Kolom_Tony Doludea

William James: Kehendak untuk Percaya dalam Keragaman Pengalaman Keberagamaan

Oleh Tony Doludea

Diriwayatkan bahwa Raja Nebukadnezar (atau dikenal juga sebagai Nebukadnezar II) membuat sebuah patung emas dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta, yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel. Ia kemudian mengumpulkan para wakil raja, penguasa, bupati, penasihat negara, bendahara, hakim, ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.

Maka berkumpullah para wakil raja, penguasa, bupati, penasihat negara, bendahara, hakim, ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja itu.

Lalu berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa: saat kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka kamu harus sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu; siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”

Ilustrasi Raja Nebukadnezar II. (Sumber: intisari.grid.id).

Ilustrasi Raja Nebukadnezar II, Raja Babilonia. (Sumber: intisari.grid.id).

Nebukadnezar adalah penguasa Kerajaan Babilonia Baru dari Dinasti Kasdim, yang berkuasa selama 43 tahun, dari 605-562 SM. Ia naik tahta menggantikan Nabopolassar, ayahnya yang meninggal pada tahun 605 SM.

Nabopolassar meninggal di ibu kota Babilon pada 605 SM, dalam tahun ke-21 pemerintahannya. Saat itu putra mahkota, Nebukadnezar sedang memimpin tentara Babel berperang melawan pasukan koalisi yang dipimpin oleh Nekho II, Firaun Mesir Kuno, di dekat kota Karkemis. Dalam peperangan itu, tentara Babel berhasil mengalahkan dan membasmi pasukan Mesir.

Pada tahun 586 SM, tentara Nebukadnezar merobohkan tembok-tembok dan menghancurkan Yerusalem. Mereka membakar Bait Allah, istana raja dan rumah-rumah yang masih tersisa di Yerusalem. Mereka juga merampas benda-benda suci di Bait Allah dan membawanya ke Babel.

Nebukadnezar kembali ke ibu kotanya dan dinobatkan menjadi raja pada 605 SM. Kemudian ia pergi lagi berperang untuk menaklukkan tanah Hatti (Siria dan Kanaan) yang ditinggalkan oleh kerajaan Mesir. Babilonia berperang setiap tahun dan membawa banyak jarahan pulang ke Babilon. Ia membangun semua kota-kota besar Babilonia dengan mewahnya.

Ibu Kota Babilon meliputi wilayah seluas 3 mil persegi, dikelilingi oleh rawa-rawa dan dua lapis dinding tebal. Sungai Efrat mengalir di tengah kota, dihubungkan dengan jembatan batu yang indah. Di tengah kota ada ziggurat raksasa yang disebut Etemenanki, “Rumah perbatasan langit dan bumi,” di sebelah kuil dewa Marduk.

Maka, tatkala segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.

Sementara beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi dan berkata kepada raja Nebukadnezar: “Ya raja, kekallah hidup tuanku! Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.

Mendegar itu Nebukadnezar dengan marah dan geram memerintahkan untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Maka murkalah Nebukadnezar, air mukanya berubah lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Beberapa orang yang sangat kuat dari antara tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Perapian itu menjadi panas luar biasa, sehingga nyala apinya membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!” Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!”

Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. Dan para wakil raja, para penguasa, bupati dan Menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak terbakar oleh api itu, rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.

Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allah Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

********

Pada Mei-Juni 1896, William James (1842-1910) memberikan kuliah pada The Philosophical Clubs di Yale University dan Brown University tentang The Will to Believe, untuk mempertahankan pandangan bahwa percaya atau beriman itu sesungguhnya tidak harus mensyaratkan bukti intelektual sebagai alasan kebenarannya. James berusaha menjelaskan tentang rasionalitas iman meskipun tidak memiliki bukti dan dasar kebenaran yang rasional.

Bagi James pembelaan dan pembenaran iman seperti itu merupakan suatu bentuk perlindungan atas hak orang untuk beriman dan percaya. Meskipun pada kenyataannya pikiran logis tidak terlibat di dalamnya. Bahwa ada alasan orang untuk beriman, yaitu berdasarkan perasaannya tanpa harus memiliki dasar intelektual yang mencukupi.

James ingin menegaskan dalam suasana teologis dan filosofis seperti di zamannya itu, bahwa seseorang memiliki kepercayaan religius itu bukanlah sesuatu yang buruk. James hendak membantah pendapat W K. Clifford (1845-1879) yang menyatakan bahwa tidak seorang pun, kapan pun, di mana pun dapat dibenarkan untuk percaya kepada apapun juga tanpa berdasarkan bukti yang mencukupi. Pendapat ini kemudian disebut evidensialisme, yang dituduh hanya berusaha untuk menghindari kesalahan, namun tanpa pernah ada kesadaran dan upaya untuk mencapai kebenaran itu sendiri.

Namun James juga menentang pandangan Blaise Pascal (1623-1662) yang menyatakan bahwa lebih baik orang percaya bahwa Allah ada daripada percaya bahwa Allah itu tidak ada, dengan perhitungan seperti seorang penjudi mempertaruhkan taruhannya. Karena apabila Allah benar-benar ada, maka ia akan beruntung, namun jika Allah memang tidak ada maka ia pun tidak rugi. Sebaliknya, jika orang tidak percaya bahwa Allah ada, maka ia akan rugi sekali jika Allah ada. Namun jika Allah memang itu tidak ada, maka ia pun tidak untung sama sekali. Pendapat Pascal ini dikenal sebagai Pascal’s Wager, semacam logika togelis, yang cocok hanya bagi para penjudi.

Sementara pada sisi yang lain, Pascal memang memandang bahwa keyakinan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya itu merupakan murni ranah iman, bukan masalah pengetahuan manusia. Meskipun demikian tetap harus digarisbawahi, bahwa memilih untuk beriman tidaklah bertentangan dengan nalar. Oleh sebab itu ia menolak untuk menafsirkan Allah dengan akal. Baginya Allah itu tak terbatas, sedangkan akal manusia sangat terbatas.

Dari sisi manusia, Allah itu sesungguhnya bukan untuk dan tidak dapat dibuktikan keberadaan ataupun ketidakberadaan-Nya. Meskipun Allah itu tidak dapat dibuktikan, tapi manusia harus memilih dalam ketidakpastiannya tersebut untuk percaya Allah itu ada atau tidak.

Maka iman tidak lagi mendapatkan tempat bagi agama yang dapat dipahami secara keseluruhan oleh akal itu. Padahal iman melebihi akal dan ilmu pengetahuan. Satu-satunya yang mampu untuk memahami keberadaan Allah adalah hati, bukan akal. Bagi Pascal hati ini mencakup perasaan dan intuisi sebagai instrumen pengetahuan dan juga kehendak.

Hati itu bukanlah emosi yang labil, melainkan sebuah perangkat yang juga memutuskan orang untuk berbuat sesuatu, berkehendak. Menurut Pascal hati itu memiliki alasan-alasan tersendiri yang tidak dimengerti oleh akal.

Sedangkan menurut James percaya itu sebagai sebuah hipotesis. Ada dua jenis hipotesis, yaitu hipotesis hidup dan hipotesis mati. Hidup atau tidaknya sebuah hipotesis itu sangat tergantung pada tindakan orang yang percaya dan bukan pada sifat atau kualitas yang terkandung di dalam kepercayaan itu.

Maka percaya kepada suatu kenyataan objektif itu bersifat subjektif. Setiap saat orang selalu dihadapkan dengan pilihan hipotesis tersebut. Saat ia harus membuat keputusan antara dua hipotesis, ini disebut pilihan.

Pilihan ini bersifat hidup atau mati, mendesak atau dapat ditunda, sebuah saat genting atau waktu biasa saja. Namun suatu pilihan yang sejati itu bersifat hidup, mendesak dan sangat penting. Maka percaya itu tidak hanya bersifat intelektual melulu tetapi bersifat emosional dan kehendak.

Percaya merupakan suatu bentuk pilihan sejati yang secara personal bermakna (hidup), bersifat khusus (mendesak) dan mengandung akibat yang penting (genting). Namun, sejati tidaknya suatu pilihan ini tergantung pada sudut pandang orang tertentu yang mempercayainya dan ini bersifat terberi dalam konteks budaya tertentu. Sehingga selalu terbuka bagi keberagaman dan proses perkembangan.

William James

William James, seorang filsuf, psikolog dan sejarawan asal Amerika. (Sumber: Harvard Psychology).

William James lahir di the Astor House, New York, pada 11 Januari 1842. William adalah putra pasangan Henry James Sr. dan Mary Walsh James. James belajar Kedokteran dan mengajar Anatomi di Universitas Harvard, meskipun tidak pernah berpraktik. Namun kemudian ia tertarik kepada Psikologi, tetapi beralih ke Filsafat. Ia dikenal sebagai pemikir besar akhir abad 19, salah satu filsuf paling berpengaruh di Amerika Serikat dan dijuluki “Father of American Psychology“.

Bersama Wilhelm Wundt, James disebut sebagai pendiri Psikologi Eksperimental. Sementara dengan Charles Sanders Peirce, ia mendirikan aliran filsafat yang dikenal sebagai Pragmatisme dan juga pendiri Psikologi Fungsionalis.

Menurut James dalam Pragmatisme, kebenaran itu merupakan sintesa antara kebenaran korespondensial dan kebenaran koheren, ditambah dengan akibat yang dihasilkan dari penerapan gagasan kebenaran tersebut dalam tindakan aktual. Korespondensial, yaitu sesuai dengan objek yang diamati serta dicerap dan koheren, yaitu konsisten dan sistematis secara logis.

Di sini James berupaya memecahkan persoalan hakikat rasionalitas dengan menggunakan pendekatan empiris, melalui pertanyaan apa sesungguhnya yang menentukan rasional tidaknya sebuah pengetahuan.

Menurut James, pengetahuan yang rasional itu tidak hanya harus memenuhi unsur konsistensi, komprehensif, kesederhanaan, dst. Tetapi harus juga mampu memuaskan dahaga manusia terhadap pertanyaan yang sesungguhnya tidak rasional sama sekali.

Dalam Pragmatisme kebenaran itu tergantung pada kegunaannya bagi orang yang mempercayai dan memegangnya, dan kenyataan itu seperti sebuah kepingan-kepingan dari beragam pengalaman yang hanya dapat secara tepat dimaknai melalui penerapan empirisme radikal. Empirisme radikal merupakan pengakuan pada hubungan kesadaran-dunia kenyataan, sebagai sebuah ‘stream of consciousness‘. Kesadaran, objek dan pengalaman itu tidak dapat dipisah-pisahkan, karena saling terkait secara rumit, beragam dan selalu mengalir, berkembang serta berubah.

Oleh sebab itu kehendak manusia sangat penting bagi tindakan sadarnya di dalam percaya dan dengan perasaannya. Maka percaya betapapun pentingnya itu, tidak dapat terpahami. Meskipun melibatkan kehendak bebas untuk melakukannya, tetapi secara teoritis orang masih mungkin untuk meragukannnya.

Sehingga James di sini menyebutkan ada empat postulat dalam kehendak untuk percaya, yang terkait dengan makna, tetapi tak terpahami, yaitu Allah, kekekalan, kebebasan dan kewajiban moral.

Menurut James kehendak itu sangat penting bagi suatu tindakan manusia yang bebas untuk percaya dan sebagai sebuah perasaan. Berkaitan dengan ini James menggambarkan lima cara manusia dalam menggambil keputusan: (1) menyetujui penjelasan yang rasional, (2) mendapatkan keterangan dari kabar angin, (3) memutuskan berdasarkan kebiasaan, (4) menentukan berdasarkan kesedihan dan perasaan duka, (5) memilih secara bebas.

Pada 1901-1902, James memberi kuliah pada Gifford Lecture di University of Edinburgh tentang The Varieties of Religious Experience. Menurut James agama itu merupakan pengalaman seseorang secara individual dengan Yang Ilahi. Lalu James membedakan antara kesadaran religius yang “healthy-mindedness”, ditandai oleh kegembiraan yang optimistik dan “sick soul”, bersifat pesimistis yang tidak wajar. Di antara kedua hal ini ada “the divided self”, yang bersifat stabil dan utuh.

Dalam paparannya itu James juga menyimpulkan ada tiga kepercayaan yang ditemukan dalam pengalaman keberagamaan secara umum, bahwa: (1) dunia nyata manusia ini merupakan suatu bagian dan mendapatkan makna pentingnya dari tatanan spiritual yang jauh lebih besar darinya; (2) tujuan manusia terpenuhi melalui pencapaian kesatuan yang selaras dengan tatanan spiritual tersebut; (3) doa dan persekutuan rohani memiliki kekuatan dan punya dampak.

Secara psikologis James juga menemukan bahwa keberagamaan itu melibatkan dua kualitas psikologis bagi orang yang percaya: (1) semangat hidup yang kuat (2) rasa aman, kasih dan damai.

Secara biblika, Perjanjian Baru menggunakan kata Yunani πιστις (pistis) untuk kata iman (faith), dengan kala perfek Yunani, yang diterjemahkan sebagai suatu campuran kata kerja-benda. Bentuk kata kerja pistis adalah pisteuo, yang diterjemahkan sebagai percaya (believe). Sementara bentuk kata sifat pistis adalah pistos, yang diterjemahkan sebagai beriman (faithful).

Perjanjian Baru mendeskripsikan pistis itu sebagai keteguhan (firmness) hubungan-hubungan, yang mengambil bentuk beragam wujud: orang, tradisi, praktik, kelompok, tujuan, fakta atau sebagai proposisi.

Secara sehari-hari iman dan percaya itu lebih dipahami sebagai meyakini janji-janji Allah, percaya pada kesetiaan-Nya, serta mengandalkan kesetiaan dan sifat Allah dalam bertindak.

Dalam Perjanjian Baru iman dan percaya itu paling memuaskan dipahami sebagai kesetiaan (faithfulness), loyalitas dan komitmen pada TUHAN Allah yang mengejawantah melalui ajaran-ajaran dalam Firman-Nya. Dan bukan masalah keyakinan, kepercayaan dan ketergantungan, atau masalah pengakuan iman (syahadat). Iman di sini dikontraskan dengan usaha-usaha manusia untuk melakukan perbuatan baik sebagai suatu sarana memperoleh pembenaran dan keselamatan kekal surgawi.

Perjanjian Baru menjelaskan bahwa iman (pistis) adalah dasar (hupostasis) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti (elegchos) dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:  1).

Kata Yunani hupostasis diartikan sebagai kepastian atau jaminan (assurance) dan diterjemahkan sebagai “dasar”. Dalam konteks membuat suatu perjanjian, percaya merupakan suatu jaminan kepastian di masa mendatang, pengharapan sesuai dengan perjanjian yang telah dituliskan.

Kata Yunani elegchos diartikan sebagai keyakinan (conviction) dan diterjemahkan sebagai “bukti”. Percaya merupakan bukti apa yang tidak dapat dipahami dan pada saat yang sama juga merupakan sanggahan terhadap keraguan dan ketidakpercayaan. Bukti atas keyakinan ini sangat kuat dan positif sehingga dideskripsikan sebagai iman. Namun iman tidak sama dengan mudah percaya, melainkan memiliki makna yaitu bertindak dalam keteguhan dan kesetiaan.

Perjanjian Lama menggunakan kata Ibrani אמנה (emunah) untuk kata iman yang artinya kesetiaan. Turunan kata emunah adalah אמן (aman) yang berarti percaya. Perjanjian Lama ingin menjelaskan bahwa tidak mungkin seseorang setia kepada Allah jika ia tidak mempercayai-Nya dan tidak bersandar kepada-Nya serta tidak berserah kepada-Nya.

Maka James menegaskan bahwa persoalan percaya dan iman itu melampaui dimensi dasar dan pembuktian secara intelektual dan rasional. Meskipun secara keseluruhan melibatkan kesadaran manusia, termasuk kecerdasan dan rasionya.  Namun percaya itu merupakan suatu kehendak, perasaan yang membuat orang yang percaya itu mengambil sikap teguh, setia dan bertindak dengan penuh keyakinan berdasar apa yang ia yakini.

Pragmatisme William James rupanya telah berhasil sedikit menyingkap misteri iman dan percaya manusia kepada TUHAN Allah dalam berbagai macam pengalaman keberagamaannya. Namun, berhasil sedikit menyingkap misteri iman di sini itu rupanya sekaligus menegaskan keterselubungannya dari upaya manusia untuk memahami dan menjelaskannya. Karena iman itu bukan dihasilkan dan diupayakan melulu oleh manusia saja, tetapi percaya itu merupakan pemberian dan kasih karunia atau anugerah dan rahmat Allah semata.

********

Pada suatu hari Raja Darius (550 SM-486 SM) mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya, yang ditempatkan di seluruh wilayah kerajaan. Raja juga mengangkat tiga pejabat tinggi, yang membawahi mereka. Para wakil-wakil raja tersebut harus memberi pertanggungjawaban kepada pejabat tinggi itu. Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu.

Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja tersebut, karena ia mempunyai roh yang luar biasa dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

Melihat hal itu, para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan. Tetapi mereka tidak mendapat suatu kesalahan dan alasan apapun. Sebab ia setia dan tidak didapati ada suatu kelalaian atau kesalahan padanya.

Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku! Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa.

Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

Raja Darius dari Persia.

Raja Darius dari Persia. (Sumber: World History Encyclopedia).

Maka Raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu. Saat Daniel mendengar bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

Lalu orang-orang itu bergegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.” Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”

Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kau sembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”. Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur dan ia tidak dapat tidur.

Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kau sembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?” Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.” Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.

Raja Darius memerintahkan untuk mengambil orang-orang yang telah menuduh Daniel dan melemparkan mereka ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan istri-istri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.

Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong dan mengadakan tanda dan mukjizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” Daniel diberi kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.

*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia

Kepustakaan

Boulter, Stephen., Sandis, Constantine (Ed.). William James on Religion. Palgrave Macmillan, Hampshire, 2013.

Gale, Richard M. The Philosophy of William James. Cambridge University Press, Cambridge, 2005.

James, William. The Will to Believe and Other Essays in Popular Philosophy and Human Immortality. Dover, New York, 1956.

James, William. The Varieties of Religious Experience. New American Library, New York, 1958.

Paterson, Robert Mackintosh, Siahaan, S. M. Kitab Daniel. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.

Wallace, Ronald S. Daniel. Penerbit Bina Kasih, Jakarta, 2010.