Foto Fragmen forna setengah bulat

Hunian Prasejarah hingga Awal Sejarah di Situs Mosandurei Nabire

Oleh Hari Suroto

Nabire terletak di kawasan Teluk Cenderawasih. Kabupaten ini terdiri atas daratan dan perairan dengan gugusan pulau-pulau kecil (http://nabirekab.go.id). Menurut Kal Muller dalam buku Mengenal Papua  (2008:74) menyebutkan cangkang  moluska cowries yang dimanfaatkan sebagai alat tukar oleh suku Mee di pegunungan Papua bagian barat, sebagian berasal dari wilayah pesisir Teluk Cenderawasih. Diperkirakan jalur perdagangan kerang cowries ini mula-mula masuk melalui Nabire terus ke wilayah Danau Paniai. Selain itu pula, berdasarkan keletakannya yang strategis, pulau-pulau di Teluk Cenderawasih, diperkirakan menjadi tempat asal-usul dari jaringan perdagangan jarak jauh. Hal ini didasari oleh keramik yang dijadikan sebagai mas kawin di Biak, Numfor, Yapen berasal dari luar.

Peta Distrik Napan

Peta Distrik Napan (sumber: googlemap.com)

Situs Mosandurei

Situs Mosandurei

Penelitian arkeologi di Situs Mosandurei, Kampung Mosan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire berhasil menemukan cangkang moluska, fragmen tulang, gigi, pecahan gerabah, pecahan keramik Cina, pecahan keramik Eropa, pecahan botol Eropa, manik-manik, dan alat batu. Situs ini terletak di atas Bukit Mosandurei. Dengan memperhatikan kondisi lingkungan situs berupa permukaan tanah di puncak bukit yang relatif datar, dekat dengan hutan sagu, sungai, dan teluk, sangat memudahkan dalam pencarian sumber makanan dan sumber air. 

Selain itu juga berdasarkan artefak dan ekofak yang ditemukan maka situs Mosandurei pada masa lalu pernah dimanfaatkan sebagai situs hunian prasejarah yang berlanjut hingga masa sejarah. Keletakan situs di atas bukit memiliki nilai strategis dalam memantau aktivitas pelayaran di pesisir Teluk Cenderawasih dan memantau wilayah dari serangan musuh. Berdasarkan temuan manik-manik, pecahan gerabah, pecahan keramik Cina, pecahan keramik Eropa serta keletakan geografis Napan yang strategis, penduduk Napan pada masa lalu merupakan pemburu dan peramu, nelayan dan telah menjalin kontak perdagangan dengan luar Papua. Berdasarkan analisis data maka diinterpretasikan bahwa Situs Mosandurei merupakan situs hunian prasejarah yang berlanjut hingga masa sejarah.

Pecahan botol Eropa

Pecahan botol Eropa

Manik-manik

Manik-manik

Analisis terhadap pecahan gerabah Situs Mosandurei diketahui berjenis tempayan, periuk dan forna. Tempayan digunakan untuk menyimpan air dan menyimpan pati sagu. Dinding tempayan yang tebal, memiliki daya tahan yang kuat sebagai media penyimpan. Periuk digunakan untuk merebus air, merebus umbi-umbian dan merebus kerang. Dinding periuk yang tipis, mempercepat dalam proses pemanasan makanan. 

Temuan pecahan gerabah forna mengindikasikan bahwa telah ada aktivitas pengolahan bahan pangan yang lebih variasi yaitu memanggang pati sagu atau sagu bakar. Forna terdiri dua bentuk, forna persegi panjang dan forna setengah bulat. Forna merupakan tungku untuk memanggang tepung sagu. Forna ini terdiri dari enam atau delapan bilik untuk menaruh tepung sagu. Teknik pembuatan forna yaitu gabungan dari teknik lempeng dengan pijit. Jejak pembuatan gerabah dengan teknik pijit dapat dilihat pada permukaan luar atau dalam yang tidak rata serta jejak jari tangan (fingermark). Bahan pembuat forna yaitu tanah liat campur pasir kuarsa kasar.

Untuk membuat sagu bakar, sagu mentah yang masih basah dipecah-pecah, lalu dijemur di panas matahari, dibuat tepung lalu diayak. Forna diletakkan di atas bara sabut kelapa. Kemudian forna yang sudah merah membara diangkat dengan capitan bambu, dan diletakkan di atas tanah. Tepung sagu dituangkan ke dalam lempengan forna, satu demi satu. Sagu lempeng matang tidak dengan cara dipanggang di atas api, tetapi kematangannya tercipta lewat proses transfer panas lewat tanah liat sebagai mediumnya. Artefak forna menunjukkan bahwa sagu merupakan makanan pokok, sagu mudah diperoleh dari hutan sagu di dekat situs. Selain itu juga menggambarkan bahwa menokok sagu merupakan salah satu profesi manusia pendukung Situs Mosandurei. 

Fragmen forna persegi panjang

Fragmen forna persegi panjang

Ekofak yang ditemukan yaitu cangkang moluska dalam berbagai jenis, fragmen tulang, arang dan fragmen gigi. Terdapat jenis moluska tertentu yang dominan ditemukan maka dapat diasumsikan bahwa moluska jenis ini merupakan makanan favorit, selain itu diperkirakan sangat mudah dalam mendapatkannya. Cangkang moluska utuh ataupun pecahan, diindikasikan sebagai sampah bekas sisa makanan. Moluska yang  dikonsumsi diperoleh dari hutan bakau dan muara Sungai Lagari. Berdasarkan ekofak tulang binatang, menunjukkan bahwa mereka juga melakukan perburuan binatang, yang diperoleh dari hutan di sekitar situs. Temuan arang merupakan bukti aktivitas memasak yang dilakukan oleh manusia penghuni Situs Mosandurei.

Berdasarkan analisis bentuk terhadap pecahan keramik Cina, diketahui berbentuk piring dan mangkuk, yang berfungsi sebagai peralatan makan. Piring keramik Cina hingga saat ini menjadi mas kawin dalam budaya suku-suku di Teluk Cenderawasih. Kemungkinan artefak keramik ini diperoleh dari Tidore. 

Botol Eropa berfungsi untuk menyimpan anggur selama pelayaran, berdasarkan catatan sejarah menunjukkan bahwa pada abad ke-17, kapal Eropa mulai berlayar di perairan Nabire. Pelaut Belanda, Jan Willem Schouten dan Jaques le Meire pada 1616 melakukan pelayaran di pantai utara Papua (Budjang, 1963: 116). Jacob Wey Land melakukan pelayaran ke Teluk Cendrawasih pada 1705 dengan kapal Geelvink, Kraanvogel dan Nova Guinea. Pelayaran ini dilanjutkan oleh A. B. Meyer pada tahun 1873 (Sujatni, 1963: 139). Keberadaan artefak botol di Situs Mosandurei menunjukkan telah terjadi kontak dengan pelaut Eropa.

Pecahan piring Eropa abad 19-20

Pecahan piring Eropa abad 19-20

Perdagangan adalah proses interaksi antara individu atau kelompok sosial yang satu dengan lainnya untuk memperoleh komoditas. Berdasarkan catatan sejarah (Muller, 2008: 86-89) menunjukkan bahwa pada masa Kesultanan Tidore, pelaut dari Teluk Cendrawasih berlayar hingga Tidore. Para pelaut ini membawa kulit kayu masohi, mutiara, kulit penyu, burung cendrawasih, dan kopra. Sekembali dari Tidore, mereka membawa alat-alat dari besi, manik-manik, keramik Cina, gerabah dan kain.

————

Referensi

Budjang, Anis. 1963. Orang Biak Numfor dalam Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar (eds.),

Penduduk Irian Barat. Jakarta: Penerbitan Universitas. Hlm. 113-135.

http://nabirekab.go.id diakses 13 November 2015.

Muller, Kal. 2008. Mengenal Papua. Daisy World Books.

Sujatni. 1963. Orang Waropen dalam Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar (eds.), Penduduk Irian Barat. Jakarta: Penerbitan Universitas. Hlm. 136-158.

*Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua