Para Komikus Tionghoa dan Lee Man Fong

Oleh Agus Dermawan T.*

 

Stimulasi Lee Man Fong dalam ekosistem seni rupa Tionghoa merambat sampai ke dunia komik. Kemunculan Siauw Tik Kwie, Goei Kwat Siong, Johnlo, Kwik Ing Hoo, Ganes TH, Hans Djaladara, Sim, Floren sebagai komikus ternyata diinspirasi pikiran Lee Man Fong. Bahkan kemunculan berketerusan Kho Wan Gie pencipta Put On juga atas dorongan Lee Man Fong. Petikan kecil dari buku “Lee Man Fong: Bison Padang Sunyi”(Agus Dermawan T, 298 halaman, Kepustakaan Populer Gramedia, Mei 2026.)
———-

DALAM buku Komik Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia & Forum Jakarta-Paris, 1998) Marcell Boneff, menulis bahwa komik mulai muncul di media massa Hindia Belanda pada sebelum Perang Dunia II. 

Pengamat seni dari Prancis itu mencatat bahwa harian De Java Bode pada 1938 sudah memuat komik “Flippie Flink” karya Clinge Doorenbos. De Orient memuat komik petualangan “Flash Gordon”. Di samping media massa berbahasa Belanda, surat kabar dan majalah berbahasa Melayu juga memuat sejumlah komik Barat.

Di tengah keriuhan komik-komik Barat itu ternyata juga muncul komik-komik Indonesia. Uniknya, yang muncul dominan kala itu adalah komik karya seniman Indonesia keturunan Tionghoa. 

Komik Tionghoa pertama yang sangat dikenal adalah karya Kho Wan Gie, kelahiran Indramayu, Jawa Barat, 1908. Komik strip Kho Wan Gie mulai dimuat Sin Po, koran berbahasa Melayu yang dipakai sebagai media komunikasi Tionghoa Peranakan. Setelah mencipta berbagai kartun, tahun 1931 Kho membuat serial komik humor berjudul “Put On”, dengan tokoh lelaki lajang yang dipanggil Koh Put On. 

Lee Man Fong dengan latar kompilasi lukisannya yang ilustratif. (Foto : Dokumen)

Bagian dari lukisan Lee Man Fong yang ilustratif dan komikal. (Foto: Agus Dermawan T)

Koh Put On menyentuh hati karena jenaka. Nasibnya yang selalu tertimpa kemalangan kecil-kecil. Swee-siao, orang Tionghoa bilang. Kemalangan itu membuat orang lantas banyak bersimpati. Lebih dari itu Koh Put On dikenal sebagai figur yang suka menolong, punya empati tinggi, bergaul dengan semua suku, dan cinta kepada Indonesia. Itu sebabnya Koh Put On beraksi aktual sampai hampir 30 tahun kemudian. Ketika Indonesia akan merebut Irian Barat, Koh Put On yang tambun tapi tak pernah tua itu menyatakan ingin jadi sukarelawan! Ketika koran Sin Po mempunyai majalah bulanan Pantja Warna, komik Put On ditampilkan di sana dalam satu halaman.

Memasuki tengah tahun 1950-an kiprah Koh Put On semakin ramai. Dan ulah Koh Put On sebagai pembawa bendera peranakan Tionghoa yang sangat mengindonesia, semakin menarik perhatian. Mengapa Kho Wan Gie mendorong Koh Put On jadi begitu?

 “Sejak tahun 1955 Wan Gie sering bertandang ke Prinsen Park, tempat para seniman Yin Hua pimpinan Lee Man Fong berkumpul. Di situ Wan Gie merasakan bahwa Tionghoa di Indonesia harus semakin jadi Indonesia, walau tetap membawakan kebudayaan Tionghoa,” seperti dituturkan oleh CM Hsu, sinolog Universitas Indonesia.

Begitu legendarisnya Put On. Sampai namanya dipakai oleh masyarakat untuk sebutan orang yang gendut dan rada bego. Namun kebegoan Put On ternyata inspiratif. Buktinya, ada sejumlah media massa yang membuat kartun semacam ciptaan seniman Tionghoa. Semisal “Si Tolol” yang dimuat di Star Magazine, milik kelompok media Keng Po serta “Oh Koen” di majalah Star Weekly. Sampai akhirnya muncul “Si Apiao”, yang dibuat oleh Goei Kwat Siong. 

 “Tidak bisa diingkari, kemunculan Si Apiao adalah karena Put On. Sedangkan kehadiran Put On yang berkelanjutan, saya tahu, karena stimulasi Lee Man Fong lewat perkumpulan Yin Hua,” tutur Goei, yang berhasil menurunkan bakatnya kepada cucunya. Sehingga sang cucu pada tahun 2000-an diterima sebagai staf ahli animasi di studio televisi CNN, Atlanta, Amerika Serikat.

Prinsen Park, kompleks tempat “markas” perkumpulan Yin Hua di Jakarta. Di sini Lee Man Fong selalu berkata bahwa gambar poster, ilustrasi, gambar advertensi dan komik sama martabatnya sengan seni rupa lain. (Foto: Dokumen)

Dari Johnlo sampai Kwik Ing Hoo

Pada tengah tahun 1950-an muncul beberapa komikus Tionghoa dengan karya yang lumayan menonjol. Seperti Johnlo yang mencipta Tarzan wanita dalam “Nina Putri Rimba”. Ia juga membuat komik wayang dalam judul “Raden Palasara” dan “Astina Pura”. Komik wayang keluaran penerbit Melodi ini bagus, walau dalam perbincangan kelak dikalahkan oleh komik-komik wayang R.A.Kosasih. Pada 1954 Johnlo, atau Djono, atau Djonilo, mencipta “Puteri Bintang” dan “Garuda Putih”. Komik-komik yang isinya dianggap meniru komik hero dari Barat.

Pada masa ini muncul juga komik hero “Kapten Komet” ciptaan Kok Ong yang diterbitkan di Medan. Lalu hadir komik “Wiro – Anak Rimba Indonesia”, dalam 10 jilid, karya Kwik Ing Hoo. Cerita Wiro yang ketangkasannya mirip Tarzan itu dibikin oleh Lie Djoen Lim. 

Johnlo, Kok Ong dan Kwik Ing Hoo adalah komikus Tionghoa tahun 1950-an yang keterampilannya pantas diingat. Kwik mengaku, gairahnya membuat komik dirangsang oleh petuah Lee Man Fong, yang menyadarkan bahwa karya seni apa pun baik adanya. “Man Fong berkata: jangan merasa bahwa ilustrasi, gambar advertensi, komik dan sebagainya itu berada di bawah seni lukis atau patung. Itu pikiran sesat,” ujar Kwik.

Di tengah-tengah gempuran komik hero itu makgojol nongol komik “Sie Djin Koei” (baca : Sie Jin Kui) ciptaan Siauw Tik Kwie di Star Weekly, majalah keluarga terpopuler tahun 1950-1960-an. Siauw, memang ilustrator di majalah itu. Sementara Sie Jin Kui adalah jenderal sejati pada era dinasti Tang  (618-906), kala kekuasaan kerajaan Tang Toay Cung, di bawah kaisar Li Shi Bin (627-649). Legenda yang sampai sekarang masih setengah dipercaya sebagai fakta.

Komik “Sie Djin Koei” digarap oleh Siauw Tik Kwie – kelahiran Solo 1913 – dengan bantuan seorang pengarang cerita silat terkenal OKT atau Oei Kim Tia. Pengarang ini bertindak sebagai penerjemah cerita dari naskah aslinya. Dan Siauw yang menggubah jadi komik lewat goresan halus, tajam, titis dan gesit, anatomis, dengan chiaroscuro (pembagian gelap terang) yang cerdas dan mempesona. 

Komik “Sie Djin Koei” karya Siauw Tik Kwie. (Foto: Agus Dermawan T).

Dalam pengadeganan Siauw selalu nampak sangat imajinatif dan filmis. Meski untuk lokasi kejadian Siauw hanya membayang-bayangkan, lantaran ia belum pernah ke Kwilin, Tiongkok, tempat Sie Jin Kui berada. Sedangkan visual persenjataan dan setting perabotan hanya ia kutip dari properti wayang potehi. (Siauw Tik Kwie baru bertandang ke Kwilin pada tahun 1987, atas sponsor Tjokro Atmodjo, kolektor dan penerbit komik).                   

Dalam setiap edisi “Sie Djin Koei” rata-rata hadir satu halaman. Sementara komik dibagi dalam dua bagian, yakni “Sie Djin Koei Tjeng Tang” (Sie Jin Kui Menyerbu ke Timur) dan “Sie Djin Koei Tjeng See” (Sie Jin Kui Menyerbu ke Barat). 

“Yang mendorong saya membuat komik adalah Tan Hian Lay, redaktur Star Weekly, dan Ouwyong Peng Koen, atau P.K.Oyong, yang kemudian mendirikan majalah Intisari dan harian Kompas. Keyakinan Hian Lay dan Oyong atas kemampuan saya ditebalkan oleh uar-uar Lee Man Fong, sebelum Man Fong mendirikan perkumpulan Yin Hua pada 1955,” kisah Siauw Tik Kwie. Perlu dikasi catet, Siauw Tik Kwie kemudian berganti nama jadi Oto Suastika.

Pada masa “Sie Djin Koei” muncul, banyak komik karya seniman Tionghoa lain yang tampil sebagai pesaing. Di majalah Pantja Warna misalnya, ada serial komik silat karya Lie Ay Poen dalam judul “Poei Sie Giok Pukul Loeitay”. Serial ini kemudian diteruskan dalam judul “Runtuhnya Kuil Sauw Lim Si”. Tapi kepopuleran “Sie Djin Koei” tidak tergoyahkan.

Komik “Sie Djin Koei “ terdiri dari 700 halaman, dan dikerjakan dari  tahun 1954 sampai 1961. Tujuh tahun! Dengan begitu komik ini mencatat rekor terlama dalam penciptaan. Mengapa begitu lama, ini disebabkan sistem kerja yang dipercayakan P.K.Ojong. Sistem kerja itu mempersilakan Siauw untuk membuat komik secara berangsur. Hari ini Siauw mencipta komik untuk edisi minggu depan. Dan minggu depannya lagi untuk edisi minggu berikutnya. Begitu terus dorong-mendorong. Yang jadi tumpuan adalah kesehatan. 

“Man Fong terus menghasut saya untuk sehat. Kalo idoep loe mau baek, loe poenja badan misti sehat. Itu kata Man Fong,” ujar Siauw, yang bersahabat dengan Lee Man Fong, Kho Wan Gie dan Tan Lip Poen, dalam Mei Shu Yen Tsiu Hui, perkumpulan seniman yang aktivitasnya tidak begitu dicatat sejarah.

Pada 1980 bulan November di gedung Seni Sono, Yogyakarta, tergelar Seminar Komik, yang diprakarsai pengarang Mira Sato (kini mashur dengan nama Seno Gumira Ajidarma) lewat lembaganya, Pabrik Tulisan. Saya duduk sebagai pembicara bersama pengamat komik Arswendo Atmowiloto, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Permadi SH, pengamat budaya pop Ashadi Siregar, serta moderator Kuntowijoyo. 

Dalam forum itu “Sie Djin Koei” saya bicarakan khusus, dan saya posisikan sebagai salah satu komik terbaik di Indonesia. Di situ saya mengemukakan peranan Lee Man Fong. “Sie Djin Koei” disambut, meski diklaim sebagai komikus Tiongkok. Namun atas Lee Man Fong, forum tampak kurang perduli.

Satu judul, satu ons emas 

Pada tengah 1960 juga berkiprah komikus Sim, alias Simon Iskandar, yang bernama asli Sim Kim Tan. Komik-komik lelaki kelahiran Jakarta 1943 ini beraroma percintaan remaja. Beberapa judul yang terkenal adalah “Buku Harian Monita” serta “Tugas dan Cinta”. Banyak pembaca yang menyadari bahwa sejumlah komik Sim diilhami oleh film-film Hongkong yang kala itu sudah beredar di Indonesia. Sim juga mencipta komik silat bergaya Jepang dalam judul “Rasho”. 

Zaldy Armendaris tak boleh dilewatkan. Komikus yang bernama asli Touw Bun Tiong ini lahir di Jakarta 1944. Sejak tahun 1966 sampai 1970-an ia menghasilkan sekitar 60 judul komik. Lantaran sebagian ide ceritanya diambil dari film-film drama percintaan, komik Zaldy terasa sentimentil dan kerap membuat mata pembaca perempuan berkaca-kaca. Sebaliknya, komik Zaldy yang orisinal mengilhami produser Indonesia untuk memfilmkan. 

Hans Djaladara yang bernama asli Liem Tjong Han, menjadi legendaris setelah meluncurkan komik “Panji Tengkorak” pada 1971. Lebih dua dekade setelah itu “Panji Tengkorak” dipresentasikan dalam sinetron 26 episode, yang disiarkan Indosiar. 

Garis-garis Hans ekspresif dengan komposisi yang dinamis. Pelukisan wajah-wajah tokohnya selalu mengena. Rangkaian dari “Panji Tengkorak” adalah komik “Walet Merah” serta “Rase Terbang”. Hans dilahirkan tahun 1947 

Bagian dari lukisan Lee Man Fong, tentang kerumunan orang. (Foto: Agus Dermawan T)

Komposisi kerumunan orang komik Ganes TH. yang diinspirasi lukisan Lee Man Fong. (Foto: Agus Dermawan T).

Keriuhan dunia komik ini pada September 1969 dilengkapi oleh terbitnya majalah komik ERES, yang tirasnya pernah mencapai 12.000 eksemplar. Nama majalah ini harus dilafalkan sebagai R.S, karena singkatan dari nama penerbitnya, Ricky Siswono, yang dipuji sebagai Tionghoa sangat faham pasar komik. Ricky dianggap berjasa dalam merangsang peningkatan mutu para komikus. Menarik diketahui, Ricky Siswono adalah paman dari penyanyi top Agnes Monica. 

Majalah bulanan ERES bertahan hidup sampai April 1971. Pada masa setelah ERES nama-nama komikus Tionghoa seperti Floren (Tjia Tjeng Han alias Florentinus Susanto) dan Fazen muncul ke permukaan.

Ganes TH bernama asli Thio Thauw San, sangat terkenal dengan komik “Si Buta dari Gua Hantu”, “Prahara di Bukit Tandus”, “Misteri di Borobudur” dan “Tuan Tanah Kedawung”. Selain gambar-gambarnya yang atraktif, komik Ganes sering menghadirkan detil lokasi secara referensial. Setting yang digarap adalah gambaran yang sesungguhnya. Sehingga ketika Si Buta di Sumbawa, misalnya, seluk-beluk alam dan istiadat Sumbawa diungkap dengan baik. Begitu pula ketika sang tokoh komiknya menjelajah wilayah-wilayah lain. Ganes kelahiran Banten, Jawa Barat, 1935. 

“Harus saya akui, pemahaman saya atas lokasi belajar dari cara kerja Lee Man Fong. Deformasi dari figur-figur komik saya diilhami oleh lukisan-lukisan Lee Man Fong yang sangat berani menceng-menceng,” kata Ganes TH.

Mengapa para Tionghoa banyak yang jadi komikus? 

Penggubah komik roman ternama bumiputera, Jan Mintaraga, memberikan alasan. Dikatakannya bahwa para seniman Tionghoa paling mudah membuka tangan untuk bekerja apa saja. Termasuk menggarap komik, satu arena kreatif yang pada waktu itu – tahun 1960 sampai 1970 – cenderung direndahkan, bahkan dikecam sebagai picisan. Bahkan pada suatu masa pernah dirazia polisi dan dinistakan sebagai bacaan yang merusak moral. Sehingga komik semakin termarjinalisasi, dan menjadi bagian pinggiran dari dunia seni. 

“Para seniman Tionghoa cenderung jeli melihat pasar. Mereka mau mengerjakan sesuatu yang sedang dihindari orang. Tak perduli yang dikerjakan itu bergengsi atau tidak, beresiko apa tidak. Yang saya tahu, keberanian itu muncul dari prinsip berkesenian para seniman Yin Hua yang didirikan oleh Lee Man Fong. Komik dan ilustrasi memang dipromosikan bisa mengisi belanga seniman,” kata Jan. 

Pendapat itu disepakati Hans Djaladara

Komik Hans Djaladara, serial “Panji Tengkorak”. (Foto: Agus Dermawan T).

“Komik yang bagus akan dihargai tinggi. Saya ingat, salah satu judul komik saya yang terdiri dari beberapa jilid, dihargai satu ons emas pada tahun 1967-1970-an. Dan saya bisa mencipta tiga judul komik dalam setahun.”

Maka silakan dihitung apabila dikonversi nominal satu ons emas pada hari-hari sekarang, Mei 2026. Simak: 100 (gram) x 2.500.000 = Rp. 250.000.000,- !!!

Ujung kalam, para komikus Tionghoa memang berhutang kepada Lee Man Fong.*  

—–

*Agus Dermawan T. Pengamat seni. Penulis buku “Lee Man Fong: Bison Padang Sunyi”, 298 halaman, Kepustakaan Populer Gramedia, Mei 2026.