar, seperti tindakan bunuh diri. Namun dia masih hidup dan dibawa Peggy ke rumahnya, rumah keluarga Arifin. Dengan keadaan yang menjadi makin serius, Arifin berpikir untuk menghubungi Burhan, tetapi Peggy melihat Hendra menghilang dari kamar. 

Setelah usaha bunuh diri keduanya gagal, Hendra siuman di rumah Pak Parta, sopir truk, tempatnya tinggal sampai akhir Tembok yang belum tamat.

Membawa luka di hatinya, Hendra keluar rumah lagi merasuk gelap malam. Dia tidak dapat berpikir jernih, dan sekali lagi mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke depan truk yang melaju kencang. Lagi-lagi dia selamat.           

Dia terbangun di rumah sederhana tempat tinggal sopir truk itu. Di rumah itu ada Niah, anak perempuan sang sopir truk. Ia mendengar dan melihat semuanya, tanpa diketahui Hendra, bahwa Hendra ingin pergi dan Pak Parta, nama sopir truk itu, membolehkannya. 

Hendra pun pergi, meski tak tahu mau pergi ke mana tanpa uang sepeserpun. Di dalam bis dia tidak bisa membayar karcis, dan hampir berkelahi dengan kondektur, tapi Niah muncul dan membayar karcis Hendra. Mereka berdua kembali ke rumah orang tua Niah, dan untuk beberapa hari Hendra tinggal di situ. 

Hendra di rumah Pak Parta dan hari-hari keras kehidupannya sebagai sopir truk di Pelabuhan.

Suatu hari dia menggantikan kerja Pak Parta sebagai sopir truk di pelabuhan. Truknya ditabrak truk lain, dan Hendra pun berkelahi dengan Bonar pengemudi truk yang menabraknya. Sesudah Hendra mempecundang Bonar, semua sopir truk berkerumun memukulinya hingga Hendra pingsan. 

Adegan terakhir Tembok 2 di Eres No.16, yang setelah itu tidak terbit lagi.

Dia terbangun di rumah Pak Parta lagi, dirawat Niah yang mendengarnya mengigau dan menyebut nama Meta. 

Hendra dan Niah menjadi makin dekat sampai suatu hari mereka berpelukan. Hendra merasa bersalah dan merasa bahwa dia tak pantas melakukannya, tapi Niah berkata ia mencintai Hendra. (BERSAMBUNG). 

Catatan:

Latar: Latar di bagian pertama semuanya adalah interior dan eksterior rumah-rumah keluarga kaya, sekolah, gedung konser, tempat para peran utama, Meta dan Hendra, bertemu. Ada pula jalan-jalan kosong di kompleks perumahan itu. Semua desain itu modern, bahkan ada yang disebut ‘modern’ secara eksplisit. Dalam bagian pertama, latar semacam ini menjadi representasi kaum kaya, generasi muda kelompok elite sosial yang punya segala gaya mutakhir masa itu. 

Latar Tembok 1, representasi orang kaya.

Dalam bagian kedua, lingkungan kampung miskin dan situasi keras di pelabuhan menjadi representasi kaum tak-berpunya yang terbiasa dengan kekerasan di luar rumah, sedangkan di dalam rumah, orang muda dan kaum miskin di kota urban itu hanya memikirkan diri sendiri.

Dunia sopir truk Hendra

Lingkungan urban miskin di sekitar Hendra

Pemungkin cerita: Untuk keseluruhan cerita, bagian pertama hanyalah semacam pengantar, atau pembukaan sehingga pemungkin cerita baru tampil di bagian kedua, seperti ketika Meta melihat perbuatan Peggy pada Hendra. Kecemburuan Meta menaikkan tegangan. 

Kecemburuan yang menaikkan tegangan

Penanda tema: Ini muncul waktu Fajar membukakan fakta tentang Hendra di hadapan orang banyak, yang mengobarkan amarah Hendra sampai dia memukul Fajar dan meninggalkan rumah. Sesudah itu, momen demi momen menanjak makin tinggi dengan dua percobaan bunuh diri Hendra.

Fajar mengungkap fakta bahwa Hendra anak pungut di depan orang banyak.

Fokus emosional: Sesudah momen-momen tenang di bagian yang menampilkan keadaan di rumah Pak Parta, dan sekilas kekerasan dengan para sopir truk, Hendra dan Niah tampil dalam adegan-adegan romantis yang sulit, terutama ketika di panel terakhir Niah mengakui perasaannya terhadap Hendra. 

