The Voice of Archipelago : Membisikkan Cinta di Tengah Gejolak Ekstrem Sayap Kanan

Oleh Azuzan JG

PCINU Belanda menggelar Festival Islam Kepulauan dengan tema The Voice of Archipelago. Kegiatan ini diselenggarakan di berbagai kota di Belanda. Meski telah usai, kegiatan ini cukup aktual menjawab persoalan sejauh mana ekspresi Islam di ranah kebudayaan bermanfaat bagi kehidupan. Perlu dicatat, festival ini berlangsung ditengah-tengah merebaknya gerakan anti Islam di Eropa.  

“Melalui Festival ini kami ingin memperlihatkan Islam di Indonesia tidak seperti  persepsi banyak orang, bahwa Islam itu teroris, radikal, tidak toleran. Islam di Indonesia memiliki keberagaman ekspresi, keberagaman budaya, toleran terhadap keberagaman kehidupan yang ada,” jelas Brian Trinanda, kandidat Ph.D. Universitas Amsterdam yang bertindak sebagai ketua pelaksana festival ini. Penjelasannya ini konsisten disampaikannya di berbagai kesempatan di kampusnya, di berbagai instansi yang dihubunginya untuk dimintai bantuannya, di berbagai perhelatan warga RI semisal Pasar Malam, di pertemuan kaum Eksil… Ia terus menyuarakan tujuan festival itu kemana-mana.

Ekstrem sayap kanan
“Saya pikir umat Islam perlu takut jika PVV benar-benar berkuasa,” ungkap Jan Jaap de Ruiter, pakar Belanda untuk kajian Arab ketika memulai serangkaian artikel tentang PVV dan Islam di Nieuwwij.nl  “Kejutan dan keterkejutannya sangat besar. Exit poll pemilihan parlemen 22 November 2023 menunjukkan bahwa Partai PVV pimpinan Geert Wilders memenangkan 35 kursi, perolehan yang bahkan lebih besar lagi keesokan harinya, 37 kursi,”  tulis dosen dan peneliti di Universitas Tilburg itu.

Jan Jaap de Reuter, pakar kajian Arab Uiversitas Tilburg. (Sumber foto:
Jan Jaap de Reuter.eu)

23 November 2023 partai PVV pimpinan Wilders mutlak dinyatakan sebagai pemenang pemilu di Belanda. Hak membentuk kabinet pemerintahan serta merancang arah kebijakan negara Belanda berada di tangannya. 

Dalam upaya membentuk  kabinet pemerintahan, Wilders dan partainya mengajukan rancangan undang-undang yang membahayakan kehidupan demokrasi di Belanda.  Rancangan UU itu tegas menyatakan larangan untuk ekspresi Islam, antara lain melarang adanya sekolah-sekolah Islam di Belanda dan akan mengganjar pengunjung mesjid dengan hukuman penjara. 

Kemenangan partainya yang dikenal berhaluan ekstrem sayap kanan dan anti Islam itu menghawatirkan banyak orang di Eropa. “Die extrem rechte Partei für die Freiheit PVV von Wilders hatte 37 der 150 Parlamentssitze gewonnen,” (Partai ekstrem kanan PVV Wilders itu telah memenangkan 37 dari 150 kursi parlemen) begitu bunyi induk berita der Tagesspiegel 25-11-2023, surat kabar kedua terbesar di Jerman. 

Bagi negara tetangga Belanda itu, kata “ekstrem kanan” mengingatkan mereka akan partai Nazi dan Hitler yang telah menorehkan sejarah hitam bagi bangsanya. Mereka mengalami trauma dari peristiwa kelam tersebut. Tidak ingin peristiwa serupa terulang, kendati itu bukan terjadi di negaranya.

Meski sikap Wilders dan partainya melunak 8 Januari 2024 lalu, yakni mencabut rancangan undang-undang tersebut dan akhirnya mengakui Islam bukan sebagai ideologi totaliter tetapi agama – dan oleh sebab itu berhak mendapat perlakuan sama dengan agama-agama lainnya di Belanda, namun tidak sedikit orang masih mengkhawatirkan arah kebijakan pemerintahan yang dalam waktu dekat akan terbentuk ini.  

Perlu ditambahkan, sampai saat ini belum jelas siapa yang akan jadi PM Belanda. Sikap melunak Wilders dan partainya ditafsir orang sebagai sebuah langkah politik dengan agenda tertentu.  Rancangan undang-undang yang semula diajukannya itu tidak pernah mendapat dukungan mayoritas di parlemen. “Selama bertahun-tahun, pemimpin PVV Geert Wilders tidak mengizinkan Islam disebut sebagai agama, melainkan ideologi totaliter. Sekarang tiba-tiba dia mengatakan itu adalah agama. Wilders mengharapkan terbentuknya kabinet sayap kanan. 

Dia membiarkan dirinya dibatasi – setidaknya di atas kertas,” tulis de Reuter.

Di kota Arnhem, sebulan sebelum The Voice of Archipelago digelar, terjadi ketegangan rasial akibat aksi Pegida. Organisasi radikal kanan non partai itu mengumumkan akan membakar kitab Al Quran. Aksi Pegida itu hampir menyulut kerusuhan massa. (Serangkaian aksi Pegida ini bisa dilihat di media digital dengan kata kunci Pegida verbrand Koran). Aksi itu berhasil diredam aparat negara. Tapi tak urung menyisakan kerisauan bagi umat muslim yang bermukim di sana. Terlebih lagi di akhir aksinya Pegida menegaskan, akan melanjutkan aksi mereka. Edwin Wagensfeld si pemimpin Pegida lantang mempertanyakan: “Kalau di sana boleh ada demonstrasi mendukung Palestina, kenapa aksi ini di sini tidak boleh ada?.” 

Sumber foto: capture foto Talkshow di NPO2, membahas peristiwa aksi Pegida

Festival Islam Kepulauan di Belanda
Festival ini berlangsung 4 Mei dan berakhir 20 Mei 2024, diadakan di berbagai  kota di Belanda: Arnhem, Amsterdam, Den Haag, Leiden dan Rijswijk. 

Acara pembukaan festival berlangsung 4 Mei 2024 di museum Bronbeek, Arnhem. Dubes RI untuk Belanda, Mayerfas, membuka acara dan dilanjutkan dengan dialog antar tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara tentang dunia Islam kini. Meski mereka menyinggung tentang maraknya gerakan anti Islam di berbagai negara, tetapi mereka menyampaikannya dengan tenang dan khidmat.

Dubes RI membuka acara Festival Islam Kepulauan, 4 Mei 2024 di Museum Bronbeek. (Foto dok. Syafiih Kamil)

Story and Tension
Pameran seni rupa dalam rangka Festival Islam Kepulauan itu diberi tajuk Story and Tension,  berlangsung 4 Mei s/d 20 Mei 2024 di museum Bronbeek Arnhem.

Di museum itu dipamerkan lukisan-lukisan karya Nasirun, Jumaldi Alfi, Tisna Sanjaya, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan berbagai ragam karya seni rupa masyarakat desa yang diboyong Tanto Mendut dari kawasan desa di sekitar tempat tinggalnya.

Pengunjung pameran lukisan The Story and Tension di museum Bronbeek. (Foto dok. Anwar Candi)

Banyak orang tertarik pada karya-karya seni rupa yang dipamerkan di museum itu. Selain lukisan, dipamerkan juga berbagai artefak peradaban Islam: kitab-kitab kuno, rehal, songkok, dll.

Seorang pegunjung mencermati artefak peradaban Islam di Museum Bronbeek, Arnhem. (Foto dok. Brian Trinada)

Artefak peradaban Islam yag dipamerkan di museum Bronbeek, Arnhem.

“Karya-karya seni rupa dan topeng ini dibikin penduduk desa saya. Kalau ada yang minat, misalnya mau pesan topeng kayak gini dengan bentuk khusus, itu bisa saya telponkan sekarang dan langsung dikerjakan penduduk desa saya,” ujar Tanto Mendut ramah kepada pengunjung. Penggiat festival Lima Gunung ini berpartisipasi aktif dalam festival. Selain memboyong karya-karya seni rupa dari desanya, di hari yang lain di Amsterdam, Tanto mempresentasikan berbagai kegiatan seni yang berlangsung di lingkungan desanya.

Tanto Mendut menjelaskan tentang karya-karya masyarakat dari desanya di museum Bronbeek, Arnhem. (Foto dok.: Anwar Candi)

Tanto Mendut mempresentasikan kegiatan seni di desanya. (Foto dok. Anwar Candi)

Tanto Mendut, Nasirun, Jumaldi Alfi, di pameran The Story and Tension di museum Bronbeek, Arnhem.

Dekolonisasi budaya
Di hari ke delapan pameran, pengunjung museum lumayan banyak. Dipandu Hairus Salim, ada sekitar 30-an orang mencermati lukisan demi lukisan. Nasirun, Jumaldin Alfi, Tanto Mendut, Ulil Absar, Aminuddin TH Siregar, perwakilan dari berbagai museum, ada di antara pengunjung. Menjelang sore diadakan pertemuan publik dengan para seniman-seniman yang ikut serta dalam festival. Tisna Sanjaya nimbrung secara daring.

Hairus Salim memandu pengunjung pameran Story and Tension di museum Bronbeek. (Foto dok. Anwar Candi)

Hairus Salim memaparkan dalam katalog pengantarnya bahwa meski karya para seniman yang dipamerkan itu berbeda-beda, namun mencerminkan semangat dekolonisasi budaya. Karya-karya mereka menyoroti ketegangan dinamis antara penolakan dan penerimaan, penyangkalan dan pengakuan, penghindaran dan pertemuan dengan masa kolonial. 

Aminuddin “Ucok” TH Siregar menjembatani pertemuan seniman dengan publik di museum Bronbeek 11 Mei 2024. (Foto dok. Anwar Candi)

Dekolonisasi budaya dalam karya lukis itu terlihat jelas dalam karya-karya Jumaldin Alfi. “Re Reading Landscape Past Future” merupakan karya  lukisannya yang merujuk pada term ini. Di karyanya itu Alfi melukis ulang lukisan ala Mooi Indie, yakni gambar tipikal keindahan alam Indonesia: gunung, sawah dan hutan. Copy lukisan itu dilukis seperti ditempelkan dengan selotip di bidang kanvas bergambar papan tulis. Lukisannya yang senada dengan ini berupa lukisan bendera merah putih. Bendera itu juga dilukis seperti sengaja ditempelkan begitu saja dengan selotip di papan tulis.

“Re-reading Landscape Past Future #01” Jumaldi Alfi, Acrylic on canvas 160×205 cm. 2024. (Foto dok. Katalog The Story and Tension)

Alfi menjelaskan bahwa papan tulis merupakan alat penting bagi pengajaran di bangku sekolah, sebagai media untuk menyampaikan suatu pelajaran. Lukisan gunung sawah dan hutan itu sangat digemari di masa kolonial.  Lukisan-lukisan itu ketika ditempelkan di papan tulis akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan menarik untuk dipelajari.

Lukisan Alfi ini memang benar-benar membuat pengunjungnya penasaran. Apakah lukisan Mooi Indie itu benar-benar ditempel dengan selotip? Salah seorang pengunjung gegabah menyentuh lukisan itu dan mengorek-ngorek lukisan selotip itu dengan kuku jarinya.

“Bagi yang pernah mengalami kejayaan masa Mooi Indie, seperti orang-orang yang mungkin masih hidup di museum Bronbeek ini, mungkin itu akan terasa dekat dengan pengalaman hidupnya. Bagi anak-anak muda sekarang mungkin mereka menangkap kesan lain lagi,” jelas perupa berdarah Minang yang telah lama menetap di tanah Jawa ini. 

Ekspresi seni seniman-seniman muslim yang tertuang di kanvas itu walau tidak secara harafiah menampakkan citra-citra atau simbol Islam, cenderung absurd, mistis, simbolik, surealistis, namun memiliki impresi kuat yang bersentuhan dengan nilai-nilai Islami itu sendiri, yakni agar kemungkaran dijauhi manusia. 

“Orang-orangan” adalah salah satu karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang diikutsertakan dalam pameran ini. Lukisan ini agaknya ingin menyoroti hal kepalsuan manusia. Judul lukisan itu memberi arah bagi interpretasinya. Karya Gus Mus ini menggambarkan belasan wajah manusia tanpa kaki, seperti melayang-layang di udara dengan wajah kosong hampa. Fana. 

“Orang-orangan” Gus Mus, Acrylic on Canvas, 145 x 90, 2023. (Foto dok. Katalog Story and Tension)

Salah satu karya Tisna Sanjaya “Antri Makan Siang Gratis di Negeri Adil Makmur” hadir menyolok di museum itu. Karyanya ini mudah dibaca sebagai kritik tajam atas fenomena brutal saat pemilu di Indonesia. Di lukisan itu digambarkan ada sesosok manusia berdiri di atas podium bertuliskan “makan siang gratis.” Di latar belakang ada sekelompok orang berjoget di satu podium. Sosok itu memegang sebuah joran pancing dengan umpan lembaran-lembaran uang sembari menggendong sosok lain di bahunya. Tangan dan kaki kedua sosok itu terikat tali. Dan tali temali itu berhubungan dengan tangan-tangan makhluk berwujud naga raksasa. Di bawah podium itu, orang berjubel-jubel dalam barisan panjang, berebut umpan yang berada di tangan sosok itu. Antrian panjang orang-orang yang akan melahap umpan tersebut digambarkan berada dalam ancaman mulut naga raksasa yang siap menelan mereka.

“Makan Siang Gratis di negeri Adil Makmur” Tisna Sanjaya Oil on Canvas, 200×200 cm, 2024. (Foto dok. Katalog The Story and Tension)

Tisna memunculkan fenomena itu dengan menjauhi keindahan ala lukisan Mooi Indie. Fenomena itu diungkapkannya secara ekspresif dalam warna hitam putih, mempertegas fenomena kasat mata yang telah terjadi di masa kampanye pilpres lalu. 

Salah satu karya Nasirun berjudul “Rampogan” juga menarik minat pengunjung. Rampogan itu sendiri merupakan sebuah tradisi membunuh macan yang pernah diadakan di tanah Jawa setiap akhir Ramadan. Tradisi di abad 18 itu bermaksud sebagai simbol penghapusan kejahatan.  Pemerintah kolonial melarang tradisi Rampogan tersebut tahun 1905. Suasana Rampogan yang direkonstruksi Nasirun dalam lukisannya itu cukup mencekam, relatif lengkap menggambarkan suasana tradisi yang telah menghilang itu. 

Nasirun dan Aminuddin TH Siregar di museum Bronbeek, Arnhem. (Foto dok. Anwar Candi)

Karya-karya Nasirun, Gus Mus, Tisna Sanjaya, bagi publik di Belanda mungkin saja mengingatkan mereka akan karya-karya Chagal, atau karya-karya mystic surrealism, expresionism, absurdism, dan berbagai aliran seni rupa modern barat lainnya. Tapi itu ditepis Nasirun. Distorsi bentuk, simbol-simbol, proporsi tubuh yang tidak seperti manusia sesungguhnya, itu sudah ada sejak lama dalam karya-karya seni rupa berupa wayang.

“Seni rupa modern di Indonesia punya akar berbeda dengan keberadaan seni rupa di Eropa,” tegas Nasirun. “Kita bisa misalnya melihat seni rupa di wayang kulit. Tangan-tangan wayang itu sangat panjang sampai menyentuh jari kakinya,” tambah Nasirun dalam sesi diskusi bersama publik yang dipandu Aminuddin TH Siregar. Diskusi itu berlangsung hangat penuh keakraban.

“Rampogan” karya Nasirun Acrylic & Oil on Canvas, 145 x 200 cm, 2023. (Foto dok. The Story and Tension)

“Di tanah Minang senimannya tidak memiliki sejarah dengan karya-karya klasik seperti wayang di tanah Jawa!,” seru Jumaldin Alfi. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa karya-karya seni rupa dari seniman-seniman Minang langsung bersentuhan dengan teknik-teknik seni modern. Penggunaan metafora merupakan hal lumrah dalam kehidupan orang Minang. Dan metafora-metafora itu mewarnai ekspresi karya-karya mereka.

Karya Alfi lainnya, “Color Guide Series” berupa lukisan sesosok tubuh dikelilingi aksara Arab. Sosok itu juga dilukis seperti ditempelkan di atas sebidang halaman buku bertuliskan aksara-aksara Arab. Dia menjelaskan bahwa aksara-aksara itu sama sekali tidak ada maknanya. Hanya aksara-aksara. Hanya beberapa yang memiliki makna. Ia mengungkapkan, betapa sekarang ini begitu banyaknya dan begitu mudahnya orang bermain-main dengan aksara Arab untuk kemudian menjadi pemuka agama. “Tapi, setiap orang bebas menginterpretasi sebuah karya,” tandasnya.

