Teh Semesta, Teko, dan Ibunda
Oleh : Agus Dermawan T.*
Artikel untuk menyambut Hari Teh Internasional, 21 Mei. Ibu Sang Pemberi, sejak dulu disimbolkan sebagai teko teh, atau teapot. Dari mana teko teh itu menemukan makna dan legendanya?
PENYAIR Lu Yu (733-804), menulis puisi “Secangkir Teh”, yang liriknya begini.
Daun teh seharusnya menggulung,
seperti lipatan kaki banteng,
Berkerut seperti sepatu bot kulit,
penunggang kuda Tartar.
Terbentang seperti kabut di atas jurang,
berkilau seperti danau,
yang tersentuh angin sepoi.
Dan melunak selembut,
tanah halus yang disapu bayu
Maka, teh adalah minuman para dewa, begitu kira-kira Lu Yu bermakna-bahasa.
Teh memang diluhurkan. Dan tentu tidak hanya di Tiongkok. Di Eropa dan Amerika – berabad-abad setelah Lu Yu berpropaganda – teh beruntut ditinggikan martabatnya. Teh diposisikan sebagai minuman para bangsawan di ketinggian istana, yang mengalir hangat sampai ke muara. Teh pun jadi konsumsi siapa saja. Dari buruh tambang sampai tentara. Dari remaja sampai orang lanjut usia. Lalu terbitlah puisi “Balada Pesta Teh Boston” karya Oliver Wendell Holmes (1809-1894), fisikawan dan sekaligus pujangga Amerika.
Perairan di teluk pemberontak,
telah menyimpan aroma daun teh.
Orang-orang North-Ender tua
yang terpercik cipratannya,
masih merasakan aroma Hyson.
Dan cangkir teh kebebasan masih meluap,
dengan persembahan yang selalu segar.
Untuk menipu semua musuh dari tidur,
dan menghibur bangsa-bangsa yang terbangun!
Lantas bagaimana cara manusia sejagat memuliakan minuman yang bernama teh itu? Diciptakanlah teko atau teapot, dengan kreasi yang dipenuhi rasa hormat dan rasa haru-biru. Maka selama berbilang abad puluhan ribu macam bentuk teko tercipta. Lalu teh dan teko pun menyatu dalam imaji kita. Sampai akhirnya, secara diam-diam, teko menumbuhkan maknanya sendiri dalam kehidupan. Makna itu adalah: teko dijunjung sebagai Ibunda yang menyimpan semua kebaikan.

Lukisan Antonio Blanco tentang teko. (Foto: Agus Dermawan T).

Kreator teko Richard Notkin dan Zhou Ding Fang berbincang soal keindahan teapot. (Foto: Buku The Artful Teapot)