Keserbaraguan di dunia kumuh

Pembermaknaan: Judul Tembok mencerminkan gagasan bahwa ada dinding, tembok di hati dan alam pikiran Hendra yang membuat dia merasa kehidupannya bagaikan dalam kerangkeng, yaitu dunia tempat nilai-nilai standar yang dominan tak memberinya ruang untuk mengada. Bahwa standar yang abstrak itu melahirkan semacam ritus dan gestur sosial dalam alur cerita, meminggirkan peran utama yaitu Hendra sampai ingin menghilangkan dirinya sendiri dari dunia, seakan sudah tak ada alternatif yang lebih baik. Namun tampaknya seakan Hendra mulai mengetahui bahwa ada dunia lain, yang ternyata adalah golongan sosial kelas bawah tempat keluarga Pak Parta menampung dan merawatnya, tanpa mengharap ganjaran imbalan di waktu mendatang.

Tembok 3 (30 / 1971-2 )    

Akhir jilid kedua adalah pernyataan cinta Niah kepada Hendra. Adegan ini masih berlanjut dengan dialog panjang Niah dan Hendra, yang bersumber kepada keraguan Hendra untuk berhubungan dengan Niah, meski perasaannya pun sama. Keraguan itu disebabkan kedudukannya di keluarga Pak Parta sebagai orang yang ditampung. Betapapun, akhirnya mereka berciuman jua, beberapa saat sebelum Bapak dan Ibu Parta pulang kondangan.

Dialog tentang jodoh dan modernitas di kampung urban

Dialog berlanjut, antara Parta dan Hendra, semula dengan bahasa tak langsung, bahwa Niah sudah menjatuhkan pilihan tentang siapa jodohnya, dan kemudian Pak Parta menyatakan bahwa pilihannya adalah Hendra—dan Niah yang menguping dari kamar juga mendengarnya.

Saat topik perbincangan berganti, Hendra bertanya tentang seseorang yang dijumpainya malam-malam di kampung, yakni orang yang tak ramah; ternyata menurut Pak Parta orang itu ‘berilmu’. Maka Hendra pun mendatanginya untuk berguru. Orang itu, Juyiro Terasaki, pernah diperalat oleh penyelundup di Jepang untuk menjadi tukang pukulnya, dan tertangkap serta dihukum penjara di Indonesia. Risiko memiliki ilmu adalah ditakuti, bukan dihormati; dan memiliki ilmu juga mendorong seseorang ingin jadi jagoan—ini kata Juyiro. Namun Hendra bertekad membatasi tindakannya. 

Sebetulnya menurut Juyiro, “Itu sulit ditepati,” tetapi ia tetap bersedia mengajar Hendra—dan begitulah, sejak saat itu merekapun berlatih ilmu bela diri. Kepergiannya setiap siang, dan kemudian malam, membuat Niah curiga, meski Hendra telah memintanya untuk percaya. Pada suatu malam Niah membuntutinya dan kepergok. Itulah malam ketika Juyiro menyatakan bahwa pelajaran Hendra, jika untuk menjaga diri, sudah cukup—walau Hendra ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

Niah, yang akhirnya mengetahui Hendra bukannya pergi ‘mengurus pekerjaan’ bisa mengerti maksud Hendra berguru kepada Juyiro. Hendra harus mencari pekerjaan, yang jalan terdekatnya adalah melalui Pak Parta, kalau dulu kernet, sekarang mungkin boleh sopir. Tepatnya sopir truk, di wilayah Tanjung Priuk yang panas dan penuh kekerasan, seperti telah dialaminya dengan kawanan Bonar yang mengeroyoknya.

Mereka bahkan bersua kawanan itu saat berjalan pulang, bersilang kata, meski tidak berlanjut. Kejadian yang lebih serius berlangsung kemudian, setelah Hendra memang bekerja sebagai sopir truk, yang kadang bertugas keluar kota sampai dua minggu. Suatu ketika Niah pulang dengan terhisak, karena kawanan Bonar mencegatnya sepulang sekolah, membawanya ke sebuah ruang kosong. Namun Niah berhasil melarikan diri.

Hendra yang mengaku ‘gengsinya tersinggung’ mencari Bonar dan bermaksud menghajarnya. Hendra menemukan Bonar dan kawan-kawannya, dan segera bersilang kata-kata yang keras (Bersambung). Akhir terbuka.

Halaman terakhir Tembok 3, belum tamat dan tidak pernah bersambung lagi.

Catatan: 

Tembok jilid 1 dan 2 sudah saya perbincangkan sebelumnya, dan ternyata masih ada jilid ketiga, itu pun belum tamat—membuat gubahan Jan Mintaraga yang satu ini menjadi sangat khusus. 

Pertama adalah soal format. Tembok 1 ukurannya 14 x 20 cm, dengan tebal 64 halaman, sesuai format standar komik Indonesia pada umumnya masa itu. Sambungannya, Tembok 2 ditempatkan dalam format bersambung pada Majalah Eres, setiap kali antara 10 sampai 12 halaman, dengan ukuran 15 x 23 cm, yang terbit bulanan—tapi hanya sampai 16 kali sahaja. Sedangkan Tembok 3, meskipun terbit sebagai buku komik, masih mempertahankan format majalah, walau ukuran berkurang menjadi 15 x 22 cm, dengan ketebalan 30 halaman.

Sejak Eres No.4, ekspresi kemurungan mulai menyentuh peran Hendra, perhatikan juga fashion busana peran Meta.

Kedua adalah soal gaya. Tembok 1, dari halaman satu sampai terakhir, sebagaimana pendekatan realisme, secara konsisten digambar dengan gaya tertentu, yang masih terjaga pada awal seri Tembok 2, tapi lambat laun berubah sejak seri ke-4. 

Majalah komik Eres No 5, 10, 15 — 1970-1971. Eres berhenti terbit setelah edisi No. 16.

Dalam proses kreatif seorang penggubah, perubahan gaya adalah mungkin, baik dalam perjalanan waktu, maupun karena perbedaan tematik yang dihadapinya—dan dalam Tembok 2 keduanya bekerja: 

pertama, Majalah Eres adalah media bulanan, sehingga dari seri ke-1 ke seri ke-5 terdapat jarak waktu empat bulan, yang jika tidak digarap sekaligus, melainkan tiap seri digarap menjelang majalahnya terbit, dapat terlihat terdapatnya perubahan gaya, terutama jika seri ke-1 dibandingkan seri ke-5;     

kedua, perkembangan tematik, bahwa kehidupan Hendra memasuki kenyataan yang muram baginya, dengan pernyataan Fajar bahwa dia anak pungut, meski ada kalanya dia merasa begitu, menghempaskannya dengan keras, sehingga keseimbangan jiwanya terguncang: dalam semalam dua kali ia mencoba bunuh diri—dan kegelapan jiwa ini tergambarkan dengan memadai.

Sosok Hendra dalam Tembok 1 dan awal Tembok 2 ini gambarnya masih segaya …

… sebelum berubah mengikuti alur dramatik …

… yang kemudian menjadi tetap …

…. untuk berubah gaya …

… dan menetap seterusnya

Evolusi gaya gambar peran Hendra dalam Tembok, 1969-1972

Namun perubahan gaya ini berlanjut, bukan sekadar mengikuti kebutuhan dramatik dari perkembangan tema, melainkan juga seperti demi perkembangan gaya itu sendiri, betapapun tentunya dengan kesadaran, bahwa gaya ini sudah meninggalkan pendekatan yang diterapkan pada Tembok 1. Secara teoretis, mengikuti prinsip konsistensi dalam koherensi realisme, sangat mungkin ini tidak (biasanya) dilakukan—tetapi Jan Mintaraga jelas membebaskan diri dari kelaziman realisme semacam itu.

Ketiga adalah interupsi genre silat. Seperti bisa diikuti, Tembok 3 dari awal memang tampak seperti sambungan Tembok 2, bahkan terdapat judul yang berfungsi sebagai splash (halaman judul) sesuai untuk pemuatan di majalah, bukan buku, sampai dua kali—seolah dipersiapkan untuk dimuat di majalah Eres sampai dua edisi ke depan. 

Dua splash berformat majalah dalam Tembok 3

Masalahnya, jika memang demikian, mengapa Eres No. 17 yang tidak pernah terbit itu hanya mendapat 5 halaman, yang biasanya antara 10-12 halaman, karena pada halaman ke-6 sudah muncul splash berikutnya, seolah sudah beralih ke Eres No. 18 ? Jawabannya sendiri memang tidak terlalu penting. 

Setelah ini tiada lagi splash sampai Tembok 3 berakhir, seperti penggubah sudah mempersiapkannya, atau tetap berniat melanjutkannya dengan meneruskan format—yang terlanjur berformat—majalah. Namun cerita belum tamat.

Perubahan gaya yang dilakukan pada Tembok 2 berlanjut meski tanpa perubahan lagi, tetapi terdapat interupsi dari genre komik silat, ketika dikisahkan Hendra berguru kepada Juyiro Terasaki.

Gambar yang identik dengan genre komik silat

Sekuen seperti ini merupakan interupsi bagi komik roman

Disebut interupsi, yakni sekuen latihan bela diri Hendra dan gurunya di tepi pantai, tetapi interupsi ini bersifat hibrida karena mengubah genre komik roman tempatnya menetap: seusai sekuen itu, suatu potensi hibrid terdapat dalam naratif peran Hendra, dalam konteks kemungkinan menghadapi kawanan Bonar. 

Jika kekerasan dalam dunia urban, perkelahian remaja sampai motif kriminal (jika tidak berkembang menjadi misteri), masih sahih terdapat dalam genre komik roman, latihan bela diri a la pendekar silat adalah suatu cangkokan pada genre tersebut. Tidak perlu sekuen latihan jika nanti tidak digunakan bukan? Saat jurus-jurus silat itu nanti dikeluarkan, ada kemungkinan genre komik roman ini terinterupsi semakin banyak.

Namun Tembok 4 tidak pernah terbit. Entahlah jika terdapat manuskrip atau art work yang masih bisa ditemukan—tetapi yang akan menjadi isi Tembok 4 sudah menjadi promosi di balik halaman terakhir Tembok 3 seperti berikut: 

Dari teks ini terdapat sejumlah pedoman bagi Tembok 4. Dapat dikutip kembali dalam Ejaan yang Disempurnakan :

Apakah yang akan terjadi antara Hendra dengan Bonar? Suatu perkelahian yang menentukan untuk mendapatkan Niah!
Tetapi sesuatu yang tragis menimpa diri Niah. Dia mati terbunuh justru pada saat pengantin barunya. Siapakah pembunuhnya?

Dengan pedoman seperti ini, apakah terlalu keliru jika diandaikan Bonar bertarung melawan Hendra (barangkali satu lawan satu, karena soal Niah; bukan kekuasaan, sehingga perlu dikeroyok, seperti ketika di Pelabuhan), dan dimenangkan Hendra—meski tak jelas bagaimana nasib Bonar.

Niah sampai ke pelaminan tentunya bersama Hendra. Jika kemudian Niah terbunuh, mungkinkah terhubungkan dengan (kematian) Bonar, mungkinkah sasarannya adalah Hendra?

Teks yang selanjutnya tidak terlalu memberi pedoman:

Apakah Hendra tetap dapat bertahan dalam “HIDUP BAIK” ? Tidak! Ia akan terperosok jauh ke lembah hitam. Bagaimanakah ini sampai terjadi? 

Ikutilah terus kisah seorang manusia yang berjuang untuk hidup! Bagaimana akhirnya? 

Bagaimana pula dengan Peggy, Meta, dan yang lain-lainnya? 

Ikutilah jilid yang akan datang! Jilid terakhir dari TEMBOK ………… Bagian terakhir !!!!!!

 

Untuk berspekulasi, jika lembah hitam menjadi kata ganti dunia kejahatan, mungkinkah Hendra menggantikan Bonar? Jika sempat ditahan, bahkan dihukum penjara karena membunuh Bonar, mungkinkah dari sana jalan masuk Hendra ke lembah hitam itu? Namun tidakkah Hendra sempat menikah dengan Niah? Apabila kata ‘siapakah pembunuhnya’ perlu ditulis dalam promosi itu, mungkinkah terdapat twist, bahwa Hendra yang tak sengaja membunuhnya dalam kekacauan aksi pembalasan kawanan Bonar? Peluru nyasar tentu lebih wajar, tetapi siapa pembunuhnya menjadi tidak begitu penting untuk menimbulkan penasaran, dibanding peran yang mustahil membunuhnya dengan sengaja.

Tentang ‘bagaimana akhirnya’ cerita, jika Hendra kehilangan Niah yang terbunuh, masih adakah alasan untuk membuat cerita berakhir bahagia? Gambar yang bisa dibayangkan tentu Hendra berlutut dengan kepala tertunduk di pusara Niah. Tidakkah terlalu kejam bagi Niah jika Hendra bertemu kembali dengan Meta? Mungkin saja dalam mimpi Niah merestuinya, karena adalah Meta yang membuat Hendra mampu meninggalkan dunia kejahatan. Akan halnya Peggy, seperti sudah tersarankan dalam Tembok 2, dia menemukan jodohnya.

Adapun ‘dan yang lain-lainnya’ tinggal Fajar yang relevan muncul kembali. Karakternya membuat dia tidak mendapat jodoh, menghabiskan kekayaan orangtua untuk membeli cinta, dan selalu tertipu cinta semu—bisa juga suatu kali menjadi korban kawanan Bonar, yang sudah digantikan Hendra, tapi tidak menyadarinya. Peristiwa inilah yang nantinya mempertemukan Hendra dengan Meta.

