Manneke Budiman, Mario F. Lawi, dan Grace Samboh

Kota Kita di Dunia Mereka: JILF 2022

Lesta Alfatiana – BWCF

Sabtu, 22 Oktober 2022 menjadi tanggal penting bagi masyarakat Jakarta pecinta sastra. Pada tanggal tersebut Jakarta International Literary Festival (JILF) kembali digelar setelah “berpuasa” selama kurang lebih tiga tahun, sebagai akibat dari pandemi Covid-19 dan adanya revitalisasi kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM). Komite Dewan Kesenian Jakarta dan panitia penyelenggara mengusung tema “Kota Kita di Dunia Mereka: Kewargaan, Urbanisme, Globalisme (Our City in Their World: Citizenship, Urbanism, Globalism)”, sebagai tema utama JILF 2022. Manneke Budiman, Grace Samboh, dan Mario F. Lawi dalam catatan kuratorialnya menyebutkan bahwa tema yang diusung oleh JILF 2022 berangkat dari isu mengenai perubahan kota yang didominasi dengan meleburnya sistem kapital dunia dan sistem kenegaraan. Fenomena tersebut kemudian mengakibatkan terjadinya penyeragaman pandangan mengenai siapa yang berhak hidup di ruang kota dan siapa yang berkewajiban menghidupi ruang kota.

Suasana Pembukaan JILF 2022 di Taman Ismail Marzuki, 22 Oktober 2022. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Hasan Aspahani, Ketua Komite Sastra DKJ menjelaskan bahwa penyelenggaraan JILF sebagai salah satu tradisi, diharapkan dapat mengajak publik untuk meninjau keberadaan manusia dan keterhubungannya dengan kota.

Avianti Armand, Direktur Eksekutif JILF 2022. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Kemudian, Avianti Armand, Direktur Eksekutif JILF 2022 dalam siaran pers mengutarakan bahwa, “JILF 2022 melibatkan sebanyak mungkin warga, bukan hanya dengan mengundang kehadiran penulis-penulis dalam dan luar negeri, tetapi juga melalui komunitas dan kolektif yang bergiat dan menggerakan kehidupan sastra dalam kota untuk ikut serta dalam penyelenggaraannya.” Pada festival yang berlangsung dari 22-26 Oktober 2022 ini, JILF menggandeng 25 penulis dan 11 komunitas, dengan total 41 program yang akan digelar di area Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Beberapa penulis dan penyair yang terlibat dalam festival ini diantaranya Dea Anugrah, Irwan Ahmett, Tita Salina, Titiso Kour-Ara, Saras Dewi, Rio Johan, Bernice Chauly, Zaky Yamani, Alexandra de Araújo Tilman, Ben Sohib, Sandra A. Mushi, Evi Sri Rezeki, Warsan Weedshan, Margareta Astaman, Ama Achmad, Raudal Tanjung Banua, JJ. Rizal, Michael Pronko, Esha Tegar Putra, dan lain-lain.

Abidin Kusno memberikan pidato kunci dalam acara Pembukaan JILF 2022. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Pada pembukaan JILF 2022 yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki, terdapat beberapa rangkaian program diantaranya yaitu pembacaan Pidato Kunci oleh Abidin Kusno, tur keliling lokasi bersama Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Hilmar Farid, serta pertunjukkan musik oleh Efek Rumah Kaca.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Hilmar Farid. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Pertunjukkan Musik oleh Efek Rumah Kaca. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Selain itu, salah satu program JILF yakni diskusi Ngopi Sore Tempo juga diselenggarakan di Cafetaria Planetarium, area Taman Ismail Marzuki. Diskusi yang mengusung tema “Mencari Tokoh Sastra Indonesia: Penghargaan Sastra untuk Apa?” tersebut, menghadirkan narasumber Seno Joko Suyono, Redaktur Pelaksana Seni TEMPO, yang sekaligus dipandu oleh Iwan Kurniawan, Redaktur Pelaksana Internasional TEMPO. Selain diskusi, acara tersebut juga diramaikan oleh pameran buku dan booth kopi oleh penerbit buku Komunitas Bambu.

Ngopi Sore Tempo: Sastra, Kota, dan Media. Narasumber: Seno Joko Suyono, dan Moderator: Iwan Kurniawan. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

Selama lima hari festival berlangsung, beberapa program yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki diantaranya yaitu forum penulis, malam pembacaan, pameran JILF, pasar buku JILF X Patjarmerah, proyek komunitas, pertunjukan Teater Satu Lampung dan Studi Kolektif Koridor Miring, pembacaan puisi, diskusi, serta beberapa program sampingan lainnya. Tujuan utama JILF sebagai sebuah agenda penting dalam dunia sastra adalah untuk membuka sekat-sekat yang membatasi sastra antar-negara Selatan dan Sastra Selatan dengan dunia internasional, melalui pembauran kelompok-kelompok yang selama ini terabaikan dan selanjutkan akan bersama-sama membangun sebuah dialog.

Danton Sihombing, Ketua DKJ Periode 2020-2023. (Foto: Dewan Kesenian Jakarta).

“…Harapan DKJ, semoga Jakarta International Literary Festival menjadi ruang pertukaran gagasan dan diplomasi budaya sastra, serta sekaligus menjadikan Jakarta sebagai titik penting sastra dunia”, pungkas Danton Sihombing, Ketua DKJ Periode 2020-2023.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *