Mendekonstruksi Konstruksi Makna Lengger Lanang
Oleh Purnawan Andra*
Lengger selama ini sering dipahami sebagai sesuatu yang seolah-olah sudah jelas. Ia adalah tarian rakyat Banyumasan yang lekat dengan tubuh perempuan, hadir dalam ritus, tumbuh dari lanskap agraris, dan mengakar dalam ingatan kolektif. Lengger menari untuk panen, untuk kesuburan, untuk menjaga hubungan antara manusia dan alam.
Dalam banyak ingatan kultural, lengger adalah perempuan yang bergerak lentur di antara sawah dan ritus, antara rasa syukur dan perayaan nilai komunal, sebagai tradisi yang seakan maknanya telah selesai sejak awal. Namun justru di dalam kepastian itulah “persoalan” bermula. Sebab, apa yang kita anggap sebagai “makna asli” sering kali bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja, melainkan hasil dari cara kita menamai dan memahami tradisi hari ini.
Kemunculan istilah “lengger lanang” membuka pemikiran itu. Ia terdengar janggal, bahkan kontradiktif dengan mempertemukan “lengger” yang diasosiasikan dengan tubuh perempuan dan “lanang” yang merujuk pada laki-laki. Tetapi kejanggalan ini bukan sekadar anomali kultural. Ia adalah pintu masuk untuk melihat bagaimana sebuah praktik yang cair dapat dipadatkan menjadi kategori, bagaimana tubuh yang bergerak dapat dikunci dalam istilah, dan bagaimana tradisi perlahan dibentuk ulang melalui bahasa yang kita gunakan untuk menyebutnya.
Di titik ini, pertanyaannya tidak lagi berhenti pada “apa itu lengger lanang”. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: bagaimana istilah itu bisa muncul, siapa yang memproduksinya, dan kuasa apa yang bekerja di balik proses penamaan tersebut?

Poster film Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho, 2019) yang mengangkat cerita lengger (sumber: Instagram/bioskoponlineid)
Konstruksi Pengetahuan
Di titik ini, kita perlu membedakan antara praktik dan pengetahuan. Praktik bisa saja sudah ada sejak lama, tetapi pengetahuan tentang praktik itu—terutama dalam bentuk istilah yang baku—sering kali muncul belakangan.
Beberapa penelitian tentang lengger Banyumas menunjukkan bahwa tarian ini berkaitan dengan ritus kesuburan dan penghormatan terhadap Dewi Sri, lalu dalam perkembangannya bergeser menjadi hiburan rakyat, bahkan kadang dianggap erotik. Artinya, sejak awal lengger bukan tradisi yang beku. Ia lentur, berubah, dan menyesuaikan diri dengan zaman.
Dalam konteks ini, lengger lanang lebih tepat dipahami sebagai konstruksi pengetahuan modern atas praktik tubuh yang lebih tua. Karena Jika kita menengok ke masa lalu, gambaran itu menjadi lebih kompleks. Dalam Serat Centhini Jilid V yang salah satunya menceritakan episode perjalanan Mas Cebolang dari Wirasaba ke Sokayasa, Banyumas, terdapat konteks adegan pertunjukan (tayuban/ronggeng). Dalam pupuh tembang tersebut disebutkan:
Nurwitri kang nari,
kinanthi ingkang sinêbat,
dipun iringi Cebolang,
lir wong wadon lugu,
solah bawanipun alus,
kadi ronggeng kang endah.
Ana dene ronggeng lanang,
anggêgaya solah estri,
nglêmbana aneng panggung,
nglêlaras rasa ingkang mirsani,
kathah ingkang kepencut,
amargi solahing ngresepaken.
Terjemahannya:
Nurwitri yang menari
yang disebut sebagai penari pengiring
diiringi oleh Cebolang
seperti perempuan yang polos/sederhana
gerak-geriknya halus
seperti ronggeng yang indah
adapun ronggeng laki-laki
menirukan gaya/tingkah perempuan
bergerak gemulai di panggung
menyelaraskan perasaan para penonton
banyak yang terpikat
karena geraknya yang memikat
Dalam teks tersebut, muncul tokoh seperti Nurwitri dan penyebutan “ronggeng lanang”, dengan deskripsi anggêgaya solah estri (menirukan gaya perempuan) yang merujuk pada laki-laki yang tampil dalam citra feminin dalam konteks pertunjukan. Ini menunjukkan bahwa praktik tubuh lintas gender bukan hal asing dalam budaya Jawa awal abad ke-19.
Namun, penting digarisbawahi bahwa tidak ada istilah “lengger lanang” sebagai kategori yang mapan di sana sebagaimana dipahami hari ini. Centhini hanya merekam fenomena, bukan menamai konsep seperti yang kita gunakan saat ini.
Dengan kata lain, “lengger lanang” adalah sebuah konstruksi terminologis modern atas praktik performatif yang lebih tua. Artinya praktiknya mungkin sudah ada, tetapi istilahnya belum lahir. Yang hadir dalam teks tersebut adalah praktik performatif, bukan konsep kultural yang telah dibakukan.
Hal ini bisa diidentifikasi ketika perubahan mulai tampak ketika memasuki ranah akademik modern. Sejauh penelusuran, di sekitar tahun 2010-an, istilah “lengger lanang” mulai digunakan secara eksplisit dalam skripsi dan penelitian. Dalam karya-karya ini, lengger lanang tidak lagi sekadar fenomena lokal, tetapi sudah menjadi objek kajian yang diberi definisi, dijelaskan, dan ditempatkan dalam kerangka seperti pertunjukan lintas gender.
Di titik ini, terjadi sesuatu yang penting. Praktik budaya yang sebelumnya cair mulai dipadatkan menjadi kategori pengetahuan. Ia diberi nama yang stabil, diulang dalam tulisan, lalu perlahan diterima sebagai istilah yang sah.
Representasi
Proses ini tidak berhenti di ruang akademik. Ia diperkuat oleh figur-figur yang menjadi wajah dari istilah tersebut. Nama Dariah sering disebut sebagai sosok penting dalam narasi lengger lanang. Ia dianggap sebagai pelopor atau figur awal yang memberi bentuk konkret pada praktik ini dalam ingatan modern.

Dariah (sumber: suarakita.org)
Namun, di sini juga muncul pertanyaan kritis: jika satu tokoh dijadikan pusat rujukan, sejauh mana kita bisa menyebutnya sebagai tradisi yang luas? Apakah lengger lanang memang fenomena yang menyebar, atau hasil penarikan garis dari satu kasus yang kemudian diperluas maknanya?
Penguatan istilah ini semakin terasa ketika masuk ke ranah seni kontemporer melalui penari seperti Rianto dan Otniel Tasman. Rianto membawa lengger lanang ke panggung internasional, menjadikannya bagian dari wacana seni global. Sementara Otniel mengolahnya dalam karya koreografi yang mengangkat kembali figur Dariah.

Rianto (sumber: Indonesiakaya.com)
Di tangan mereka, lengger lanang tidak lagi sekadar praktik lokal, tetapi juga menjadi bahasa artistik yang berbicara tentang tubuh, identitas, dan ekspresi. Di sinilah terjadi pergeseran besar lengger dari ritus ke representasi.
Lalu, bagaimana dengan logika awal lengger sebagai ritus kesuburan yang mempertemukan maskulin dan feminin? Apakah lengger lanang “merusak” logika itu? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Dalam perspektif antropologis, tubuh laki-laki yang memerankan perempuan bisa dilihat sebagai ruang peralihan, ruang liminal, yang justru memperkaya simbolisme. Ia tidak selalu menghancurkan oposisi gender, tetapi bisa juga mempermainkannya.
Namun, yang jelas, dalam praktik kontemporer, fokus lengger memang bergeser. Ia tidak lagi terutama dibaca sebagai hubungan manusia dengan alam, melainkan sebagai ekspresi tubuh dan identitas.
Di satu sisi hal ini menegaskan bahwa ronggeng dalam Serat Centhini tidak pernah lahir sebagai “lengger”, apalagi “lengger lanang”. Ia adalah praktik yang cair, yang kemudian dibekukan oleh pembacaan modern menjadi identitas. Dalam proses itu, kita tidak sedang menemukan tradisi, melainkan menciptakan versi masa lalu yang bisa kita pahami hari ini.
Panggung Hari Ini
Di titik ini, kita bisa melihat bahwa lengger lanang adalah hasil dari beberapa lapisan sekaligus. Ada praktik lama yang terekam dalam teks seperti Serat Centhini, ada pembakuan istilah melalui penelitian modern, dan ada penguatan melalui praktik seni kontemporer. Ia bukan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi juga bukan warisan yang utuh tanpa perubahan. Ia adalah hasil pertemuan antara masa lalu dan kebutuhan zaman sekarang untuk memberi nama dan makna.
Seperti pada konteksnya, di wilayah kultur Banyumasan, lengger hari ini tidak lagi sepenuhnya hidup sebagai praktik desa, tetapi sebagai representasi yang dikurasi dalam festival, pariwisata, dan panggung resmi. Dalam proses itu, “lengger lanang” muncul sebagai kategori yang menonjol. Bukan semata karena ia paling esensial, tetapi karena ia paling mudah dipertontonkan sebagai keunikan. Dalam hal ini, yang terjadi bukan sekadar pelestarian, melainkan seleksi yang diam-diam menentukan apa yang layak disebut sebagai wajah budaya.
Ketika kita menyaksikan “lengger lanang” di panggung hari ini, kita tidak hanya melihat tradisi. Kita sedang melihat hasil dari serangkaian pilihan: pilihan akademik, pilihan kuratorial, dan pilihan kebijakan. Pertanyaannya bukan lagi apakah itu autentik atau tidak, tetapi siapa yang memilih bentuk itu, dan untuk kepentingan siapa?
Dalam hal ini, negara, melalui bahasa pemajuan kebudayaan, tidak hanya menjaga tradisi tetapi juga memproduksi bentuk-bentuk “baru” dari tradisi itu sendiri. “Lengger lanang” menjadi salah satu contohnya, di mana sebuah kategori yang lahir dari pertemuan antara praktik lama, tafsir modern, dan kebutuhan administratif untuk menamai, mengelola, serta menampilkan budaya.

Poster pentas kolosal lengger dalam rangka rekor MURI yang diadakan Pemda Banyumas (sumber: Banyumaskab.go.id)
Dalam rezim pemajuan kebudayaan hari ini, tubuh tradisi tidak lagi sepenuhnya milik komunitas yang menghidupkannya. Ia telah menjadi bagian dari arsip negara, panggung festival, dan katalog identitas budaya. Dan di dalam proses itu, kita perlu bertanya ketika tradisi akhirnya memiliki nama yang pasti, apakah ia masih memiliki kebebasan untuk berubah?
Kuasa Penamaan
Karena itu, persoalan utama bukanlah apakah lengger lanang “asli” atau “menyimpang”. Pertanyaan semacam itu justru lahir dari cara berpikir yang sejak awal ingin menstabilkan sesuatu yang sebenarnya bergerak. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang menamai, bagaimana ia dinamai, dan untuk tujuan apa.
Sebab, dalam setiap penamaan, selalu ada kuasa yang bekerja—kuasa untuk menentukan mana yang dianggap tradisi, mana yang dianggap penyimpangan, dan mana yang diangkat menjadi identitas. Lengger lanang, dalam hal ini, bukan hanya soal tarian, tetapi juga soal bagaimana kita membentuk ingatan budaya.

Buku Lengger Agamaku karya Otniel Tasman (Kalabuku, 2024) (sumber: Kalabuku.org)
Apa yang hari ini kita sebut sebagai “lengger lanang” mungkin tidak pernah ada sebagai kategori dalam dunia yang melahirkan Serat Centhini. Ia adalah produk dari cara kita hari ini membaca tubuh. Sebuah upaya untuk menamai yang cair, mengunci yang bergerak, dan menata ulang masa lalu agar sesuai dengan bahasa identitas modern. Dalam proses itu, kita tidak hanya menemukan tradisi. Kita sedang menciptakannya.
Pada akhirnya, lengger lanang memperlihatkan bahwa tradisi tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak, berubah, dan kadang dibentuk ulang oleh bahasa yang kita gunakan untuk memahaminya. Dari teks seperti Serat Centhini yang hanya merekam fenomena tanpa membakukan istilah, hingga panggung festival dan arsip kebijakan hari ini, kita menyaksikan bagaimana tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga diproduksi.
Maka, yang perlu dijaga bukanlah keaslian dalam arti sempit, melainkan kewaspadaan terhadap cara kita memberi makna. Ketika sebuah istilah menjadi begitu kuat, ia bisa menutup kemungkinan untuk melihat kompleksitas di baliknya. Maka, yang perlu kita rawat bukan hanya praktiknya, tetapi juga kesadaran kritis terhadap cara kita menamainya. Sebab, pada akhirnya, yang dipertarungkan bukan hanya tubuh yang menari, tetapi hak untuk mendefinisikan apa tradisi itu sendiri dan siapa yang berhak atasnya.
—
*Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.





