Tjahjono-Widijanto

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto

NELAYAN PULANG DI PANTAI SAWANG

lelaki jantan, sudah lama kau pergi
dibawa kencang angin laut pasang
kubayangkan kau akan pulang
dengan tubuh wangi lautan
para kekasih menunggu
di pasir basah yang gelisah

lelaki jantan, sepanjang malam Tuhan biarkan
aku gemetar membayang takdir lelaki lautan
setiap saat siap disalib tajam karang
mataku basah membayang berapa tajam kelokan
berapa purnama sampai tujuan

lelaki jantan selalu saja aku gemetaran
membayangkan beberapa kali kau mati
dalam gemuruh lindu dan geluduk taufan

lelaki jantan selalu aku gemetaran
membayang purnama, tanpa kekasih dalam dekapan

Karakelang, 05017

 

PANTAI TAMBIOE DI BEO

Beo,
bumi telah memberimu tanda perjalanan akan dimulai
lautan memandangimu dengan mata pemburu yang tajam
dan pasifik menciummu dengan bibir taufannya yang gila
mengibarkan panji-panji di bayang-bayang samodra
kelebatannya membekas di tebaran pulau-pulau mungil
ujung-ujung ombak menyentuh pantai seperti belati
air lautan meronta-ronta seperti bocah takut kehilangan mama

bila pasang lautan kelak mengucap tabik perpisahan
aku akan kembali datang dengan nyanyian nelayan
seperti taumatang kattaturlida membawa wahyu
leluhur lautan yang mantra-mantranya menaungi anak cucu
menyanyika sasambo kecintaan anak nagari
dikekalkan asin air terpahat di karang-karang

Beo, 05/017

 

PULAU SARAK

siapa yang menaburkan warna salju di punggungmu
dari pecahan karang yang diobrak abrik naga lautan
engkau menjelma gadis dengan wajah malu-malu
menari-nari mendendangkan larik-larik sasambo

mebua boulawesang
mahundingan keng tulumang
pakapio magahagho
makatulung kai rongrong

sasae sumonanang pato
bulaeng kere kineke
sewela eng tahanusa
sutalo arang ba doa

dala putung su selaeng
tatialang pamunakeng
tarima kae nawuna
salamata natarima

berangkatlah dari air pangkalan
disertai oleh pengasihan
kuatkan hati minta berkat
sebab pemberian Tuhan

di sana haluan perahu
emas bergemerlapan
di antara pulau-pulau
di tengah-tengah tanah besar

di sana api di pantai
tanda-tandanya akan sampai
terima kasih sudah sampai
selamatlah telah tiba

di heningmu aku tenggelam dalam santi patana dan surya manaskar
meminum cahaya hangat matahari dalam khusuk pantai
mendengarkan pekik burung-burung sampiri menjerit riang
dalam rimbun daun daun bakau dan gericik buih mencumbu pasir
membayangkan dewi-dewi menari bersama matahari
meminjam tenaga nelayan yang tak lelah mendayung perahu
membayangkan menjadi anak laut di atas jukung
mengejar ikan-ikan terbang dengan paonade
di atas buih air laut berganti-ganti warna
dari hijau lelumut ke warna kecubung

bagai seorang yang kangen pada kekasih, aku terbang
memasuki tirai langit laut yang putih
bagai gaun pengantin berkelebat pada sayap-sayap awan
sebelum rontok menggelepar mabuk kepayang

di pulau ini Tuhan memperlihatkan secuil sorga dengan sempurna

Sarak, 05017

paonade : salah satu jenis pancing ikan di Talaud
santi patana: meditasi pagi
surya manaskar: salah satu jenis yoga

 

TENGKORAK TOTOMBATU DI TAROHAN

Seperti pewarta abadi aku diam di sini
Menyimak takdir dalam sepi pantai dan nyeri guruh lautan
Membisikan pesan rintih zaman di gores-gores takdir
Pada anak cucu saat mereka perlahan bijak menyelusuri musim
Sepenggal sejarah tetesan darah mereka yang tiap waktu
Dapat dilhat selama mereka mau seperti peta yang terbuka

Aku di sini telanjang bersama waktu
Mendekam di ceruk-ceruk tajam karang
Menggeramangkan sasambo bersama tepukan ombak
Memukul pelan-pelan gigir karang dan camar-camar
Berterbangan memunguti ikan di sela-sela buih gelombang
Sebelum berumah menyusun sarang di puncak tak beratap

Di hutan-hutan malam dalam bayangan pohon-pohon bakau
Aku mendekam dalam diam sempurna seperti wajah nelayan yang tabah
Melayari lecutan lecutan badai belajar menafsir cinta
Permainan ajal dalam derai badai gelisah silsilah

Aku membeku disenandungkan gelombang taufan
Tetua-tetua yang tak pernah akan bosan
Mengingatkanmu akan sejarah yang hilang
Silsilah poradiso hikayat tanah pantai surga
Yang tiap waktu akan memukul-mukul jantungmu

“aku akan abadi di lorong-lorong ingatanmu!”

Talaut,017

 

SENJA DI DERMAGA MELONGUANE

senja mendekap bayang-bayang kapal yang menggigil dalam diam
seleret awan menjulur bagai selendang bidadari menuruni langit
nelayan-nelayan merapat seperti bocah berlari manja menuju dekapan mama
di ujung paling lancip dermaga matahari angslup dalam laut
meninggalkan sisa warna merah memulas jantung dalam seribu pesona
terbakar menjelma puisi yang tak henti bernyanyi
bersama senja yang makin sempurna

Melong, 290417

 

PERJALANAN KE KOTA TUA

:Beo

tak ada yang mengabadikan perjalanan ini
selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang runduk
bersanding lancip kelapa yang menjulur langit
sesekali bayang bayang pancang salib di tepian jalan
aspal jalan melingkar-lingkar membisu dalam gigil yang sepi
orang-orang keluar rumah berjemur bulan ngobrol di tepian
berbicara tentang laut, pantai dan ikan tuna

nelayan-nelayan yang baru pulang melaut
mengusung ikan dalam pika juga kisah gelombang
di sini bahasa laut begitu bahagia dan selalu tertawa
meski bau garam terasa juga keras dan asin
seperti keras dan asinnya keringat air mata nelayan
berdendang riang tentang taufan dan gelombang
perahu-perahu yang karam pecah menghantam karang

di jalanan-jalanan sepi ini, antara pohonan bakau dan bau pantai
begitu tabah riwayat nelayan menghitung cermat purnama
menakar seberapa deras gelombang akan membadai
seberapa tebal halimun mematahkan kompas juru mudi
bergumul seperti sepasang kekasih yang merindu
tak sejengkal berpisah meski palung laut begitu dalam
dingin dan kejam, seperti tangan maut yang menjulur

di sepanjang jalan dan bayang bayang bakau yang rimbuk
selalu kudengar geremang mantram-matram cinta
akan laut yang tak pernah tua untuk di puja dan dicinta

Beo, 05017

 

*Tjahjono Widijanto adalah Sastrawan nasional dan Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, alumnus Program Doktoral Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta (2020) ini lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Dari Kosmos ke Chaos: Kumpulan Telaah dan Esai Sastra (2020): Dari Jagat Wayang Hingga Peahu Lalotang: Segugus Esai Budaya (2020); Ajisaka dan Kisah-kisah Tentang Tahta (Antologi Puisi 2020) Prodisa: Surga Halaman Depan (Badan Bahasa, 2017), Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017); Metafora Waktu: Kumpula Esai Budaya (2017) Dari Zaman Kapujanggan Hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (2011), Wangsit Langit (2015), Janturan (Juni, 2011), Singir (2014), Cakil & 15 Kisah Lainnya(2019) Rezim Para Satriya (Naskah drama, 2013), Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedian dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2000), Birahi Hujan (Logung Pustaka, 2004,), , Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009), dll.

Diundang dalam berbagai acara sastra nasional dan internasional a.l:, memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan (Juni, 2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival (2009), Cakrawala Sastra Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta,2004), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), dll. Memperoleh Penghargaan Seniman (Sastrawan) dari Gubernur Jawa Timur (2014), dan Penghargaan Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur (2019). Pada bulan April-Mei tahun 2017 lalu ditunjuk Badan Bahasa untuk mengikuti program residensi sastrawan berkarya di Talaud Sulawesi Utara. Memenangkan berbagai sayembara menulis a.l: Pemenang II Sayembara Kritik Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2004), , Pemenang Unggulan Telaah Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2010), Pemenang II Sayembara Pusat Perbukuan Nasional (2008 dan 2009), Pemenanang Lomba Mengulas Karya Sastra (5 kali berturut turut; 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006), dll. Saat ini selain sebagai penulis dan penyair juga “nyambi” sebagai kepala sekolah di sebuah SMA Negeri di Ngawi.