Teater sebagai Infrastruktur Rasa: Membaca Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi sebagai Pesta Rakyat Urban
Oleh: Eko Yuds*
Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi tidak berhenti sebagai pertunjukan teater. Karya ini bergerak lebih jauh menjadi peristiwa warga, ruang percakapan, arena sosial, dan pesta rakyat urban. Karya ini terbaca dari pengalaman langsung di tengah kerumunan, ketika panggung, warga, hujan, pedagang, dan percakapan melebur menjadi satu peristiwa kebudayaan. Teater dalam peristiwa ini tidak hanya bekerja melalui aktor, naskah, cahaya, musik, dan multimedia. Teater juga bekerja melalui hujan, kerumunan, pedagang, diskusi, payung, dan tubuh-tubuh warga yang tidak segera pulang.
Pertunjukan ini menghadirkan kota sebagai tubuh sosial yang sedang sakit. Kota tidak diperlakukan sebagai latar, tetapi sebagai tokoh utama yang menyimpan luka, ingatan, tekanan, kesepian, dan harapan. Panel-panel tinggi seperti gedung, proyeksi visual urban, scaffolding, lampu malam, dan ruang terbuka membentuk citra kota yang rapuh sekaligus keras. Saya melihat panggung seperti miniatur kota yang sedang diperiksa ulang. Kota di sini bukan tempat yang diam, melainkan organisme yang terus menggigit manusia yang hidup di dalamnya.
Hujan pada hari pertama menjadi bagian penting dari pengalaman menonton. Air yang turun tidak membubarkan penonton, tetapi justru memperlihatkan daya tahan sosial sebuah pertunjukan ruang publik. Penonton yang tetap bertahan di bawah payung menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak diterima sebagai tontonan biasa. Hujan menjadi dramaturgi tak terjadwal yang masuk ke dalam tubuh pertunjukan. Ia mengubah gangguan alam menjadi ujian rasa memiliki terhadap ruang bersama.
Penonton pada hari kedua memperbesar makna pertunjukan. Kerumunan memenuhi sisi-sisi taman, sebagian duduk, sebagian berdiri, sebagian merekam, dan sebagian lain menyaksikan dengan hening. Ruang Limpah Sungai Cilandak Barat, Lebak Bulus, berubah menjadi arena kebudayaan warga. Tempat yang biasanya hanya dilewati menjadi tempat untuk berhenti, bertemu, dan berbicara. Pada titik itu, teater berhasil mengubah lokasi menjadi peristiwa.
Panggung visual pertunjukan ini menyusun kota sebagai sesuatu yang tidak stabil. Layar-layar tinggi menyerupai bangunan, proyeksi gambar menghadirkan ritme urban, dan cahaya malam memberi kesan kota yang terus menyala tetapi tidak selalu hangat. Tulisan “Merdeka” yang muncul dalam proyeksi merah putih terasa bukan sekadar dekorasi visual. Kata itu justru menjadi ironi, karena kemerdekaan kota belum selesai hanya karena simbol negara hadir. Kemerdekaan kota harus diuji dari apakah warganya masih punya ruang untuk merasa hidup.

Arsitek tua di kursi roda menjadi gambar paling kuat tentang rapuhnya imajinasi pembangunan. Tubuhnya terbatas, sementara di hadapannya berdiri bayangan kota modern yang besar dan ambisius. Saya membaca adegan ini sebagai kritik terhadap nalar pembangunan yang sering cerdas di atas kertas, tetapi pincang ketika berhadapan dengan manusia. Arsitek itu membawa mimpi tentang kota, tetapi tubuhnya sendiri memperlihatkan batas dari mimpi itu. Kota yang terlalu percaya pada rancangan fisik dapat kehilangan kemampuan merancang kehidupan.
Al-Farabi memberi kunci penting untuk membaca adegan tersebut. Dalam gagasan tentang kota utama, Al-Farabi memandang kota yang baik sebagai tatanan yang membantu manusia mencapai kehidupan yang baik, adil, dan bermakna. Gagasan ini dapat diterapkan langsung pada Proposal Kota, karena pertunjukan ini menguji kota bukan dari tinggi gedungnya, tetapi dari cara kota memperlakukan manusia. Kota yang baik bukan hanya kota yang tertata, tetapi kota yang memanusiakan. Jika pembangunan membuat warga merasa asing di ruangnya sendiri, maka kota itu gagal secara etis meskipun berhasil secara fisik.
Pertunjukan ini membanting gagasan kota ideal ke realitas urban yang brutal. Tubuh-tubuh di panggung bergerak cepat, tergesa, terpola, dan seperti kehilangan jeda. Adegan pekerja, jalanan, halte, kantor, apartemen, dan ruang jasa membentuk gambaran kota sebagai mesin yang terus mengunyah manusia. Saya melihat bagian ini sebagai kritik terhadap kehidupan urban yang membuat orang terus bergerak, tetapi semakin jarang benar-benar berjumpa. Kota menjadi penuh manusia, tetapi miskin kehadiran.
Bagian “bursa jasa” terasa sebagai sindiran paling tajam terhadap ekonomi kota. Apa pun dapat diperjualbelikan, dari tenaga, waktu, perhatian, doa, pasangan sewaan, hingga suara politik. Humor dalam bagian ini membuat penonton bisa tertawa, tetapi tawa itu segera berubah menjadi getir. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa kota modern tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual relasi manusia. Ketika perhatian, kesetiaan, empati, dan suara publik menjadi komoditas, kota kehilangan dasar moralnya.
Adegan apartemen memperlihatkan kesepian sebagai luka paling sunyi dari kota. Hunian yang padat tidak otomatis melahirkan kedekatan, karena dinding dapat membuat manusia tinggal berdekatan tetapi hidup berjauhan. Kematian seorang ibu yang baru diketahui setelah berminggu-minggu menjadi simbol keras tentang gagal hadirnya tetangga, keluarga, dan lingkungan. Kota dalam adegan ini tidak kekurangan bangunan, tetapi kekurangan perhatian. Kematian tidak lagi hanya menjadi peristiwa biologis, tetapi juga tanda kematian sosial.
Radhar Panca Dahana menjadi budayawan yang paling tepat untuk membaca lapisan kesunyian ini. Cerpen Jalan Sunyi Kota Mati, yang menjadi inspirasi karya ini, menghadirkan kota sebagai ruang yang bergerak cepat tetapi kehilangan jiwa manusiawinya. Radhar membaca kota bukan sekadar sebagai tempat, tetapi sebagai pengalaman batin yang penuh asing, bising, dan sunyi sekaligus. Proposal Kota menerjemahkan kesunyian itu ke dalam tubuh, layar, suara, hujan, dan kerumunan. Jika Radhar menulis kota sebagai sunyi yang bergerak, pertunjukan ini memanggungkan kota sebagai keramaian yang menyimpan kesepian.
Adegan kamera pengawas memperlihatkan ilusi keamanan kota modern. CCTV dapat merekam perilaku, tetapi tidak otomatis membentuk moralitas. Pengawasan dapat membuat orang berpindah tempat, tetapi tidak membuat orang berhenti merusak ruang bersama. Pertunjukan ini menegaskan bahwa kota tidak dapat diselamatkan hanya dengan alat kontrol. Kota membutuhkan kesadaran etis yang tumbuh dari warga, bukan hanya mata elektronik yang menggantung di sudut taman.
Tragedi kekerasan jalanan dan viralitas media sosial menjadi bagian paling keras dari pertunjukan. Seseorang dapat dituduh, dipukul, direkam, disebarkan, dan dihakimi tanpa sempat menjelaskan dirinya. Kota modern dalam adegan ini tidak hanya hadir sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai ruang digital yang mempercepat prasangka. Tubuh korban dihajar di jalan, lalu dihajar ulang oleh komentar publik. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa kekerasan urban hari ini tidak hanya terjadi di tempat kejadian, tetapi juga berlanjut di layar.
Malam Akrab Warga menghadirkan lapisan yang tampak ringan tetapi sesungguhnya politis. Panggung kecil, pidato pemimpin kota, musik, tawa, payung, pejabat, dan warga membentuk suasana yang akrab sekaligus satir. Pemimpin kota berbicara tentang kota yang bukan peta tata ruang, bukan angka investasi, dan bukan deretan bangunan. Ia menyebut kota sebagai manusia, dan kalimat itu menjadi pusat moral pertunjukan. Kota yang manusiawi harus memberi ruang bagi yang kecil, yang tersisih, yang hidup di gang sempit, dan yang tinggal di bantaran sungai.
Henri Lefebvre memberi kunci kedua untuk membaca bagian ini. Ia berbicara tentang hak atas kota sebagai hak warga untuk menggunakan, memaknai, membayangkan, dan ikut membentuk ruang hidupnya. Gagasan ini terlihat jelas dalam Proposal Kota, karena warga tidak hanya menjadi objek pembangunan atau penonton pasif. Mereka hadir, menonton, berdagang, berdiskusi, memenuhi ruang, dan ikut memberi makna pada peristiwa. Pertunjukan ini menjadi praktik kecil dari hak atas kota, karena ruang publik direbut kembali melalui kehadiran, bukan melalui kekerasan.
UMKM warga menjadi bagian penting dari hak atas kota itu. Dagangan yang laku keras dari ujung ke ujung menunjukkan bahwa seni dapat mengaktifkan ekonomi kecil tanpa kehilangan daya reflektifnya. Saya menyebutnya ekonomi perjumpaan, karena transaksi lahir dari kerumunan yang punya alasan untuk hadir. Orang datang untuk menonton, lalu membeli, lalu bercakap, lalu merasa menjadi bagian dari ruang. Seni dalam momen ini tidak melayang di atas kehidupan, tetapi menyentuh perut, dompet, dan dapur warga.
