Nietzsche Dan Sebuah Pengalaman Kecil Di Teheran

Oleh Faisal Assegaf

Nietzsche tersohor menggunakan nama nabi Persia kuno: Zarathustra dalam bukunya yang penuh serangan kepada kaum beragama (Katolik di Eropa)  : Thus Spoke Zarathustra (Demikian Sabda-Sabda  Zarathustra) . Kita tahu dalam prolog buku itu – di tengah sebuah keramaian dan kerumunan pasar, Zarathustra tiba-tiba berteriak-teriak: Tuhan telah mati! Tuhan telah mati! Sebuah tindakan  yang mengagetkan dan membingungkan orang banyak – yang serta merta menganggapnya tidak waras .Buku itu selanjutnya penuh sabda-sabda Zarathustra – mengenai bagaimana manusia harus menuju  adi manusia (ubermench) – meninggalkan seluruh moralitas Kristiani saat itu.

Mengapa Nietzsche  memilih menggunakan sosok Zarathustra sebagai juru bicara filsafatnya ? Pertanyaan itu masih menjadi bahan diskusi di kalangan ahli sampai sekarang . Kita tahu buku itu sendiri tidak tengah  menjelaskan sejarah agama kuno Persia. Nietzsche bukan menulis sebuah buku yang  mengagumi atau mengulas pandangan-pandanagan ibadah agama Zoroaster . Dia hanya meminjam sosok Zarathustra sebagai alegori sosok radikal yang hendak mereevaluasi semua nilai moral. Sosok jujur – pemberani yang tanpa tedeng aling-aling menguliti moralitas Kristen saat itu.   Tapi – sekali lagi –  mengapa ia memilih sosok nabi Persia kuno tersebut sebagai protagonis  filsafatnya?

Pertanyaan susah  itu pernah terlintas  saat saya suatu waktu mengunjungi  PersiAtazkadeh atau Kuil Api di ibu kota Iran, Teheran. Kuil Api itu terletak di seberang Gereja Maria Suci Teheran. Rumah ibadah kaum Zoroaster ini tertutup tembok setinggi tiga meter dengan pintu kayu cokelat berukir. Setiba di sana kemarin, saya masuk ke kantor administrasi Zoroaster untuk memberitahu tujuan kedatangan. Seorang lelaki lalu mengantar saya ke Kuil Api itu, Perempuan bernama Estekomat membukakan pintu kompleks Kuil Api dan mempersilakan saya masuk. Situasi di dalam sepi karena waktu sembahyang belum tiba. Setelah menjelaskan maksud kedatangan, Estekomat mengizinkan saya masuk ke dalam Kuil Api.

Di bagian tengah dalam bangunan Kuil Api terdapat jendela sehingga jemaat Zoroaster bisa melihat ke arah ruang pembakaran api. Pada sisi kiri dan kanan berjejer rapi bangku kayu untuk jemaat bersembahyang. Ketika saya di sana, seorang perempuan paruh baya tengah membaca Gathas, kitab suci penganut Zoroaster. Dalam ajaran Islam, Zoroaster disebut  sebagai agama Majusi atau agama penyembah api. Namun menurut buku saku  yang diberikan Estekomat, Zoroaster adalah agama monoteisme menyembah kepada satu Tuhan, mereka sebut Ahuramazda.  Saya baru tahu, Bahkan  mereka mengklaim Zoroaster adalah agama monoteisme pertama di dunia.

Dalam buku saku kecil itu disebut agama ini muncul di Iran pada 1.768 tahun sebelum kelahiran Yesus dan merupakan agama dianut Kerajaan Persia sebelum Islam datang. Adalah Ashu Zarathushtra menjadi nabi sekaligus penyebar agama Zoroaster. Dalam buku saku Zoroaster itu, disebutkan Tuhan mengangkat Zarathushtra sebagai nabi di umur 30 tahun.Sebelum memasuki Kuil Api, saya mesti memakai hat (peci khas kaum Zoroaster berwarna putih). Tidak banyak keterangan bisa saya peroleh dari Estekomat. Sebab bahasa Inggrisnya begitu seadanya. Tapi saya bisa memotret kobaran api dinyalakan oleh lelaki tua penunggu tungku.

Beruntung, Estekomat mau memberikan nomor telepon Xorshidiyan Ardeshir, salah satu mobed di Teheran. Mobed adalah pemuka agama Zoroaster. Kiai atau syekh dalam Islam, rabbi bagi kalangan umat Yahudi, dan pendeta atau pastor buat penganut Nasrani. Ketika saya hubungi lewat telepon selulernya, Ardeshir – fasih berbahasa Inggris – menjelaskan terdapat enam Kuil Api di seantero Iran. “Dua di Teheran, empat lainnya berada di kota Syiraz, Kerman, Zahedan, dan Yazd,” katanya. Dia menambahkan jumlah penganut Zoroaster di negara Mullah itu sekitar 50 ribu orang.

Mirip kaum muslim, pemeluk Zoroaster diwajibkan bersembahyang lima kali sehari. Waktunya saat matahari terbit, siang, sore, malam (hingga jam 12), dan pukul 12 malam sampai subuh. “Tiap kali bersembahyang cuma menghabiskan waktu lima menit,” ujar Ardeshir.Ketika bersembahyang mereka mesti menghadap ke arah kobaran api. Namun Ardeshir menegaskan api untuk pemujaan hanya boleh dinyalakan di Kuil Api. Artinya, kaum Zoroaster harus bersembahyang berjamaah, tidak boleh di rumah masing-masing.

Kaum Zoroaster juga memiliki rukun iman berjumlah sembilan perkara, yakni: percaya Tuhan itu satu, meyakini Ashu Zarathushtra sebagai nabi, mengimani hal-hal gaib dan keabadian ruh, meyakini Asha (hukum kebenaran), percaya semua manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan, meyakini tujuh langkah filsafat Zoroaster, mengimani untuk selalu membantu kaum miskin, meyakini kesucian empat unsur alam (air, udara, tanah, dan api), percaya pada kemajuan dan inovasi Agama Zoroaster juga meyakini adanya surga dan neraka. Bagi yang beramal saleh, balasannya surga dan sebaliknya para pendosa akan dimasukkan ke dalam neraka.

Saya tidak tahu apakah Nietzsche mengetahui doktrin-doktrin Zoroaster seperti di atas atau pernah menyaksikan ritual api sebagaimana di atas. Namun seperti dikatakan para ahli dalam sebuah  karya Nietzsche yang diterbitkan  posthumously – setelah kematiannya:  Die Philosophie im tragischen Zeitalter der Griechen (Philosophy in the Tragic Age of the Greeks), Nietzsche mengatakan filsuf Yunani Heraclitus kemungkinan  terpengaruh oleh Zoroaster. Dalam buku terkenalnya yang lain: Ecce Homo , Nietzsche selintas mengemukakan alasannya mengapa ia memakai Zarathustra sebagai sosok yang merepresentasikan   palu godam filsafatnya” “ Karena Zarathustra adalah orang pertama yang menyadari bahwa pertarungan  baik dan yang jahat adalah mesin yang menggerakkan segala sesuatu….”

Syahdan – dari penuturan  kepada para penulis biografi  Nietzsche, saudara perempuan Nietzsche, Elizabeth  mengatakan setelah Nietzsche menulis buku itu banyak orang keturunan Persia dan penganut Zoroaster  berkunjung ke rumah mereka di Weimar-dan mengucapkan terima kasih karena Nietzsche menggunakan nama Zarathustra untuk tokoh dalam bukunya yang menampilkan sosok adi manusia (ubermench)  .

Saya ingat, setelah menyelesaikan ibadah api, perlahan lelaki tua berpeci dan berpakaian serba putih – penunggu tungku itu mengecilkan kobaran api. Nyala api padam saat saya berpamitan keluar meninggalkan Atazkadeh.

Penulis adalah pendiri Albalad.co, sebuah situs berita untuk masalah-masalah Timur Tengah

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *