Puisi-puisi Helvy Tiana Rosa
API DI BAWAH KULIT
Di atas lima puluh, perempuan penyair tidak lagi
menyisir rambutnya di depan cermin.
Ia menyisir reruntuhan.
Satu uban jatuh ke wastafel,
menjadi kabel putih yang menghubungkan tubuhnya
dengan kota-kota yang pernah terbakar di dalam dadanya.
Di lemari, gaun lama menggantung
seperti kulit kedua dari seorang perempuan
yang pernah percaya bahwa cinta memiliki alamat tetap.
Sepatu hitam di bawah ranjang menyimpan lumpur perjalanan,
trotoar jauh, tangga stasiun, dan suara seseorang
yang dahulu memanggil namanya
dengan mulut yang kini sudah menjadi benda mati.
Ia membuka laci. Di sana ada lipstik patah, tiket seminar,
kertas resep dokter, amplop honor yang tipis, foto anak-anak,
dan sebuah puisi lama yang menguning
seperti surat dari tubuh kepada pemiliknya sendiri.
Dapur menyala. Ketel air mendidih
seperti kepala kecil yang terus menjawab pertanyaan
yang tidak pernah ia tanyakan.
Ia menuang teh. Uap naik membentuk wajah-wajah
yang pernah dicintainya,
lalu pecah sebelum sampai ke langit-langit.
Di atas meja, buku catatan terbuka.
Halaman putih menatapnya
seperti pintu yang menunggu diketuk dari dalam.
Ia meletakkan tangan. Tangan itu tidak muda lagi.
Ada peta sungai di punggungnya,
ada jalan-jalan kecil yang ditarik waktu
menuju kuburan rahasia.
Tetapi dari jari-jari itu masih keluar huruf:
hitam, basah, tajam seperti kait besi
yang menarik mayat ingatan dari dasar sumur.
Ia menulis pelan. Setiap kata adalah tulang rusuk
yang dipasang kembali pada tubuh bahasa.
Setiap jeda adalah kursi kosong
tempat seorang perempuan duduk menghadapi dirinya
tanpa bedak, tanpa tepuk tangan, tanpa lelaki
yang merasa telah menciptakan matahari
hanya karena pernah dipanggil kekasih.
Di luar, malam menempel di kaca
seperti perban yang sudah lupa
luka mana yang sedang ditutupnya.
Orang-orang mengira ia sudah melewati musim api.
Mereka tidak tahu: di atas lima puluh,
api tidak lagi menyala di rambut, di pipi, di gaun merah,
di mata yang ingin dipercaya.
Api pindah ke bawah kulit.
Ia bekerja diam-diam seperti penyakit, seperti wahyu,
seperti mesin kecil yang terus menggiling kesedihan menjadi kalimat.
Menjelang subuh, ia berhenti menulis.
Di meja, puisinya terbaring seperti bayi tua
yang lahir dari rahim kertas.
Ia memandangnya lama.
Lalu cermin di dinding retak sendiri.
Dari retakan itu keluar seorang gadis muda
dengan wajah yang sama,
membawa luka yang sama,
menatapnya seperti menatap masa depan
yang akhirnya berhasil menjadi pisau.
Perempuan penyair itu tersenyum.
Ia tahu, usia tidak mengambil apa pun dari dirinya.
Usia hanya membuka pintu ke kamar terdalam tubuhnya,
dan di sana, seorang perempuan yang sudah berkali-kali mati
masih duduk menulis,
dengan darah yang tidak lagi merah,
melainkan sesuatu yang tak punya nama
dan terus mengalir.
( Medan, 2024)
IBUKU PADA MALAM IMLEK
Sebelum menjadi ibuku,
ia pernah menjadi gadis Tionghoa
yang tertawa di bawah lampion merah,
di sebuah sudut Medan,
ketika malam Imlek turun
seperti sutra hangat, di pundak Kesawan.
Rambutnya hitam,
matanya menyimpan kembang api kecil,
dan di tangannya jeruk-jeruk emas
berkilau seperti matahari mungil
yang baru turun dari altar leluhur.
Di Jalan Semarang,
bau mi, hio, teh panas,
dan kue keranjang
bercampur dengan suara sepeda,
lonceng toko, serta rahasia para perantau
yang menyimpan rindu, di balik laci kasir.
