Sepuluh Tahun Wafatnya Museum Nusantara
Oleh: Agus Dermawan T.*
Ketika mengenang almarhum Museum Nusantara – Delft, saya teringat pameran “Printing the Unprinted”di Pavilyun Indonesia, Biennale Venezia 2026, Italia. Lho, apa hubungannya?
————–
AKIBAT kelesuan ekonomi Eropa selama beberapa tahun, pada 2013 muncul rumor bahwa Museum Nusantara di Delft, Belanda, akan ditutup. Rumor itu menjadi kenyataan ketika Pemerintah Belanda mengumumkan rencana penutupan itu pada Januari 2016. Kemudian pada tengah 2016, tepat 10 tahun silam, museum itu ditutup sungguhan!
Sejak itu warga Belanda yang ingin menyaksikan visual sejarah Nusantara – negeri yang pernah jadi koloninya dalam tempo amat lama – harus disudahi. Begitu juga hasrat bernostalgia warga Belanda yang dulu pernah tinggal di Indonesia. Tentu termasuk warga Indonesia yang ingin tahu bagaimana Nusantara pada zaman lampau.
Dengan begitu – harus diakui – popularitas Indonesia di negeri kincir angin pun menjadi agak sunyi.
Pasca penutupan Dewan Kota Delft sibuk mencari jalan keluar, akan dibawa ke mana belasan ribu artefak dan benda budaya yang berpuluh tahun berada di museum itu. Sampai akhirnya sebagian digudangkan, sebagian lain dilelang untuk publik umum. Ada yang dipindahkan ke museum etnografi di Eropa. Bahkan ada ratusan yang diwariskan kepada Asian Culture Center, Gwangju, Korea Selatan. Dalam pendataan ini tercatat ada ribuan yang akan dihibahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Maka pada medio November 2016 Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, menyerahkan koleksi museum tersebut kepada Indonesia. Sebagai simbol, sebilah keris dipersembahkan via Presiden Joko Widodo.

Museum Nusantara-Delft yang tinggal kenangan. (Foto: Dokumen)

Gambar topografi H.C.Cornelius, 1807 tentang penduduk sedang membersihkan candi Prambanan. Menarik perhatian pengunjung museum. (Foto: Agus Dermawan T)
Ada sejarawan yang bilang, hibah ini adalah bentuk penerapan prinsip de commodo et incommodo – pertimbangan untung dan rugi dalam kalkulasi bisnis. Dulu benda-benda amat berharga itu diambil begitu saja dari Nusantara, untuk dijadikan materi museum berbayar di sana. Namun begitu mereka kurang anggaran untuk pemeliharaan, benda-benda itu dikembalikan.
Pemerintah Indonesia tentu sangat berterimakasih atas hibah yang luar biasa ini. Walau penghibahan koleksi tersebut jelas menghadiahkan “pekerjaan rumah” bagi para pengelola koleksi benda seni negara. Akan ditaruh di mana harta karun itu? Jumlahnya yang ribuan memang membutuhkan tempat khusus.
(Meski dalam kenyataannya kita harus bergembira, lantaran benda-benda repatriasi tersebut akhirnya terpajang dengan istimewa di museum Indonesia.)
Catatan kunjungan
Sebelum museum itu ditutup, saya berkunjung ke Museum Nusantara, yang terletak di St Agathaplein 4, Delft.
Pada mulanya sejak 1864 rumah etnografi ini dijadikan ruang pembelajaran bagi para calon pegawai kolonial yang akan dikirim ke Hindia Belanda. Oleh karena materinya terus bertambah, pada 1911 dijadikan museum yang dibuka untuk umum.
Museum Nusantara berada dalam satu komplek dengan Prinsehof. Namun meski sekomplek dengan Rumah Pangeran, bangunan museum ini nampak seperti rumah biasa. Untuk menandai bahwa bangunan tersebut adalah museum, di halamannya dipajang totem primitif berukuran besar. Agak jauh dari totem, dipajang pula satu becak. Betul, becak! Becak dianggap ikon transportasi bangsa Indonesia yang konon tak hentinya jelata.
Dalam ruang pertama museum bisa disaksikan jajaran lukisan Mooi Indie yang menggambarkan Nusantara masa lalu. Seperti karya Bleckman, Van Den Kerkhoff. Terlihat juga lukisan C.Cunaeus (1828-1895) yang menggambarkan kesejahteraan warga Belanda di Batavia abad 17, sebagai copy dari lukisan Beekman, bikinan 1656.

Penulis di depan Museum Nusantara, Delft, Belanda, dengan becak yang dipajang. (Foto: Iliana Lie)

Buku “Nusantara – Highlights from Museum Nusantara Delft” karya Arnold Wentholt. (Foto: Agus Dermawan T)
Penataan museum tentulah berhasrat sistematik, meski tidak rapi benar. Kurator memilah materi museum dalam beberapa periode. Diawali periode VOC (1602-1799) dengan aksentuasi kegagahan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen. Lalu periode kolonial (1814-1942). Dilanjutkan periode pasca kolonial, yang berlangsung sampai 1949. Pada bagian lain terpampang diorama ihwal Nusantara masa pra Hindu, kebudayaan Hindu Jawa, dan masa penyesuaian (de Indische Instelling). Pada jajaran lemari kaca tampak ratusan kerajinan tradisional, termasuk jajaran keris Bali, Jawa dan Makassar.
Yang menarik, museum sangat berminat menjunjung kain berbagai daerah di Indonesia, seperti tenun ikat, sulaman dan batik. Khusus untuk batik, museum membuat acara-acara khusus pada minggu-minggu tertentu dalam beberapa bulan. Semisal peragaan sarung batik-jawa dan batik-belanda dalam kombinasi kebaya. Pemeraganya adalah nonik-nonik Belanda.
Di hamparan lantai berjajaran patung kayu dan batu yang menggambarkan garuda, barong Bali, serta totem simbol nenek moyang. Ada juga replika perahu tradisional berbagai daerah pesisir Nusantara, dengan aksentuasi potongan kepala perahu asli. Tampak pula aneka manekin dengan busana dari berbagai daerah yang unik, indah. Seperti manekin orang-orang pulau Rote di Nusa Tenggara, negeri yang pada zaman VOC pernah dihadiahi 18 “raja” atau “bupati swatantra”.
Pada ruang lain terpajang miniatur arsitektur tradisional Indonesia, seperti tongkanan (rumah bangsawan) di dataran tinggi Toraja. Rumah Batak Karo yang menjulang tinggi, dengan lantai bambu atau ture-ture. Lalu uma (rumah) panjang di Mentawai. Dan tentu rumah Bali berangkul-angkul, berukir-ukir, yang dibangun lewat prinsip arsitektur suci Asta Kosala Kosali.
Di antara miniatur bangunan itu terlihat seperangkat gamelan antik dan magis berusia 200 tahun, yang didesas-desuskan suka berbunyi sendiri pada malam-malam tertentu. Ini koleksi kebanggaan museum selama berkurun-kurun.
Petruk dadi ratu
Di satu ruang museum diputar film yang mengingatkan dunia, betapa Nusantara sejak dahulu adalah negeri subur makmur kerta raharja yang diperebutkan dan dikuasai oleh siapa saja.
Ada masa Portugis berkuasa. Lalu Belanda mengusir Portugis dari Maluku, 1606. Lantas Belanda menyuruh pergi bangsa Spanyol dari sisi-sisi Nusantara tahun 1663, sehingga Spanyol cuma sanggup memperkuat cengkeramannya di Filipina saja. Lalu ada era penjajahan Inggris. Digambarkan pula bahwa Nusantara yang konon hebat dengan kerajaan-kerajaannya, pada akhirnya dikuasai oleh Belanda hanya lewat lembaga serikat dagang yang bernama VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie).
Museum ini berupaya menghidupkan suasana masa silam Nusantara sepenuh hati. Misalnya dengan mementaskan musik gamelan-jawa Marsudi Laras. Mementaskan pagelaran “wayang kulit Belanda” yang menceritakan Willem van Oranje. Tak terkecuali pameran temporer bertema koleksi museum, seperti Art Deco op Bali, yang menghadirkan karya seni rupa kelompok Pita Maha. Ketika menghadirkan tema Destination Borneo, museum mengundang penari Dayak untuk beraksi. Pameran dan pagelaran ini biasanya berlangsung sekitar empat bulan di musim zomer. Rameee! Dan tentu saja, berbayar.

Jimat “mata setan pengusir musuh” di bagian sarung keris Nusantara. Jadi tontotan yang menggetarkan. (Foto: Dokumen)

Petruk, lambang Museum Nusantara-Delft. (Foto: Agus Dermawan T)
Semua bisa dibilang menarik. Meski yang paling unik adalah kenyataan betapa Museum Nusantara mengangkat figur Petruk jadi maskot. Semua tentu tahu, Petruk figur adalah rakyat kecil, pelawak dan batur (pembantu) dalam kisah wayang Mahabharata versi Nusantara. Petruk gemar mengeritik dan mennyindir, namun juga siap diolok-olok. Bahkan untuk menjadi penguasa pun – seperti dalam kisah Petruk Dadi Ratu – Petruk diejek tiada habisnya, meski “kesaktian” nya sering tidak terduga. Ah, jangan-jangan Belanda menganggap bahwa pemimpin Nusantara (Indonesia) sesungguhnya adalah para Petruk? Tak fahamlah saya!
Biennale Venezia
Dalam Biennale Venezia, Italia, yang berlangsung 9 Mei sampai 22 November 2026, Pavilyun Indonesia menggelar pameran seni rupa “Printing the Unprinted”, yang dikuratori Aminudin TH Siregar.

Pameran “Printing the Unprinted” yang dikuratori Aminudin TH Siregar, dalam Biennale Venezia 2026. (Foto: Dokumen)
Pameran eksponen kontemporer ini digelar di Scuola Internazionale Di Grafica Di Venezia dengan mengangkat seni cetak. Seni grafik yang difungsikan untuk mengungkap sejarah seputar Nusantara yang (mungkin) terhapus dan sengaja dihapus. Itu sebabnya tujuh seniman yang terlibat – Agus Suwage, Syarizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina dan Rusyan Yasin – plus tujuh seniman muda kolaborator lainnya, berasal dari berbagai daerah Nusantara.
Seperti gelaran Museum Nusantara almarhum yang merupakan presentasi jejak politik, pameran “Printing the Unprinted” juga merupakan pernyataan politik. Bedanya, apabila Museum Nusantara menghadirkan fakta sejarah (politik) etnografik berdasarkan mata Hindia Belanda, maka “Printing the Unprinted” menampilkan fakta baru sejarah (politik) dengan kelola artistik. Yang diberangkatkan dari pandangan mata generasi masa kini Indonesia Raya.
Maka kesimpulannya, kedua suguhan ini asli berkelindan dalam ruang hasrat yang sama: mengingatkan tentang sejarah bangsa Indonesia yang selalu diancam gerusan waktu, dan lantas diberangus lupa.
Ya, pengingat lama sudah mati, kini pengingat yang baru meneruskan dengan cara berbeda. *
—
Agus Dermawan T. Penulis buku-buku budaya dan seni.




