Pos

Teh Semesta, Teko, dan Ibunda

Oleh : Agus Dermawan T.* Artikel untuk menyambut Hari Teh Internasional, 21 Mei. Ibu Sang Pemberi, sejak dulu disimbolkan sebagai teko teh, atau teapot. Dari mana teko teh itu menemukan makna dan legendanya? PENYAIR Lu Yu (733-804), menulis puisi “Secangkir Teh”, yang liriknya begini. Daun teh seharusnya menggulung, seperti lipatan kaki banteng, Berkerut seperti sepatu […]

Nasirun dan Studionya

Oleh: Almeida Ganefabra* Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Kota ini tidak hanya menjadi tempat lahirnya banyak seniman penting, tetapi juga menyediakan ruang sosial, budaya, dan intelektual yang memungkinkan praktik seni berkembang secara dinamis. Di antara berbagai ruang kreatif yang berperan dalam dinamika tersebut, studio seniman sering menjadi tempat […]

Durga, I Love You!

Oleh : Agus Dermawan T. Batari Durga adalah sosok perempuan yang sangat dimuliakan. Namun ikon perempuan digdaya ini juga diwarnai dengan reka riwayat amat menyudutkan. Di Bali, selain dianggap perempuan hebat, Durga juga dianggap setan. * Durga! Dialah perempuan yang dalam banyak abad membius kepercayaan banyak orang kepada dua mitos sekaligus. Yang pertama mitos yang […]

Sesudah “Pameran Imajiner” (2)

(Untuk Aminudin TH Siregar, Asmujo J. Irianto dan Yuswantoro Adi) Oleh Hendro Wiyanto Sanento tidak sempat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pameran “Kebudayaan” Indonesia (di) Amerika Serikat (KIAS, 1990-1991). Kita tentu tidak bisa bertanya kepadanya, apakah pameran imajinernya cocok dengan apa yang dihadirkan oleh para kolega seni rupanya dalam agenda yang berlangsung berbulan-bulan itu. Termasuk […]