Wacana (Biennale) Seni Rupa Kalimantan
Oleh : Hajriansyah*
Dalam dua atau tiga tahun terakhir, pameran dan berbagai kegiatan seni rupa di Pulau Kalimantan terasa semakin masif. Tidak sebatas memamerkan karya, para perupa Kalimantan mengajukan berbagai wacana seni rupa, dari sebatas silaturahmi hingga konsolidasi, dari persoalan lokal hingga global atau yang bersifat liris maupun yang “protes”.
Beberapa pameran yang menawarkan wacana-wacana tersebut bahkan menjadi event rutin berkesinambungan, sebut saja di antaranya seperti Banjarmasin Art Week (BAW) oleh Dewan Kesenian Banjarmasin, Bias Borneo oleh IPKS, Pameran Karya Perupa Perempuan oleh Art Production, serta beberapa pameran berkala (tiga bulanan) oleh Artida atau Badri Gallery dan seri ArtUp oleh Askara Production—semuanya dari Kalimantan Selatan (Kalsel); juga Borneo Metamorfosa di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Bataring Art Exhibiton di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang rutin melaksanakan pameran tahunan, serta komunitas perupa Kalimantan Timur (Kaltim) yang rajin berpameran di daerah maupun luar daerahnya.
Pameran-pameran ini menunjukkan geliat aktivitas perupa di Kalimantan, menyusul dinamika kesenirupaan yang telah berlangsung intens sejak beberapa dekade terakhir. Dalam riset sederhana penulis, dengan mewawancarai beberapa narasumber dan mengamati beberapa kegiatan berlangsung di Kalsel, Kaltim, Kalteng, Kalbar (khusus Kalimantan Utara/Kaltara, penulis belum pernah mengamati secara khusus), didapatkan satu alur yang cukup konstan dalam perkembangan seni rupa di Kalimantan, bahwa seni rupa modern Kalimantan berakar pada upaya menunjukkan garis historisnya sendiri yang berpangkal pada nama Sholihin. Nama ini cukup dikenal secara umum di Kalimantan, sebagai pelukis modern yang memiliki jejak kesenirupaan cukup luas sebagai salah satu dari perintis seni rupa modern Indonesia.
Dua tahun setelah Indonesia Merdeka, Sholihin telah berada di Yogyakarta, saat ibukota republik dipindahkan ke sana sementara waktu (1946-1949). Pada tahun 1953, Sholihin bersama Affandi dan Kusnadi mewakili delegasi Indonesia pada Biennale II Sao Paulo, Brazil. Antara tahun 1957-1958 ia sempat pulang ke Banjarmasin, mendirikan komunitas perupa Tunas Pelukis Muda (TPM) yang aktif melukis Bersama, juga berpameran. Meski sebentar saja kiprah Sholihin bersama TPM, pengaruhnya cukup dirasakan kemudian bagi para perupa Kalsel khususnya, dan sebarannya kemudian ke Kaltim dan Kalteng. Karenanya, pada tahun 2018 saat pameran “Ars Tropika” oleh Galeri Nasional Indonesia di Taman Budaya Kalteng, nama Sholihin disebut sebagai perintis seni rupa modern di Kalimantan oleh narasumber dari Palangkaraya.
Hubungan para perupa di Kalimantan semakin kentara dalam tiga tahun terakhir, di antaranya melalui pameran Bias Borneo II “Titian Barantai” (2023), Pameran Nasional Seni Rupa KPK-Borneo “Lintas Warna Borneo” (2023), dan Bataring Art Exhibition #5 “Tabe’ (2024). Tiga pameran ini melanjutkan tradisi pameran bersama sebelumnya, yang telah dirintis oleh kerja-kerja bermitra pemerintah maupun yang diinisiasi secara mandiri, seperti oleh KPK-Borneo misalnya. Yang cukup besar, Pameran Besar Seni Rupa “Kayuh Baimbai” (oleh Direktorat Kesenian Kemendikbud RI, 2019) memamerkan karya-karya terseleksi para perupa Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Kaltara, dan beberapa karya dari perupa Sabah dan Serawak, di Big Mall Samarinda. Hubungan yang terus berlanjut dan berkesinambungan, pada suatu diskusi, memunculkan pula wacana Biennale Kalimantan—sebuah pameran bergengsi yang menampilkan perkembangan mutakhir seni rupa Kalimantan dalam dua tahun terakhir.