“Rajah Mantra #01” Jumaldi Alfi, Acrylic on Canvas 125×100 cm, 2018. (Foto dok. The Story and Tension)

Pertemuan dengan publik menjelang sore hari di museum itu berlangsung dengan suguhan kopi hangat. Aminuddin TH Siregar, yang akrab dipanggil Ucok, cekatan menggulirkan diskusi memakai dwi bahasa. Publik berbagai bangsa jadi tertarik untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

Pembakaran kitab suci
Pusat kota Arnhem berjarak 5 Km dari museum Bronbeek. Di kota yang sama, di hari dan jam yang kurang lebih sama dengan diskusi seni rupa yang tengah hangat berlangsung di museum Bronbeek, Pegida melanjutkan aksinya. 

Hari itu, 11 Mei 2024, Edwin Wagensveld membakar kitab Al Quran di bawah jembatan kota. Barisan polisi serentak siaga. Anak-anak muda Maroko dan Turki mengintai pria itu di pinggir jalan dengan pandangan yang sulit ditebak. Malam harinya peristiwa itu muncul di saluran TV lokal, jadi perbincangan serius di Talkshow TV nasional, bertebaran di berbagai media. “Kita harus bagaimana?,” ungkap seorang kawan melalui pesan WhatsApp nya.

Sumber foto: capture berita Omroep Gelderland: pembakaran Al Quran oleh Pegida 11 Mei 2024 di bawah jembatan kota Arnhem.

“Itu semua adalah ekspresi cinta, yakni cinta yang belum dewasa,” ujar Sabrang saat ditanyai pendapatnya tentang sikap anti Islam yang terjadi di Belanda. Pria yang juga dikenal sebagai musisi dengan nama Noe Letto ini, baru saja mentas di acara penutupan festival bersama Sarasuni, grup band yang sengaja datang dari Pati.

Pasar Desa
Ya, selain pameran lukisan, diskusi-diskusi, Festival Islam Kepulauan itu juga menyelenggarakan pertunjukan musik, tari, dan berbagai pertunjukan lainnya. Tgl. 18 dan 19 Mei 2024 berlangsung acara penutupan Festival bertajuk Pasar Desa. 

Ini seperti menjawab kegelisahan umat muslim di tanah air tentang boleh tidaknya ekspresi seni dalam Islam.

Pasar Desa ini berlangsung di Broodfabriek, Rijswijk, berdekatan dengan kota Den Haag. Berbagai event sering diselenggarakan di tempat ini.

Mulai menjelang siang sampai menjelang tengah malam, puluhan pertunjukan bergantian mentas di Pasar Desa. Di sekitar panggungnya berjejer warung-warung angkringan, menjual berbagai makanan dan barang kerajinan dari Indonesia. Di warung-warung itu pengunjung bisa menikmati makanan khas Indonesia: rendang, soto, rawon, bakso, kerupuk, sambil nonton pertunjukan. Mirip seperti halnya bila ada suatu pertunjukan di desa.

Puluhan seniman musik dan tari dari Indonesia dan dari negara-negara lainnya ikut berpartisipasi: Yuta Kuroki, Nocturnal Ensemble, Noe Letto, Sarasuni, Yukari Uekawa, Renaldi, dll.

“Mereka itu banyak yang datang dengan ongkos sendiri. Teman-teman yang tinggal di Belanda ini dengan senang hati menyediakan kamarnya,” ungkap Syafiih, panitia acara ini menahan haru.

Sabrang “Noe Letto” di Pasar Desa Rijswijk 19 Mei 2024. (Foto dok. The Voice of Archipelago)

“Ya. Cinta itu tidak ditentukan oleh usia, tidak ditentukan oleh pikiran. Dan ekspresi cinta itu bisa kita lihat tidak seperti umumnya kita kenal,” ujar Sabrang tenang. 

Saat musim semi menjelang musim panas seperti ini di Belanda, ada puluhan festival digelar dimana-mana. Suara-suara cinta di festival ini mungkin sayup terdengar di antara gebyar festival-festival dengan puluhan ribu pengunjung di bawah gelegar puluhan ribu watt pengeras suara. Sejauh cinta bersemayam dalam diri setiap manusia, meski sayup, itu akan menyusup ke sanubarinya.

Festival itu telah berlangsung tanpa hambatan. Malah festival itu mendapat dukungan dari berbagai instansi dan museum-museum yang ada di Belanda. 

Bravo!

Arnhem, 25 Mei 2024

*Azuzan JG, kini menetap di Arnhem.