Ode to My Friend: Privilege itu Bernama Teman

Oleh : Abad Akbar*

قَالَ الشَّاعِرُ فِي الخَّلِّ

إِنْ قَلَّ مَالِيْ فَلَا خِلٌّ يُصَاحِبُنِيْ # إِنْ زَادَ مَالِيْ فَكُلُّ النَّاسِ خُلَّانِيْ

فَكَمْ عَدُوٍّ لِأَجْلِ الْمَالِ صَاحَبَنِيْ # وَكَمْ صَدِيْقٍ لِفَقْدِ الْمَالِ عَادَانِيْ

Berkatalah seorang penyair tentang pertemanan:

“Jika sedikit hartaku maka tidak ada yang ingin menjadi sahabatku, dan apabila hartaku bertambah maka semua orang seolah-olah menjadi sahabatku.
Betapa banyak musuh menjadi teman karena kekayaanku, dan betapa banyak sahabat berubah menjadi musuh karena kemiskinanku.”

Begitulah sedikit gambaran tentang mahalnya sebuah pertemanan sejati. Dalam konteks hari ini, tidak jarang uang atau kekayaan menjadi ukuran kadar pertemanan seseorang. Krisis kepercayaan, ketulusan, hingga kejujuran menjadi fenomena yang kerap muncul dalam relasi pertemanan. Tiada uang tiada teman, ketika miskin seseorang sering kali harus berjuang sendiri. Karena itu, kehadiran teman yang tulus, jujur, dan dapat dipercaya merupakan anugerah yang sangat berharga bagi setiap individu.

Let’s Talk (2026) karya Dhimas Hussein yang menceritakan urgensi percakapan untuk kesehatan jiwa (Sumber Abad Akbar)

Kekuatan sebuah pertemanan inilah yang menjadi tema dalam pameran “Ode to My Friend”. Pameran yang dilaksanakan di Babaran Segaragunung Culture House ini menarik untuk dibaca lebih jauh. Dipanitiai oleh mahasiswa Tata Kelola Seni (TKS) Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang berjumlah sembilan orang mahasiswa —Gwen, Raihan, Nino, Dimas, Aim, Sezha, Aqila, Galuh, dan Maria— mereka menamai kolektifnya sebagai “Kolektif 281”. Pameran berlangsung selama satu minggu, dibuka pada 6 Mei dan berakhir pada 12 Mei 2026.

Raihan Wahyu selaku kurator menjelaskan bahwa tema “Ode to My Friend” berbicara tentang teman yang selalu hadir di sekitar kita, baik dalam suka maupun duka. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa dilepaskan dari keberadaan makhluk lain. Bukan semata karena ketergantungan, melainkan sebagai bentuk relasi antar manusia, juga dengan hewan, alam, dan makhluk lainnya. Raihan turut mengutip lagu Stand by Me dari Oasis yang menggambarkan harapan agar seseorang tetap berada di sisi kita, memberi dukungan, dan setia menemani ketika menghadapi masa-masa sulit maupun ketidakpastian hidup. Lagu tersebut menekankan pentingnya kehadiran seseorang yang tulus ketika dunia terasa gelap dan membingungkan.

Tour Kuratorial oleh Raihan Wahyu (Sumber Abad Akbar)

Terdapat sepuluh karya dari delapan seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini, yaitu Andrea Ramschie, Diman Hussein, Fauzi Abdullah, Fachri Fadillah, Morris Hork, Luqman Al Hakim, Rifka Nafiatul J., dan Rizky Ridwan. Setiap karya mengangkat tema pertemanan melalui refleksi personal para seniman. Mulai dari relasi antar manusia, kesepian dan pengkhianatan, wajah asli seorang teman, teman yang menusuk dari belakang, hubungan dengan hewan dan alam, hingga tentang teman imajiner sang seniman. Kehadiran karya-karya semacam ini membuka cakrawala bahwa seni merupakan medium reflektif atas realitas kehidupan.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua Jurusan, Dr. Trisna Pradita. Dalam sambutannya, ia merefleksikan hubungan antara pertemanan dan kesuksesan. “Tidak ada orang sukses yang tidak punya privilege, dan privilege itu bernama teman.” Dalam konteks pameran ini, teman merupakan sebuah privilege. Dari pertemanan lahir jejaring, kerja sama, dan solidaritas yang mampu mensukseskan sebuah acara. Tanpa teman, pekerjaan menjadi berat; tiada gotong royong, tiada saling bahu-membahu, dan tentu tiada tempat untuk berbagi cerita. Di akhir sambutannya, ia berharap agar pameran ini berjalan dengan baik dan memberi dampak bagi ekosistem seni di Yogyakarta.

Pengenalan man behind exhibition – panitia pameran – oleh dosen pengampu mata kuliah Dr. Mikke Susanto (Sumber Abad Akbar)

Sambutan kemudian dilanjutkan oleh dosen pengampu mata kuliah Tinjauan Kelola Pameran, Dr. Mikke Susanto, beserta tim pengajar. Mikke menjelaskan bahwa pameran ini merupakan tugas akhir perkuliahan yang dibangun atas dasar kerja sama dan persatuan kelompok. Setiap orang harus mampu bekerja bersama dan menjalin relasi pertemanan agar sebuah kegiatan dapat berjalan dengan sukses.

Ia juga mengapresiasi hadirnya pameran di rumah budaya ini. Menurutnya, masih banyak ruang seni yang belum tersentuh oleh pelaku seni maupun mahasiswa. Padahal, ruang-ruang semacam ini perlu lebih banyak diekspos. Kuliah bagi mahasiswa seni tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang-ruang kebudayaan seperti ini. Pembelajaran berlangsung melalui pendekatan project based learning, di mana mahasiswa belajar langsung melalui praktik di lapangan. Setiap pameran memiliki tema dan konsep masing-masing, dan dari sana dapat dilihat bagaimana mereka membangun jejaring kesenian.

Pameran kemudian dibuka oleh Agus Ismoyo, pendiri Rumah Budaya Babaran Segara Gunung. Dalam sambutannya, Agus mengenang suka duka ketika merintis rumah budaya tersebut. Dari ruang yang awalnya bersifat privat, kini berkembang menjadi ruang yang egaliter dan berwibawa. Dalam perjalanan karier maupun pengembangan rumah budaya ini, Agus selalu bersama istrinya, Nia Fliam. Kisah perjuangan mereka menjadi gambaran hakiki tentang arti pertemanan, kesetiaan, dan kejujuran.

Agus mengenang bahwa dahulu tempat tersebut digunakan sebagai ruang presentasi karya dirinya dan istrinya yang menggeluti seni tekstil berbasis tradisi. Namun sejak pandemi, ia merasa ruang itu perlu dibuka dan dikembangkan menjadi ruang publik. Baginya, sebuah ruang sangat penting sebagai tempat berekspresi dan bereksperimen. Dari ruang itulah lahir eksistensi dan kemapanan. Ruang menjadi tempat untuk menunjukkan karya, kebanggaan, sekaligus identitas diri.

Galeri dan Rumah Budaya Babaran Segara Gunung di Banguntapan, Bantul, Yogyakarta (Sumber Abad Akbar)

Rumah budaya ini kini berisi art shop yang memamerkan sekaligus menjual karya Agus dan Nia, coffee shop dengan kopi hasil kebun sendiri, serta galeri sebagai ruang pamer. Agus bercita-cita membangun ekosistem seni yang dapat mengangkat seniman-seniman baru agar berani tampil dan berkembang melalui tempat ini. Ruang tersebut dibuka pasca-pandemi

sebagai ruang seni publik yang mengusung konsep tradisi dengan kesadaran bahwa “saya hidup, alam yang memberi hidup, dan Tuhan yang menciptakan kehidupan.” Dalam konteks itu, ruang menjadi penting, sebab tanpa ruang, aktivitas dan kreativitas tidak akan tumbuh.

Prosesi pembukaan pameran oleh Agus Ismoyo (Sumber Abad Akbar)

Pameran dibuka dengan tabuhan rebana dan prosesi potong pita oleh Agus Ismoyo yang didampingi dosen, mahasiswa, dan tamu undangan. Kehadiran teman-teman satu angkatan TKS 2025 menjadi gambaran bahwa pertemanan mereka terjalin solid dan kokoh.

Di akhir saya ingin mengajak pembaca untuk merefleksikan arti sebuah pertemanan. Syair dari Basyar ibn Burd menyatakan seperti ini;

لِبَشَارِ بْنِ بُرْدٍ (المتوفّى سنة ١٦٧هـ) فىِ المُعَاشَرَةِ

إِذَا كُنْتَ فيِ كُلِّ الأُمُوْرِ مُعَاتِبًا # صَدِيْقَكَ لَمْ تَلْقَ الَّذِيْ لاَ تُعَاتِبُهُ

فَعِشْ وَاحِدًا أَوْ صِلْ أَخَاكَ فَإِنَّهُ # مُقَارِفُ ذَنْبٍ مَرَّةً وَمُجَانِبُهُ

وَإِنْ أَنْتَ لَمْ تَشْرَبْ مِرَارًا عَلَى القَذَى # ظَمِئْتَ وَأَيُّ النَاسِ تَصْفُوْ مَشَارِبُهُ

وَمَنْ ذَا الَّذِيْ تُرْضَى سَجَايَاهُ كُلُّهَا # كَفَى المَرْءُ نُبْلًا أَنْ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ

Syair Bashar ibn Burd (wafat 167 H) tentang pergaulan:

“Jika kau selalu mencari kesalahan pada sahabatmu, maka kau tidak akan menemukan seorang sahabat pun tanpa cela.
Maka hiduplah sendiri atau tetaplah menjalin hubungan dengan saudaramu, sebab ia terkadang berbuat salah dan di waktu lain menjauhi kesalahan itu.
Jika engkau hanya ingin meminum air yang benar-benar bersih tanpa kotoran, maka engkau akan kehausan. Sebab manusia manakah yang benar-benar bersih dari kekurangan?

Dan siapakah orang yang seluruh perangainya sempurna? Cukuplah seseorang disebut mulia
ketika kekurangannya masih dapat dimaklumi.”

Di antara Bayangan #2 (2025) Karya Fauzi Abdullah (kiri) mengungkapkan bahwa kita tidak pernah sendiri, ada bayangan yang selalu menemani kita diantara setiap permasalahan dunia. Sharing The Light (2026) karya Ridzky Ridwan (kanan) yang bercerita tentang sahabat fantasinya sejak lama. (Sumber Abad Akbar)

Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana seharusnya kita menjadi seorang teman. Tidak perlu menjadi sosok yang sempurna tanpa kekurangan, sebab tujuan pertemanan adalah saling mengisi dan melengkapi. Setiap orang pernah berbuat salah. Mencari teman yang sepenuhnya sempurna ibarat mencari air yang benar-benar jernih tanpa noda; niscaya seseorang akan kehausan sebelum menemukannya. Kemuliaan justru lahir dari kesediaan memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Karena itu, jadilah teman yang mulia: saling mengingatkan dan saling mengisi kekosongan satu sama lain. Teruslah berteman, bangun jejaring, dan ciptakan duniamu hidupilah dia.

Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.

Hasan Abdullah Sahal

 

*Abad Akbar – Peneliti Budaya