Puisi-puisi D. Zawawi Imron
oleh : D. Zawawi Imron*
SEJARAH
Ketika menyatakan salah belum tentu ia benar
Ketika menyatakan benar belum tentu ia salah
Karena di pusat kutub selatan semua arah menjadi utara
Lha kok bisa?
Itu pertanda
Tuhan tidak bercanda
Lalu kapan Tuhan bercanda?
Terserah kita
Yang jelas bukan ketika seorang anak bunuh diri
Karena sang ibu
tak mampu membelikan bolpen dan buku
2026
SAJAK UNTUK PITUIN
Sampai tengah malam kedua orang itu masih mempercakapkan sepi
Yang seorang bilang sepi tak ada pangkal ujungnya
Yang seorang bilang, sepi adalah semacam sumur
Tempat menimba suara-suara yang tak bisa didengar oleh telinga
Malam semakin matang
Keduanya tertidur oleh kantuk yang membuatnya tak berdaya
Seekor nyamuk datang dan bebas memilih
Mana di antara keduanya yang paling enak
2026
HUMOR YANG TIDAK LUCU
Setiap pagi matahari selalu mengusulkan pintu dibuka
Padahal alam semesta selalu terbuka
Yang tertutup barangkali hati penyair
Yang tak pernah ketemu pagi
Karena pagi telah pergi dan tak kembali
Saat ia menyalakan rokoknya
Lalu lelucon yang paling menyakitkan
Di balik kepulan asap rokok itu
Di belakang rentetan menit yang sia-sia itu
Yang disalahkan malah Tuhan
2026
SANDAL DAN SEPATU
( terinspirasi Pak Hamdan Juhannis)
Tentu saja orang kelas menengah yang mampu beli sepasang sepatu mahal itu
Tempat menyimpannya berjajar dengan sepasang sandal bagus dan mahal pula
Satu saat si empunya yang ahli filsafat itu tak sengaja memakainya dengan cara yang aneh
Kaki kanan memakai sepatu
Kaki kiri memakai sandal
Orang-orang tersenyum melihatnya
Hanya orang-orang yang mengerti hak asasi saja
Yang tidak merasa terganggu
Tapi ia ingin bertanya
Kenapa Tuhan menciptakan manusia yang kadang bikin humor yang tidak lucu
Hidup kadang seperti samudra yang tak kunjung selesai dilayari
Senyum saja perlu dimengerti
Dari bibir atau dari hati?
2026
MELAWAN TIPU PALSU
Runtuhnya akal sehat
Hutan bisa disulap menjadi padang pasir
Tikus dimistik jadi kelinci
Orang kenyang menjadi meriang
Teriakan sekarat menjadi lagu terkenal
Seakan dunia menjelang ajal
Jangan tanya akal sehat yang sudah hanyut bersama banjir
Jangan tanya keadilan dan kebenaran
Karena kebenaran sudah istirahat dibalik ketenaran
Inilah dunia baru
Semua nilai sudah tidak relevan
Dan maut hanya tanda berhenti,
titik yang harus selesai
Kalau berlanjut itu namanya Iman
Jangan sebut Gus Dur, Nurcholis atau Romo Magnis
Kini saatnya sakit dibilang manis
Apa pun yang akan melanda, gula harus dibilang manis
Jangan menanam loyang dalam jiwa anak cucu
Agar sejarah tidak mencatat
kita mengibarkan bendera palu
Kehormatan berupa tugu
Harus tegak di puncak tanahnya Ibu
2026
SUAMI ISTRI
Saya tak berani menyalahkan Tuhan
Kenapa kami ditakdir menjadi suami istri
Padahal setelah punya anak kami sering salah paham
Pernah istriku mengajak cerai
Hanya karena kalau bikin anak aku tak pernah serius ke tujuan
“Kayak bikin lelucon,” katanya
Kami terpaksa konsultasi ke seorang psikolog
Advisnya sungguh mencerahkan
Kami disuruh bertukar peran
Aku menjadi istri dan istriku menjadi suami beneran
2026
*D. Zawawi Imron, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 1946. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di media lokal, nasional, dan internasional. Buku puisinya (1) Semerbak Mayang (1977), (2) Madura, Akulah Lautmu (1978), (3) Bulan Tertusuk Lalang (1982), (4) Nenekmoyangku Airmata (1985), (5) Celurit Emas (1986), (6) Derap-derap Tasbih (1993), (7) Berlayar di Pamor Badik (1994), (8) Laut-Mu Tak Habis Gelombang (1996), (9) Bantalku Ombak Selimutku Angin(1996), (10) Madura, Akulah Darahmu (1999), (11) Kujilat Manis Empedu (2003), (12) Cinta Ladang Sajadah (2003), (13) Refrein di Sudut Dam (2003), (14) Kelenjar Laut (2007), dan beberapa lainnya. Buku kumpulan esai sosial keagamaannya Unjuk Rasa kepada Allah (1999), Gumam-gumam dari Dusun (2000). D. Zawawi Imron pernah juara pertama menulis puisi di AN-teve (1995), dan menjadi pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002). Sastrawan-budayawan ini memenangkan Hadiah Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The SEA Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Dari khalayak pembaca luas, Kiai Haji D. Zawawi Imron mendapat gelar “Penyair Celurit Emas”, dan tetap tinggal di desa kelahirannya, di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Pada Minggu, 9 Desember 2018, Presiden RI Joko Widodo memberikan penghargaan kepada dua budayawan dan dua sastrawan pada acara Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, satu di antaranya ialah D. Zawawi Imron, atas kontribusinya sebagai penyair dan pendakwah yang terus menyiarkan kebajikan sastra dan religi ke seluuruh Indonesia.




