Museum SAKA: Meruwat yang Kritis, Menjaga yang Bertahan, dan Menumbuhkan yang Hilang

Oleh: Abad Akbar*

Ada yang menarik di Museum SAKA kali ini.

Rabu (3/6) saya berkesempatan mengunjungi Museum SAKA di Jimbaran, Bali. Dalam kunjungan tersebut saya bertemu dengan Marlowe Bandem, salah satu dewan penasihat sekaligus kurator museum. Perjalanan dimulai sekitar pukul dua siang. Saya bersama satu keluarga asal Tiongkok mendapat kesempatan mengikuti tur yang dipandu langsung olehnya.

Kunjungan diawali dengan penjelasan mengenai sejarah berdirinya Museum SAKA yang mulai beroperasi pada tahun 2023, serta filosofi yang melatarbelakangi pendiriannya. Sebelum memasuki ruang pamer utama, kami diajak menonton sebuah film yang menjelaskan rangkaian prosesi Nyepi di Bali.

Pemutaran film di studio (sumber: Abad Akbar)

Dalam ruangan yang cukup luas untuk menampung sekitar dua puluh hingga tiga puluh pengunjung, selama kurang lebih tiga puluh menit kami menyaksikan bagaimana masyarakat Bali menjalankan prosesi Melasti. Film tersebut juga memperlihatkan para seniman dan pemuda banjar yang mempersiapkan ogoh-ogoh untuk diarak pada malam sebelum Nyepi. Di bagian akhir, kami diajak menyaksikan Bali ketika Hari Raya Nyepi berlangsung. Seluruh pulau berada dalam keadaan sunyi. Tahun baru dirayakan bukan dengan keramaian dan pesta, melainkan melalui ketenangan, perenungan, dan kesenyapan.

Nyepi sendiri bukanlah perayaan yang berlangsung dalam satu hari, melainkan rangkaian ritual yang panjang. Beberapa hari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu Bali melaksanakan Melasti, yaitu prosesi penyucian diri dan benda-benda sakral ke laut, danau, atau sumber air. Air dipandang sebagai sumber kehidupan sekaligus sarana pembersihan lahir dan batin. Setelah itu dilaksanakan Tawur Kesanga yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta. Puncaknya adalah Pengerupukan, malam ketika ogoh-ogoh diarak keliling desa sebagai simbol pengusiran energi negatif. Baru setelah itu Nyepi dijalankan selama 24 jam penuh melalui empat pantangan utama: tidak menyalakan api atau cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak mencari hiburan (amati lelanguan). Sehari setelahnya, masyarakat merayakan Ngembak Geni momen untuk saling memaafkan dan memulai tahun baru dengan hati yang lebih bersih.

Setelah pemutaran film selesai Marlowe mengajak kami melihat sistem kalender Bali yang mengatur berbagai siklus kehidupan masyarakat. Bagi saya, sistem ini mengingatkan pada konsep pranata mangsa yang dikenal dalam tradisi Jawa, meskipun keduanya lahir dari konteks budaya yang berbeda.

Dari sana kami juga diperkenalkan pada tradisi menulis di atas lontar. Pengunjung diberi kesempatan mencoba menulis secara langsung menggunakan alat tradisional. Sembari menunggu giliran, saya menyempatkan diri menjelajahi pusat studi Museum SAKA yang menyimpan berbagai arsip, naskah lontar, dan koleksi buku langka. Ruangan tersebut terasa nyaman sebagai ruang membaca sekaligus ruang kontemplasi. Di tengah suasana yang tenang keberadaan lontar-lontar kuno mengingatkan bahwa pengetahuan Bali tidak hanya diwariskan melalui praktik budaya tetapi juga melalui tradisi literasi yang panjang.

Tradisi menulis di atas lontar telah menjadi salah satu fondasi penting dalam peradaban Bali. Berbagai pengetahuan tentang agama, pengobatan, hukum adat, sastra, hingga

Ogoh-ogoh dengan wujud Dewi Saraswati di atas angsa sebagai kendaraannya. (sumber: Abad Akbar)

perhitungan kalender diwariskan melalui lembaran-lembaran daun lontar yang ditulis menggunakan pisau kecil bernama pengrupak. Berbeda dengan buku modern yang dicetak massal, setiap naskah lontar lahir melalui proses yang panjang dan penuh ketelitian. Di dalamnya tersimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi selama berabad-abad. Hari ini, tradisi tersebut memang tidak lagi menjadi media utama penyebaran informasi. Namun keberadaannya tetap penting sebagai sumber pengetahuan dan memori kolektif masyarakat Bali. Berbagai lembaga budaya dan museum kini berupaya mendigitalisasi naskah-naskah lontar agar isinya tetap dapat diakses tanpa menghilangkan nilai historis dari bentuk aslinya.

Kami kemudian beranjak ke lantai dua. Di ruang ini dipamerkan sekitar dua belas ogoh-ogoh dengan berbagai ukuran dan karakter. Menariknya, museum tidak hanya menampilkan figur raksasa atau makhluk menyeramkan yang selama ini identik dengan ogoh-ogoh. Salah satu karya justru menghadirkan sosok Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan dalam tradisi Hindu.

Bagi banyak wisatawan ogoh-ogoh seringkali dipahami sebagai patung raksasa yang menyeramkan. Namun sesungguhnya ia memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ogoh-ogoh merupakan representasi Bhuta Kala, simbol berbagai sifat negatif, kekacauan, keserakahan, amarah, dan energi destruktif yang ada dalam diri manusia. Melalui prosesi arak-arakan pada malam Pengerupukan, masyarakat secara simbolis mempertemukan dirinya dengan berbagai sisi gelap tersebut sebelum akhirnya memasuki hari perenungan.

Dalam perkembangannya, ogoh-ogoh tidak lagi hanya menampilkan sosok raksasa atau makhluk mitologis. Para seniman Bali menjadikannya medium ekspresi yang sangat kreatif. Berbagai tokoh pewayangan, figur sejarah, isu lingkungan, bahkan kritik sosial sering hadir dalam bentuk ogoh-ogoh. Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya Bali terus bergerak dan beradaptasi tanpa kehilangan akar spiritualnya.

Di lantai tiga terdapat sebuah dome kecil berdiameter sekitar lima meter. Biasanya fasilitas semacam ini digunakan untuk menampilkan simulasi astronomi seperti yang dapat ditemukan di berbagai planetarium atau museum sains. Namun Museum SAKA mengambil pendekatan yang berbeda.

Alih-alih menampilkan langit dan tata surya, dome ini memutar film pendek yang merekam kesunyian Bali saat Nyepi dari lima titik berbeda: utara, timur, selatan, barat, dan kawasan museum itu sendiri. Pengalaman tersebut terasa unik karena pengunjung tidak hanya melihat Nyepi sebagai sebuah ritual tetapi juga merasakan atmosfer keheningan yang menjadi inti dari perayaan tersebut.

Foto bersama Marlowe di depan museum, tampak arsitektur museum yang megah nan artistik. (sumber: Abad Akbar)

Namun ada satu hal yang menurut saya lebih menarik dibanding seluruh fasilitas di dalamnya, yaitu arsitektur museum itu sendiri. Ketika keluar menuju area pelataran, kita dapat melihat bagaimana bangunan ini dirancang dengan sangat matang. Bentuk, material, dan relasinya dengan lanskap sekitar menghadirkan pengalaman visual yang kuat. Tidak mengherankan jika arsitektur Museum SAKA kemudian dinobatkan sebagai salah satu

Potret poster pameran Subak di Museum Saka (Sumber: Abad Akbar)

museum terindah di dunia dalam ajang World’s Most Beautiful Museums 2025 oleh Prix Versailles di Paris.

Subak: Siklus, Alam, dan Manusia

Setelah menjelajahi seluruh bangunan kami kembali ke lantai satu. Ternyata Marlowe memang sengaja melewatkan satu area khusus di awal tur yakni ruang pamer temporer bertajuk Subak. Belakangan saya memahami alasannya. Dibanding ruang lain yang lebih banyak menjelaskan tradisi, ruang ini menawarkan refleksi yang jauh lebih kritis terhadap kondisi Bali hari ini.

Menurut Marlowe, Subak merupakan sistem organisasi masyarakat petani Bali yang mengatur pengelolaan irigasi secara tradisional, demokratis, dan berkeadilan. Sistem yang telah berkembang sejak abad ke-11 ini menjadi salah satu manifestasi paling nyata dari filosofi Tri Hita Karana, yaitu harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

Namun pameran ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu.

Melalui bebeberapa karya dan instalasi, pengunjung diajak melihat bagaimana modernisasi dan industrialisasi perlahan mengubah lanskap pertanian Bali. Sawah-sawah berkurang dan berganti menjadi perumahan, vila, kawasan wisata, serta infrastruktur pendukung industri pariwisata. Bersamaan dengan itu tradisi yang selama ini tumbuh dari praktik pertanian juga ikut mengalami penyesuaian.

Naskah di atas lontar berisi Peraturan serta tata krama dan andil para dewa dalam pertanian (kiri). Beras 3 warna hasil pertanian di Bali (kanan). (sumber: Abad Akbar)

Ada satu refleksi yang cukup mengusik. Bagaimana jika suatu hari masyarakat Bali tidak lagi memiliki lahan untuk ditanami? Bagaimana jika sesajen yang digunakan dalam upacara tidak lagi berasal dari hasil kebun sendiri, melainkan seluruhnya dibeli dari pasar? Apakah tradisi masih memiliki makna yang sama ketika keterhubungannya dengan alam mulai terputus? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang coba dihadirkan pameran ini.

Sejatinya sistem Subak telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia karena nilai-nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang dikandungnya. Oleh sebab itu, pameran ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan Bali.

Beberapa seniman Bali berkolaborasi menghadirkan karya-karya yang merespons isu tersebut. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah penggunaan teknologi digital untuk memetakan lanskap Subak dalam bentuk tiga dimensi. Melalui instalasi tersebut pengunjung dapat memahami bagaimana sistem irigasi bekerja, bagaimana air mengalir dari satu wilayah ke wilayah lain, dan bagaimana hubungan antara manusia dengan alam dibangun melalui sistem tersebut selama berabad-abad.

Pameran ini menjadi bukti bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda budaya. Museum juga dapat menjadi ruang kritik, ruang dialog, sekaligus ruang advokasi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks ini, Museum SAKA menunjukkan bahwa institusi seni memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga keberlangsungan tradisi dan lingkungan hidup.

Menjaga yang Bertahan, Menumbuhkan yang Hilang

Bagi saya, bagian paling menarik dari Museum SAKA bukanlah koleksinya, bukan pula bangunannya yang megah, melainkan keberaniannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kurang nyaman. Apa yang akan terjadi ketika tradisi kehilangan ruang hidupnya?

Subak sesungguhnya bukan hanya persoalan irigasi atau pertanian. Ia adalah sistem pengetahuan, cara pandang terhadap alam, dan bentuk hubungan sosial yang diwariskan lintas generasi. Ketika sawah hilang, yang hilang bukan hanya sumber pangan, melainkan juga nilai, ingatan, dan cara hidup yang selama ini membentuk identitas Bali.

Karena itu, merawat tradisi tidak cukup hanya dengan mengingatnya dalam museum. Tradisi perlu terus hidup dalam praktik sehari-hari. Ia harus mampu bertahan, beradaptasi, bahkan dikritisi agar tetap relevan dengan zaman.

Museum SAKA menurut saya berhasil menunjukkan bahwa museum tidak harus menjadi ruang yang hanya mengenang masa lalu. Ia juga bisa menjadi ruang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang masa depan. Sebab melestarikan budaya bukan hanya soal menjaga apa yang masih bertahan, tetapi juga menyadari apa yang perlahan sedang hilang. Dan mungkin, dari kesadaran itulah tumbuh keinginan untuk merawatnya kembali.

Meruwat yang kritis, menjaga yang bertahan, dan menumbuhkan kembali apa yang perlahan mulai hilang. Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Museum SAKA.

*Abad Akbar (Peneliti Seni Budaya)