Candi Tikus Trowulan

Membaca Ulang Perdebatan Ada dan Tidaknya Kanal Majapahit

Oleh Mawas Sukma Bening*

Masalah

Pendapat Agus Aris Munandar mengenai tidak adanya kanal di Majapahit sampai sekarang masih relevan untuk dibicarakan. Sejak semula dilontarkannya sembilan tahun lalu pada sebuah ceramah di Universitas Indonesia pada Kamis awal Maret 2013, gagasan Agus itu langsung menyulut kontroversi.  Sampai kini banyak arkeolog dan pemerhati Trowulan yang menolak mentah-mentah pendapat itu. Namun juga di sana sini ternyata dalam rentang sembilan tahun itu terdapat beberapa pendapat yang paralel dengan pemikiran Agus.   

Seperti diketahui argumentasi Agus Aris Munandar bertolak pada tiga pemikiran utama. Pertama. Tidak adanya satupun relief-relief di candi-candi yang dibangun di masa Majapahit yang menggambarkan adanya kanal-kanal. Dari candi-candi di  Blitar sampai Pasuruan, dari  candi-candi di Kediri sampai Jombang , dari candi-candi  di Probolinggo  sampai Tulungagung menurut Agus tak ada satupun pahatan reliefnya yang bisa diasosiasikan dengan gambar kanal lebar memanjang. Agus mengatakan memang benar terdapat relief yang mengilustrasikan sungai atau telaga tapi tidak untuk kanal. Juga tak ada relief satupun yang menampilkan bentuk-bentuk perahu dan kapal sebagaimana Borobudur misalnya.

Kedua. Setelah membaca banyak terjemahan karya sastra sezaman seperti Negarakertagama, Kidung Ranggalawe, Kitab perjalanan Bujangga Manik ataupun sastra-sastra yang dibuat paska Majapahit seperti Pararaton, Kidung Sunda, Agus menyimpulkan tidak satupun kitab-kitab itu yang menceritakan atau mendeskripsikan adanya parit-parit besar, kanal-kanal besar panjang di Majapahit. Demikian juga dari berita-berita para traveler Cina yang mengunjungi Majapahit  seperti Catatan Ma Huan, sama sekali tak pernah diceritakan Majapahit adalah kota yang memiliki kanal dan jaringan transportasi air.

Ketiga, argumentasi  yang menurut saya paling kuat (dan terus harus diperkuat) adalah Agus mengemukakan fakta bahwa melalui eksvakasi terhadap beberapa titik lokasi pada jalur-jalur yang selama ini ditafsirkan sebagai kanal berdasar foto udara Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) pada tahun 1973 ternyata ditemukan struktur bata, pecahan gerabah dan jobong-jobong atau sumur penduduk .

Temuan ini mementahkan penelitian sebelumnya yang mengandaikan bahwa di bawah jalur-jalur yang lebarnya bervariasi – dari 12 M sampai  45 meter itu (yang kini permukaannya banyak menjadi sawah dan ladang) karena dahulunya kanal maka di dalamnya pasti tidak ada bekas material apa-apa. Penelitian Karina Arifin pada tahun 1983 misalnya menyatakan di kedalaman jalur-jalur itu hanya  endapan lumpur sampai 4 meter.  Selain Karina yang berpendapat bahwa di dalam jalur-jalur yang dipotret Bakosurtanal itu tidak ditemukan –sisa-sisa bangunan atau apa – adalah para geolog UGM pada tahun 80-an. Dengan menggunakan metode geolistrik, geomagnet para geolog UGM itu menyatakan tidak menemukan lapisan padat. Pengeboran yang dilakukan oleh Tim Hidrologi Universitas Gajah Mada di 100 titik melintang kanal juga menunjukkan bahwa jalur-jalur tersebut hanya memiliki lapisan lumpur yang tebal dan dalamnya berkisar antara dua sampai empat meter.

Akan tetapi Agus bersama tim Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia yang melibatkan mahasiswa arkeologi empat perguruan tinggi UI, UGM, Udayana dan Unhas yang melakukan eksvakasi pada tahun 2012 di kawasan cekungan barat lantai Segi Enam Sentonorejo yang selama ini dianggap bagian dari jalur utama kanal menemukan struktut batu bata, fragmen gerabah dan keramik dan jobong (sumur). Lokasi situs antai segi enam  sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi Kedaton. Ini adalah data baru yang penting. Bagi Agus tidaklah masuk akal bila di masa Majapahit di tengah-tengah kanal ada pembuatan sumur. Potret udara Bakorsutanal yang menunjukan jalur-jalur itu yang bila ditelusuri  ternyata berujung ke sebuah candi yaitu candi Tikus juga dianggap Agus tidak masuk akal bila kemudian jalur-jalur itu tetap  diartikan sebagai kanal. Sebab itu logikanya akan membuat Candi Tikus tenggelam. 

Trowulan

Trowulan dari udara. Foto: https://jogja.tribunnews.com

Candi Tikus Trowulan

Candi Tikus Trowulan. Foto oleh Yono Ndoyit.

Agus adalah seorang arkeolog yang selalu mempertautkan situs dengan konsep keagamaan. Setelah melihat adanya  temuan sumur, struktur bata, fragmen keramik dan gerabah di salah satu jalur yang selama ini dianggap kanal, Agus berpendapat apa yang selama ini dipercaya sebagai kanal sesungguhnya adalah pemukiman. Jalur-jalur panjang yang dari udara tampak saling berpotongan menurut Agus adalah lahan pemukiman rakyat kebanyakan atau kaum jelata. Bagaimana bisa Agus menafsirkan itu pemukiman rakyat jelata? Menurut Agus pemukiman di  Trowulan berdasar konsep pembagian Bhurloka-Bhuwarloka-Swarloka. Terdapat pembagian geografis antara pemukiman rakyat biasa, kaum bangsawan atau orang-orang berada dan para kerabat istana.

Letak pemukiman kerabat istana selalu di dataran yang paling tinggi. Kaum bangsawan ada di tengah-tengah. Dan rakyat kebanyakan di dataran paling bawah. Agus melihat jalur-jalur yang selama ini dianggap kanal adalah jalur-jalur tanah yang direndahkan. Makanya dia berpendapat jalur tersebut sesungguhnya merupakan pemukiman rakyat biasa. Sementara di kawasan Kedaton dan Sumur Upas yang memang di Trowulan posisinya lebih tinggi daripada yang lain merupakan pemukiman kalangan istana. Yang menarik bagi saya cara penalaran Agus juga bertolak dari foto udara yang dibuat Bakosurtanal di atas. Dari foto udara tersebut tampak jalur-jalur berpotongan dengan pola sembilan grid (kotak). Secara orisinil Agus berpendapat sembilan kotak itu sebetulnya pola pengelompokan pemukiman berdasar konsep keagamaan Hindu Sanga Mandala.   

Betapapun  tak menganggap jalur-jalur dalam potret udara itu sebagai kanal, Agus sejatinya tak  menampik bahwa Trowulan adalah sebuah ibu kota dengan tata kelola air yang luar biasa. Namun dalam bayangannya Trowulan bukanlah kota dengan kanal-kanal yang dilalui transportasi air hilir mudik sebagaimana pernah dilustrasikan dalam laporan utama Majalah National Geographic. Dalam majalah itu Trowulan digambarkan sebagai kota dengan perahu-perahu besar dan kecil lalu lalang di jantung kota tak ubahnya Venesia. Apalagi seperti imajinasi filolog lulusan UGM Irawan Nugroho yang menulis buku: Majapahit Negara Maritim yang membayangkan kanal-kanal Majapahit bisa dilalui oleh armada kapal Majapahit.

Dalam laporan eksvakasi Penelitian Arkeologi Terpadu 2012 Agus secara menarik memiliki bayangan lain. Agus membayangkan Trowulan sebuah kota yang penuh saluran-saluran alir besar kecil yang mengalirkan Amertha atau air suci dari Patirthan Kedaton (istana) ke seluruh penjuru kota sampai ke pemukiman-pemukiman rakyat jelata. Menurut saya bayangan Agus mengenai tata air suci  Trowulan ini  terasa tak kalah “spektakuler” dan “merangsang daya imajinasi” dibanding bayangan Trowulan memiliki kanal-kanal. Toh terasa cukup masuk akal dan ada pendasaran konsep agama yang kuat.

Menurut Agus raja-raja di Majapahit memosisikan dirinya sebagai dewa raja. Mereka menampilkan diri sebagai titisan dewa. Menurut Agus, air yang digunakan sehari-hari oleh raja dan kalangan kerabatnya setara dengan air Amerta atau air suci. Air bekas yang digunakan raja menurut Agus bagi rakyat kebanyakan dianggap membawa berkah. Agus menganggap Sumur Upas yang ada dilokasi situs Kedaton dahulunya adalah patirthan Raja Majapahit dan kerabatnya. Di petirthaan inilah sang raja sehari-harinya mandi. Masyarakat Trowulan sendiri kini mempercayai situs kedaton dulu memiliki kolam yang dijadikan tempat  kungkum raja. Air dari Sumur Upas juga dipercaya masyarakat setempat dulunya digunakan untukan mencucui tosan aji atau keris-keris kerajaan yang dianggap memiliki tuah. Dari hasil eksvakasi di sekitar Kedaton tim gabungan UI-UGM-Unhas-Unud memang menemukan saluran-saluran air yang semuanya mengarah ke Sumur Upas. Menurut Agus, itu menandakan air bekas mandi raja ini kemudian dialirkan keluar dari patirthan Sumur Upas dan didistribusikan ke pemukiman-pemukiman lain seperti pemukin bangsawan melalui saluran-saluran air khusus yang berjenjang dalam ukuran dan fungsinya.

Menurut Agus air dari patirthan itu juga meresap ke dalam tanah di seluruh kawasan Majapahit. Dia melihat rakyat jelata yang tidak memiliki saluran air khusus untuk mendapatkan air suci bekas mandi atau kungkum raja itu kemudian “menambang” air suci tersebut dengan cara membuat sumur-sumur yang dindingnya dibuat dari tanah liat bakar yang disebut jobong. Itulah sebabnya di pemukiman rakyat jelata banyak terdapat jobong-jobong. Selain memang untuk mendapatkan air untuk kehidupan sehari-hari, Agus memperkirakan itu juga digunakan untuk mendapatkan air suci bekas raja. Di kawasan Nglinguk Trowulan misalnya bisa ditemukan puluhan jobong pada sebuah areal yang tidak terlalu luas.

Situs Saluran Air Nglinguk Trowulan. Foto: Kebudayaan.Kemdikbud.go.id

Terasa “fantastis” teori Agus. Tapi apakah  betul demikian? Mengapa meski lebih masuk akal dan sama-sama menunjukkan tata kelola air – teori air suci yang didistribusikan ke seluruh kota sebagaimana  diungkapkan Agus ini tak begitu familiar pada  budayawan dan aktivis-aktivis Trowulan? Begitu kuatkah teori kanal tertanam pada benak para pemerhati Trowulan misalnya? Tulisan ini hendak mencoba melihat kembali perdebatan mengenai ada dan tidaknya kanal di Majapahit.

Metode tulisan ini adalah dengan membandingkan pendapat Agus di atas dengan temuan-temuan baru yang belum sempat dibahas Agus. Agus memaparkan teori tidak adanya kanal pada tahun 2013, setahun setelah ia terlibat dalam Penelitian Arkeologi Terpadu. Selama tujuh tahun ini terdapat beberapa temuan kecil maupun lumayan di sekitar bagian kota Majapahit. Tulisan ini ingin melihat apakah temuan-temuan tersebut mendukung teori Agus atau melemahkan teori Agus.

Temuan-temuan Baru di Trowulan

Pada bulan Juni tahun 2015 di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan ditemukan  struktur batu bata. Struktur batu bata tersebut berupa dinding air yang berbelok. Bentuknya unik karena melintang pada arah yang berbeda. Dua dinding membujur ke utara dan selatan sepanjang 3,57 meter dan 2,7 meter, serta dinding mengarah ke barat daya sepanjang 1,4 meter. Kedalaman atau tinggi dinding ini sekitar 45 sentimeter. Sayangnya, dimana ujung pangkal struktur batu bata ini masih belum diketahui. Di ujung Barat daya masih terpendam dalam tanah dan di atasnya jalan setapak. Di ujung satunya juga terpendam dalam tanah setinggi lebih kurang 1 meter dan merupakan sawah milik pribadi. Para arkeolog dari BPCP Trowulan menganggap bahwa temuan ini adalah bukti adanya kanal. Temuan ini dianggap bisa mematahkan pendapat Agus.

Saya belum pernah mengunjungi Dusun Nglinguk. Akan tetapi – dari melihat foto-foto -secara kasat mata    dilihat dari bentuknya saja, menurut saya struktur batu bata di Trowulan ini tidak layak disebut kanal. Pengertian kanal adalah sebuah saluran yang memiliki kelebaran besar sekitar 20 meter atau  lebih. Sementara dinding air yang ditemukan di Desa Nglinguk itu lebih layak disebut saluran air. Apalagi kedalamannya cuma sekitar 40 cm. Tentu jauh dengan kedalaman sebuah kanal yang semestinya bisa meteran. Contoh kanal kongkrit misalnya adalah kanal-kanal Batavia. Kedalamannya bisa lebih dari dua meter.

Menurut saya penemuan saluran air di Dusun Nglinguk tersebut justru memperkuat pendapat Agus Aris Munandar. Seperti dikatakan di atas di Dusun Nglinguk banyak ditemukan jobong-jobong. Diperkirakan Agus jobong-jobong itu selain untuk kebutuhan mendapatkan air bersih untuk kehidupan sehari-hari juga untuk “menambang” air suci dari istana yang meresap. Saluran-saluran kecil yang ditemukan di dusun Nglinguk itu menurut saya pasti memiliki korelasi dengan jobong-jobong itu. Entah digunakan sebagai saluran irigasi atau saluran air yang menghantarkan air ke rumah-rumah penduduk.

Temuan kedua yang berhubungan dengan saluran air agak di luar Trowulan. Yaitu di Jombang. Pada Juni  2019 warga  Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang menemukan sebuah struktur batu bata saat membersihkan sendang. Lokasi sendang berada di tengah sawah sekitar 1 km dari permukiman penduduk. Saat air sendang dikuras, warga menemukan tumpukan dari bata merah tertutup lumpur. Begitu lumpur dibersihkan sebagian, ternyata tumpukan bata merah itu berbentuk struktur  dengan  ketinggian sekitar 3 meter. Panjang bangunan yang sudah nampak baru sekitar 10 meter. Tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim untuk meneliti struktur batu bata tersebut sampai menguras air dalam sendang tersebut.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, bagian situs yang tersingkap baru sepanjang 14 meter. Lebar struktur dari bata merah ini mencapai 1,5 meter. Tepat di bagian tengahnya terdapat lubang selebar 55 cm sebagai saluran air. Kedalaman saluran air tersebut mencapai 205 cm yang tersusun dari 35 lapis bata merah kuno Ia menjelaskan, konstruksi saluran air kuno ini dibuat tertutup. Karena pada beberapa bagian ditemukan penutup dari bata merah kuno. Pada masa lalu, kanal dibuat tertutup untuk memastikan air bersih tak tercemar kotoran. Saluran air ini menurut Dwi nugroho untuk mendukung kebutuhan air bersih sebuah permukiman besar.

Menurut saya apa yang ditemukan di Desa Sumberbeji itu tidak lebih kurang sama dengan saluran-saluran air yang ditemukan di Desa Nglinguk, Trowulan. Bukan kanal. Tapi saluran air bersih. Bedanya saluran air di Desa Sumberbeji jenisnya adalah saluran air tertutup. Desa Sumberbeji sendiri berada di luar area yang dipotret oleh Bakosurtanal. Ditemukan saluran-saluran air di Desa Sumberbeji sendiri membukikan bahwa memang saluran-saluran air yang berfungsi menyalurkan untuk irigasi atau air bersih  ke permukiman-pemukiman rumah tangga adalah sesuatu yang normal dimana-mana, di sekitar Trowulan. Tak hanya di pusat Trowulan.

Temuan yang paling fenomenal dan penting selama tujuh tahun terakhir ini di Trowulan  adalah temuan di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto pada Oktober 2019. Lokasi desa Kumitir  tak jauh dari Petirtaan Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu. Temuan itu berupa struktur tembok bata kuno panjang berupa talud atau dinding penahan bangunan yang membujur ke utara dan selatan. Talud kuno yang telah disingkap dalam eksvakasi BPCB Trowulan panjangnya sudah lebih 100 meter. Betapapun demikian talud itu tampak jauh lebih panjang dari 100 meter. Sebab sisa panjang talud  itu belum selesai digali oleh BPCB. Diperkirakan secara keseluruhan panjang total struktur tembok bata kuno ini lebih dari 200 meter. Diprediksi luasan situs berbentuk talud atau dinding penahan tanah ini memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Artinya, luasan lahan yang bakal diekskavasi sekitar 16 hektar.