Teko bertema bangunan berjudul “Water Tower”, karya Raymon Elosua. (Foto: Agus Dermawan T).
Pada awal 1990-an saya untuk kesekian kali bertemu dengan pelukis Antonio Blanco (1912-1999). Di studio artistiknya di Ubud, Bali – kini menjadi museum – tampak easel yang menyangga selembar lukisan. Obyek lukisan itu adalah teko (yang berasal dari lafal kata Belanda: theepot, atau kata Inggris: teapot). Pelukis Bali asal Spanyol itu memang menyukai teko. Bahkan ketika ia merancang pigura dari kayu, bentuk teko kadang menyelip menjadi motifnya.
Mengapa sering ada teko? Blanco menjawab, “Teko adalah lambang Ibu Sejati. Teko adalah induk yang selalu menyimpan air untuk dituangkan kepada yang mau diberi. “Teko adalah Ibu, mahluk agung yang selalu berbagi.”
Kundika, Brahma dan Siwa
Pemahaman teko sebagai Ibu Sejati ternyata bisa dirujuk dalam sejarah kejayaan Kediri dan Majapahit abad 13. Di kerajaan ini ada tradisi: punggawa (pejabat) selalu menaruh kendi (teko tanah liat versi Jawa) yang berisi air minum di angkring (bangunan bambu) di areal publik umum. Rakyat yang haus boleh minum air dari kendi. Apabila isi kendi sudah habis, punggawa akan mengisinya lagi.
Maka dalam kebudayaan Indonesia, kendi atau teko punya nilai simbolik yang sama: Ibu yang memberi (minum) siapa saja. Pemahaman ini diangkat dari etimologi kata kendi, yang berasal dari kata Sanskerta, kundika (wadah sumber kehidupan). Kundika pun dijunjung sebagai atribut cinta kasih Dewa Brahma dan Siwa dalam agama Hindu, dan Awalokiteswara dalam agama Budha.
Di Jepang filosofi teko juga begitu. Teko di tangan seorang geisha (perempuan yang melayani) selalu digambarkan anggun, ramah dan tulus menyampaikan air teh ke cawan para tamu. Teko adalah tangki yang menyimpan “susu ibu”. Di negeri ini teko diibaratkan sebagai sang pemberi, Amaterasu.
Di Tiongkok teko (cha hu) bahkan disimbolkan sebagai kerendah-hatian. Ini ada hubungannya dengan legenda raja Li Yuan pada masa perang. Dalam situasi kemelut itu sang raja menyamar jadi pelayan, agar dapat seksama blusukan dan langsung memahami keadaan. Sementara asistennya berperan menjadi seorang majikan yang suka minum teh. Seusai “pelayan” menuangkan teh ke cawan, si “majikan” segera mengelus-elus teko, sebagai tanda hormat kepada “sang ibu”, yang disusul ketukan jari ke meja sebanyak tiga kali, sebagai tanda bahwa ia tetap tunduk kepada raja. Dampak samaran-blusukan di kedai teh itu, Li Yuan jadi kaisar yang sangat tahu aspirasi rakyat, sehingga terpopuler pada era Dinasti Tang (618-907).
Zaman terus bergulir. Pada awal era Dinasti Ming (1368-1644) acara cha yan (perjamuan minum teh) semakin seremonial, artistik dan elegan. Teko pun tampil dalam bentuk sangat beraneka ragam.

Teko bertema figur manusia berjudul “Pupil Correction” karya Gerorge Walker. (Foto: Agus Dermawan T).

Teko tikus clurut dari Tiongkok, teko kerbau dari Vietnam, teko ikan koi dari Jepang, koleksi Iliana Lie. (Foto: Agus Dermawan T).
Teko dan teh semesta, satu jua
Sejak itu teko diciptakan di seluruh penjuru Tiongkok, dengan model yang memancarkan karakter setiap wilayah. Banyaknya produksi teko ini menstimulasi para pedagang dari luar Tiongkok (Portugis, Spanyol, Arab) untuk menjualnya ke berbagai negeri. Teko Tiongkok pun menjadi sangat populer dan menyentuh meja-meja masyarakat Eropa. Kepopuleran ini pada awal tahun 1700 menggerakkan para desainer Jerman menciptakan teko porselen dan perak dengan desain-desain khusus.
Pada abad ke-18 Inggris mulai memproduksi. Produksi ini sangat berkembang setelah Victoria bertahta sebagai Ratu Britania Raya dan Irlandia sejak 1837. Victoria memang sangat menyukai teko. Sampai pada akhirnya Inggris mengekspor secara besar-besaran teko (dan aneka benda keramiknya) ke Amerika Serikat.
Celakanya, untuk menghadang laju dagang teko Inggris, Amerika memfasilitasi desainer John Bartlam (yang sesungguhnya orang Inggris) untuk mendirikan perusahaan teko di Amerika. Bartlam pun terjunjung sebagai pembuat teko ternama. Buktinya, satu teko retak ciptaannya, berdiameter hanya 12,7 cm, pada Februari 2018 terjual 460.000 pound sterling (Rp.11 milyar, kurs sekarang) dalam lelang Wolly & Walls di Salisbury, Inggris.
Sampai pada abad ke-21 teko tetap populer sebagai ikon di meja perhelatan. Setiap negara memproduksi teko dengan desain khas. Selain membawa kekhasan seni budaya bangsanya sendiri, teko juga menghadirkan desain khusus perusahaan teko. Dalam desain yang dipromosikan perusahaan itu muncul desain personal karya seniman. Dari nama-nama baru yang potensial, sampai nama yang sudah menjulang dalam dunia seni, seperti Gustav Klimt dan Pablo Picasso.

