Dekonstruksi Madipa Deapati di Panggung Kontemporer

Oleh: Yusuf Susilo Hartono*

Koreografer dan akademisi Wa Ode Siti Marwiyah Sipala (Wiwiek Sipala) , dengan pertunjukan terbaru Pilihan Madipa Deapati, menempatkan kembali epik romantik sastra lisan Dato Museng dan Maipa Deapati ke dalam medan seni tari kontemporer, dengan pembacaan ulang wacana gender.

Epik dari lokus Bugis–Makassar–Sumbawa tradisional tersebut, ratusan tahun hidup dalam bentangan sastra lisan, ritual, dan kolektif—menceritakan identitas, hierarki sosial, dan relasinya dengan kolonial. Dengan mendekonstruksi narasi dan alih wahana satra ke tari, dari sudut pandang gender, Wiwiek tidak sekadar mengalih wahanakan atau mentransposisi teks ke dalam gerak; namun ia juga merombak perangkat makna dan sejarah budaya yang selama ini patriarkis.

Foto: Lukisan Yusuf Susilo Hartono

Pemilihan format tunggal dari epik kolosal, bukan pilihan estetis semata, melainkan bisa dibaca sebagai strategi politis. Epik Dato Museng–Maipa Deapati berakar pada kisah pasangan, kekuasaan, dan nasib—biasanya dibacakan dalam komunitas tradisi dengan aturan peran sosial yang jelas. Mengkonversi dialog kolektif itu ke dalam performa solo – yang dimainkan dengan mengesankan oleh Rizki D. Manippi — memaksa tubuh penari menjadi lokus pluralitas suara. Lebih dari itu, satu tubuh memerankan banyak persona, menyuarakan konflik internal dan eksternal, serta menyoal kategori gender.

Dalam konteks tari kontemporer, teknik solo demikian membuka kemungkinan perwujudan poliponik (polyphonic embodiment) , yakni tubuh tunggal yang menyisipkan suara laki-laki, perempuan, narator, dan bayang-bayang budaya. Hal ini menjawab tuntutan kontemporer untuk menyuarakan marginalitas dan memecah homogenitas narasi sejarah.

Pendekatan gender Wiwiek berfungsi sebagai pembacaan kritis dan restorative. Kalau kita simak judulnya saja,  misalnya, dengan tidak menyebut Dato Museng, maka telah menempatkan Maipa Deapati, sebagai figur sentral yang menerima pembacaan ulang, dari objek cinta menjadi subjek yang berkehendak (melakukan pilihan). Oleh karena itu, karya ini sejak dari judulnya saja telah dengan terang benderang menentang struktur patriarki yang telah berurat dan berakar kuat dalam tradisi.

Pembacaan barunya ini,  dengan tetap menggunakan teknik Tari Pakarena, yang dikombinasikan dengan teknik barat (Martha Graham), dan teknik-teknik lain yang ia kuasai sebagai koreografer akademis, ditambah permainan simbol feminitas dan maskulinitas, performa kostum, musik dan tata cahaya, telah menghasilkan pertunjukan yang memperlihatkan gender dalam spektrum performatif, bukan sekedar biologis.

Penggunaan berbagai macam medium — bunyi, teks lisan, objek, dan visual — telah memperkaya dimensi dialogis epik dengan era digital dan panggung tari kontemporer. Intermedialitas dalam karya Wiwiek, dengan dukungan teman-temannya para ahli lintas bidang,  memungkinkan epik lisan yang berumur ratusan tahun untuk “berbicara” dengan bahasa baru, kepada masyarakat penonton metropolitan Jakarta, lewat proyeksi narasi, rekaman suara nyanyian tradisi, yang bermuatan memori. Medium-medium ini tidak sekadar latar; mereka berperan sebagai agen naratif yang mengontekstualkan konflik gender dan historis.

Foto: Lukisan Yusuf Susilo Hartono

Pengolahan ruang panggung menandai hubungan antara individu dan komunitas (penonton). Epik lisan biasanya hidup karena interaksi penonton tradisional turut membentuk makna melalui respons kolektif. Dalam format tarian tunggal kontemporer Maipa Deapati ini, tantangannya adalah bagaimana menegosiasikan kembali relasi itu?  Wiwiek menyiasatinya dengan  permainan musik, cahaya, dan beberapa penonton menyalakan lilin, dengan begitu menjadikan penonton  sebagai partisipan imajiner, khususnya di bagian empat.

Keseluruhan pertunjukan ini terdiri dari lima bagian. Sedangkan adegan empat, berupa proses pengobatan Maipa Deapati di telaga oleh Dato Museng; pria pilihan hatinya, tapi ayahnya Datu Taliwang memilih  menjodohkan dengan I Mangalaksa dari Kerajaan Selaparang Lombok. Pertunjukan ini fokus pada suasana pinangan. Merupakan interpretasi tentang cinta, kehormatan dan pilihan, dalam perspektif dialog antara tradisi yang mengikat dan masa kini yang membebaskan.

Karya ini menempatkan kembali epik dalam wacana budaya kontemporer yang lebih luas: dekolonialisasi estetika dan etika representasi. Kita tahu, alih wahana atau transformasi epik lisan menjadi karya tari kontemporer menuntut etika tata-referensi—bagaimana menghormati sumber tradisi sambil melakukan pembaruan kritis. Dengan melakukan penelitian selama 14 tahun sebagai persiapan pertunjukan, Wiwiek tampak melakukan pendekatan yang hati-hati lewat pengakuan asal-usul narasi, penggunaan frase lisan asli (Bugis, Sumbawa, beserrta terjemahan bahasa Indonesia) dan penanda visual yang menghormati estetika sumber. Namun sebagai koreografer senior dan dosen senior Institut Kesenian Jakarta (IKJ) asal Sulawesi Selatan, ia tidak takut untuk mengintervensi, dalam arti koreografi sebagai kritik, bukan sekadar riwayat tokoh suci (hagiografi). Hal ini, relevan dengan situasi komunitas seni Indonesia semakin memperdebatkan hubungan antara inovasi dan penghormatan terhadap tradisi.

Pertunjukan terbaru Wiwiek Sipala Pilihan Madipa Deapati 18 Juni 2026, di Gedung Kesenian Jakarta, yang berjarak 1400-an km dari lokus Bugis-Makassar dan Sumbawa, berfungsi sebagai peringatan sekaligus pengharapan. Disebut peringatan, karena ia mengekspos bagaimana struktur naratif tradisional dapat mereproduksi ketidaksetaraan. Sedangkan disebut pengharapan, karena ia menunjukkan bahwa melalui seni kita bisa membayangkan ulang relasi-relasi tersebut. Dalam lanskap tari kontemporer yang mencari suara lokal namun berpikir global, karya Wiwiek ini menjadi model: ia merangkul materi tradisi, memodifikasi medium, dan menyalakan pembacaan kritis—semua demi memperluas medan estetika dan politik tubuh.

Foto: Lukisan Yusuf Susilo Hartono

Akhirnya, pertunjukan Wiwiek Sipala (74 tahun) yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesia, LPDP dan Sipala Dance Company, bagi penonton kritis dan peneliti budaya, menyisakan pertanyaan. Bagaimana kita meneruskan warisan cerita lama (tradisi) tanpa mengulang kesalahan (pandangan) lama. Sebaliknya, bagaimana tubuh tunggal dapat menjadi tempat berlangsungnya perlawanan sekaligus rekonsiliasi budaya? (Dari berbagai sumber).

*Yusuf Susilo Hartono, wartawan senior, pelukis dan penyair.