DUA DEKADE KELANA GARIS
Pameran Lukisan Retrospeksi Wayan Kun Adnyana
oleh : Arif Bagus Prasetyo*
Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung langsung dihadang sebarisan figur lelaki gemuk. Mereka tidak menyambut dengan wajah cerah. Sebaliknya, justru memunggungi pengunjung. Masing-masing hadir secara tunggal pada sederet kanvas, figur-figur itu bertubuh bulat karikatural seperti bola batu. Sebagian besar dari mereka menyembunyikan tangan di punggung sambil membawa aneka benda enigmatik, seakan menyimpan maksud tersembunyi. Jika lukisan potret dicirikan oleh kehadiran wajah, maka lukisan-lukisan figur yang memunggungi pengunjung itu dapat disebut “antipotret”.

Seri “lukisan punggung” di salah satu ruangan Nata-Citta Art Space, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Denpasar, itu merupakan bagian dari pameran lukisan “PARAMA PARAGA: Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New Abstract”. Pameran ini menampilkan 88 karya yang mewakili dua dekade penjelajahan visual perupa sekaligus akademisi Wayan Kun Adnyana. Diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, pada 25 Maret 2026, pameran berlangsung selama dua bulan.

Jika dilihat dari jarak dekat, figur lelaki gemuk dalam lukisan-lukisan Kun sesungguhnya dibangun oleh jaringan rumit serat garis renik. Ribuan garis dengan berbagai ketebalan berkelindan, menciptakan struktur visual yang padat sekaligus organik. Kun dengan tekun mengolah garis menjadi volume dan tekstur.
Pameran PARAMA PARAGA merangkum evolusi bahasa rupa berbasis garis yang menjadi ciri khas karya lukis Kun. Selama dua dekade, Kun telah melahirkan sejumlah seri lukisan dengan benang merah konseptual yang kuat, yaitu garis sebagai fondasi sekaligus medan eksplorasi tanpa batas. Garis tidak dipahami sebagai sekadar elemen formal seni lukis, melainkan sebagai entitas hidup yang menyimpan narasi, emosi, bahkan kritik sosial. Pameran retrospeksi ini menunjukkan bagaimana garis berkembang dari medium ekspresi personal menjadi bahasa visual yang kompleks dan reflektif dalam khazanah kekaryaan Kun.
Perjalanan artistik Kun berangkat dari pengalaman personal yang sederhana, namun intens. Estetika lukisannya tumbuh dari pergulatan antara menulis dan melukis. Dari sinilah lahir pendekatan berbasis seni gambar (drawing) menggunakan tinta cina, yang memungkinkan simultanitas antara proses berpikir dan berkreasi. Simultanitas ini mencirikan status ganda Kun sebagai seniman dan ilmuwan.
Kun adalah perupa sekaligus akademisi dengan perjalanan kreatif yang mengakar pada sejarah seni rupa Bali sekaligus menggalinya secara kritis. Ia tidak hanya menegakkan dirinya sebagai pelukis, tetapi juga sebagai sejarawan seni yang menuntaskan disertasi tentang Pita Maha, kelompok legendaris perintis seni rupa modern Bali era 1930-an. Kun menjadi guru besar sejarah seni di ISI Bali pada usia relatif muda. Latar belakang karier akademis yang panjang memperkaya praktik seni Kun.
Tonggak awal pembentukan identitas visual karya Kun dipancangkan pada 2006 melalui seri lukisan yang menghadirkan objek-objek biomorfis ganjil, imajinatif, dan tak beridentitas. Dari situ, gagasan sang perupa kemudian merambah simbol-simbol prasejarah seperti figur Venus, yang dimaknai sebagai metafora kesuburan dan ibu. Namun, alih-alih merayakan sang dewi, Kun justru menghadirkan ironi melalui representasi sosok yang terlukai, sebagai kritik terhadap relasi problematis manusia dengan alam.
Seri “bayi” menghadirkan nuansa yang berbeda pada perjalanan kreatif Kun selanjutnya. Jika sebelumnya karya-karyanya dipenuhi bentuk abstrak dan simbolis, maka pada seri ini muncul pendekatan realis-fotografis. Wajah-wajah bayi digambarkan dengan presisi tinggi, namun tetap menggunakan teknik garis sebagai basis utama. Ekspresi yang beragam pada citra bayi memberikan dimensi emosional yang kuat. Seri ini menjadi refleksi personal terkait kelahiran anak sang perupa, sekaligus metafora tentang harapan dan masa depan.
Berbarengan dengan seri lukisan “bayi”, Kun mengembangkan seri “teater tubuh”. Tubuh manusia digambarkan sebagai aktor dalam panggung kehidupan, dengan berbagai gestur dan peran yang mencerminkan konflik antara kebebasan dan hukum alam. Kehadiran topeng dalam sejumlah figur menegaskan gagasan tentang identitas yang berlapis dan performatif. Seri ini menunjukkan kemampuan Kun menggabungkan estetika klasik dengan sensibilitas kontemporer.

Sealur dengan penjelajahan tema ketubuhan, sang pelukis menggarap tema potret yang mengangkat beragam subjek, mulai dari rakyat jelata hingga selebritas dunia. Di sisi lain, dalam seri “alam dan bayang-bayang”, konsep bayangan dieksplorasi sebagai representasi realitas yang sementara dan ilusif. Penggambaran bayangan yang memanjang dan terpiuh menciptakan suasana puitis, magis, dan reflektif.
Eksperimen medium juga menjadi bagian penting dalam perjalanan artistik Kun. Dalam seri lukisan yang diciptakan ketika Kun mengikuti residensi di Amerika Serikat pada 2013, penggunaan cat air membuka kemungkinan baru dalam eksplorasi garis. Transparansi warna memungkinkan garis tetap dominan, namun dengan nuansa yang lebih cair dan ekspresif. Eksplorasi ini menunjukkan bahwa Kun tidak terjebak dalam satu pendekatan, melainkan terus mencari cara untuk memperluas bahasa visualnya.
Puncak kompleksitas konseptual Kun terlihat dalam proyek seni lukis “Yeh Pulu”. Selama bertahun-tahun, ia meneliti artefak prasejarah berupa pahatan dinding batu yang dikenal sebagai relief Yeh Pulu di Bali dan mengembangkannya menjadi karya seni rupa kontemporer. Relief Yeh Pulu terbentang sepanjang 25 meter, diperkirakan berasal dari abad ke-14 atau ke-15. Pahatan kuno misterius yang tidak diketahui pembuatnya itu menjadi titik tolak penting dalam penciptaan lukisan-lukisan Kun. Ia menafsirkan ulang narasi-narasi yang terdapat pada relief tersebut. Menentang interpretasi peneliti sebelumnya yang mengaitkan relief Yeh Pulu dengan mitologi dewa-dewa, Kun memandangnya sebagai gambaran kepahlawanan sehari-hari rakyat biasa. Ia secara kreatif menggunakan pengetahuannya sebagai sejarawan untuk memperkaya dan memberikan landasan intelektual yang kuat pada karya seninya. Seri lukisan “Yeh Pulu” memperlihatkan pencapaian kreatif Kun dalam menggabungkan riset, reinterpretasi sejarah, dan eksperimen teknik.
Lukisan abstrak mewakili fase kreatif terbaru yang lebih eksperimental. Dalam eksplorasi Kun di ranah seni lukis abstrak, warna menjadi medium utama untuk mengekspresikan gerak batin. Bukan berarti garis ditinggalkan. Seri lukisan mutakhir Kun memperlihatkan bahwa garis bukan lagi elemen yang sekadar digunakan untuk membangun bentuk, melainkan bangkit menjadi agen mandiri yang bebas. Dalam karya-karya figuratif Kun, garis hanya alat bagi bentuk untuk menyampaikan narasi. Namun, dalam karya-karya non-figuratifnya, garis berubah menjadi narasi itu sendiri. Garis seakan membebaskan diri dari penjajahan bentuk dan bergerak bebas menentukan dirinya sendiri. Meskipun terlihat dominan, warna dalam lukisan abstrak Kun sesungguhnya hanya latar bagi garis. Lukisan abstrak Kun seolah memurnikan garis: mengembalikan garis pada hakikatnya.

Reinterpretasi Tradisi Seni Lukis Bali
kualitas garis (linearitas), figurasi, narasi, proporsi, dan warna. Pameran PARAMA PARAGA memperlihatkan bagaimana fondasi klasik estetika Bali itu tidak hilang, melainkan ditafsirkan ulang secara radikal dalam bahasa rupa kontemporer.
Aspek garis menjadi titik temu paling jelas antara praktik seni Kun dan tradisi lukis Bali. Dalam tradisi seni lukis klasik Kamasan, garis bukan sekadar kontur, melainkan struktur utama pembentuk figur dan narasi. Hal itu tercermin sangat kuat dalam khazanah lukisan Kun yang berbasis garis. Sejak periode awal hingga perkembangan mutakhir, garis tidak hanya membangun bentuk, tetapi juga menjadi medan energi visual yang berlapis dan kompleks. Dalam lukisan khas Bali seperti gaya Kamasan dan Ubud, garis cenderung bersih, terukur, dan mengikuti pakem ikonografi. Dalam lukisan Kun, garis tampil ekspresif, bahkan “liar”. Jaringan garis yang rumit dalam dua dekade eksplorasi Kun memperlihatkan transformasi dari garis sebagai alat representasi menjadi garis sebagai pengalaman visual itu sendiri. Kun tetap setia pada prinsip linearitas seni lukis Bali, tetapi mendorongnya ke arah yang lebih eksperimental dan kontemporer.
Figurasi dalam karya Kun juga memiliki akar kuat dalam tradisi seni lukis Bali. Lukisan Bali lazim dipandang sebagai susunan figur pada latar, yaitu komposisi figuratif seperti pada layar pementasan wayang kulit. Komposisi mirip wayang tampak jelas dalam berbagai seri lukisan Kun. Figur-figur manusia ditampilkan dalam berbagai gestur dramatis, seringkali menyerupai adegan panggung atau teater. Dalam wayang, figur tidak hanya merepresentasikan tubuh, tetapi juga karakter, moral, dan kosmologi. Demikian pula, figur dalam lukisan Kun tidak berdiri sebagai citra realitas semata, melainkan sebagai simbol peran manusia dalam relasi kosmis.
Narasi merupakan elemen penting lain yang menghubungkan lukisan Kun dengan estetika Bali. Tradisi lukis Bali sangat erat dengan cerita—Ramayana, Mahabharata maupun kisah lokal. Dalam lukisan Kun, narasi tidak selalu eksplisit, tetapi tetap hadir sebagai lapisan makna. Misalnya, dalam lukisan reinterpretasi relief Yeh Pulu, Kun membangun narasi baru dari ikonografi kuno. Simbol-simbol tradisional tidak ditinggalkan, tetapi dipindahkan ke konteks global dan kontemporer. Ketika figur relief Yeh Pulu ditampilkan bersama mobil dan motor, misalnya, terjadi dialog antara lokal dan global—ciri penting seni rupa kontemporer.
Proporsi dan harmoni juga meresapi karya Kun, meskipun dalam bentuk yang lebih fleksibel. Dalam estetika klasik Bali, proporsi mengikuti pakem tertentu yang menghasilkan harmoni visual dan spiritual. Kesempurnaan garis, bentuk, dan keseimbangan sangat ditekankan. Dalam karya Kun, prinsip ini tidak ditinggalkan, tetapi dinegosiasi ulang. Misalnya, dalam seri “bayi”, proporsi wajah digarap dengan presisi real-fotografis, menunjukkan penghormatan pada keterampilan teknis dan harmoni bentuk. Namun, dalam seri “lukisan punggung” atau lukisan abstrak, proporsi menjadi cair. Harmoni tidak lagi berasal dari keseimbangan formal semata, tetapi dari dinamika visual dan energi garis. Kun menunjukkan bahwa konsep keindahan dalam tradisi seni lukis Bali dapat berkembang tanpa kehilangan esensinya.
Tradisi seni lukis Bali sering menggunakan warna yang bersifat dekoratif dan simbolis. Kun mengadopsi prinsip ini, terutama dalam penggunaan latar warna yang kontras dengan figur. Namun, ia juga memperluasnya melalui abstraksi warna, terutama dalam lukisan non-figuratif, tempat warna menjadi medium ekspresi emosional yang lebih bebas. Warna dalam dua dekade seni lukis Kun bergerak dari fungsi simbolis menuju fungsi ekspresif, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi Balinya.
Dalam konteks seni rupa kontemporer, lukisan Kun mencerminkan sensibilitas pascapop dan upaya menempatkan kelokalan dalam ruang dan waktu global. Kun tidak meninggalkan identitas lokalnya, tetapi menggunakannya sebagai titik berangkat untuk dialog dengan dunia internasional. Ia menunjukkan bahwa tradisi Bali bukan sesuatu yang beku, melainkan sumber yang dinamis untuk inovasi artistik.
Pameran PARAMA PARAGA memperlihatkan perjalanan kreatif membangun jembatan antara estetika klasik Bali dan praktik seni kontemporer global. Kun melanjutkan tradisi sekaligus memperluas kemungkinan estetika Bali. Di tangannya, estetika Bali menjadi ruang yang terbuka—tempat masa lalu dan masa kini bertemu untuk melahirkan kemungkinan baru. Pameran ini bukan hanya retrospeksi, tetapi juga proyeksi: pandangan ke depan tentang bagaimana fondasi seni rupa Bali dapat terus relevan di tengah perubahan zaman.





