(Festival) Tari dan Produksi Pengetahuan
Oleh: Purnawan Andra *
Dalam dua dekade terakhir, ekosistem festival tari di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Indonesian Dance Festival (IDF) tetap menjadi rujukan utama bagi tari kontemporer Indonesia, sementara sejumlah festival lain, termasuk Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON), mulai menghadirkan ruang-ruang baru bagi pertunjukan, percakapan, lokakarya, dan kolaborasi lintas negara. Perkembangan ini menunjukkan bahwa festival tari tidak lagi dipahami semata sebagai panggung presentasi karya, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai gagasan.
JICON yang tahun ini diselenggarakan pada 24-25 Juli 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mengangkat tema Social Imagination sebagai tambahan energi baru dalam lanskap kreasi estetika tersebut. Namun, di balik penyelenggaraannya, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sesungguhnya sedang dicari oleh festival-festival tari Indonesia hari ini?
Cara Membayangkan Masyarakat
Pertanyaan ini penting karena format festival kini semakin serupa. Pertunjukan tidak lagi menjadi satu-satunya agenda. Hampir semua festival besar juga menghadirkan diskusi, kelas, laboratorium kreatif, artist talk, hingga kolaborasi dengan komunitas. IDF misalnya, telah mengembangkan pola seperti itu sejak lama. Karena itu, pembeda sebuah festival tidak lagi terletak pada banyaknya acara yang diselenggarakan, melainkan pada pertanyaan besar yang ingin dijawabnya.
Di sinilah JICON menjadi menarik. Dengan memilih tema “Imajinasi Sosial”, festival ini seakan ingin menggeser cara pandang terhadap tari. Tubuh tidak lagi dipahami semata sebagai medium ekspresi artistik, tetapi sebagai ruang tempat berbagai pengalaman sosial bertemu. Tari diposisikan bukan hanya sebagai bahasa estetik, melainkan sebagai cara membayangkan masyarakat.
Pilihan ini patut diapresiasi. Selama bertahun-tahun, seni pertunjukan kerap terjebak dalam pembicaraan mengenai teknik, bentuk, dan kebaruan artistik. Padahal, tubuh penari selalu hidup di tengah perubahan zaman. Ia mengalami kota yang semakin padat, menghadapi krisis ekologis, berhadapan dengan teknologi digital, menyerap kecemasan politik, hingga merasakan perubahan relasi sosial yang semakin kompleks. Dalam konteks seperti itu, koreografi bukan sekadar susunan gerak, tapi cara membaca kenyataan.
Namun, justru karena mengangkat tema yang begitu luas, tantangan JICON menjadi semakin besar. Imajinasi sosial tentang apa yang ingin dibangun? Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Istilah “Imajinasi Sosial” membuka begitu banyak kemungkinan, tetapi sekaligus berisiko menjadi payung yang terlalu lebar sehingga hampir semua gagasan dapat berlindung di bawahnya tanpa menghasilkan arah diskursus yang jelas.
Padahal, Indonesia hari ini sedang berada dalam pusaran perubahan yang sangat menentukan. Krisis ekologis mengubah hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Kecerdasan artifisial mulai memasuki dunia kreatif. Kota-kota tumbuh semakin padat, sementara desa terus bernegosiasi dengan arus urbanisasi. Politik semakin dikuasai oleh citra visual. Ruang publik bergeser ke media digital yang bergerak sangat cepat.
Semua perubahan itu sesungguhnya menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang tubuh, gerak, kehadiran, dan relasi antarmanusia. Bukankah di sinilah tari memiliki peluang besar untuk berbicara?
Sayangnya, dunia tari Indonesia masih sering dipersepsikan berbicara terutama kepada dirinya sendiri. Diskusi berlangsung di antara koreografer, kurator, akademisi, dan mahasiswa seni. Percakapannya kaya, tetapi jarang menembus ruang publik yang lebih luas. Berbeda dengan film yang kerap memicu perdebatan nasional atau sastra yang sesekali menjadi rujukan membaca keadaan sosial, tari masih relatif terbatas sebagai percakapan di dalam ekosistemnya sendiri.
Tentu, keadaan ini bukan menjadi tanggung jawab festival semata. Tapi, festival memiliki posisi yang strategis karena menjadi titik temu antara pencipta, peneliti, penonton, media, dan berbagai institusi kebudayaan. Di sinilah sebuah festival sesungguhnya dapat berperan sebagai ruang yang mempertemukan praktik artistik dengan persoalan-persoalan masyarakat.
Mandat Kebudayaan
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah JICON berbeda dari IDF. Yang lebih mendesak adalah bagaimana masing-masing festival membangun mandat kebudayaannya sendiri. Dua festival internasional tidak harus dibedakan oleh format acara atau jumlah negara peserta. Yang membuatnya penting adalah kontribusi yang berbeda terhadap perkembangan tari Indonesia.
Bisa jadi, satu festival lebih menekankan pemetaan perkembangan koreografi Indonesia dalam jejaring global. Festival lain dapat memilih menjadi laboratorium yang secara khusus mempertemukan tari dengan isu-isu sosial, lingkungan, pendidikan, atau kehidupan perkotaan.
Ada pula kemungkinan festival menjadi ruang yang menghubungkan praktik tari dengan riset, kebijakan publik, atau kerja-kerja komunitas. Diferensiasi semacam inilah yang membuat kehadiran lebih dari satu festival bukan sekadar pengulangan, melainkan saling melengkapi.
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami perubahan yang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi. Ekonomi mengubah cara orang bekerja. Politik mengubah cara warga berpartisipasi. Lingkungan mengubah cara masyarakat bertahan hidup.
Dalam situasi seperti itu, seni tidak cukup hanya menghasilkan karya yang indah. Ia juga perlu membantu masyarakat menemukan bahasa baru untuk memahami perubahan tersebut.
Di sinilah tema Imajinasi Sosial sesungguhnya menyimpan potensi yang besar. Imajinasi sosial bukan sekadar membayangkan masyarakat yang lebih baik, tetapi juga kemampuan melihat kembali hubungan-hubungan yang selama ini luput dari perhatian.
Tari memiliki kekuatan yang khas untuk melakukan hal itu karena ia bekerja melalui tubuh, sementara setiap perubahan sosial pada akhirnya selalu meninggalkan jejak pada tubuh manusia seperti cara kita bergerak, bekerja, berjumpa, mencintai, bahkan cara kita merasakan dunia.
Mungkin, tantangan terbesar festival tari Indonesia hari ini bukan lagi menghadirkan lebih banyak pertunjukan atau memperluas jaringan internasional. Tantangan yang lebih penting adalah menjadikan festival sebagai ruang tempat masyarakat ikut berpikir melalui tari. Ketika publik datang ke sebuah festival, yang mereka bawa pulang bukan hanya kekaguman terhadap keterampilan penari atau keindahan koreografi, tapi juga cara pandang baru terhadap kehidupan yang sedang mereka jalani.
Jika arah itu dapat terus dibangun, maka festival tari tidak hanya akan menjadi peristiwa kebudayaan tahunan. Ia akan menjadi ruang yang membantu bangsa ini membaca zamannya sendiri. Dan mungkin, di tengah perubahan sosial yang bergerak semakin cepat, itulah fungsi paling penting yang dapat diberikan seni pertunjukan kepada masyarakat.
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.




