Novel Kastel – Kafka Mengantarkan Làszlo Krasznahorki sebagai Pengarang
Oleh: Sigit Susanto*
Sebuah wawancara antara Làszlo Krasznahorki, peraih nobel sastra tahun 2025 asal Hongaria dengan panitia nobel sastra di Swedia, cukup mengagetkan. Ia sebutkan bahwa dirinya menjadi pengarang berkat baca novel Kastel karya Franz Kafka. Kita tahu bahwa novel Kastel karya Kafka tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh An Ismanto, dari penerbit DIVA Press, Yogyakarta. Untuk itu wawancara yang diunggah di youtube resmi panitia nobel tersebut, saya terjemahkan secara lengkap.


Pertanyaan: Bisakah diceritakan lingkungan di Hongaria, tempat Anda dibesarkan?
Làszlo Krasznahorkai: Saya moderator, bukan pengarang. Saya lahir dan tinggal di kota kecil sampai remaja di usia 18 tahun. Buat saya seperti sebuah cerita, saya banyak membaca, semua buku sangat penting untuk fantasi saya, sebab teks itu menginspirasikan fantasi saya. Dan sebenarnya saya menulis terus-menerus dalam fantasi saya. Saya berhubungan dengan kota kecil saya namanya Gyula. Saya melihat kota saya lewat fantasi saya. Ketika saya masih remaja, saya mencintai sekali kota saya. Itu bukan kota, melainkan kata. Pengalaman pertama saya sebagai manusia, tentang legenda, figur, di wilayah, di kota kecil, sangat penting bagi saya di kemudian hari, cerita yang menakjubkan, di waktu kemudian memori itu lenyap. Saya kehilangan kota itu. Ketika saya kembali lagi, karena saat remaja tinggal di dekat Budapest, mencoba mencari yang asli, nama jalan masih sama, juga pohonnya sama. Tetapi itu tidak seperti yang akan saya tulis. Itu krisis dalam hidup saya, saya kehilangan harapan. Juga saya punya kritik hubungannya dengan tempat itu. Karena orang-orang yang tinggal di kota kecil itu tak pernah meninggalkannya, contohnya kakak saya. Mereka hidup dengan gaya lama di kota tua. Saya tanya, bagaimana kamu bisa tinggal di sini, tetapi tidak sama. Tetapi dia memahami saya. Namun setelah saya mendapatkan hadiah nobel, ada yang menyelenggarakan agenda besar. Tajuknya Nobel Week, waiting you are.Banyak acara baca buku, acara resmi, foto-foto di jalanan. Terima kasih. Sangat ramah. Realitasnya saya kehilangan kota yang asli.
P: Apakah Anda selalu berjuang untuk menjadi pengarang?
LK: Oh, itu terjadi belakangan sekali. Ketika saya berusia antara 25-30 tahun. Saya khawatir tinggal di negeri ini, karena saya tak bisa tinggal di negeri Hongaria, karena keadaan politik. Saya bukan aktif propaganda antikomunis. Anda tahu Hongaria pada waktu itu di bawah pendudukan Soviet. Waktu itu di Hongaria memiliki kalimat yang cukup indah dan saya coba untuk menulis di kepala. Kalimat yang indah. Pada waktu remaja, bagian era yang lain, saya tertarik dengan musik, musik klasik, musik Beat dan Jazz, saya bermain piano. Saya tak pernah terbayang menjadi pengarang. Karena dalam sastra, terutama puisi punya era semerbak ketika saya masih muda. Ada Tuhan di paling atas dan saya tak pernah membayangkan, hingga di suatu waktu, saya termasuk ikut di surga itu. Sebab itu saya ingin menulis hanya satu buku. Novel saya yang pertama berjudul Satanstango. Saya ingin menulis buku ini dan selesai. Sayangnya, dalam hidup saya muncul gambar, teman, yang akhirnya menjadi teman, seorang direktur film bernama Béla Tarr. Berkat dia, dia ingin membuat film setelah selesai dari film dari buku Satanstango, saya harus membaca buku itu lagi. Itu bukan buku yang hendak saya tulis. Saya akan menulis sesuatu, buku yang lebih baik, tidak dengan teks seperti itu, lebih baik saya menulis yang baru. Tapi tidak ada hubungannya dengan teks lama, lebih baik menulis yang baru. Tetapi saya tidak tahu dan saya tak menghitung, jika Anda menulis lagi, akan menurun. Setelah itu buku saya kedua, Melancholy of Resistance. Béla (teman pembuat film itu) datang lagi dan menawari dibuatkan film di bioskop. Dan saya baca sekali lagi, apa itu Yesus dan Maria. Saya tunjukkan, apa yang saya harus lakukan. Saya tak menemukan jalan keluarnya. Saya semakin menurun dan menurun dan saya tiba pada suatu titik, ada seorang polisi bertanya, apakah pekerjaanmu? Saya jawab, saya tak punya pekerjaan. Pekerjaanmu apa? Saya jawab, saya pengarang. Dari situ saya menjadi pengarang dan selalu melakukan dalam hidup yang benar dalam seluruh hidup saya. Tetapi saya tak bisa mencari jalan keluar pada buku.
P: Sastrawan siapa yang Anda anggap penting?
LK: Franz Kafka. Tanpa Kafka, saya tak pernah, tak akan pernah menjadi pengarang. (Without Kafka, I will never never be a writer). Alasannya, saya punya kakak yang usianya enam tahun lebih tua. Saya masih sebagai anak kecil, dia sudah sebagai remaja besar. Dia dan lingkungan teman-temannya membaca banyak buku sastra. Saya ingin tahu, apa yang mereka bicarakan. Contohnya seperti buku Kafka, Dostojewski dan buku sastra Rusia, sastra Amerika dan sastra Eropa. Saya ingin mendekat ke lingkugan teman-temannya, menjadi bagian dari anak-anak remaja. Suatu malam, kakak saya bekerja sebagai personalia di toko buku. Saya memilih dan mengambil buku, secara beruntung atau sial, saya mengambil novel Kastel karya Franz Kafka. Saya masih berusia 11 atau 12 tahun membaca novel tersebut dari awal sampai akhir. Saya tak paham, tentang apa novel ini? Ceritanya tentang apa? Kenapa Kastel? Buat saya itu seperti cerita rahasia. Tentu saja dalam kelompok itu saya harus menceritakan ya, K da da da da da…Saya semakin dekat dengan kelompok ini, tetapi saya tak pernah dapat memahami novel Kastel ini. Pada novel Kastel, bagi saya, sampai sekarang Kastel sebagai novel paling misterius yang indah dalam sastra. (The most beautiful secret in the literature). Sebab itu saya katakan kepada Anda, tanpa novel Kastel ini, saya tak pernah menjadi pengarang. Begitu banyak, pada bulan Desember saya harus menghadiri diskusi, di tempat yang sama, tentang kemanusiaan, tentang kelembapan. Begitu banyak pengarang, hanya sastra yang mempengaruhi dalam hidup saya. Musik juga, free Jazz, Jazz yang asli, seni dan arsitektur, setiap jenis seni, sangat penting bagi saya.
P: Apakah Anda menentukan tema dahulu sebelum mulai menulis cerita?
LK: Saya tak pernah menulis buku dengan satu tema. Saya menulis secara instingtif, dimana saya tinggal. Bahkan sampai sekarang, dengan perbedaan sistem politik di Hongaria. Saya tinggal berpindah-pindah, saya memilih tinggal bersama orang-orang miskin, karena saya terkesan dengan Dostojewski, sehingga saya pulang, melihat orang kelaparan, lebih banyak daripada sebelumnya, kelas sosial ini selalu kelaparan dalam sejarah. Mungkin ini merupakan waktu sinikal yang tepat. Itu kalau terjadi sudah lewat, Anda, orang sekarang yang menang. Orang sama sekali tak menang. Anda adalah masa depan? Apakah kami masa depan untuk orang-orang ini. Itu sangat sinikal dalam kehidupan mereka. Saya pergi ke orang-orang ini dan hidup bertahun-tahun dengan mereka. Kadang-kadang terjadi sesuatu di stasiun, di stasiun kereta api, malam hari ketika saya menunggu kereta api atau ketika saya dapat pekerjaan. Ada masalah kecil, masalah kecil itu punya faktor, bau sesuatu, sangat penting, saya mencoba sedikit lebih masuk, ada apa ini? Sangat penting, karena realitas, sehingga saya semakin mendekat ke mereka. Ketika saya harus mengoreksi buku-buku saya sebelumnya. Saya menggunakan kepala saya, mencoba menulis satu kalimat, kalimat-kalimat lain, menjadi semakin panjang. Anda tahu, kalau Anda punya sesuatu untuk diungkapkan, kepada orang lain, contohnya, I Love you. Tapi 20 tahun lalu saya tak berani untuk mengungkapkannya atau saya membenci Anda, tetapi 20 tahun silam saya tak punya keberanian melakukannya. Tiba-tiba saya bisa bicara. Anda tak bisa menulis kalimat pendek yang indah, saya membenci Anda, karena saya punya keberanian bercerita kepada dia. Dan saya membenci da da da da…Latar belakang musik saya punya andil yang besar. Anda tak bisa memotongnya, itu garis yang panjang. Tentu saja, kalimat panjang, itu tata bahasa, sangat penting, tentunya. Dari tahun ke tahun saya menulis. Saya menyambut hal kecil tentang dunia. Itulah cerita dalam hidup saya. Dan itu sudah semuanya.
P: Bagaimana Anda melihat posisi Anda sebagai seorang pengarang ?
LK: Saya hanya seorang moderator, bukan pengarang. Untuk mencari jalan antara dua orang, dua hal, dunia, perlu jalan, hubungan, antara dua kepercayaan, dua perseteruan. Posisi saya lebih banyak ke langkah praktis, untuk memahami pikiran dia dan mengapa? Contohnya, Pohon. Di kebun saya, di rumah di Hongaria, terdapat pohon Ek lebih dari 100 tahun. Sekarang saya duduk di luar teras rumah. Saya lihat pohon Ek, begitu besar, saya tak bisa bayangkan itu. Saya mencoba memahami apa yang pohon Ek itu pikirkan.
P: Apakah Anda suka liburan ?
LK: Saya pertama kali boleh meninggalkan Hongaria tahun 1987. Itu pertama kali, ketika saya dapat paspor dari kantor polisi. Saya penasaran, bagaimana dunia? Sebab ada pengalaman besar dan sangat dramatis. Untuk memahami, O dunia tidak seperti yang saya bayangkan di Hongaria, di sangkar. Ketika kami berada di bawah pendudukan Soviet. Bukan karena manipulasi keuangan, tetapi saling terkait, benar-benar seperti hidup di sangkar. Kami berpikiran, ini dunia. Seorang polisi berpangkat tinggi menanyakan kepada saya, kenapa saya bercerita ini dan itu? Saya tak pernah cerita. Anda bisa bayangkan, orang seperti Anda, saya menulis sesuatu tentang Anda? Mereka tidak bahagia. Setelah itu, saya bisa meninggalkan Hongaria, saya berpindah tempat. Alasannya karena saya sangat ingin tahu. Langitnya biru, sungguh? Saya pikir, yang saya tahu warnanya merah. Di bawah pendudukan Soviet kami kehilangan yang berharga. Saya tahu di Austria, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, rumputnya hijau. Hijau yang indah. Itu tahun-tahun pertama, setelah itu, saya berpindah-pindah tempat sampai sekarang. Bukan karena saya ingin menikmati musim panas. Kebalikannya, saya pindah tempat karena saya ingin tinggal. Itu alasannya.
Diterjemahkan oleh Sigit Susanto
Sumber: akun youtube Nobel Prize.
László Krasznahorkai, Nobel Prize in Literature 2025: Official interview
—
*Sigit Susanto, Sastrawan Indonesia yang tinggal di Swiss