Teko keramik bertema kursi bambu dari Tiongkok dan bertema ikan pari dari Jerman, koleksi Iliana Lie. (Foto: Agus Dermawan T).

Teko porselen ornamental bergaya Prancis dan teko bercorak Korea, koleksi Iliana Lie. (Foto: Agus Dermawan T)
Sementara itu para desainer seluruh dunia masa sekarang menggubah teko dengan sepenuh jiwa. Tentu termasuk di Amerika, yang ditunjukkan lewat buku susunan Garth Clark, The Artful Teapot (Thames & Hudson, London). Dalam kitab tampak ratusan seni teko karya puluhan seniman ternama dari mana-mana. Seperti Roy Lichtenstein dari Amerika, David Hockney dari Inggris, Kasimir Malevich dan Noi Volkov dari Rusia, Matheo Thun dari Itali, Akio Takamori dari Jepang. Kreasi teko mereka pada 2002 sampai 2004 digelar dalam pameran keliling di Kanada dan Amerika Serikat. Buku The Artful Teapot menyertainya.
Menarik, para seniman itu tetap mengangkat teko sebagai perlambang ketenteraman dan kenyamanan, sebagai Ibu. Sampai Helen Oyeyemi, novelis ternama masa kini dari Britania Raya, menulis, “Home is where your teapots are” (Rumah adalah tempat teko Anda berada). Kalimat yang harus dimaknai: di rumahlah Sang Ibu berada dan siap memberimu semua apa yang dia punya.
Salah seorang pengumpul teko di Indonesia adalah sahabat lama saya, Iliana Lie, editor, first reader buku-buku seni, mantan penulis seni. Dengan iseng (tapi serius) ia mengumpulkan sekitar 400 teko dari puluhan negara yang ia kunjungi. Ke mana pun pergi, teko khas berbagai negeri selalu diburu. Tak peduli itu teko asli atau hanya replikanya, kuno atau baru. Ratusan teko yang dikumpulkan itu terbagi dalam berbagai tema. Dari tema unggas, serangga, figur manusia, arsitektur, alam tetumbuhan, alustista, boneka, kendaraan perang, buah-buahan, sampai yang abstrak sama sekali.
(Kegemaran ini mengingatkan saya kepada budayawan dan penulis Radhar Panca Dahana almarhum. Ia selalu berhasrat mengumpulkan teko atau poci dari warung-warung “teh poci gula batu” yang bertubi-tubi ia disinggahi di mana-mana, di berbagai kota. “Aaaah, poci selalu mengingatkan saya kepada budi Ibunda,” katanya.)

Teko porselen ornamental bergaya Prancis dan teko bercorak Korea, koleksi Iliana Lie. (Foto: Agus Dermawan T)
Dari pengumpulan itu terjelaskan bahwa teko yang bertema apa pun mencitrakan karakter setiap bangsa. Memang, teko Yunani, Swiss, Belanda, Prancis, Itali, Spanyol dan Korea masing-masing berlain rupa. Teko Arab beda dengan teko Austria, Indonesia dan Amerika. Teko yang digunakan di Zimbabwe dan Argentina, sangat berlainan dengan yang tertaruh di meja orang Afrika Selatan. Teko kuno peninggalan Raja Tutankhamun 2000 S.M., berbeda dengan teko yang ditemukan di Cuzco dan Machu Picchu, Peru, yang digubah bangsa Indian dari suku Wari tahun 800 Masehi.
Namun apa pun perbedaannya, kapan pun zamannya, hakikat teko tetap sebagai “wadah yang siap memberi”: seperti Ibu. Meski tirta yang disimpan dalam tubuhnya – pada jauh kurun di masa silam – belum bernama teh, tea, shay, thee, ca, chai, tè, tee, ocha, thé, cha atau apalah sebutannya. Ibunda, teko dan teh semesta, sungguh satu jua.
Kutuang teh dari teko keemasan
Menggenang bening lautan seluas pikiran
Kulihat Ibunda berlutut membungkuk
Menaburkan semua dari genggaman.
***
*Agus Dermawan T – Kritikus. Penulis Buku-buku Budaya dan Seni.




