Vandalism dan Prasejarah : Setelah Diskusi Nenek Moyangku Seorang Seniman

Oleh Beri Hanna

……Ilustrasi paling cemerlang yang dapat dengan mudah kita tangkap adalah yang diungkapkan Carl Sagan & Ann Druyan, Shadows Of Forgotten Angcestors (2023:38-39) “ketika kehidupan pertama kali muncul, sebagian besar Bumi tampaknya merupakan lautan, dengan kemonotonan yang dipecahkan di sana-sini oleh kawah bekas tabrakan”.

Bumi terbentuk oleh gangguan seperti katastrofis yang membuka lahan untuk manusia menjelajah serta bermukim di kemudian hari. Gangguan-gangguan alam seperti ini, sepertinya berkolerasi dengan kepiawaian tangan-tangan manusia prasejarah dalam membentuk—semacam insting estetika pertama kali. Apa yang membuat mereka terpukau sehingga melakukan tindakan-tindakan tertentu di satu tempat, (katakan) seperti mengukir kerang (temuan di Trinil), mewarnai goa dan sebagainya sehingga kita saat ini mengenal simbol-simbol sebagai identitas agama, keukuasaan, kelompok dan seterusnya. Apa pula yang mereka lakukan dengan sebutan “vandalism”. Jangan-jangan, vandalism tidak tepat dikemukakan sebagai penyebutan untuk gerakan membentuk, mengubah, mengotori pada saat itu.

Dua paragraf di atas saya salin dari TOR diskusi Tilikan ke 10 yang sudah disebar dua hari sebelum diskusi. Selengkapnya dapat diakses di tiliksarira.com

Pada Minggu, 28 Januari 2024, Surakarta, diskusi Tilikan ke 10 terkait Vandalism dan Prasejarah dalam tajuk “Nenek Moyangku Seorang Seniman”. Pak Halim HD, sebagai kritikus tegas mengatakan kata “Vandalism” sebagai tuduhan yang keliru. Menurutnya, vandalism tidak tepat karena kata itu baru muncul di Prancis pada abad 15 dan 16.

Foto suasana diskusi 1. (Foto: Penulis)

Foto suasana diskusi 2. (Foto: Penulis)

Yang sedikit genit, kritik ini seolah terpatahkan saat beliau menggunakan kata ”Seni Rupa” untuk merujuk apa yang disebut Prof Harry Widianto sebagai “Gambar” cadas maros, dalam artikelnya di Majalah Tempo pada 2021 silam. Yang jelas-jelas, kata “Seni Rupa” belumlah ada, seperti halnya kata “Vandal” dan “Gambar” itu sendiri, yang merupakan kritik Halim HD terkait diskusi.

Saya membaca tulisan Razan Wirjosandjojo di borobudurwriters.id tempo hari. Razan yang mengaku gelisah—dalam tulisannya—kemudian dapat tenang karena Halim HD meluruskan fakta, bahwa Vandal dimaknai sebagai coretan dan tidak tepat untuk diteruskan pada periode yang sesungguhnya belum mengenal istilah itu. Terus terang saya senang, Tilikan mendapat respons. Diskusi memang harus mendatangkan percabangan serta pertengkaran. Dan karena Razan mengaku gelisah, saya bermaksud menulis apa yang terjadi pada malam diskusi, sebagai tindakan untuk membentangkan perbedaan—yang seharusnya memang terjadi.

Saya mulai dari tulisan Prof Harry Widianto—yang kebetulan juga menjadi salah satu referensi latar belakang diskusi—di Majalah Tempo pada 2021, “Siapa Artis Pembuat Gambar Cadas Maros?” Kata “Artis” dan ”Gambar” di sini, jelas belumlah ada ketika peradaban Ras Mongoloid menghuni goa-goa—Ras Mongoloid diyakini sebagai pelaku pembuat gambar cadas Maros. Jika kita berpijak pada Halim HD, kira-kira dengan istilah atau bahasa apa kita dapat membincangkan persoalan ini? Rasa-rasanya, sulit untuk mendatangkan pemaknaan atas prasejarah.

Mengapa Halim HD begitu mengkritisi kata “Vandal” dan “Seniman” dalam diskusi “Nenek Moyangku Seorang Seniman?” Bahkan ia meminta untuk melacak literasi di Indonesia. 