Penghargaan kepada warga biasa dalam adegan Malam Akrab Warga memberi pesan yang tajam. Orang yang menelepon ambulans, membantu orang tersesat, menyeberangkan nenek, melaporkan pencurian, atau membersihkan got diberi tempat di panggung. Pertunjukan ini membalik ukuran kepahlawanan kota. Pahlawan kota bukan hanya pejabat, arsitek, investor, atau perencana. Pahlawan kota adalah warga biasa yang menjaga kehidupan kecil agar tidak runtuh.
Kekuatan terbesar pertunjukan ini terletak pada kemampuannya meluaskan panggung. Aktor tetap penting, naskah tetap penting, visual tetap penting, tetapi peristiwa sosial di sekitarnya membuat teater menjadi lebih besar dari susunan adegan. Penonton, pedagang, hujan, payung, diskusi, anak-anak muda, dan ruang publik ikut masuk ke dalam dramaturgi besar. Saya menyebutnya dramaturgi kerumunan warga. Panggung tidak hanya berada di depan penonton, tetapi menjalar ke seluruh ruang yang disentuh peristiwa.
Kelemahan pertunjukan ini tetap perlu dicatat. Gagasan yang dibawa sangat padat, sehingga beberapa bagian berisiko terasa terlalu verbal dan terlalu ingin menjelaskan. Kritik terhadap pembangunan, kesepian, ekonomi jasa, media sosial, birokrasi, dan ruang publik membutuhkan disiplin dramatik yang ketat. Jika tidak dikendalikan, panggung dapat terasa seperti esai sosial yang dipentaskan. Pertunjukan ini paling kuat ketika gagasan berubah menjadi tubuh, bukan ketika gagasan hanya diucapkan.
Multimedia menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Proyeksi video, bayangan tubuh, layar transparan, gambar kota, dan visual ruang kantor membantu membangun atmosfer urban yang padat. Namun teknologi panggung dapat mengambil alih perhatian jika tubuh aktor tidak cukup kuat menahannya. Pertunjukan ini paling hidup ketika tubuh pemain, ruang nyata, dan visual digital saling mengikat. Ia paling lemah ketika salah satu unsur tampak lebih dominan daripada pengalaman dramatik secara keseluruhan.
Kerumunan penonton juga menghadirkan paradoks. Keramaian memberi energi, tetapi sekaligus dapat memecah konsentrasi. Ruang publik memberi kedekatan, tetapi juga membawa kebisingan, gerak, dan distraksi yang tidak selalu bisa dikendalikan. Di situlah pertunjukan ruang publik harus dinilai dengan ukuran berbeda dari teater gedung. Keberhasilannya bukan menciptakan keheningan sempurna, tetapi mengubah gangguan menjadi bagian dari pengalaman bersama.
Penutup pertunjukan memberi gambaran simbolik paling kuat. Arsitek terbangun, menyadari mimpinya buruk, lalu bangunan panggung bergoyang, terbakar, dihujani, dan tenggelam oleh banjir. Adegan itu seperti mengatakan bahwa kota yang hanya dibangun sebagai mimpi fisik akan runtuh ketika kehilangan fondasi etik. Beton dapat berdiri, tetapi nilai dapat hancur lebih dulu. Black out di akhir pertunjukan terasa seperti pertanyaan gelap yang dilemparkan kepada semua penonton.
Proposal Kota akhirnya memberi pelajaran sederhana tetapi keras. Kota tidak mati karena kekurangan gedung. Kota mati ketika warganya berhenti saling mengenal. Kota tidak hidup hanya karena dibangun, tetapi karena dirayakan, dipersoalkan, dirawat, dan dimiliki bersama. Teater dalam peristiwa ini menjadi infrastruktur rasa. Infrastruktur fisik membuat kota dapat berjalan, tetapi infrastruktur rasa membuat kota layak dihuni.
Pertanyaan terakhir pertunjukan ini tidak berhenti pada panggung. Pertanyaan itu berpindah kepada warga, seniman, komunitas, pemerintah lokal, dan siapa pun yang percaya bahwa ruang publik tidak boleh kembali menjadi tempat yang hanya dilewati. Jika peristiwa ini berhenti sebagai euforia dua hari, ia akan menjadi kenangan yang indah. Jika ia dilanjutkan sebagai proses, ia dapat menjadi awal dari gerakan kecil untuk menghidupkan kembali jiwa kota. Proposal Kota penting karena ia membuat saya percaya bahwa teater masih mampu mengubah tempat menjadi peristiwa, dan peristiwa menjadi kesadaran.
—
*Eko Yuds, Teaterawan.