Ia tertawa. Tawanya pecah
menjadi kepingan manis
di udara Medan
seperti gula batu yang jatuh perlahan
ke dalam teh tua keluarganya.
Lalu waktu membawanya
ke Jakarta.
Glodok menyambutnya
dengan lorong-lorong sempit,
Petak Sembilan membuka pagi
dengan bau sayur, ikan asin,
dan doa-doa yang naik pelan
dari bibir orang-orang
yang belajar tabah, dalam banyak bahasa.
Di Pancoran, lampion menggantung
seperti jantung merah, di tubuh kota yang letih.
Kali yang keruh memantulkan cahaya Imlek
seperti memori, yang tak seluruhnya bersih,
tetapi tetap ingin berkilau.
Sebelum menjadi ibuku,
ia adalah gadis ceria
yang menyimpan hujan di dalam kipasnya,
menyimpan bulan di dasar mangkuk porselen,
menyimpan seluruh masa depan di balik senyum
yang belum tahu berapa banyak luka
kelak memanggilnya: Ibu.
Dan aku,
anak yang lahir dari rahim tawanya,
kelak berjalan dengan hijab di kepalaku,
membawa merah lampionnya
ke dalam doa-doaku,
membawa emas jeruknya
ke dalam sunyi sajadahku.
Kini setiap Imlek datang,
aku melihatnya lagi:
gadis Tionghoa dari masa lalu
berjalan di antara Medan dan Jakarta,
membawa jeruk, hio, lampion, dan sepotong tawa
yang masih berkilau, di sela-sela usia
Ibu,
engkau adalah tahun baru
yang berkali-kali datang ke hidupku,
membawa merah keberanian,
emas kesabaran,
dan doa yang terus menyala
di depan pintu rumah kita
(Jakarta, 2024)
BUKU DI ATAS MEJA OPERASI
Di atas meja,
sebuah buku terbuka
seperti dada kota,
setelah listrik ditembak mati.
Halaman-halamannya bernapas;
huruf-huruf bergerak
seperti semut hitam
mengangkut abu rumah,
gigi susu, dan suara ibu
yang tersangkut
di tenggorokan masa kecil.
Aku membaca. Tetapi buku itu
lebih dulu membedahku.
Dari paragraf pertama
keluar sebuah gang sempit,
kursi patah, hujan berbau besi,
dan seorang anak
yang kehilangan namanya
di antara dua tanda koma.
Setiap kalimat
adalah lorong rumah sakit:
di kiri, kamar ingatan;
di kanan, ruang jenazah bahasa;
di ujungnya, selembar seragam
menunggu tubuh
yang tak pernah pulang.
Buku membuat benda-benda
memiliki mulut.
Cermin bicara dengan pecahan wajah.
Jendela bicara dengan tulang cahaya.
Kursi bicara dengan punggung orang-orang
yang terlalu lama berpura-pura kuat.
Aku membalik halaman. Tubuhku pindah alamat.
Mataku tinggal di margin,
tanganku tersangkut pada debu indeks,
jantungku mengetuk sampul
seperti tamu asing di rumahnya sendiri.
Buku itu melipatku pelan:
dari tubuh menjadi kalimat,
dari kalimat menjadi luka,
dari luka menjadi ruang kosong
tempat seseorang kelak
meletakkan kepalanya dan berbisik:
di sini, pernah ada manusia
yang dibaca dunia sampai habis.
Malam turun.
Lampu meja mengecil
seperti mata terakhir
dari seekor binatang
yang sekarat di dalam alfabet.
Buku tetap terbuka.
Aku sudah selesai membaca,
tetapi kursiku kosong.
Di halaman terakhir
namaku tercetak kecil,
bukan sebagai penulis,
melainkan sebagai debu
yang gagal disapu
dari ingatan bahasa.
Lalu buku itu menutup sendiri.
Dari dalamnya
terdengar seseorang mengetuk,
pelan sekali.
Mula-mula seperti hujan.
Lalu seperti jantung.
Lalu seperti aku,
memohon dibuka
oleh pembaca berikutnya.
( Jakarta, 2024)
INONG
Di Aceh, perempuan-perempuan lama berjalan lebih dahulu
dengan laut di pundak dan azan di dalam darahnya.
Mereka tidak meminta sejarah membuka pintu;
mereka datang sebagai angin
yang membuat pintu malu kepada engselnya sendiri.
Safiatuddin menyalakan istana dengan cahaya kitab.
Di telapak tangannya, mahkota
bukan emas yang ingin dipandang,
melainkan bara kecil yang harus dijaga
agar negeri tidak menggigil di bawah jubah lelaki.
Malahayati membaca gelombang
seperti membaca wajah anak yatim.
Ia kumpulkan para janda perang menjadi satu armada,
dan menjadikan kehilangan sebagai perahu
yang berlayar menabrak kapal-kapal asing.
Cut Nyak Dhien tetap menyala
ketika hutan menyembunyikan jalan
dan umur memendekkan napasnya.
Dari tongkatnya, tanah belajar
bahwa perempuan bisa menjadi akar
yang menolak dicabut badai.
Cut Meutia melintas dalam kain duka,
Teungku Fakinah mengajar keberanian di dayah,
Pocut Baren memilih diam yang tajam
mereka berjalan dalam tubuh Aceh
seperti ayat yang belum selesai dibaca zaman.
Dan kini, di gampong yang ditinggalkan banyak pagi,
perempuan Aceh masa kini berjalan tersaruk-saruk mengikuti mereka.
Sandarnya bukan pedang, melainkan ijazah yang belum cukup,
upah yang tipis, jalan rusak, harga beras, dan anak-anak
yang harus tetap kenyang sebelum subuh.
Ia tidak selalu gagah.
Kadang ia menangis di kamar mandi,
menghapus air mata sebelum keluar membawa kopi.
Kadang ia jatuh di depan tagihan, di depan luka, di depan hidup
yang berkali-kali menawar harga dirinya.
Tetapi pada rambutnya masih tersangkut garam Ulee Lheue,
pada telapak tangannya masih tertinggal kapur ranup,
pada matanya masih ada Krueng Aceh yang gelap dan tabah.
Ia mungkin tak memegang rencong,
tetapi setiap hari ia menikam putus asa
dengan sendok nasi, buku anak, dan doa yang hampir patah.
Di malam-malam panjang, rapa’i berdetak dalam dadanya.
Itu suara para ibu dari bawah tanah memanggilnya
agar bangkit lagi setelah dunia
membuat lututnya menjadi debu.
Ia berjalan perlahan, tersandung, berdarah, tetap berjalan.
Di belakangnya, para sultanah, laksamana, ulama, dan pejuang
tidak memanggilnya dengan teriakan,
melainkan dengan cahaya kecil
yang jatuh dari sejarah ke bahunya.
Perempuan Aceh masa kini menunduk,
lalu menulis namanya di pasir: inong.
Laut datang hendak menghapusnya,
tetapi kali ini pasir menahan napas,
dan garam di seluruh pantai berbisik:
jangan hapus dia,
ia belum selesai menjadi kita.
(Banda Aceh, 2023)
RINDU YANG BERDIRI DI SUMSUM
Ya Allah, aku datang kepada-Mu
dengan tubuh perempuan yang telah lama memanggul dunia.
Di pundakku ada umur seperti karung gandum basah,
di telapak tanganku ada debu dari pintu-pintu yang salah kuketuk,
di mataku ada malam yang berkali-kali gagal menjadi subuh.
Tetapi di sumsumku, ya Rabb,
ada rindu yang berdiri tegak
di lorong paling putih tulangku,
seperti menara kecil
yang azannya hanya didengar luka
Aku telah memeluk dunia
seperti memeluk wajah sendiri di air:
tanganku basah oleh keinginan,
hatiku pulang sebagai pakaian tanpa tubuh.
Aku pernah menyembunyikan air mata
di balik senyum yang disetrika rapi,
menyebut luka sebagai baik-baik saja,
dan menyerahkan hati
kepada manusia-manusia
yang bahkan tak pernah
menemukan dirinya sendiri
Maka malam ini kubentangkan sajadahku.
Selembar kain kecil itu menjadi padang tanpa tepi
tempat aku menurunkan seluruh resahku:
dosa yang berkarat, umur yang pincang,
cinta yang pulang tanpa alamat,
dan hati yang terlalu lama buta pada cahya.
Aku sujud. Dahiku menyentuh bumi,
tetapi rinduku naik seperti burung terluka
yang tetap menghafal langit.
Air mataku jatuh satu-satu,
seperti biji kurma yang tak tahu
apakah tubuhku masih punya tanah
untuk menumbuhkan ampunan.
Lalu kusebut nama Nabi-Mu: Muhammad.
Ya Rasulullah,
aku hidup di zaman ketika manusia memiliki banyak layar
tetapi kehilangan wajah,
banyak suara tetapi kehilangan telinga,
banyak rumah tetapi asing kepada jalan pulang.
Dan engkau datang dari kejauhan waktu
seperti fajar yang tak pernah sombong pada gelap.
Bila kusebut namamu,
dadaku menjadi pintu tua yang terbuka perlahan.
Engselnya menangis. Kuncinya luruh.
Di dalamnya, seorang anak kecil yang lama tersesat
akhirnya melihat nyala di jendela.
Aku rindu kepadamu, ya Nabi
rindu yang tidak berhenti di lidah,
yang turun ke darah, ke tulang, ke ruang paling sunyi
tempat manusia tak sanggup berdusta kepada Tuhannya.
Aku iri kepada debu yang pernah mencium kakimu,
kepada pelepah kurma yang pernah mendengar suaramu,
kepada batu-batu Madinah yang pernah bergetar
ketika berkah lewat dalam langkahmu.
Sedangkan aku hanya perempuan dari abad yang terlambat,
mengirim salawat seperti burung kecil dari jendela rusukku.
Terbanglah, wahai salawatku.
Lewati malam, lewati jarak, lewati seluruh keangkuhan dunia.
Ciumlah ambang kekasih Allah, dan katakan:
di bumi yang jauh ada seorang perempuan
yang dadanya tak pernah cukup menampung hidayah,
yang menangis karena tak pernah melihat wajahmu,
tetapi merasa seluruh hidupnya sedang berjalan ke arahmu.
Ya Allah, bila kelak Engkau memanggilku,
jangan biarkan aku datang sebagai nama asing di beranda-Mu.
Kenali aku dari tangis dalam sujud,
dari rindu di sumsum, dari salawat yang kukirim
dengan suara patah dan hati gemetar.
Dan bila aku sampai di hari terakhir,
biarkan setetes air dari telaga Nabi menyentuh bibirku
agar seluruh haus dunia terbakar habis,
Tulangku berkata: Allah,
Ronggaku berkata: Muhammad,
tubuhku yang letih rebah di halaman rahmat.
Lalu cahaya membuka pintu dari arah yang tak kukenal,
dan sebuah suara lebih lembut dari air mata ibu memanggilku:
Kemarilah, perempuan yang jauh.
Rindumu telah sampai lebih dulu
daripada tubuhmu.
( Jakarta, April 2024)
*Helvy Tiana Rosa lahir di Medan, 2 April 1970. Ia telah menulis 90 buku sastra dalam beragam genre, sebagian sudah difilmkan dan diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Buku-buku puisinya antara lain: Mata Ketiga Cinta (2012), Duka Sedalam Cinta (2016), Perempuan yang Berdansa dengan Puisi (2017), Derana (2024), dan Jantung yang Berdetak dalam Batu (2025). Ia mendapatkan Penghargaan 40 Tahun Berkarya di Bidang Sastra dari Badan Bahasa, Kemendikdasmen (2025). Ia juga mendapat Anugerah Ilmuwan Senior Terbaik bidang Inovasi Sosial Humaniora, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (2005). Helvy merupakan Sarjana Sastra dari Fakultas Sastra UI, Magister Humaniora bidang Ilmu Susastra dari Fakultas Ilmu Budaya UI, dan Doktor bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra dari Universitas Negeri Jakarta. Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ ini menjadi 1 dari 23 Tokoh Indonesia yang masuk dalam daftar The World’s 500 Most Influential Muslims dari The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan, 2026. Buku terbarunya: Kumpulan Puisi Kota-Kota yang Tertidur di Pangkuan Rindu (2026) dan Berpuisi Sampai Mati: Seni Menulis, Membaca dan Menulis Puisi (2026)