“Nah, kata seniman sendiri ini, adalah pelafalan yang belum lama di Indonesia. Belum ada satu abad. Jika anda melacak dalam literatur di Indonesia, kata sastrawan misalnya, kata Penyair, kira-kira pada tahun 40-an kata itu muncul,” Kata Halim HD pada malam diskusi yang saya salin setelah mendengar rekaman audio, arsip Tilikan 10.

Saya paham apa yang dimaksud oleh Halim HD. Namun, mengapa seolah kita tidak boleh melihat masa lalu dengan istilah modern? Sedangkan ia sendiri menggunakan kata “Seni Rupa” saat merujuk apa yang disebut Prof Harry sebagai “Gambar” (dalam tulisannya), sekali lagi.

“Jadi kalau kita tarik misalnya, Nenek Moyangku Seorang Seniman, benarkah di Goa Leang Leang terdapat satu Seni Rupa, dianggap tanda petik ya, Seni Rupa. Seperti juga di Spanyol dan Prancis pada priode yang sama. Benarkah itu dilakukan oleh dorongan kesenian.  Dorongan untuk menjadi seniman. Saya kira, paling tepat nenek moyangku pelaut itu ada benarnya. Saya kira dorongan nenek Moyangku Seorang Seniman, saya meragukan ini,” lanjut Halim HD.

Halim HD juga mengarahkan vandal hanya pada esensi menyoret/coretan—setidaknya pada malam diskusi itu; sedangkan kita dapat membaca terkait lukisan Mona Lisa yang dilempar kue disebut sebagai Vandal, dan juga pada hari yang sama diskusi berlangsung, dua aktivis gerakan lingkungan, melempar sup labu ke kaca lapis baja yang melindungi lukisan Mona Lisa; dan apakah ini dapat disebut sebagai vandalism? Selain itu, sebagai contoh yang dapat menggugat Vandal bukan hanya berarti coretan, “pada 21 Mei 1972, Laszlo Toth yang ingin diakui sebagai Mesias, menyerang patung Pieta karya Michelangelo sambil berteriak, ”Saya adalah Yesus Kristus”. Serangan yang akhirnya merusak patung ini disebut sebagai tindakan Vandal, Keskin,K. (2019) A Research On Vandalism And Its Causes. Retrieved from https://acikbilim.yok.gov.tr/bitstream/handle/20.500.12812/341085/yokAcikBilim_10278588.pdf?sequence=-1

Apakah vandal hanya berarti coretan? Coretan yang dapat kita temukan di toilet SPBU atau Jalan Gatot Subroto? Kita boleh meragukannya, seperti alur diskusi semalam. Seperti gambar cadas maros yang diyakini oleh Cia Syamsiar, sebagai penilik kedua, merupakan karya kolektif yang berarti terwujud berkat dorongan magis—terkonsep. Sedangkan salah satu audiens, Bari, sebagai sejarawan seni yang baru lulus studi di UGM, menolak pandangan itu dengan mengatakan bahwa estetika gambar Maros lebih kompleks dan bukan hanya sekadar magis.

Menurut Bari, gambar itu tercipta berkat renungan panjang, atau semacam usaha keras seorang pelaku yang berpikir tentang kebudayaan. Menyambung yang disampaikan oleh Ari Rudenko, berkat penemuan api, Manusia Prasejarah mendapat jeda, waktu luang untuk berpikir hal di luar mencari makan. Bila kita boleh bergeser sedikit, manusia yang mendapat waktu luang pada saat itu, terdorong untuk membuat sesuatu di luar kebutuhan bertahan hidup. Apakah goa merupakan ruang publik? Atau properti sebagai ruang privat yang dimiliki kelompok Mongoloid yang bebas memberikan sentuhan estetika? Seperti terucap dalam pertanyaan yang cukup menonjok pada malam diskusi, selain kapak genggam, bola batu dan alat yang memang diciptakan sebagai teknologi mempermudah, apa penting sebuah lukisan demi bertahan hidup?

Representasi terciptanya gambar itu memang dapat dimaknai sebagai kebutuhan magis. Namun, kekosongan dan sikap kebudayaan, perlu juga dipertimbangkan.

Pada diskusi dan perdebatan yang terus berlangsung, Ari Rudenko, sebagai penilik/pemateri, menggeser situasi yang berkutat pada perdebatan esensi kata. Ia mengajak untuk melihat Vandal dalam perspektif yang lebih luas. Bukan hal sempit sebagai sekadar coretan. Menurut Ari Rudenko, sebuah tabrakan etika dan moral, katakanlah saat ini kita menjadi Homo erectus yang bertelanjang di tengah diskusi, itu dapat disebut sebagai vandal karena merusak sistem sosial, etika dan moral.  Lalu apa kaitannya dengan “Gambar” di Maros sebagai tindakan Vandal? Revolusi agama, seni, dan arsitektur, rasa-rasanya berpengaruh dalam hal ini. Bagaimana kekosongan diisi dengan sebuah keyakinan membawa narasi panjang yang diyakini—hingga sekarang—meski pun penuh perdebatan.

Marilah kita tengok, antara tahun 1377-1358 SM, Akhenaton memperkenalkan reformasi agama radikal dengan melarang kepercayaan politeistik. Narasi ini diwujudkan dengan cara memberantas gambaran Amun dan membangun kuil-kuil yang didedikasikan untuk dewa baru Aton, memindahkan ibu kota ke Amarna, dan memulai transformasi dalam praktik keagamaan.

Dalam konteks ini, kuil dan dewa Aton diperkenalkan sebagai simbol yang dipaksakan sehingga mengubah pandangan serta keyakinan. Dalam hal Gambar Maros, narasi agama, seni dan arsitek bersitegang tanpa penjelasan—makna yang bercabang hari ini, namun sudah pasti dapat dikatakan, mendatangkan narasi yang penuh perbedaan dalam memandang.

Namun kita patut juga meragukan perdebatan ini, seperti halnya meletakkan ruang kosong pada keyakinan yang penuh atas argumen atau berupa asumsi. Apakah ada tanda-tanda bahwa tindakan seni prasejarah memiliki dimensi artistik yang mendalam? Jangan-jangan, ”seni” yang dipakai hanya penyebutan kita saat ini (seperti yang juga dikatakan Razan), sebagai orang yang memahami otonomi seni.

Terlepas dari tema, ada hal menarik yang disampaikan Halim HD. Ia memprovokasi bahwa, mengapa kita selalu membayangkan Manusia dan Hewan Purba saat mendengar kata Sangiran? Bukankah Sangiran menjadi penting karena ada periode ritual? Kalau kita menarik posisi Jawa antara padi, sungai, dan jenis makanan dan sistem konsep tentang bagaimana wujud dari ritual kehidupan atau dorongan spiritual tercipta? Mengapa sumber kehidupan ini tak begitu dijelaskan?

Menanggapi ini, Wahyu Widianta sebagai penillik ketiga dalam diskusi, berkata bahwa memang, Sangiran menjadi tempat strategis karena merupakan ceruk yang dikelilingi berbagai gunung. Salah satu sumber bahan serta pangan merupakan air. Selain api, air menjadi esensi kehidupan peradaban Homo erectus. Wahyu Widianta juga mengajak sedikit membandingkan, bagaiaman Mesir membangun candi, itu karena mereka memiliki sungai Nil sebagai sumber.

Diskusi malam itu penuh perdebatan. Baik pernyataan tentang nenek moyang seorang seniman, pelaut atau pun seorang dewa. Beberapa audiens sepertinya tidak sejalan dengan penilik, dan begitu juga dengan tuduhan-tuduhan satu sama lain.

Saya jadi berpikir, penolakan atas masa lalu dapat berkembang, dalam arti tidak hanya evolusi primata namun juga hirarki, profesi, dan sebagainya seperti kebanyakan dari kita saat ini mengelabui orang-orang dengan sudut pandang yang lebih bermoral untuk mengemukakakan siapa kita dan asal-usul keluarga kita. 

Sebagai penutup, saya kutip kalimat berikut dari buku (Shadows Of Forgotten Ancestors:hal 91). Namun obat bagi penyalahgunaan sains bukanlah sensor, melainkan penjelasan yang lebih jernih, debat yang lebih bersemangat, dan menjadikan sains bisa diakses oleh semua orang.

——

*Beri Hanna, penulis alternativ dan arsiparis.