Mengenang Kembali Masalah ‘Jugun Ianfu’

Oleh: Kim Young Soo*

Berapa banyak orang Indonesia yang mengenal nama almarhumah Ibu Mardiyem, mantan jugun ianfu?

Seberapa banyak orang Indonesia yang memahami nasib para jugun ianfu yang dibawa secara paksa oleh tentara Jepang ke Pulau Buru, Kepulauan Maluku?

Secara kebetulan, saat baru-baru ini saya mencari informasi tentang jugun ianfu di Indonesia, saya menemukan tulisan Pak Inno Koten berjudul “Tubuh, Ingatan dan Sebuah Paradoks – Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’” (cetakan pertama, Maret 2001) di sebuah situs web. Saya membacanya dengan penuh perhatian dan penghayatan.

Sebagai pihak yang menerjemahkan karya nonfiksi tersebut — yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (Pram), sastrawan terkemuka Indonesia — ke dalam bahasa Korea dan menerbitkannya di Korea setelah memperoleh hak cipta pada 2019 dari putri sang pengarang, Ibu Astuti, tulisan Pak Inno Koten terasa sangat istimewa dan menyentuh bagi saya.

Buku ini merupakan catatan tentang pertemuan Pram dengan para jugun ianfu (perempuan yang dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang pada masa Perang Pasifik) yang telah lebih dulu berada di sana, ketika ia sendiri ditahan sebagai tahanan politik selama 11 tahun di Pulau Buru, Kepulauan Maluku.

Selama proses penerjemahan, saya menyadari satu hal yang mengejutkan: kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu jugun ianfu jauh lebih rendah dibandingkan masyarakat Korea. Artinya, banyak warga Indonesia tidak mengetahui dengan tepat bagaimana fenomena jugun ianfu muncul, berlangsung, dan bagaimana nasib para korban hingga kini. Khususnya, banyak yang tidak mengetahui sejarah terlupakan ini: bahwa setelah Perang Pasifik berakhir dan Jepang mundur dari Indonesia, para jugun ianfu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia tidak dapat kembali ke kampung halaman mereka masing‑masing; banyak yang lenyap begitu saja di tempat mereka ditahan.

Di antara berbagai kisah dalam nonfiksi Pram, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, satu episode yang hingga kini masih terpatri kuat dalam ingatan saya adalah pertemuan antara seorang keponakan—yang dibawa ke Pulau Buru sebagai tahanan politik—dengan bibinya, yang sebelumnya telah lebih dulu dibawa ke sana sebagai jugun ianfu. Kisah ini menggambarkan betapa banyak perempuan Indonesia — terutama perempuan Jawa — yang dijadikan budak seks tentara Jepang dan menanggung penderitaan luar biasa, bukan hanya di Pulau Buru dan berbagai wilayah di Indonesia, tetapi bahkan hingga ke luar negeri.

Secara khusus, bagian terakhir berjudul “Kembali ke Manayasa” — yang tidak terdapat dalam edisi sebelumnya — berhasil saya tambahkan berkat bantuan Ibu Astuti, putri sang pengarang, yang selama ini menyimpan naskah tersebut. Dalam menerjemahkan bagian tambahan itu, saya menemukan fakta yang mengharukan: dalam rombongan jurnalis dari Jakarta yang meliput kondisi kamp tahanan politik di Pulau Buru terdapat seorang wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) bernama Alex Leo — yang kelak menjadi Direktur Utama RRI. Alex Leo ternyata adalah sahabat ayah angkat saya, almarhum Bapak Sudjarwo (Kepala Bagian Pemberitaan RRI pertama), sosok yang sangat saya hormati. Karena saya pernah menerima pengajaran dari beliau sekitar tiga bulan tentang bangsa dan negeri Indonesia serta mendengar cerita tentang Alex Leo dari ayah angkat saya, saya menerjemahkan bagian itu dengan perasaan hangat dan penuh kenangan.

Setelah menerbitkan terjemahan bahasa Korea dari nonfiksi Pram tersebut, pada 2021 saya juga menerjemahkan dan menerbitkan versi Korea buku Momoye, Mereka Memanggilku (2007) karya Eka Hindra dan Koichi Kimura. Buku ini merupakan nonfiksi yang mengisahkan perjalanan hidup Ibu Mardiyem, seorang penyintas jugun ianfu. Penerbitan versi Korea diprakarsai oleh Institut Riset Masalah Ianfu Militer Jepang (di bawah Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga Korea). Setelah diterbitkan, beberapa seminar terkait telah diselenggarakan. Yang membanggakan, buku ini kini tersimpan di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, Perpustakaan Parlemen Jepang, Perpustakaan Universitas Yale, dan Perpustakaan Universitas Cornell.

Sementara itu, ketika Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta (dipimpin Budi Hartono, S.H.) membuka pendaftaran bagi korban jugun ianfu, tercatat 1.156 pendaftar. Ketika Forum Komunikasi Ex-Heiho Indonesia membuka pendaftaran serupa, jumlah korban yang melapor diperkirakan mencapai lebih dari 22.000 orang. Namun kini, jumlah penyintas jugun ianfu Indonesia yang masih hidup sangat sedikit mengingat usia mereka yang lanjut. Oleh karena itu, sejarah jugun ianfu di Indonesia harus segera didokumentasikan secara akurat, dan pemerintah Jepang wajib memberikan permintaan maaf resmi yang tulus serta kompensasi yang memadai kepada para korban maupun ahli waris mereka.

Secara pribadi, saya berencana menelusuri dan mendokumentasikan secara sistematis jejak jugun ianfu perempuan Korea yang dibawa ke Indonesia dan tidak dapat pulang setelah Perang Pasifik berakhir, lalu hilang begitu saja di tanah Indonesia. Kita harus mengingat dan tidak melupakan: di Pulau Buru, Kepulauan Maluku — tepatnya di daerah Air Buaya — masih ada jejak perempuan‑perempuan Korea yang setelah Perang Pasifik dijual dengan harga beberapa ekor babi serta sejumlah tombak dan perisai, lalu menjadi istri warga setempat dan menghabiskan sisa hidup mereka dalam kepedihan yang tak terucap. Begitu pula, di Ambarawa, Jawa Tengah, masih berdiri sebuah bangunan yang dulunya merupakan rumah ianjo (tempat hiburan paksa militer Jepang). Semua ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita ingat selamanya.

—-

Biodata Singkat

*Kim Young Soo, lahir di Seoul, Korea Selatan. Menyelesaikan Studi S1 di Jurusan Bahasa Malay-Indonesia, di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). S2 diselesaikannya di Program Studi Kesusastraan Modern Indonesia (khususnya menyorot karya Pramoedya Ananta Toer) di perguruan tinggi yang sama. Sementara Program S3 ia tuntaskan di Jurusan Sastra Bandingan (Comperative Literature) juga di perguruan tinggi yang sama, dengan disertasi berjudul “A Study on Chairil Anwar’s Poems with the Postcolonialistic View”.

Ia menerjemahkan sejumlah buku dengan 2 bahasa, Korea dan Indonesia antara lain, kumplan puisi Orang Suci, Pohon Kepala (antologi penyair Korea, Choi Jun), kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api (antologi penyair Moon Changgil), kumpulan puisi Ikan Adalah Pertapa antologi penyair Ko Hyeong Ryeol), Cerita tentang Ianfu di Indonesia (Karya asli: non fiksi Pramoedya Ananta Toer) Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, Momoye Mereka Memanggilku (karya asli : non-fiksi Eka Hindra, Kimura Koichi) Ia pernah bekerja di Kalimantan Selatan dan Jakarta untuk KODECO (Korea Development Company), salah satu perusahaan eksplorasi hutan di Kalimantan Selatan, Indonesia dan memegang jabatan Kepala Siaran Bahasa Indonesia, Chief Producer, KBS (Korean Broadcasting System) selama 30 tahun dan membantu pembukaan Siaran Bahasa Korea di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 2004. Kini ia menciptakan puisi sebagai anggota komunitas sastrawan Modern Poems Korea.