Cerpen di Depan Hukum – Franz Kafka dalam Empat Bahasa Daerah

(Bahasa Papua Suku Mee, Bali, Sunda, Jawa)

Ada banyak upaya membawa karya sastra bermutu dunia ke hadapan pembaca kita. Ada penerbit yang mengkhususkan menerbitkan karya sastra terjemahan dari penerjemah bahasa asli si pengarang menulis. Dengan harapan distorsi pemahaman dari pengarang itu menjadi lebih berkurang.

Saya lebih tertarik menerjemahkan karya-karya Franz Kafka dari bahasa aslinya, yakni bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian saya mencari teman-teman penerjemah bahasa daerah di facebook dan saya kumpulkan dalam grup WA. 

Kenapa Franz Kafka?

Franz Kafka tak hanya dianggap sebagai salah satu sastrawan terkemuka di abad 20, selain Marcel Proust dan James Joyce. Namun ia disebut sebagai prosais modern. Kerumitan teks-teksnya diakui sendiri oleh pembaca Jerman atau pembaca yang punya mother tangue bahasa Jerman. Karya-karyanya dianggap sebagai karya klasik modern, dengan ciri-ciri setiap saat selalu diterbitkan ulang dan serpihan kalimatnya dipakai menjadi aforisme dalam berbagai bidang ilmu.

Atas segala pengaruh dan kebesaran karya Franz Kafka itu, saya memilih upaya kecil membawa sastra dunia itu ke dalam bahasa-bahasa nusantara. Ada tiga cerpen Franz Kafka (Di Depan Hukum, Sebuah Persilangan dan Sang Penunggang Ember) sedang dalam proses diterjemahkan ke dalam enam bahasa nusantara, antara lain; bahasa Papua Suku Mee, bahasa Melayu Ambon, bahasa Sasak Lombok, bahasa Bali, bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Sambil menunggu menusantarakan karya sastra bermutu dunia, di bawah ini sebuah contoh cerpen Franz Kafka berjudul, Di Depan Hukum, telah selesai diterjemahkan ke dalam empat bahasa; bahasa Papua Suku Mee, bahasa Bali, bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Seperti kita tahu, negeri kita punya 718 bahasa. Dan sudah menjadi tantangan bagi kita, bahwa penyebaran sastra bermutu, tidak harus dimonopoli warga kota-kota besar, namun pembaca di daerah pun bisa membacanya menggunakan bahasa mereka sehari-hari.

Semoga kelak akan terbit buku-buku sastra berkualitas dunia dalam bahasa nusantara. Saya bayangkan Franz Kafka akan tersenyum bangga di alamnya, menyaksikan karyanya sampai ke bahasa-bahasa pelosok daerah kita.

(Sigit Susanto)

 

Di Depan Hukum

Oleh Franz Kafka

Di depan hukum berdiri seorang penjaga pintu. Seorang dari desa datang menemui penjaga pintu dan minta izin untuk menghadap hukum. Tapi penjaga pintu tersebut menolaknya untuk memberi izin masuk sekarang. 

Orang desa itu menanyakan, apakah dirinya nanti bisa masuk? “Itu mungkin, tapi tidak sekarang,” jawab penjaga pintu. Ketika pintu pengadilan itu terbuka seperti biasanya dan penjaga pintu menepi, orang desa itu telah melihat ke ruang dalam pengadilan. 

Ketika penjaga pintu mengetahuinya, tersenyum dan berkata, “Jika kamu akan mencobanya, mengapa tidak masuk saja, meskipun dilarang. Tapi ingat, saya berkuasa. Dan saya hanya penjaga pintu yang paling rendah. Tapi dari ruang ke ruang lain telah dijaga oleh penjaga pintu, satu dengan yang lain makin tinggi kekuasaannya. Bahkan saya tidak bisa menanggung pada pintu ke tiga.” 

Orang desa itu tak mengharapkan kesulitan. Hukum harus berlaku adil kepada semua manusia, dia pikir. Tapi dia sekarang lebih memperhatikan penjaga pintu yang mengenakan jaket besar berbulu, berhidung mancung dan berjenggot panjang serta tipis. Dia masih optimis untuk dapat izin masuk. Penjaga pintu memberi bangku kecil sambil mempersilakan untuk duduk di dekat pintu. Dia duduk berhari-hari bahkan bertahun-tahun. Dia mencoba minta izin masuk, namun ditolak oleh penjaga pintu. Bahkan penjaga pintu bertanya pada orang desa itu tentang keluarganya dan berbincang banyak hal, namun pertanyaannya membosankan. 

Penjaga pintu berlagak seperti tuan besar, akhirnya dia tetap berkata lagi, bahwa orang desa itu belum boleh masuk. Orang desa itu membawa banyak perbekalan berharga dalam perjalanannya, dengan mudah untuk menyuap penjaga pintu. Akan tetapi penjaga pintu berkata, “Saya hanya menerimanya, sehingga kamu jangan berpikir, kamu telah semena-mena pada semuanya.” 

Setelah lewat bertahun-tahun, orang desa itu memperhatikan penjaga pintu terus menerus. Dia lupa pada penjaga pintu yang lain dan penjaga pintu pertama ini hanya merupakan halangan untuk menghadap hukum. Dia mengutuk nasib buruknya, pada tahun-tahun awal dan dengan penuh kehati-hatian, setelah dia makin tua, dia sering menggerutu pada dirinya sendiri. 

Dia menjadi kekanak-kanakan dan selama pengamatannya pada penjaga pintu, dia mulai tahu ada kutu pada jaket bulunya. Dia harapkan agar kutu itu membantunya untuk merubah sikap penjaga pintu. 

Akhirnya, pandangannya makin kabur, dan dia tidak tahu lagi, bila hari makin gelap atau bila matanya telah menipu dirinya. Tapi dia makin sadar, betapa sulitnya mengurus hukum. Dia tak bertahan hidup lebih lama lagi. Sebelum dia mati, seluruh pengalamannya dikumpulkan dalam benaknya untuk menemukan sebuah pertanyaan, yang dia sendiri belum tanyakan kepada penjaga pintu. 

Dia memanggil penjaga pintu, sementara dia sendiri tak bisa mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga pintu itu harus membungkukkan begitu rendah, karena ketinggian antara keduanya telah berubah, banyak yang menyengsarakan orang desa itu. 

“Kamu masih ingin tanya apalagi?” tanya penjaga pintu. “Kamu rakus.” “Semua orang berupaya berurusan dengan hukum,” kata orang itu. 

“Bagaimana mungkin, bertahun-tahun lamanya, tak seorangpun kecuali saya telah minta izin menghadap hukum?” 

Penjaga pintu itu sadar, bahwa orang itu sudah mendekati kematian, di samping kedunguannya bertambah, dan untuk masuk, penjaga pintu berkata keras pada orang desa, “Tak ada orang lain dapat izin masuk ke sini, karena pintu ini dimaksudkan hanya untuk kamu. Sekarang saya pergi dan saya tutup pintunya.”

0o0

Judul asli bahasa Jerman: Vor dem Gesetz

Judul bahasa Indonesia: Di Depan Hukum
Diterjemahkan oleh Sigit Susanto

0o0

1.Dagiduwatai Yumapa

(Bahasa Papua, Suku Mee Idakebo Dogiyai oleh Nomensen Douw)

Manadagi duwatai owaa damoutopakoda, damo doutotai meekidi yoni. Meeidana desa make damo doutotaime kidi akadotaine tiyake dana nawaiyou etine kidi manaduwatai owage wowyokaine kidi. Kodoyamake damoutopa totaime kida itogako yamotou eti.

Desa totaimee kida mana egowakidou, aniki odigako aiyokaipiga? ”kouko kipaga, yamake itokouko beu, ”damo doutotai kida etimana. Mana dagi duwatai owa damo kodo kebayawiyake dana damo ewanetaibage beuga,desa totaime kidi mana dagi duwatai duba kodo dota.

Domouto ewanetaime kidi epikiyake, kiyai etiyake mana eti, “aki gadope kino, magika aiyokaibeu tipe, iniyako beu kodoya. Yamake aki gaamakai, aniya gai. Dana aniki miyoketagoka damo kouto doutotai. Kodoyamake dagu make dagu inoudo meinoka damo doutotai, ena make inoko wadoyake bagemapa. Damo widago komaiya aniki ewo.” Desaka meekidi wane-wane mana kou dimidodoma beu.

Enaa peu mana idima bagepa ipuwekai, okaiya gai. Kodoyamake okai itoko damo doutotai meekidi epi dotai ibo iyoma kagaba makitame kidi, yuma woya dana daba konayo woya. Okai makidi mana dimiduba aiyokai etipigai. Damo doutotai meekida daba animakaida meni animakaida age yimuma yadeyake damoutopa koda. Okai animakai agapegakita tauwani gakita okaikoudakodato. Okai gado etai aiyokaine, yamake damo doutotai meekida beu eti. Damo doutotai meekida desa meekidipa akaiya bage egowakidou dana uminaido mana awegai, kodoyamake akagado begaada.

Damo doutotai meekidi ani nadoweitidoke ibo meedani, yamake Okai mana wegai, Desaka Meekidi itogako aiyo tekimake. Desaka Meekidi ita metaga agiyo umina dokita,damo doutotaimee kidi egauda edaine. Yamake damo doutotaimee kida mana,”Aniki motito, tiyake aki dimitegai, akiya gai-gai idikimaido utoma”

Mago tauwani yamokatouda, desaka meekidi damo doutotai meekidi edota-edotatai. Inoka damo doutotaidoke okai amogaibeu dana ediga damo doutotaimee kiko dagimana duwatai uwenaida wane-wane. Okai peukida itaido kodo akato widogai, ediga tauwani-tauwani duba koya peu daiga, okai adama kenaga, okai akato mana wega-wega. Okai yoka-yoka kita dana wagi damo doutotaimee, okai epikai ibo kagaba iyoma duba uka ewaida kida. Okai dimi gaiko uka kiya edadai damodoutotaimee kida dimi mana akapaka tiyawi.

Yamake, doomakai wane-wane, dana okai ewokodo ewo, wagi bunita kida dana okai akato pekatapa puyamana kida. Kodoya okai epikai, dagiduwatai mana egauda manako beu. Okai umina uno teumipagi. okai bokai beuga, keititaido enaidato kotutai kegepaduba egowakidoune mana ena dounetiyake, kouko okai kidina damo ewanetaimee kidipana egowakidoubeu mana.

Okai manatai damo doutotai meekidi, yonitouyogoga mako teanigomake begomako tetimake. Damo doutotaimee okai edoune miyotudumai umina makitapa koda, enadodoko enadaniko beu kita naka, mee uminaka desaka mee kidi yamoyaikita epi edoubeu.

“Akiki magio manama nagowakidoune?” damo doutotaimee kida egowakidou. ”Aki naigi-naigi.” “Meedima manaduwataima edepede uweike meike, “kida meekida mana.

“Kadaniyuwa kipaga, mago tauwanidani umigo yamokato, meeidana beu anikidito edimai dagimana yumapa?” Damo doutotai meekidi makodonu gai, kida meekidi okai bokai ebapa kida, gaibeu dimi okai wado ewaida kida, dana aiyo kaine, damo doutotai meekida bida mana desaka meekidipa eti, “Meeinoma aiyokai etimako beu yakai kugako, damokiko aki maidamaketo aki pue. Ito kouko ani uwine ani damo munegaka.

0o0

2. Di Malun Hukumé

(Bahasa Bali oleh I Putu Supartika)

Di malun hukumé, majujuk tukang jaga pintu. Ada anak uli désa teka maakin ia lan ngidih tulung apang baanga macelep matemu hukumé. Nanging, ané jani ia tusing baanga macelep tekén tukang jaga pintune ento.  

Anaké uli désa ento lantas matakon, apaké nyanan ia dadi macelep?

“Mirib nyanan dadi, nanging jani ondén dadi,” tukang jaga pintuné ento masaut.

Dugas pintu pengadilané ento mabukak cara biasané lan penjaga pintuné ento nyamping, anaké uli désa nyidaang ningalin isin tengah ruangan pengadilané.

Ri kala tukang jaga pintuné nawang unduké ento, ia makenyem tur mamunyi, “Yéning ragané lakar macelep, ngudiang sing macelep dogén, yadiastun tusing baanga. Nanging ingetang, awaké dadi penekek dini. Awaké tuah tukang jaga ané ngelah kuasa paling éndép. Nanging uli ruangané ené nuju ka ruangan ané lénan, ada tukang jaga pintu lénan, lan nyansan ka tengah nyansan tegeh kuasané. Di pintuné ané nomer telu, awaké sing nyak nanggung.”

Anaké uli désa ento sing makeneh lakar nepukin pakéweh. Hukumé pantesné adil tekéning manusané makejang, kéto ia makeneh. Nanging ané jani ia nlektekang tukang jaga pintuné ané nganggon jikét gedé mabulu, cunguhné lanying tur jénggotné lantang tipis. Ia enu mautsaha apang baanga macelep. Tukang jaga pintuné ngenjuin dampar tur ngorahin ia negak di samping pintuné. Wai-wainan kanti tiban-tibanan ia negak. Ia ngidih tulung apang baanga macelep, nanging katulak olih tukang jaga pintuné. Tukang jaga pintuné totonan matakon tekén anaké uli désa ento ngenénin unduk kulawargané tur unduk-unduk ané lénan, nanging patakoné ento ngemedin. 

Tukang jaga pintuné totonan masebeng cara pangedé, pamuputné pasautné enu patuh, yéning anaké uli désa ento ondén dadi macelep. Anaké uli désa ento liu ngaba bekel ané maaji di idupné, aluh baana nombok tukang jaga pintuné. Nanging tukang jaga pintuné mamunyi, “Awaké tuah nerima dogén, eda ragané makeneh yéning ragané suba sakita-kita tekén anak lénan.”

Disubané liwat tiban-tibanan, anaké uli désa ento terus nganeng-neng tukang jaga pintuné. Ia engsap tekén tukang jaga pintuné ané lénan lan tukang jaga pintu ané simalu ené tuah panyantul déwékné ané lakar matemu hukumé. Ia mastu idupné ané jelek ri kala warsa-warsané ané malu lan liunan tangarné, disubané ia nyansan tua, ia pepesan ngrimik padidian. Jani ia suba cara anak cenik lan uli simalu medasang tukang jaga pintuné, mara ia urati yéning ada kutu di jikét buluné.  Ia mapengapti apang kutuné ento nulungin déwékné menahin bikas tukang jaga pintuné. 

Pamuputné, paliatné nyansan samur, lan ia tusing nawang kénkén panadiné, yéning dinané suba sayan peteng utawi matané suba nguluk-uluk déwékné. Nanging jani ia sayan pedas, kénkén kéwehné murusan ngajak hukum. Kadirasa ia suba lakar mati. Satondéné ia mati, makejang pait pakeh idupné lantas kaingetang, lakar kaanggon ngaé patakon, ané ondén taén takonanga ka tukang jaga pintuné. 

Ia ngaukin tukang jaga pintuné, sakéwala ia tusing nyidaang ningtingang awakné ané kehkeh. Tukang jaga pintuné totonan kanti bungkut, ulian tegehné ajaka dadua suba pada malénan, liu ané makrana anaké uli désa ento sengsara.

“Apa buin ané lakar takonang ragané?” tukang jaga pintuné matakon. “Cai rakus.” “Makejang anaké maupaya murusan ngajak hukum,” pasaut anaké uli désa ento.

“Tusing kakeneh baan, suba tiban-tibanan, sing ada nyén sajabaning icang ané mai lakar matemu hukum?”

Tukang jaga pintuné ento nawang, yéning anaké ento suba lakar mati, lénan tekén ento ia masih suba lengeh, lan lakar macelep, tukang jaga pintuné nengkik anaké uli désa ento, “Sing ada anak lén ané dadi mai, krana pintuné ené tuah anggon ragané dogén. Jani awaké lakar magedi lan awaké lakar nutup pintuné ené.”

0o0

3. Di Hareupeun Pangadilan

(Bahasa Sunda oleh Eddi Koben)

Di hareupeun pangadilan, saurang patugas ngajanteng ngajagaan panto. Jol hiji jalma ti pilemburan datang nepungan si patugas seja ménta idin rèk asup ka pangadilan. Tapi, si patugas teu ngidinan asup ayeuna.

Pok si urang lembur nanya, “Naha engkè kuring meunang asup?”

“Nya meureun, tapi teu ayeuna,” walon si patugas.

Basa panto muka, jiga sasari si patugas nyisi. Si urang lembur mencrong ka jero rohangan pangadilan. Si patugas mireungeuh. Manehna imut, tuluy pok nyarita, “Lamun anjeun rék nyoba-nyoba, naha teu asup baè atuh najan dicaram ogè? Tapi omat, kuring nu kumawasa. Kuring ukur ngajaga lawang panto. Pangkat kuring ukur panghandapna. Tapi, di unggal rohangan lianna geus dijagaan ku patugas nu ngajaga panto. Beuki ka jero beuki luhur pangkatna. Malahan mah kuring teu bisa ngajamin cacak karék samet panto katilu ogè.”

Si urang lembur tangtu teu ngarepkeun hahalang. Hukum kudu adil ka sakabéh jalma, ceuk pikirna. Ayeuna manèhna kalahkah jongjon nelek-nelek si patugas nu ngajaga panto. Si patugas makè jeket kandel jeung buluan. Irungna mancung jeung janggotna panjang tur ipis. Manèhna masih kènèh boga kayakinan bakal meunang idin asup.

Si patugas ngasongkeun bangku leutik bari nitah diuk ka si urang lembur deukeut lawang panto. Si urang lembur diuk mangpoé-poè malahan mah mangtaun-taun. Manèhna keukeuh mènta idin sangkan bisa asup, tapi teu weléh dihalangan ku si patugas. Si patugas kalahkah tunya-tanya teu pararuguh ka si urang lembur ngeunaan kulawargana. Tuluy cumarita teu puguh juntrunganana èstuning matak pikaboseneun nu ngadèngèna.

Si patugas lajag-lejèg, lagana jiga panggedè. Antukna mah manèhna nyarita deui ka si urang lembur yèn si urang lembur tacan meunang asup. Si urang lembur mawa bebekelan loba naker dina sajeroning lalampahanana sangkan bisa nyogok si patugas. Tapi, pok si patugas nyarita, “Kuring ukur bisa nampa pangasih ti anjeun. Tapi, ulah boga pikiran bisa ngalalaworakeun saha baé.”

Geus mangtaun-taun si urang lembur nelek-nelek si patugas nu jaga panto. Manèhna poho yèn masih aya patugas nu ngajaga panto nu sèjènna. Patugas nu kahiji ieu ukur hahalang pikeun manèhna nyinghareupan hukum. Manéhna kukulutus, aya ku goréng-gorèng teuing cenah nasibna dina taun-taun munggaran mah, nu pinuh ku kawaspadaan. Beuki kolot, manéhna beuki mindeng kukulutus sorangan.

Manèhna jadi bubudakeun. Salila nelek-nelek si patugas nu ngajaga panto, manèhna karèk mireungeuh yèn dina jèkèt si patugas nu buluan tèa aya kutu. Manèhna miharep sangkan èta kutu bisa nulungan manèhna pikeun ngarobah sikep jeung pamadegan si patugas nu ngajaga panto.

Tungtungna mah tetempoan si urang lembur beuki teu awas. Manèhna teu mireungeuh wirèh poe beuki moèkan. Atawa moal kitu tetempoanana ukur nipu manèhna sorangan? Manèhna karèk éling yèn urusan jeung hukum tèh kacida hèsèna. Manèhna sadar yèn hirupna moal lila deui. Saacan nepungan pati, sakabèh pangalamanana dikumpulkeun dina ingetanana nalika manggih hiji pasualan nu can kungsi ditanyakeun ka si patugas nu ngajaga panto.

Rikat manéhna ngageroan si patugas. Manèhna sorangan geus teu bisa usik-usik acan. Si patugas kapaksa kudu ngabongkokkeun awakna sangkan sajajar jeung si urang lembur. Sabab, kaayaan di antara maranéhanana geus loba nu robah, loba nu nyangsarakeun si urang lembur.

“Anjeun rèk nanya naon deui?” tanya si patugas. “Anjeun hawek. Nu lianna gé pahayang-hayang urusan jeung hukum,” ceuk si patugas nuluykeun.

“Asa ku arahèng, nangtaun-taun lilana euweuh saurang-urang acan iwal kuring nu ménta idin pikeun nyinghareupan hukum?”

Si patugas sadar yèn si urang lembur tèrèh pimaoteun. Jeungna deui asa leuwih nambahan bodona. Manèhna ngomong tarik naker ka si urang lembur, “Saha baé euweuh nu meunang idin asup ka dieu, sabab panto ieu ukur keur anjeun. Ayeuna kuring indit sarta pantona ditutup ku kuring.”

0o0

4. Ing Sangarepe Hukum

(Bahasa Jawa oleh Ki Sugito Ha Es)

Ana pawongan ing sangarepe hukum, ngadeg dadi tukang tunggu lawang. Ana sawijine warga desa teka marani tukang tunggu lawang lan njaluk palilah amrih bisa mlebu  ketemu adu arep karo hukum. Nanging si tukang tunggu lawang ora ngidini yen wong desa kuwi mlebu saiki.

Wong desa banjur takon, apa yen mengko nunggu banjur diidini mlebu?

“Kuwi mung bokmenawa. Bokmenawa diidini, nanging ora saiki,” wangsulane sing nunggu lawang.

Nalika lawang pengadilan binuka kaya padatan lan tukange tunggu lawang mingset ngadeg neng pinggir, wong desa mau klakon nonton isi sajerone pengadilan. 

Nanggapi panyawange wong desa marang kahanan sajerone pengadilan, si tukang tunggu lawang mesem lan ngabani, “Yen kowe arep nyoba, kena apa ora mlebu saiki senajan ora diidini? Nanging kowe kudu ngreti, neng kene aku sing duwe wenang nundhung utawa nglilani. Lan aku mung andhahan, tukang njaga lawang sing pangkate ngisor dhewe. Nanging neng jero kana kae saben lawang ana sing njaga, sansaya mlebu sansaya dhuwur pangkat lan wewenange. Embuh dadimu yen nganti ketemu tukang jaga lawang sing nomer telu.”

Tekane wong desa mrono ora ngajab kesrimpet lan kepalang reribed. Hukum kudu adil jejeg tumrap sapa wae, ngono idhepe. Dheweke saiki salin panyawang, dadi luwih migatekake jaket wulu sing dianggo tukang nunggu lawang sing irunge mbangir lan ngingu jenggot dawa tur tipis kuwi. Dheweke isih yakin yen mengko bakal dililani mlebu.

Tukang tunggu lawang ngulungi dhingklik karo ngakon wong desa kuwi amrih lungguh ing pinggir lawang.

Wong desa lungguh ing kono suwene nganti mataun-taun. Saben kandha arep mlebu tansah dipenggak. Malah tukang nunggu lawang dadi nakokake bab kulawargane uga bab liyane, nanging pitakonane njuwarehi, pijer mbaleni sing kuwi-kuwi wae.

Tukang nunggu lawang lagak-lagune wis memper penggedhe, tundhone panggah ngandhakake yen wong desa kuwi ora diidini mlebu.

Wong desa kuwi tekane mrono nggawa sangu barang pirang-pirang sing ajine larang, mula kanthi gampang wae anggone nyogok mbeseli kantongane tukang tunggu lawang. Nanging tukang tunggu lawang malah blaka, “Yen kokwenehi, aku mung mesthi nampani. Nanging aja koksengguh kowe banjur bisa sakarepmu dhewe marang sapa wae.”

Sasuwene pirang-pirang taun wong desa kuwi mung tansah migatekake saparipolahe si tukang tunggu lawang sing ngarep dhewe. Tukang tunggu lawang liyange blas ora digagas. Mungguhe dheweke, mung tukang tunggu lawang ngarep dhewe iki sing cetha wela-wela minangka pepalang lakune, sing njalari ora kelakon ketemu adu arep karo hukum. Dheweke mung pijer nggetuni nasibe sing ora mujur. Suwe-suwe banjur ngluputake awake dhewe.

Sasuwene njlingglengi si tukang tunggu lawang, dheweke wiwit nglegewa yen jaket wulu kuwi jebulane kebak tuma. Dheweke duwe pengarep-arep muga-muga prekara tuma kuwi dadi jalaran kanggo nginger keblate tukang tunggu lawang.

Tundhone, panyawange mripate suwe-suwe dirasakake wis ora premana. Dhewe sansaya ngrumangsani rekasane ngurusi hukum. Dikira uripe wis ora bisa tambah suwe. Sadurunge ketekan pati, kabeh lelakon sing dialami dibundheli neng angen-angen kanggo nemokake pitakonan sing durung nate ditakonake marang tukang tunggu lawang.

Dheweke ngundang tukang tunggu lawang nalika dheweke ora kuwat menyat ngadeg saka lungguhe jalaran rumangsa awake kaku. Tukang tunggu lawang ndhingkluk mbungkuk nganti keladuk sebab saiki sungsate akeh banget antarane kekarone ya jalaran wis akeh sing njalari rekasane wong desa kuwi.

“Isih ana apa meneh sing kepengin koktakonake?” ujare tukang tunggu lawang.

“Kowe srakah. Sadhengah wong padha mbudidaya urusane karo hukum,” ujare wong desa. “Apa tumon, nganti akeh taun wilangane kok sing njaluk idin ketemu hukum mung aku dhewe?”

Tukang tunggu lawang wis nglegewa yen ta uripe wong desa wis cedhak karo pati senajan tambah nekade anggone kumudu mlebu. Tukang tunggu lawang kandha marang wong desa, “Ora ana ana wong liya sing dililani mlebu mrene jalaran lawang iki digawe ana mung mligi kanggo kowe. Saiki aku lunga lan taktutup lawange.”

0o0

——

*Sigit Susanto, penulis yang tinggal di Zug, Switzerland sejak tahun 1996