Wacana terakhir ini sudah bergaung sejak lama, di antaranya melalui diskusi pada beberapa pameran KPK (Komunitas Perupa Kalimantan)-Borneo pada medio 2000-an. Pameran ini bergema kembali saat pameran Bias Borneo II di Banjarmasin, Kalsel tahun 2023. Namun hingga kini, impian Biennale Kalimantan belum lagi terlaksana. Apa sebab? Berikut, penulis mencoba melihatnya melalui wacana yang ada.
Sejumlah Wacana
Berbagai wacana muncul dalam upaya menghadirkan (sebanyak mungkin) karya atau perupa, adalah suatu mimpi besar yang diharapkan dapat menunjukkan intensitas kekaryaan dalam dinamika seni rupa Kalimantan. Unsur keterwakilan gaya, lintas usia dan gender perupa, serta komunitas seni rupa menjadi sedemikian penting. Termasuk pula menjemput tema-tema aktual, yang merajut ikatan tematik tradisional dan global.
Dalam PBSR “Kayuh Baimbai”, Bambang Asrini selaku kurator pameran mencatat tiga zona tematik karya-karya perupa Kalimantan. Pertama, zona “Kosmopolitanisme”, menurut Bambang, adalah tafsir tentang keyakinan bahwa pembentuk sebuah masyarakat yang inklusif dan daerah yang maju pada peradaban masa lalu dan kini, saat kosmopolitanisme menunjukkan kemajemukan sosial. Zona kedua, “Ekspresi Seni Islam”, yang menunjukkan keragaman budaya Islam, yang cukup dominan dan mendarah daging di masyarakat Kalimantan. Nilai-nilai budaya berbasis agama atau kepercayaan memberi hibriditas corak seni Islam di Kalimantan, yang niscaya memperkaya wajah Islam kontemporer di pentas nasional maupun regional. Dan terakhir, zona “Peradaban Tua Kalimantan”, yang memberi ruang pada ekspresi seni berbasis nilai-nilai tradisi yang lebih tua yang memungkinkan adanya jejak akultursi kepercayaan di tanah “tua” Kalimantan.
Pameran Kayuh Baimbai (2019) diselenggarakan melalui pendanaan yang disuntikkan oleh Direktorat Kesenian Kemendikbud RI. Oleh karenanya, dengan kekuatan pendanaan tersebut, pameran ini mampu menghimpun beragam kecenderungan—dari gaya-tematik, perwakilan usia dan gender perupa, serta komunitas yang majemuk. Pameran ini menghadirkan seratus karya perupa, personal maupun kolektif, yang kemudian bertemu dan berbagi wawasan di ballroom Harris Hotel Samarinda. Jumlah (karya) yang besar, sesuai dengan namanya “pameran besar”, dibandingkan pameran-pameran sebelum dan sesudahnya, seperti pada Ars Tropika, Bias Borneo II, yang menampilkan 20-40an perupa saja.
Pameran besar niscaya menampilkan keragaman (ekspresi) visual, dan karenanya turut menampilkan wajah seni rupa regional yang lebih utuh. Namun begitu, tidak sedikit pameran “kecil” yang mampu memberi pengaruh atau setidaknya menyuntikkan wacana segar pertumbuhan seni (rupa) Kalimantan. Kemampuan “menarasikan” keragaman ekspresi yang majemuk itu nyatanya dapat dikelola dengan tatakelola pameran yang baik, dan ini dapat menjadi solusi bagi pendanaan yang tidak mesti besar. Di antaranya, mungkin saja, dengan pelinimasaan yang jelas dan bertalisambungan sejak konsepsi wacana hingga penyeleksian karya yang terukur secara gagasan tematik. Dalam hal terakhir ini, gagasan tematik apa yang telah dan/atau berkesinambungan?
Wacana Berkesinambungan
Sejauh ini yang terus mengiang di telinga penulis dan sering digemakan adalah mengangkat kekhasan budaya Kalimantan. Hal ini lumrah, mengingat “identitas” semacam itu penting dalam tegangan dinamika seni nasional, untuk menguatkan pemeranan seni rupa di daerah dalam “kuasa” wacana global-Indonesia. Tema-tema khas semacam “Kayuh Baimbai” atau “Tabe” beriringan dengan “Bias Borneo” dan “Lintas Warna Rupa Borneo” yang lebih umum. Frase atau kalimat yang sejak awal ingin menekankan kekhasan alam budaya Kalimantan. Atau wacana lain, tentang folklore, yang diharapkan menunjukkan bagian-bagian penting penyusun keindonesiaan dari tanah Borneo. Yang terakhir ini adalah tematik kekaryaan yang ditawarkan dalam rangka kurasi pameran Borneo Metamorfosa 2026 di Kalbar, pada akhir Agustus nanti.
Wacana seni rupa Kalimantan pasca pelukis Sholihin, yang tampil di pentas seni rupa nasional pada awal-awal kemerdekaan RI, terus berkelindan di antara tampilan-tampilan “tradisional” dan upaya mengglobal. Karya Sulistyono, Love Make Us Exist, yang tampil pada Beppu Asia Biennale of Contemporary Art di Jepang (2007) atau Future Life, yang dipamerkan pada Beijing International Art Biennale (2010), keduanya membawa wacana global tentang perang dan kerusakan alam. Begitu pula, dalam ratusan karya Sholihin yang dikoleksi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru, yang menunjukkan jiwa universal pelukis perantau ini. Selain keduanya, karya-karya perupa lainnya terus menunjukkan sisi kelokalan yang seakan berseberangan dengan jiwa universal tersebut. Kenyataannya, keduanya sama mendapat tempat dan terus berjalin kelindan dalam pembentukan wacana yang niscaya.
Pameran Kompilasi Protes beberapa bulan yang lalu di Bengkel Seni Rupa Sholihin menyadarkan penulis kembali tentang kelindan wacana tersebut. Kurator pameran Eky Abdan mengungkapkan, tema yang diangkatnya tentang ekologi lingkungan, yang ditafsiri pula dengan isu feminisme dan kesehatan mental khas anak muda sekarang, memperlihatkan pergeseran menarik dalam wacana seni rupa Kalimantan (Kalsel), ketika perupa muda kini jauh lebih berani menyuarakan kritik secara gamblang. Hal ini menunjukkan jiwa kosmopolit, yang disitir Bambang Asrini sebelumnya, adalah suatu keniscayaan.
Keniscayaan yang bukan tidak berakar pada jejak rekam kekaryaan perupa Kalimantan, seperti sebut saja yang paling mengemuka pada karya-karya Realisme Revolusioner Misbach Tamrin selama ini. Telah mafhum, Misbach adalah salah seorang pelukis eksponen Sanggar Bumi Tarung (SBT) yang membawakan karya-karya protes sejak kemunculan kelompok ini di Yogyakarta pada tahun 1962.
Seiring itu pula, narasi-liris “protes” bahkan diarak langsung ke Galeri Nasional Indonesia Jakarta oleh para perupa Kaltim pada 2023. Dengan mengusung tema “Antara Kecemasan dan Harapan”, karya-karya para perupa yang ditampilkan menyuarakan kecemasan serta doa-doa harapan atas wacana pembangunan IKN Nusantara di Kaltim. Sedemikian narasi-liris lainnya terus menghiasi pameran-pameran di Kalimantan secara umum, berjalin kelindan dengan wacana tradisi lokal tempatan yang terus dipertahankan, baik dalam rupa turistiknya, semacam karya-karya Eko Yes, maupun ekspresi “liar-protes” lainnya pada karya-karya Rokhyat, Ariel dan Umar dalam Pameran Empat Perupa Kalselteng “Garis Waktu”, di Galeri Seni Eko Yes (2025).
Dengan demikian, wacana bergulir seni rupa Kalimantan masih terasa segar (hidup) hingga hari ini. Lebih-lebih dalam dua tahun terakhir, saat intensitas—kuantitas maupun kualitas—nya semakin bergerak dinamis, dengan kegiatan yang makin masif. Tidak sekadar pameran, namun juga diskusi terarah yang makin diminati para perupa muda. Karena itu, wacana pameran dua tahunan (biennale) yang menampilkan arus perkembangan terakhir seni rupa Kalimantan semakin niscaya untuk digerakkan. Tidak harus “besar” saya kira, yang penting jelas narasi atau wacana yang diungkapkan, dan terseleksi karya-karyanya, hingganya dapat menyulut api yang semakin besar ke depan.

Felisha Faradila, Glooming Berries, Cat Akrilik di Kanvas 60X80 cm, 2025

Sulistyono, Future Life, Cat Minyak di Kanvas 150X200 cm, 2011


Karya Misbach Tamrin, Universalitas Sholihin dan Sungai Barito, 2025


Fano, salah seorang perupa pada pameran Kompilasi Protes sedang menjelaskan karyanya dalam Artist-Talk pameran tersebut. Karya Maui, Silent Witness terpajang di dinding, dan Indopoly: Real Crisis karya Nazula Anisa.

Penulis dan Misbach Tamrin serta pengunjung pada pameran “Kuda Cahaya” Gedung Wargasari, Taman Budaya Kalsel 2026.

—-
*Hajriansyah, menulis puisi, cerpen, esai dan artikel seni rupa. Tinggal di Banjarmasin




