Seni Pertunjukan dan Politik Kehadiran
Oleh: Purnawan Andra*
Setiap Kamis, sekelompok orang berpakaian hitam berdiri diam di depan Istana Negara. Mereka tidak banyak berorasi, tidak keras meneriakkan slogan, suasananya bahkan nyaris seperti tidak banyak yang berbicara. Yang terutama mereka lakukan hanya berdiri sambil memegang payung hitam dan foto orang-orang terdekat mereka yang hilang hingga kini.
Di tempat lain, beberapa waktu lalu, para petani Kendeng memilih mengecor kaki mereka sendiri sebagai bentuk penolakan terhadap penambangan pegunungan karst yang mengancam ruang hidup mereka. Di ruang seni, performance artist Indonesia, Melati Suryodarmo, berulang kali menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghadirkan pengalaman tentang daya tahan, kegagalan, dan keterbatasan manusia.
Aksi-aksi itu tidak menawarkan argumentasi yang panjang. Tidak pula menyajikan data statistik atau analisis kebijakan. Namun justru karena itulah ia bertahan lebih lama dalam ingatan publik dibanding ribuan pernyataan politik yang setiap hari memenuhi media sosial.
Mengapa? Barangkali karena tubuh memiliki kemampuan yang tidak dimiliki kata-kata. Tapi karena tubuh menghadirkan kenyataan.
Kenyataan
Hari ini Indonesia tidak kekurangan kritik. Setiap hari ruang digital dipenuhi komentar tentang korupsi, konflik agraria, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga berbagai persoalan demokrasi. Podcast, video pendek, utas media sosial, hingga diskusi publik terus memproduksi penjelasan. Kita hidup dalam zaman ketika informasi mengalir tanpa henti.
Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita terima, semakin pendek pula perhatian kita. Tragedi datang silih berganti sebelum sempat kita cerna. Satu kasus belum selesai dipahami, sudah muncul kasus lain yang merebut perhatian. Kita mengetahui semakin banyak persoalan, tetapi semakin sulit merasakan kedalaman persoalan itu sendiri.
Inilah paradoks masyarakat digital. Yang kita alami bukan lagi kelangkaan informasi, tapi banjir informasi. Korupsi hadir sebagai angka kerugian negara. Konflik agraria hadir sebagai data hektare lahan yang diperebutkan. Kerusakan hutan hadir sebagai grafik deforestasi. Bahkan kemiskinan dan penggusuran sering kali berhenti sebagai statistik yang lewat di layar telepon genggam. Semua diketahui, tetapi tidak sungguh-sungguh dihadirkan.
Karena itu, persoalan bangsa hari ini bukan semata-mata kurangnya pengetahuan. Kita tahu bahwa ketimpangan masih terjadi. Kita tahu bahwa ruang hidup masyarakat adat terus menyusut. Kita tahu bahwa krisis ekologis semakin mengkhawatirkan.
Tetapi mengetahui tidak selalu melahirkan kepekaan. Pengetahuan yang terus-menerus hadir sebagai informasi justru dapat berubah menjadi kebiasaan. Kita perlahan terbiasa melihat penderitaan sebagai bagian dari arus berita sehari-hari.
Relevansi
Di sinilah seni pertunjukan menemukan kembali relevansinya.
Belakangan ini, polemik mengenai ArtJog, kritik terhadap kedekatan ruang seni dengan kekuasaan, hingga munculnya istilah art washing menunjukkan bahwa publik sesungguhnya masih menaruh harapan besar kepada dunia seni.
Perdebatan itu memang berangkat dari peristiwa yang spesifik. Tapi yang dipertaruhkan sebenarnya jauh lebih besar daripada sebuah pameran atau seorang tokoh.
Yang dipersoalkan adalah fungsi sosial seni. Masihkah seni menjadi ruang yang menghadirkan kenyataan secara jujur, atau perlahan berubah menjadi bagian dari kenyamanan yang justru menumpulkan daya refleksinya?
Pertanyaan itu penting karena dunia telah berubah. Dulu, seni menjadi salah satu sedikit ruang untuk menyampaikan kritik ketika saluran politik dibatasi. Hari ini, kritik dapat diproduksi oleh siapa saja. Dalam hitungan detik, siapa pun dapat membuat video, menulis opini, atau mengunggah protes ke media sosial. Kritik tidak lagi langka.
Karena itu, bila seni hanya mengulang kritik yang sudah beredar di ruang digital, ia sedang bersaing di arena yang bukan lagi keunggulannya. Yang membuat seni berbeda bukan kemampuannya menyampaikan pesan, melainkan kemampuannya mengubah pesan menjadi pengalaman.
Ketika petani Kendeng mengecor kaki mereka, yang mengguncang publik bukan semata-mata penjelasan tentang konflik agraria. Data tentang konflik itu telah lama tersedia dalam laporan, diskusi, dan pemberitaan. Yang mengguncang adalah kehadiran tubuh yang benar-benar dipertaruhkan.
Tubuh mengubah abstraksi menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Ia membuat kita berhenti sejenak dari arus informasi, lalu berhadapan dengan kenyataan dalam bentuk yang tidak lagi dapat diperlakukan sebagai sekadar berita.
Demikian pula dengan aksi Kamisan. Bertahun-tahun mereka berdiri di tempat yang sama, dalam keheningan yang sama, dengan pakaian hitam dan payung yang sama. Tidak ada perkembangan dramatis yang biasanya dicari media. Tidak ada klimaks yang menutup cerita.
Namun justru pengulangan itu membentuk sesuatu yang lain. Yaitu sebuah kehadiran yang stabil di tengah ketidakpastian ingatan publik. Keheningan itu menjadi bentuk kritik yang tidak membutuhkan penjelasan tambahan.
Kehadiran
Seni pertunjukan bekerja dalam logika yang serupa. Ia tidak terutama bertugas menjelaskan dunia, tetapi menghadirkan dunia dalam bentuk yang tidak bisa diabaikan. Tubuh, ruang, waktu, dan perhatian penonton dipertemukan dalam satu situasi yang tidak dapat dipercepat atau dilewati begitu saja. Di dalam situasi itu, penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi berada di dalam pengalaman.
Karena itu, tantangan seni pertunjukan hari ini tidak lagi terutama soal keberanian untuk bersuara lebih keras. Suara sudah terlalu banyak di luar sana. Yang lebih penting adalah bagaimana seni mampu mengembalikan sesuatu yang perlahan hilang dalam kehidupan publik yaitu kehadiran.
Polemik seperti yang muncul dalam konteks ArtJog sesungguhnya dapat dibaca dalam kerangka ini. Ia bukan semata soal kurasi, institusi, atau relasi dengan kekuasaan. Ia memperlihatkan adanya harapan bahwa ruang seni masih dapat menjadi tempat di mana kenyataan dihadirkan secara jujur, bukan sekadar dipresentasikan sebagai citra yang rapi dan nyaman. Harapan itu muncul justru karena masyarakat merasakan adanya jarak antara pengalaman nyata dan representasi yang beredar di ruang publik.
Dalam situasi seperti ini, seni pertunjukan menjadi penting bukan karena ia lebih politis atau lebih kritis daripada bentuk ekspresi lain, tapi karena ia bekerja dengan cara yang tidak dapat digantikan oleh media lain. Ia menuntut kehadiran bersama dalam satu ruang dan satu waktu. Ia memaksa perhatian untuk tinggal lebih lama. Ia tidak bisa sepenuhnya dikonsumsi secara cepat, seperti informasi yang bergulir di layar.
Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk hadir secara penuh menjadi semakin langka. Kita terbiasa melihat dunia dalam potongan-potongan kecil yang terus berganti. Kita tahu banyak hal, tetapi jarang benar-benar berhenti pada satu hal. Dalam kondisi seperti itu, seni pertunjukan dapat membuka kembali ruang untuk mengalami, bukan sekadar mengetahui.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan seni, tetapi juga cara kita memahami kenyataan bersama. Bangsa ini tidak kekurangan orang yang mampu menjelaskan masalah. Yang semakin dibutuhkan adalah ruang yang memungkinkan kita merasakan kembali mengapa masalah itu penting untuk diperhatikan.
Sebab perubahan sosial tidak selalu dimulai ketika kita mengetahui lebih banyak. Ia sering kali dimulai ketika kita berhadapan langsung dengan sesuatu yang membuat kita tidak bisa lagi berpaling. Dalam momen itulah seni pertunjukan berhenti menjadi sekadar tontonan, dan berubah menjadi pengalaman yang menautkan kemanusiaan antarmanusia.
—
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, bekerja di Kementerian Kebudayaan