Ini semua tentu hanyalah spekulasi—tetapi spekulasi berdasarkan kemungkinan yang bisa diterima, berdasarkan pedoman yang diberikan teks promosi. Dengan kata lain, ternyata Tembok 3 belum terputus, dan selama tidak ada Tembok 4 yang terbit sebagai gubahan Jan Mintaraga, spekulasi manapun, selama merujuk kepada teks promosi tersebut, belum bisa dibuktikan salah—meskipun jika terdapat banyak versi. 

Inilah yang menarik dari Tembok, meski belum tamat, materi yang terdapat pada Tembok 1, 2, 3 dan teks promosi Tembok 4 bisa digali untuk menyusun berbagai kemungkinan bagi Tembok 4 sampai tamat. 

Tembok 3 tebalnya hanya 30 halaman, rasanya terlalu padat jika bagi segala kemungkinan Tembok 4 tadi hanya tersedia 30 halaman juga.

***

Sebegitu jauh, Tembok menjadi gubahan Jan Mintaraga yang paling unik. Dimulai dengan lancar dan ringan pada Tembok 1, dengan format komik biasa; penuh konflik dramatik dan terasa menekan, dalam ruang luas yang kadang hadir spektakuler, tapi terputus-putus sebagai seri dalam majalah selama 16 bulan pada Tembok 2; menjadi lebih tenang, damai, meski tetap prihatin, dengan gaya penggambaran sangat urban, dalam buku berformat majalah pada Tembok 3. Sementara teks promosi memberi janji alur memikat, yang kembali penuh konflik dramatik, dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga, tetapi yang pemenuhan janjinya musti digubah oleh spekulasi pembaca sendiri.

Tembok tidak berhenti sebagai komik roman remaja urban, yang berurusan dengan sukses tidaknya hubungan romantik suatu pasangan, atau calon pasangan, melainkan risiko paling fatal dari hubungan-hubungan tersebut. Suatu drama dari kemungkinan hidup yang akut. Tentu lebih tepat komik drama, dengan melankoli gelap yang tidak memanjakan remaja.

Sangat menarik untuk mengikuti peran Hendra yang mulai merasa dianaktirikan, tetapi masih menikmati fasilitas keluarga Burhan, pada Tembok 1; menanggapi kenyataan sebagai anak pungut secara fatalistik, seperti dua kali bunuh diri dalam semalam itu, seolah dicintai dua gadis sekaligus tidak ada artinya, dalam latar gaya hidup urban yang elitis, pada Tembok 2; yang mendapatkan perimbangan ketenangan reflektif, justru dalam latar kehidupan urban di kampung, yang miskin dan keras, pada Tembok 3—dengan nuansa penggambaran yang sungguh me-nyata-kannya tanpa kehilangan sentuhan budaya-populer.

Tembok adalah penggambaran tembok-tembok sosial dalam sebuah keluarga, merasuk sebagai tembok-tembok kejiwaan seorang muda, yang terus-menerus berjuang melampauinya, dalam gubahan cerita-gambar yang tidak pernah tamat—dan karenanya terus-menerus dapat disambung, tanpa kewajiban mengakhirinya sama sekali, bagaikan tiada tembok yang akan bisa menghalanginya.

Naratif visual berpendalaman

Tampak sebagai bacaan remaja yang masih ringan dan bersih dalam Tembok 1, kehidupan urban memperlihatkan sisi gelap dan lusuh pada Tembok 2 dan Tembok 3, ketika ruang keluarga tak terhindar dari perubahan, yang artinya mengubah segala sesuatunya tanpa pandang bulu, ke arah yang tidak selalu lebih baik–dengan naratif visual berpendalaman dan semakin matang.

Mode busana menjadi penanda urban yang dimungkinkan oleh perubahan politik dan kebijakan ekonomi pasca-Orde Baru.

Tembok ini adalah satu dari 74 komik roman Jan Mintaraga yang saya tengok, untuk mengikuti bagaimana kebudayaan urban tumbuh sejak awal masa Orde Baru, dalam perubahan politik dan kebijakan ekonomi Indonesia yang membentuk dan melahirkan kehidupan sosial perkotaan, sebagaimana terbaca dari komik-komik roman itu, dengan tahun terbit merentang dari 1965-1994. 

Dengan pengamatan berbagai gejala yang terungkap dari komik-komik roman tersebut, suatu proses pergulatan antarwacana dapat dipelajari, demi pertimbangan atas berbagai perubahan yang berlangsung pada masa kini dan masa mendatang–seperti yang menjadi isi buku Dalam Gairah Urban: Komik Roman Jan Mintaraga (1942-1999). 

  —-              

*SENO GUMIRA AJIDARMA. Partikelir di Jakarta.