“Lengji Lengbeh”: Belajar Menyusu Celeng pada Romo Sindhu

Oleh Tony Doludea

Pada Sabtu 12/8/2023, pelukis Djoko Pekik meninggal dunia di usia 86 tahun di Yogyakarta. Ia sangat dikenal dengan serial lukisan celengnya. Tiga seri lukisan, yaitu Susu Raja Celeng (1996), Berburu Celeng (1998) dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka (2000). 

Si pelukis menuangkan pikirannya tentang tahap-tahap kejatuhan rezim Orde Baru Soeharto yang serakah itu ke dalam seri lukisan tersebut. Ia melukiskan perjalanan politik sang celeng, sejak berkuasa sampai dikerbuti banyak pengikut, hingga saat kejatuhannya. Lukisan itu menceritakan keadaan sosial yang terjadi selama Orde Baru.

Liem Tiong Sien atau Gabriel Possenti Sindhunata S.J., budayawan dan rohaniwan yang lebih akrab dipanggil Romo Sindhu. Ia menarasikan lukisan celeng Djoko Pekik tersebut dengan segala peristiwa yang mengelilinginya dalam “Tak Enteni Keplokmu; Tanpa Bunga dan Telegram Duka” (1999). Yang kemudian diterbitkan ulang pada 2019 dengan judul “Menyusu Celeng”. 

Susu Raja Celeng dilukis pada 1996, menceritakan seekor celeng gemuk sedang ngodog, menggali-gali tanah. Walaupun perutnya sudah menggendut dan melentus, serta keenam susunya mentes-mentes. Celeng itu tetap nyeruduk seperti kelaparan. Terpisah oleh tembok dan jarak terbentang, rakyat tidak dapat mendekatinya.

Di kejauhan kerumunan massa mengelilingi dan ingin menangkapnya, tapi merasa takut dan tidak berdaya. Empat siung raja celeng itu dan tatap mata menyalanya dapat membunuh nyali siapapun yang mendekat.

Setelah kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada Reformasi, lukisan Berburu Celeng menggambarkan benteng dan jurang yang melindungi si celeng dari rakyat yang memburunya itu telah hilang. 

Celeng raksasa itu telah ditangkap, dengan mulut tercencang ia diikat dengan badan terbalik pada sebilah bambu ringkih dan digotong dua lelaki kurus busung lapar.

Celeng gemuk bertaring indah itu tak berdaya diusung rakyat jelata. Taringnya indah, mengesankan kemegahan dan kejayaannya. Ribuan mata menjadi saksi peristiwa besar itu. Rakyat berkumpul menyambut tertangkapnya celeng itu dengan sukaria dan sukacita berpesta. 

Sedangkan dalam Tanpa Bunga dan Telegram Duka, si pelukis melukis sosok celeng yang tak bernyawa sudah menjadi bangkai tergeletak di tanah gersang jauh dari kota. Kulit bangkai celeng itu terkelupas dan menyingkapkan tulang-belulangnya. Ia dikerumuni lalat hijau dan tiga ekor gagak hitam menyantap dagingnya yang telah membusuk. Itulah akhir siapa saja yang pernah menyombongkan dirinya.

Celeng adalah binatang andapan, terbawah, terhina, yang hidupnya makan apa saja, tidak punya kenyang dan jorok. Celeng binatang perusak, kalau jalan lurus, tidak bisa menggok dan jalan hanya sesuai kemauannya sendiri.

Cerita si Romo, Ki Dalang dalam pertunjukkan wayang kulitnya itu menjelaskan bahwa raja celeng itu adalah celeng dhegleng. Besarnya segunung anakan, bulunya kaku keras, tegak seperti sapu lidi. Ia berbuat apa saja, tidak ada yang berani mengusik, menghalangi dan siapa saja yang berani mencegahnya, akan dihabisinya. Celeng itu memiliki enam susu dan hanya anak serta cucunya sendiri saja yang berhak ngemut pentil-pentil itu. “Huenak tenan!” sorak para penonton.

Lukisan Berburu Celeng dipamerkan dengan sebuah acara pembukaan yang amat meriah dan mewah. Di luar dugaan, acara pembukaan resmi ini tiba-tiba berubah menjadi kacau. Suasana jadi heboh karena semua yang hadir berubah menjadi celeng. Tak ada lagi yang malu mengakui diri celeng. 

Si Romo menyaksikan sendiri semua orang berulah seperti celeng, saling menubruk, menyedot dan berkubang di peceren kotor. Lelaki dan wanita bercumbu tanpa malu-malu, seperti celeng. Mereka mendengus-degus, bergumul, bergulung-gulung, merintih-rintih keenakan, seperti celeng. 

Di langit, si Romo melihat bintang gubuk penceng juga berubah menjadi bintang celeng. ”Lengji, lengbeh. Celeng siji, celeng kabeh!” teriak Ki Manteb. Makanya semua pun menjadi celeng. “Ya sudah, kan sebenarnya sudah lama dunia ndadi, menjadi celeng.” bisik Romo Sindhu pelan.

Ndadi adalah benar-benar menjadi, bukan kerasukan. Jika kerasukan masih ada batas antara yang dirasuki dengan yang merasuki. Maka manusia yang kerasukan celeng tetap bisa merasa dirinya manusia dan merasa suci.

Namun ndadi ini menurut si Romo, sudah tidak ada batas lagi antara yang dirasuki dan yang merasuki. Antara manusia dan celeng. Artinya pulang ke hakikat. Manusia ndadi celeng artinya pulang ke hakikat celeng.

Ndadi celeng adalah orang tidak akan merasa dirinya masih manusia dan suci. Maka tidak ada lagi celeng yang berlagak manusia. Karena ia benar-benar celeng dan pulang ke hakikatnya sebagai celeng.

Ungkapan lengji lengbeh itu merupakan ramalan di awal masa reformasi itu, yang kebenarannya terbukti nyata saat ini. Reformasi yang diharapkan menjadi pintu menuju zaman baru, ternyata justru menjadi pembuka tabir misteri yang menyingkapkan siapa sesungguhnya bangsa ini.

Menurut si Romo, ini dibuktikan dengan praktik korupsi yang melanda bangsa ini sampai ke sumsum-sumsumnya. Hampir setiap media memberitakan kasus korupsi. Pejabat yang awalnya terlihat bersih dan berlaku bauk lalu mendapat dukungan rakyat sepenuh hati, ternyata kemudian terbukti korupsi. 

Partai politik yang mottonya memperjuangkan nurani dan nasib rakyat kecil, ternyata berkuasa dari hasil praktik korupsi. Partai-partai itu sama sekali tidak terbukti memperjuangkan kepentingan rakyat, seperti yang telah dijanjikannya.

Bangsa ini juga sedang dicacah-cacah melalui pertengkaran, perselisihan dan perpecahan. Di sana-sini meledak kekerasan yang mengancam hak hidup rakyat, terutama kaum minoritas. Namun negara hanya diam saja, seolah sengaja membiarkan. Orang-orang kaya dibiarkan makin serakah dengan harta melimpah-limpah. Sedangkan orang-orang miskin makin merana dan menderita.

Sehingga orang bertanya, masih adakah negara pada saat rakyat sangat membutuhkan ketegasannya? Di manakah para pemimpin bangsa saat rakyat meratap sedih dan menderita? Di manakah negara ketika rakyat kecil sedang menjerit supaya keadilan dan pemerataan dihadirkan? 

Bangsa ini sungguh merana karena pemimpin dan pemuka rakyat sudah kehilangan rasa malu. Bagi Romo Sindhu bangsa ini sedang menderita kutukan lengji lengbeh.

Si Romo menceritakan Jangka Jayabaya, Sabdopalon dan Ranggawarsita, yang juga meramalkan hal seperti ini. Bahwa akan tiba saat orang menemui keyong lurik saparan-paran (banyak sekali). Keyong lurik adalah bekicot, yang diartikan sebagai sakebeke cocot. Para pemuka masyarakat hanya nyocot, membual janji dan omong kosong. Sementara rakyat kecil hanya memperoleh makanan sakebeke cocot, sesuap nasi sekadar untuk memenuhi mulut.

Zaman ini adalah zaman betik mangan manggar. Betik adalah ikan sungai. Namun bisa memakan manggar yang tumbuh jauh di ketinggian. Bagaimana orang biasa, yang tidak mempunyai kompetensi, tiba-tiba menjadi pucuk pimpinan. 

Kabupaten dan kota dipimpin oleh bupati dan wali kota yang tiba-tiba saja mencuat tanpa prestasi kepemimpinan apa pun sebelumnya. 

Demikian juga DPR dipenuhi betik mangan manggar. Wakil rakyat sering sekali nglencer studi banding, tanpa membawa manfaat bagi rakyat. Banyak wakil rakyat yang tidak malu-malu melakukan korupsi, menggarong uang sebanyak-banyaknya mumpung masih menjabat. Bahkan ucapan pimpinan yang sering melukai hati rakyat. 

Contohnya, di sebuah kota di Timur sana, wali kotanya ditangkap karena korupsi, menyusul kemudian wakil-wakil rakyatnya. Tidak hanya satu dua, tapi dari seluruh anggota lembaga perwakilan rakyat itu, hanya empat tersisa, yang tidak diadili karena korupsi. Hama celeng benar-benar sudah mewabah. 

Akibat kutukan lengji lengbeh, agama jadi barang dagangan dan alat untuk memainkan kekuasaan. Memang Allah diserukan di mana-mana, tetapi Allah sesungguhnya hanya dijadikan bedak polesan, kerudung penutup, modal, persembunyian, gagah-gagahan, gaib-gaiban, suci-sucian, saleh-salehan, kuat-kuatan dan alat mendapatkan rezeki. 

Orang mengucapkan nama-Nya, tetapi tak sedikit pun taat, tunduk tawaduk berpegang pada petunjuk Allah. Orang alim hanya di luaran, luarnya saja yang putih, tetapi dalamnya kuning. Pemuka agama justru mengajarkan kemaksiatan.

Kutukan lengji lengbeh membuat daya agama lumpuh, moral manusia rontok. Manusia lebih dipimpin hawa nafsu rendah, nyeruduk seperti celeng. Mana mungkin ia dapat mendalami kemuliaan dan keluhuran ajaran agamanya. 

Masyarakat mengalami kemerosotan tata cara dan sopan santun peradaban. Peran negara hilang dalam banyak aspek kehidupan rakyat. Negara ditawan oleh gerombolan tertentu, yang kekuasaannya tidak terbendung lagi, Bagai banyu gumrojog.

Dalam keadaan seperti ini, Romo Sindhu sadar bahwa bangsa ini tidak dapat mengharapkan pertolongan kuasa gaib mana pun. Meskipun dengan merapal aji penyirepan yang ia disebut sendiri dalam tulisannya itu,

rep kedhep kerep wong sakbuwana
njonthok kaya peliku
nglimpruk kaya kontholku

Bahkan, keluhuran agama dan belas kasih Allah pun tidak dapat menolong. 

Tapi si Romo yakin bahwa Allah mengembalikan masalah ini pada keputusan bangsa ini secara bersama-sama, apakah mau atau tidak melawan kejahatan, yang menggoda orang untuk jadi celeng bagi sesamanya. Ini merupakan implikasi dan makna kebebasan yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

********

Plato (427-347 SM) dalam bukunya Politeia menjelaskan bahwa inti manusia itu adalah Jiwa (Psykhe). Jiwa manusia ini meliputi tiga fungsi (mere), yaitu pikiran (to logistikon), kehendak (to thymoeides) dan keinginan (to epithymetikon). Masing-masing fungsi Jiwa manusia ini memiliki keutamaan tertentu. 

Pikiran memiliki kebijaksanaan (phronesis/sophia), kehendak memiliki kegagahan (andreia), keinginan memiliki pengendalian diri (sophrosyne). Sementara keadilan/kebenaran (dikaiosyne) menjaga keseimbangan ketiga keutamaan fungsi Jiwa manusia itu.

Dalam buku Timaios, Plato mengatakan bahwa bagian pikiran terletak di kepala, kehendak terletak di dada dan keinginan terletak di bagian perut. Pikiran bersifat kekal, sedangkan fungsi Jiwa yang lain akan hancur bersama tubuh.

Dalam Phaidros, Plato melukiskan Jiwa itu seperti seorang kusir yang mengendalikan dua kuda bersayap. Sais itu adalah pikiran, kuda yang satu menarik ke atas, yaitu kehendak; kuda yang satunya menarik ke bawah, yaitu keinginan. Pikiran hendak mencapai realitas tertinggi, yaitu “dunia” Idea. Namun karena kuda keinginan (to epithymetikon) selalu menarik ke bawah, maka Jiwa kehilangan sayap-sayap yang membuatnya jatuh ke dunia bendawi ini.

Tetapi bagi Plato kejatuhan manusia ke dalam dunia bendawi ini bersifat paradoksal atau ambivalen, sekaligus hukuman dan berkat ilahi. Karena dunia bendawi ini merupakan salinan atau kopi “realitas” Idea, meskipun semu dan kabur. Namun dunia ini berpartisipasi atau turut ambil bagian (metexis) dengan Idea Yang Sejati dan Benar itu sendiri. Sehingga jatuh ke tempat yang terjauh dan tergelap sekalipun, manusia akan berada di bagian-Nya.

Kemudian dalam Symposion, Plato menjelaskan bahwa manusia memiliki kekuatan mujizat yang sangat ampuh dan gemilang untuk mendorongnya tiba sampai ke atas, yaitu cinta (eros). Eros adalah daya kreatif manusia yang mencetuskan kehidupan, mengilhami para penemu, seniman dan orang pandai. Eros memberikan manusia semangat kebersamaan yang membebaskannya dari kesendirian.

Eros merupakan hasrat manusia yang tidak pernah padam pada Yang Benar, Yang Baik dan Yang Indah. Eros mendorong manusia untuk semakin tinggi, ideal dan ilahi. Bagi Plato manusia tidak akan gagal mencapai keilahian meskipun berada dalam rawa-rawa hawa nafsu egoistis duniawi sepenuhnya. 

Plotinos (204-270) mempertajam pendapat Plato tersebut dengan mendasarinya pada konsep emanasi. Bahwa manusia dan dunia serta segala kenyataan ini pada dasarnya merupakan emanasi Allah, (to Hen) Yang Esa. Allah memancar atau mengalir keluar menjadi segala yang ada. 

Menurut Plotinos, manusia yang jatuh dan berada pada tingkat terendah, terjauh dan bersifat bendawi ini merupakan hasil kebebasan sekaligus nasib yang tak terelakkan. Memang segala sesuatu “tidak mau” turun ke tempat yang lebih rendah, jauh, gelap dan dingin berdebu. Namun manusia bebas memilih untuk jatuh ke dalam kegelapan terjauh dari sumber asalnya itu, to Hen. Maka untuk itu manusia mendapatkan hukuman atas kesalahan itu dan atas segala perbuatannya di dalam kegelapan dunia ini.

Namun kejatuhan manusia, penderitaan, kejahatan dosanya itu juga sekaligus merupakan keniscayaan hukum alam yang mutlak diperlukan untuk selamanya (anankaion aidios). Kejatuhan ini merupakan keberuntungan yang patut disyukuri, karena ini adalah tugas dan berkat ilahi dari Allah. Supaya manusia dapat mengembangkan diri dengan mewujudnyatakan segala potensi emanasinya secara kreatif.

Dalam keadaan yang rawan dan gawat seperti itu, Plotinus justru menegaskan adanya kesempatan terilahi bagi manusia, yaitu mendapatkan pencerahan. Manusia dapat menyadari hasrat dirinya pada Yang Satu itu, sebagai asalnya dan merangkumkan dirinya secara intim dengan Allah. Sehingga “yang ada” Hanya Yang Satu itu. Ini dikenal sebagai “Kembalinya segala sesuatu ke asal pertama mereka” (apokhatastasis panthon).

Manusia yang digagas Palto, yang jatuh di alam rendah bendawi ini, sesungguhnya diperlengkapi juga dengan pikiran dan keutamaan serta eros untuk dapat berparisipasi dengan Idea yang abadi itu. Manusia tidak akan gagal mencapai keilahian, sekalipun berada dalam lembah kelam hawa nafsu egoistis duniawi ini. Bahkan menurut Plotinus, keadaan manusia seperti itu merupakan suatu hak istimewa yang patut dirayakan. Karena ia telah diutus oleh Allah untuk mengekspresikan-Nya, di dalam segala dosa dan kejahatannya sebagai rangkuman-Nya, Yang Esa itu. 

********

Si pelukis melukis celeng dengan rasa dendam. Sehingga lukisannya itu salah kedaden, justru mengungkap peristiwa yang tidak dikehendaki, yaitu kejahatan. Ia sudah berusaha keras menghapus dendamnya terhadap celeng itu.

Menurut cerita Romo Sindhu, pada suatu hari si pelukis mendengar di sebuah tempat yang jauh ada sumber air. Namanya, Tuk Celeng, Mata Air Celeng. 

Letaknya dulu dekat desa maling. Karena penduduknya, dari orang tua sampai bayi, laki-laki juga perempuan dikenal suka mencuri. Sebab zaman itu masa yang sulit, sehingga bagi kaum miskin, mencuri adalah cara satu-satunya untuk dapat bertahan hidup.

Bila ketahuan dan tertangkap, pencuri akan digebuki dan dihajar massa, badan mereka jadi luka dan sakit sekali. Mereka lalu pergi ke Tuk Celeng pada malam hari. Di sana mereka mandi, membenamkan diri dan mereka pun disembuhkan. 

Seorang wanita pengumpul kayu bakar, yang kini sudah tua bercerita kepada si pelukis. Beberapa kali ia tertangkap, satu kali ia dihajar dan punggungnya dijatuhi batu besar. Ia merasa tulang punggungnya patah semua. Ia pulang ke desa dan pada malam harinya pergi Mata Air Celeng. 

Ia menyalakan kemenyan dan menaburkan bungan melati, mawar dan kenanga. Kemudian ia membenamkan diri ke dalam air dan sesaat mentas keluar, badannya menjadi kembali sehat, sembuh dan segar. 

Ternyata Mata Air Celeng adalah mata air kesembuhan bagi para maling yang terpaksa mencuri karena miskin. Si pelukis kemudian mengerti bahwa Mata Air Celeng itu sejatinya adalah Air Mata Celeng. Air mata tangis sedih celeng-celeng yang tiada henti menyesali nasib, mengapa mereka menjadi celeng.

Si pelukis sampai di mata air itu saat larut malam. Ia sendirian di sana. Mata Air Celeng itu ternyata sebuah sendang kecil dengan air yang melimpah, mengalir ke persawahan.

Si Romo melanjutkan ceritanya. Bulan bersinar, terangnya memantul di permukaan sendang. Si pelukis termenung lama menatap air sendang yang jernih itu dalam-dalam. Ia teringat cerita bahwa dulu banyak celeng keluar dari hutan saat malam hari. 

Mereka mencari air minum ke sendang itu secara sembunyi-sembunyi, supaya tidak ketahuan penduduk. Si pelukis merasa kasihan, untuk minum saja celeng harus mencuri-curi. 

Ia lalu membasuh wajahnya dengan air sendang celeng itu. Ia tergoda untuk mandi, lalu membenamkan dirinya ke dalam sendang celeng itu. Sungguh nyaman rasanya, makin dalam terbenam dalam air sendang celeng dan siraman sinar bulan, makin nyaman rasanya. 

Tiba-tiba bayangan melintas, celeng-celeng berdatangan, lalu minum air. Celeng-celeng itu tidak takut dan sangat dekat dengannya. Ia pun merasa tidak takut bahkan merasa satu dengan mereka. 

Ia merasa bahagia berada di antara celeng-celeng itu. Ia tidak merasa malu dirinya adalah celeng. Bahkan ia menerima dirinya adalah celeng. Ia merasa berkawan dengan celeng-celeng di Tuk Celeng itu. 

Si pelukis bercermin di permukaan air jernih Tuk Celeng itu. Ia melihat dan mengenali wajahnya sendiri. “Celeng”, katanya. Ia merasa sangat lega. Ia serasa tak ingin berpisah dari wajahnya yang terpantul di permukaan air Tuk Celeng itu. 

Ia sangat mencintai wajahnya itu, meskipun wajah itu adalah wajah celeng. Ia tidak dapat membenci celeng lagi. Lalu si pelukis melompat keluar dari Tuk Celeng dan menjerit keras. Ia merasa sudah terbebas dari beban yang menindihnya selama ini.

Si pelukis pergi dengan gembira lewat pematang sawah di bawah sinar bulan yang mulai redup, meninggalkan Mata Air Celeng. Hatinya bebas, lega dan segar karena dibasuh air mata celeng.

Ia sangat mengerti mangapa untuk membebaskan diri dari celeng, ia harus bertemu, bersama-sama celeng-celeng di Mata Air Celeng mengalami mujizat celeng. Mujizat itu sangat membebaskan. Oleh mujizat celeng itulah ia dibebaskan dari dendamnya terhadap celeng. Si pelukis lalu menjadi damai, tenang dan tentram, meskipun dirinya adalah celeng.

Namun dengan tertangkapnya raja celeng ternyata tidak membuat sifat jahat celeng sirna. Matinya raja celeng tidak membuat celeng berhenti beranak pinak. Saat ini, justru celeng-celeng baru muncul, kian rakus dan kejam. Sifat celeng dapat muncul dalam diri siapa saja, dari penguasa hingga orang-orang biasa. 

Menurut Romo Sindhu, dengan menyusu pada raja celeng, orang akan memperkuat ilmu celengnya. Ilmu celeng adalah ilmu serakah, ilmu kemaruk, ilmu mengeruk harta, ilmu korupsi, ilmu gila kuasa untuk menumpuk kekayaan tiada batas. 

Menyusu celeng adalah cerita tentang kemunafikan, kekejaman, kejahatan, dendam, nafsu dan perilaku manusia berwatak celeng. Namun supaya bisa menyusu dan memperoleh ilmu-ilmu itu ada syaratnya. 

Syarat memperoleh ilmu celeng adalah memutus urat malu. Si penuntut ilmu celeng harus mau kehilangan rasa malu sebagai manusia. Ia tidak boleh bermartabat dan memiliki harga diri. Orang itu harus membuang hati nuraninya. Baru kemudian ia komplit menjadi bukan insani, tetapi celeng.

Hingga saat ini Indonesia makin dipenuhi para celeng. Mereka menari-nari layaknya celeng menari-nari. Mereka menyanyi-nyanyi layaknya celeng menyanyi-nyanyi. Musik pun melantunkan musik celeng. Semuanya telah menjadi celeng.

—–

Kepustakaan

Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. Kanisius, Yogyakarta, 1999.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Kanisius, Yogyakarta 1980.

Sindhunata. Tak Enteni Keplokmu: Tanpa Bunga dan Telegram Duka. Gramedia, Jakarta, 1999.

Sindhunata. Menyusu Celeng. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2019.

Weij, P. A. Van der. Filsfu-Filsuf Besar Tentang Manusia. Gramedia, Jakarta, 1988.


*Penulis adalah Peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia.