JERUJI EMAS PANGGUNG REOG

Oleh: Suroto*

Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) 2026 terlah berakhir dengan eforia bagi para pemenang. Namun, gaungnya masih terasa hingga hari ini dengan munculnya kritik keikutsertaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur dan berbagai komentar pro dan kontranya. Tulisan ini tidak bermaksud memperpanjang polemik tersebut tetapi sebuah bentuk kegelisahan sebagai penonton yang hadir saat itu. Sejak awal, penglihatan terhentak oleh fasad panggung yang megah serta memiliki kesan yang massif dan kuat. Sehingga tampilan peserta dengan puluhan penari yang bergerak membentuk beberapa komposisi nyaris tenggelam, bahkan visual dadak merak yang gagah luruh oleh dinding yang terang dan ornament besar berwarna emas.

Panggung FRN 2026 yang megah dan massif

Pada sisi yang lain, FNRG hari ini tidak lagi sekadar merayakan heroisme sejarah Tuan Kelono Sewandono atau mistisisme Singo Barong. Dalam satu dekade terakhir, festival ini telah menjelma menjadi sebuah industri pertunjukan yang sangat kompetitif. Sebuah ruang transisi di mana tradisi komunal sedang dipaksa ditekuk agar patuh pada aturan main modernitas. Megahnya panggung festival lambat laun menjelma menjadi jeruji emas yang mengurung kebebasan ekspresi aslinya.
Gejala paling kasat mata dari pergeseran ini adalah lahirnya fenomena “membeli jasa pemain dan pelatih” layaknya industri sepak bola modern. Demi memenangkan Piala Presiden, kelompok-kelompok peserta—bahkan yang lahir dari rahim Ponorogo sendiri—kini berbondong-bondong mengontrak sutradara, koreografer, penata musik, hingga penari dari luar daerah. Kiblat utamanya? Seniman, akademisi, dan kantong-kantong budaya di Solo dan sekitarnya.

“Bursa Transfer” di Belakang Panggung Reog
Pergeseran paling radikal dalam sepuluh tahun terakhir perhelatan FNRP tidak lagi terletak pada ukuran dadak merak yang semakin raksasa atau modifikasi manik-manik kostum. Proses terbesar justru terjadi pada struktur produksinya. Paguyuban Reog dari berbagai daerah kini bertindak layaknya klub-klub besar di Liga Champions, royal berburu tanda tangan “pemain bintang” di bursa transfer kebudayaan.
Melalui fenomena ini, kita melihat lahirnya kelas pekerja seni baru: para penari jathil sewaan yang memiliki teknik kelenturan tinggi, kelono atau pembarong tangguh yang dikontrak per musim festival, hingga para penata musik jempolan. Mereka didatangkan dengan nilai kontrak tertentu, uang saku harian, fasilitas akomodasi, dan satu target yang absolut: membawa pulang piala.
Bagi ekosistem kesenian, fenomena ini sebenarnya adalah katalisator profesionalisme yang sangat segar. Seniman tradisi tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai pelaku ritus kampung yang sekadar “disegani” (diberi makan), “ucapan terima kasih”, dan sebungkus rokok. Mereka kini adalah profesional korporat kebudayaan yang jasanya dihargai tinggi. Kompetisi FNRP pun secara tidak langsung bertransformasi menjadi ruang eksibisi berskala nasional yang menampilkan pencapaian-pencapaian teknis estetika pertunjukan yang mutakhir.
Nielsen (2020) dalam kajian sosiologi seni pertunjukan menyebut bahwa komersialisasi dan profesionalisasi seniman tradisi di era modern merupakan langkah tak terhindarkan agar kesenian tersebut tidak mati kesepian diabaikan generasi baru. Dalam konteks ini, “Reog Liga Sepak Bola” ini adalah tanda bahwa Reog adalah industri kreatif yang hidup dan adaptif.

Mencari Jejak Keliaran yang Hilang di Tanah Wengker
Helatan FNRP seperti saat ini, sayangnya kerap melupakan asal-usulnya. Muasal, Reog Ponorogo tumbuh dari rahim kebudayaan agraris yang cair dan egaliter melalui dua bentuk manifestasi utama: Reog Obyog dan Reog Geblakan.
Reog Obyog adalah bentuk pertunjukan rakyat yang paling murni dan purba. Berbeda dengan format festival yang berjarak, Obyog tidak mengenal panggung prosenium ataupun barikade pagar besi. Ia hidup di jalanan, pelataran desa, dan pasar-pasar rakyat. Bentuk pertunjukannya sangat spontan dan interaktif; penonton bukan sekadar pengamat pasif, melainkan bagian dari sirkulasi energi magis pertunjukan. Penonton bisa merangsek masuk ke tengah lingkaran, bahkan ikut menari bersama pembarong. Masyarakat akar rumput merayakan kebersamaan tanpa sekat hierarki kelas.
Sementara itu, dari segi estetika gerak dan kesejarahan gaya, kita mengenal gaya Geblakan (sering disebut Reog Katongan). Gaya Geblakan menekankan pada orisinalitas, kegagahan yang bersahaja, dan keliaran maskulin khas tlatah Wengker. Dalam seni barongan gaya Geblakan, gerakan penari didominasi oleh hentakan kaki yang berat, geblakan—gerakan membanting tubuh atau menjatuhkan dadak merak ke tanah sebagai simbol unjuk kekuatan—serta karakter gerak warok yang cenderung kasar, tegas, humoris, sekaligus magis. Musik pengiringnya pun berciri sember, keras, dan bertempo cepat tanpa dinamika yang rumit, murni mengandalkan ketukan organik yang memicu trance (ndadi).

Menenun Seragam di Atas Kanvas Selera Penguasa
Namun, ketika mayoritas kelompok festival menggunakan jasa, dalam hal ini episentrum ‘estetika Surakarta’, benturan konseptual tidak dapat dihindarkan. Hal ini memaksa Reog untuk menanggalkan watak aslinya yang kasar, liar, dan spontan. Di sinilah jeruji emas itu mulai mengencang.
Ada paradoks yang menggelitik di sini. Ketika menonton festival hari ini, kita seolah-olah sedang mendatangi sebuah ruang reuni terselubung seniman tari dan seniman karawitan yang dipindahkan ke alun-alun Ponorogo. Al hasil, gaya gerak Reog yang semula berciri khas geblakan yang meledak-ledak, perlahan-lahan mengalami penghalusan demi mengejar estetika panggung yang anggun, simetris, dan terstruktur ala keraton atau ruang prosenium.
Konon, fenomena ini sejalan dengan apa yang dikhawatirkan oleh Bourdieu (1984) mengenai cultural reproduction. Kelompok kelas dominan (dalam hal ini, lembaga akademik seni dan juri festival) memiliki kuasa, secara tak langsung, untuk mendikte apa yang disebut sebagai seni yang “bermutu” atau “bernilai estetika tinggi”. Akibatnya, kelompok peserta festival terpaksa tunduk pada selera dominan tersebut agar diakui (dan menang).
Dampaknya adalah penyeragaman selera. Reog dari berbagai daerah mulai terdengar dan terlihat seragam karena referensi dan panduan dramaturgi yang sama. Keliaran magis penari yang ndadi atau interaksi organik khas Obyog kini disterilkan dari panggung festival karena dianggap merusak hitungan durasi dan skenario.
Festival diniatkan untuk melestarikan Reog, namun tanpa sadar sedang menciptakan “sangkar kaca” yang membuat Reog menjadi elitis, mahal, dan berjarak dari masyarakat pemilik kebudayaan itu sendiri.

Merajut Kembali Ruang Bebas Bagi Singo Barong
Tentu, kritik ini tidak boleh menegasikan satu pencapaian besar: keberhasilan merawat konsistensi festival yang telah bertahan selama lebih 30 tahun hingga hari ini. Keberlanjutan ini adalah prestasi kultural yang luar biasa dari segenap masyarakat dan birokrasi Ponorogo. Terlebih lagi, optimisme baru kini buncah dengan lahirnya ruang kompetisi khusus untuk kelas pelajar dan remaja. Inisiasi festival usia dini ini adalah oase di tengah kecemasan zaman; sebuah langkah konkret yang menjamin denyut nadi regenerasi serta kelangsungan hidup kebudayaan Reog di masa depan.
Maka dari itu, langkah strategis ke depan bukanlah mendobrak paksa sangkar kompetisi tersebut, melainkan melakukan kalibrasi festival yang membuka lebar pintu jeruji emasnya. Kalibrasi festival diartikan sebagai upaya penataan ulang dan penyelarasan kembali indikator capaian estetika dalam kompetisi, agar tidak melulu berkiblat pada standar seni pertunjukan modern Barat. Penyelarasan ini dilakukan dengan merombak kriteria penilaian agar memberikan bobot nilai yang besar pada aspek rasa, ekspresi personal pembarong, spontanitas warok, serta ketangguhan mempertahankan karakter lokalitas gaya geblakan masing-masing daerah.
Selain itu, festival harus didesain sebagai ruang multidimensi yang juga merayakan kebebasan ekspresi Reog Obyog di pelataran terbuka di sela-sela kompetisi formal, sehingga batas antara penonton dan pelaku seni dapat melebur kembali. Melalui kalibrasi ini, sistem kompetisi—terutama pada level profesional maupun pelajar—diarahkan untuk menciptakan regulasi proporsional yang menjamin ruang tumbuh bagi seniman lokal di daerah asal paguyuban. Dengan demikian, transfer pengetahuan dari koreografer luar tetap berjalan seimbang tanpa mematikan proses inkubasi bakat-bakat pribumi.

Jangan Biarkan Jiwa Mati di Sangkar Emas
Festival Reog Ponorogo tidak boleh hanya berakhir sebagai pabrik yang melahirkan robot-robot penari yang patuh pada standart penilaian dan skenario sutradara. Reog, pada hakikatnya, adalah perayaan atas keliaran kreativitas, ketangguhan fisik, spiritualitas mistis, dan kegembiraan komunal rakyat jelata.
Penyelenggara memegang kendali penuh melalui kalibrasi estetika ini agar industrialisasi tidak kebablasan menjadi domestikasi budaya yang menjinakkan kebuasan artistik asli Singo Barong. Merawat Reog berarti merawat kebebasannya, bukan memasukkannya ke dalam sangkar emas estetika panggung yang seragam. Jangan sampai, di balik piala-piala megah yang dipajang di ruang display, kita sebenarnya sedang merayakan kematian perlahan dari jiwa Reog yang asli.

*Suroto merupakan staf pengajar pada Program Studi Koreografi Inkuiri, Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selain mengajar, terlibat aktif sebagai peneliti dan praktisi seni yang menaruh perhatian besar pada eksperimentasi koreografi, dramaturgi lokal, serta dinamika sosial-politik seni pertunjukan di Indonesia. Pernah menjadi redaktur Majalah Gong, Media dan Seni. Penulis dapat dihubungi melalui pos-el: surotopincuk@gmail.com HP. 082118608235.