TRABASAN – TERAS BUDAYA M. A. ICKSAN

 TRABASAN – TERAS BUDAYA M. A. ICKSAN

Minggu, 31 Maret 2024 menjadi hari yang sangat spesial. Hari ini kami mengadakan syukuran Hari Jadi Kota Malang yang ke-110 sekaligus peluncuran single album ANDANG BACHTIAR DAN PENYELARAS yang berkolaborasi dengan VOICE OF MALANG. Menjadi sangat spesial karena di hari ini kami juga “meresmikan” TRABASAN, sebuah arena, tempat yang berada di teras rumah kediaman orang tua kami, Bapak Prof. Drs. Mas Achmad Icksan. TRABASAN, TERAS BUDAYA MAS ACHMAD ICKSAN, kami menisbatkan nama tempat kami kepada orang tua kami, Bp. Prof. Drs. Mas Achmad Icksan.

Mungkin bagi beberapa kalangan akan berpikir “maksa amat sih bikin singkatannya”. Tidak masalah karena ini dimaksudkan agar lebih mudah dan diingat oleh banyak orang terutama sekali para generasi muda/anak jaman now. Awalnya dinamakan TBM, lalu TBMAX dan terakhir kami lebih ‘sreg’ dengan nama TRABASAN. TRABASAN juga kami maksudkan sebagai kata ‘terabas’ yang bisa diartikan dengan memotong, menerobos, menerabas. 

Jika di dalam kegiatan alam orang yang memotong/menerabas adalah mereka yang berada di barisan terdepan atau bisa dikatakan sebagai pelopor, pembuat/pembuka jalan. Hal ini kami dedikasikan kepada almarhum bapak yang semasa hidupnya pernah menjadi pejuang di masa kemerdekaan dengan menerabas pertahanan musuh pada masa Agresi Militer Belanda. Bapak juga menjadi seorang pemuda pelopor dengan demikian semoga bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Kota Malang, umumnya Malang Raya dan lebih luas lagi Indonesia.

Semenjak tahun 2021 sudah beberapa kali even budaya dilakukan di Teras Rumah di Jl. Magelang No. 9 Malang yang berada di kompleks IKIP Malang ini. Pementasan/konser ANDANG BACHTIAR DAN PENYELARAS yang memang menjadikan Teras Rumah ini sebagai homebase/markasnya. Perbincangan, diskusi kebudayaan Bersama para pelaku seni budaya kota Malang. Pada setiap minggunya, Sket Ndek Kene melakukan kegiatan rutin untuk melepaskan ekspresi anak-anak muda Kota Malang dalam bentuk kegiatan menggambar sketsa.

Jauh sebelumnya, teras rumah ini semasa Bapak masih hidup telah menjadi ajang/tempat diskusi dari berbakai macam kalangan. Budayawan, akademisi/pendidik, seniman, aktifis LSM, Forum Kerukunan Umat Beragama dan tentunya para mahasiswa yang berkonsultasi terkait masalah skripsim tesis maupun disertasinya. Memuncak kira-kira awal 1990 ketika Bapak Prof. Drs. M.A. Icksan tidak lagi menjabat sebagai Rektor IKIP Malang. Ke depannya, semoga semakin banyak kegiatan-kegiatan kebudayaan yang bisa dilakukan di TRABASAN.

*****

Prof. Drs. Mas Achmad Icksan, pernah menjabat rektor Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Malang selama 2 periode: 1978 – 1982 dan 1982 – 1986. Wafat tepat 10 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Maret 2014 di Malang.  Lahir pada tanggal 5 Februari 1927 sebagai anak kedua dari 8 bersaudara; dari pasangan Bp. Ehsan (mbah San) yang seorang penjahit dan ibu Sakyani (mbah Nani). 

Melalui masa penjajahan Belanda dan Jepang Bp. Mas Icksan bersekolah dasar di SD Muhammadiyah Malang lalu melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Celaket Malang yang lulus pada 1943 seangkatan dengan Laksamana Soedomo mantan Pangkopkamtip semasa Orde Baru. Lalu sempat terhenti untuk melanjutkan ke tingkat SMA karena adanya pendudukan Jepang (1942 – 1945).

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1946 di masa Agresi Militer I, Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia, Bp. M. A. Ichsan libur sekolah. Beliau mendaftar dan bergabung ke dalam TRIP, Tentara Republik Indonesia Pelajar, Batalion 5000 Malang. Darah juang sebagai Arema memanggilnya untuk ikut berjuang memanggul senjata. Tergabung dalam satu batalion yang heroik yang dikomandani oleh Susanto. Batalion 5000 TRIP Malang terkenal pada pertempuran yang patriotik di Jl. Salak yang saat ini dikenal sebagai Jl. Pahlawan TRIP pada 31 Juli 1947. Komandan Susanto tewas digilas  oleh roda tank Sherman milik Belanda seperti dituliskan dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Jawa Timur yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya:

“Komandan Batalion Susanto terus menembak, hingga karabijnnya panas magazijnnya, kemudian menggantikannya dengan colt-pistol. Sambil berteriak: “Er zal een wonder gebew’en” (akan terjadi satu keajaiban): dengan colt-pistol di tangan kiri dan granat tangan digigit ditangan kanan, Susanto lari melompat ke punggung Sherman tank Belanda ini, ia naik, tetapi tiba-tiba sebuah peluru tajam dari belakang bersarang di punggungnya, hingga ia terjatuh. Tank ini berhenti sejenak lalu mundur dan badan Susanto digilas Sebagian oleh gigi-gigi roda laknat ini. Inilah keajaibannya: Susanto komandan Batalion TRIP 5000 gugur secara heroik, patriotik, konsekwen dengan pidatonya yang berapi-api sebagai komandan dan Ketua TPI, pelajar SPMA Malang ini”.

Adegan pertempuran ini pernah dibawakan dalam satu fragmen teaterikal oleh Andang Bachtiar saat usianya 14 tahun di jalanan yang sama lengkap dengan tank milik ABRI.

Berakhirnya Agresi Militer Belanda I, pada tahun 1948, Bp. Icksan kembali ke bangku sekolah. Beliau masuk ke Sekolah Menengah Atas Rooms Katholiek Algemene Middlebare School (RKAMS)  St. Albertus. Sekolah Katolik milik Belanda yang didirikan pada tahun 1936. Sekolah yang dikelola oleh Yayasan Sancta Maria milik Serikat para Imam dan biarawan Ordo Karmel ini dikenal juga dengan nama SMA Dempo.

Pada tahun 1950 selepas dari SMA, Bp. Icksan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya yang pada masa itu dinamakan BPTRIS-Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat Surabaja. Karena kondisi ekonomi yang tidak baik, Bp. M. A. Icksan terpaksa keluar kuliah pada semester kedua. Pada masa ini bapak  menemukan tambatan hatinya, ibu Lastri Padmi yang dinikahi pada tahun 1952. Dari hasil pernikahannya bapak dan ibu dikaruniai 11 orang anak, 6 laki-laki dan 5 perempuan. Andang Bachtiar adalah anak yang kelima. Setelah menikah bapak sempat mengajar di beberapa Sekolah Menengah Atas di Malang, salah satunya adalah SMA Ma Chung. 

Pada saat Unversitas Airlangga Surabaja membuka cabang  Pendidikan Guru di Malang dengan nama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Malang Universitas Airlangga pada tahun 1954, Bp M. A. Ichsan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa dengan nomor urut pertama (1) pada masa kuliah  tahun 1955/1956 dengan mengambil jurusan Sastra Timur. Pada saat Bapak memulai kuliah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Malang Universitas Airlangga yang menjadi rektornya adalah Prof. Sutan Adam Bachtiar. Bapak teramat kagum kepada Prof Sutan Adam Bachtiar sehingga menamakan anak  kelimanya dengan memakai nama Bachtiar, Andang Bachtiar. Kelak Bapak menjadi rektor di almamaternya pada 1978.

Pada masa kuliah di PTPG Malang  ini Bp. M. A. Icksan mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Malang bersama beberapa mahasiswa PTPG lainnya dari berbagai jurusan. Bp. M. A. Icksan menjadi ketua dan anggota pertama HMI Malang. Setelah lulus dari PTPG Malang dengan gelar doktorandus,  Bp. M.A. Icksan menjadi dosen di almamaternya. Kemudian PTPG Malang berubah menjadi IKIP Malang pada 1963 dan menjadi rektor yang kedelapan dan kesembilan (2 periode) dari 1978 hingga 1986. Sejak tahun 1954 Universitas Negeri Malang telah dijabat oleh 16 orang rektor.

Perjuangan Bp. Prof. Drs. M. A. Icksan harus terhenti pada 28 Maret 2014, tepat 10 tahun lalu. Allah SWT memanggil untuk menghadapNya pada 23:00. Sebelumnya Ibu Lastri Padmi mendahului Bapak pada 5 Agustus 2011. Pada saat Bp. M. A. Icksan wafat, Andang Bachtiar anaknya yang kelima beserta istri, Retno Pamedarsih, sedang Bersiap untuk mengajar Sedimentologi mahasiswa dari STTNAS dan AKPRIND di Pantai Samas, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 29 Maret 2014 yang dilanjutkan dengan memonitor perkembangan pembuatan Album Hitam Putih Orche Leo Kristi – Singgih Sanjaya. Dengan menyewa mobil pada jam 03:00 dini hari karena tiket kereta sudah habis akhirnya sampai di rumah duka pada pukul 13:30 saat jenazah Bapak sudah diangkat untuk dibawa ke Pemakaman Sumbersari. Kini kedua jasadnya meluruh berdampingan di Pemakaman Sumbersari, 900 meter di sebelah barat rumah.

Semoga ini semua bisa menjadi bhakti anak-anak untuk kedua orang tua kami. Alfaatihah.

Malang 31 Maret 2024

Ahmad Nasuha, Tim Manajemen ANDANG BACHTIAR DAN PENYELARAS