Buku Koleksi Benda Seni

Oleh: Mikke Susanto*

Dalam beberapa dekade muncul fenomena terbitnya buku-buku koleksi seni rupa di berbagai negara. Meskipun fenomena ini tidak sebesar bidang bisnis maupun politik, tetap perlu mendapat perhatian. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik mengoleksi tak berhenti di ranah privat dan hanya terkait dunia seni. Namun juga bergerak menjadi medan representasi kultural yang luas, bahkan berdimensi pada persoalan politik global.

Sebagai contoh buku koleksi benda seni yang diterbitkan oleh François Pinault yang terbit 2026 ini, maupun dari buku lawas koleksi Presiden Sukarno hingga lawyer Daniel Ginting yang juga baru terbit 2026 bisa kita nikmati. Buku-buku ini diterbitkan dengan format dan tujuan yang berbeda-beda. Meskipun semuanya disatukan oleh kenyataan: edisinya mewah dan tentu saja tinggi harganya.

Dari buku semacam ini, ada dikotomi menarik. Materi dan desainnya memberi pleasure luar biasa. Di sisi lain, membayangkan proses pembuatannya jelas memiliki pressure yang berat, khususnya perkara otentisitas koleksi.

Buku Chefs-d’œuvre de la Collection Pinault (Mahakarya dari Koleksi Pinault) seharga €59,00 diterbitkan pada awal 2026 oleh penerbit Dilecta dan Pinault Collection

Perkembangan Buku

Perkembangan buku koleksi sebenarnya mencerminkan lebih dari sekadar selera estetika atau masalah baik buruknya. Buku-buku ini juga menjadi model relasional antara kekuasaan, pasar, pengetahuan, dan publik. Jika kita melihat ke Eropa dan Amerika, tradisi ini sudah berlangsung lama dan membentuk ekosistem yang relatif matang.

Di Eropa, praktik penerbitan buku koleksi seni individu telah berkembang sejak abad ke-18, seiring dengan munculnya kolektor aristokrat. Nama-nama seperti Guggenheim, Norton Simon, Sigmun R. Balka, dan Pinault misalnya. Mereka bukan hanya dikenal karena koleksinya, tetapi juga karena dipublikasikan secara sistematis melalui monograf, buku pameran, buku museum, hingga pendukung kegiatan lelang yang serius.

Buku koleksi bertajuk Masterpieces from the Norton Simon Museum. Sumber: Amazon

Buku The Eye of the Collector: The Jewish Vision of Sigmund R. Balka oleh Jean Bloch. Sumber: yiddishbookcenter.org

Adapun perkembangannya di Indonesia, buku genre ini diterbitkan setidaknya oleh 3 kalangan. Pertama, oleh pejabat negara, seperti oleh Presiden Sukarno, Adam Malik, maupun oleh Gubernur DKI Pramono Anung. Kedua yang diterbitkan oleh para pengusaha atau profesional seperti Raka Sumican, Ciputra, Oei Hong Djien, Deddy Kusuma, Sanjoto, Kwee Liong Keng, sampai Daniel Ginting. Ketiga, buku yang berkaitan dengan museum seperti Suteja Neka, Agung Rai, hingga Pilippe Augier melalui museumnya masing-masing.

Akhirnya buku koleksi berkembang tak semata-mata karena seniman dan penulis, tetapi juga dilakukan oleh mereka yang memiliki “kuasa” luar biasa.

Produksi Pengetahuan

Beberapa kesadaran penting dari fenomena ini perlu dicatat. Pertama, selain berdiri sebagai “album indah”, buku ini juga sebagai bagian dari produksi pengetahuan warisan budaya dunia. Pengerjaannya melibatkan kurator, sejarawan seni, bahkan filsuf. Kedua, ada standar tinggi dalam reproduksi visual dan desain buku, sehingga buku itu sendiri menjadi collector item. Ketiga, meskipun tidak terjadi di Indonesia, persoalan distribusi dan aksesibilitasnya lebih luas menyebabkan buku-buku ini menjangkau publik global.

Buku Lukisan-lukisan Kolleksi Ir. Dr. Sukarno editor Dullah, 1956. Koleksi Keluarga Dullah

 

Buku berisi benda seni keramik koleksi Adam Malik

Buku semacam ini jelas menjadi sarana legitimasi. Ketika sebuah koleksi dipublikasikan secara serius, buku ini membantu pembentukan kanon seni, yakni menentukan siapa seniman penting, dan karya mana yang layak kenang. Sehingga karya kanon yang ada dalam buku ini semakin tinggi harganya dalam transaksi global.

Buku-buku ini juga membuka akses bagi publik yang mungkin tidak bisa mengunjungi museum. Fungsinya sebagai “museum tanpa dinding” seperti teori André Malraux atau “collector without wall” ala Norton Simon. Jika ditulis dengan pendekatan populer dengan tetap mengedepankan teori kritis, buku koleksi berlaku sebagai jembatan antara dunia akademik, pemilik dan masyarakat umum.

André Malraux, Museum Without Walls, 1965

Perbandingan Kritis

Jika dibandingkan antara Indonesia dan di Barat, ada beberapa perbedaan mencolok. Di Indonesia, tradisi buku koleksi masih relatif baru dan sering kali berangkat dari inisiatif personal. Buku-buku ini penting sebagai langkah awal dokumentasi, tetapi sering kali belum didukung oleh ekosistem seni, kuratorial yang dalam, dan modal penerbitan yang kuat.

Perbedaan lainnya terletak pada distribusi dan pembaca. Di Barat, ada pasar yang jelas untuk buku seni–baik kolektor, akademisi, maupun publik umum. Bahkan seperti buku The 11th Hour, yang diterbitkan lembaga lelang internasional Christie’s, bekerja sama dengan Yayasan Leonardo DiCaprio, diterbitkan guna mendukung upaya konservasi lingkungan dan satwa liar yang didukung oleh Yayasan tersebut. Lebih dari 30 seniman terkemuka dunia saat ini telah menyumbangkan karya-karya mereka, banyak di antaranya diciptakan khusus untuk lelang ini.

Di Indonesia, buku seni visual masih menjadi konsumsi terbatas. Sebagian lainnya jika pun terbit sering bertujuan untuk melegitimasi otentisitas koleksi tanpa informasi detil yang mendukung. Keterbatasan jumlah dan minimnya tradisi buku koleksi ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi seni visual, keterjangkauan harga buku, hingga kurangnya integrasi dengan institusi pendidikan.

Pada akhirnya, membandingkan Barat dan Indonesia bukan soal siapa lebih maju, melainkan bagaimana masing-masing konteks membentuk praktiknya. Eropa menawarkan model ekosistem yang mapan, sedangkan Indonesia menawarkan potensi narasi yang kaya. Buku koleksi seni rupa berada di persimpangan keduanya: antara arsip dan interpretasi, antara kepemilikan pribadi dan kepentingan publik.

Buku katalog The 11th Hour, diterbitkan Christie’s dan Leonardo DiCaprio Foundation

Diplomasi Budaya Indonesia

Jika kita memasukkan pengalaman Indonesia–khususnya melalui figur seperti Sukarno–ke dalam peta yang lebih luas, terlihat bahwa buku koleksi seni rupa di Indonesia sejak awal sudah memiliki dimensi yang sangat khas. Buku-buku ini bukan semata menyoal perkara estetika atau dokumentasi. Lebih dari itu juga menyoal identitas nasional dan diplomasi budaya.

Presiden Sukarno, bukan sekadar kolektor, melainkan “arsitek selera” bagi bangsa yang baru merdeka. Lima jilid buku koleksi yang ia terbitkan dalam luxury editions selain berfungsi sebagai katalog karya, juga merupakan pernyataan politik kultural. Buku-buku ini menampilkan karya-karya pelukis Indonesia (dan sebagian dari mancanegara) dari berbagai aliran sebagai representasi wajah Indonesia yang berdaulat dan berbudaya. Dari sini Sukarno melakukan sesuatu yang sejajar dengan praktik kolektor besar di Barat, tetapi dengan muatan ideologis yang jauh lebih eksplisit: seni sebagai alat nation-building.

Berbeda dengan Peggy Guggenheim di Eropa-Amerika. Ada perbedaan mendasar. Ia mempublikasikan koleksinya untuk mendorong perkembangan seni modern dan memperkuat jaringan avant-garde. Sementara Sukarno menggunakan koleksinya untuk membangun narasi kebangsaan. Namun keduanya bertemu pada satu titik: buku koleksi sebagai medium legitimasi estetika, kultural dan politik.

Buku koleksi Daniel Ginting, Rimpang Rasa yang terbit April 2026.

Keberlanjutan Ekosistem

Dari kasus ini, kita bisa melihat bahwa tradisi buku koleksi di Indonesia sebenarnya tidak tertinggal secara historis. Bahkan, dalam beberapa hal kita memiliki fondasi yang sangat kuat sejak awal kemerdekaan. Hanya ada satu perbedaan penting jika dibandingkan dengan Ero-Amerika: keberlanjutan ekosistem.

Di Barat, tradisi yang dimulai oleh kolektor individu berkembang menjadi sistem yang melibatkan museum, universitas, penerbit besar, hingga pasar buku global. Buku koleksi tidak berhenti pada satu figur, tetapi menjadi bagian dari produksi pengetahuan yang berkelanjutan. Sementara di Indonesia, inisiatif besar cenderung berdiri sebagai “monumen”. Penting sih, tetapi tidak selalu diikuti sistem yang mendukung pengembangan wacana.

Tantangan Global

Meskipun di Indonesia menghadapi tantangan struktural berupa minimnya perhatian pemerintah, penerbit seni, dan distribusi, ekosistem kita memiliki warisan konseptual historis yang kuat. Yang dibutuhkan kini lebih pada kolaborasi lintas departemen/ kementerian untuk menjadikan seni sebagai bagian dari identitas kolektif nasional.

Selebihnya, tantangan yang lain adalah adaptasi digital. Buku cetak tidak lagi satu-satunya medium. Banyak institusi telah mengembangkan arsip digital dan publikasi daring. Pertanyaannya: bagaimana buku koleksi benda seni di Indonesia bisa bertransformasi memperluas jangkauan melalui platform digital dan berefek bagi kebhinekaan budaya kita di ranah global? +++

Mikke Susanto

Penulis, Kurator seni rupa dan Dosen di ISI Yogyakarta