Talud itu  tersusun dari bata merah kuno yang masing-masing mempunyai dimensi panjang  32 cm, lebar 18 cm serta memiliki ketebalan 6 cm. Lebar talud sekitar 1,5 meter. Akan halnya tinggi talud Kumitir dari pondasi sekitar 2 meter. Jika dihitung, untuk membuat talud setinggi itu diperlukan kurang lebih 23 buah bata merah yang ditumpuk dan sudah melalui proses penggosokan untuk menempelkan satu dengan lainnya. Kondisinya sangat lekat. Tidak mudah prothol (tercerai berai). karena satu dengan lainnya seakan dilekatkan dengan perekat yang kuat. Yang menarik di setiap jarak 5 meter terdapat semacam pilar, yang juga terbuat dari bata merah.

Talud  ini diperkirakan untuk  mencegah luapan banjir dari Sungai Brangkal atau Pikatan. Secara geografis posisi situs Kumitir berada di dataran banjir Sungai Brangkal. Diperkirakan untuk menatasi air yang meluap ke atas  dibuat  talud supaya air tidak naik. Dari hasil eksvakasi sepanjang 100 meter struktur bata kuno terbagi dalam tiga titik. Yang utuh memanjang dari selatan ke utara sepanjang 70 meter, di tengah 20 meter dan di sudut 10 meter. Tim BPCB baru menemukan satu struktur talud yang  membentuk sudut di sisi timur laut. Sementara di sisi barat daya, belum menemukan struktur sudut yang tersambung dengan struktur bata kuno ini. Di atas talud tersebut diperkirakan terdapat bangunan suci yang kini belum ditemukan sisa-sisanya. Talud itu  dibangun sebagai penahan tanah sekaligus berfungsi sebagai batur dari sebuah pelataran banunan suci dengan cara menguruk bagian dalamnya dengan tanah.

Saya melihat keberadaan talud ini sangat penting. Ini bukti bahwa untuk membendung kemungkinan banjir, penguasa Majapahit telah mengenal teknik tembok penyangga atau tembok penahan. Menurut saya penemuan talud kuno justru dapat menguatkan pendapat Agus Aris Munandar mengenai tidak adanya kanal besar di Majapahit. Sebab menurut saya semestinya bila memang di Majapahit terdapat kanal-kanal besar berdiameter sekitar 40 meter tentunya telah ditemukan talud-talud sebagaimana di Desa Kumitir. Logikanya adalah: lebar saluran air di Desa Kumitir yang hanya 1,5 M saja memerlukan dinding-dinding penyangga setinggi 2 meter dengan dinding yang tebalan. Seharusnya bila memang di trowulan terdapat kanal-kanal besar yang panjang tentunya terdapat sisa-sisa talud demikian yang jauh ebih tinggi dan tebal. Namun demikian sampai sekarang belum ditemukan talud-talud penyangga kanal tersebut.   

Soal talud ini menarik. Sebab dua tahun sebelum penemuan talud di desa Kumitir tersebut geoarkeolog UGM Susetyo Edi Yuwono pada sebuah seminar di tahun 2017 juga beranggapan bahwa dasar kanal lemah karena terutama menurutnya  adalah tidak ditemukan jejak talud atau tanggul-tanggul pada apa yang diperkirakan jalur kanal. Tubuh kanal dengan dimensi sebesar itu menurut Yuwono seharusnya memiliki konstruksi dinding (talud) yang masif dan kuat untuk mencegah erosi dan longsor dinding. Apalagi situs ini terletak di kaki kipas fluvio volkanik yang tersusun atas sedimen berbutir lepas yang rentan terhadap erosi. Struktur penguat dinding seperti talud sejauh ini baru dijumpai di Segaran dan beberapa petirtaan.

Lebih jauh lagi Susetyo Edi Yuwono mengatakan dugaan kanal kurang meyakinkan karena selain tidak adanya talud juga  sampai saat ini tak terdapat jejak  konstruksi jembatan besar. Menurut dia kanal yang lebarnya 45 meter pasti memiliki konstruksi jembatan besar. Jaringan kanal dengan dimensi dan pola seperti itu, apalagi banyak berpotongan dengan jalan menurut Susetyo Edi Yuwono tentunya memerlukan banyak titik penyeberangan berupa jembatan jembatan  panjang. Struktur jembatan menurut Yuwono seharusnya menjadi data arkeologi yang paling dominan di Trowulan. Kenyataannya, penelitian sejauh ini belum pernah menemukan indikasi keberadaan jembatan yang dimaksud.

Secara logika  pengerukan tanah untuk pembuatan jaringan kanal besar -bila benar itu kanal menurut Susetyo Edi Yuwono jelas berpengaruh besar terhadap perubahan topografi Trowulan. Tanah hasil gapuan kanal sebanyak itu dibuang kemana? Padahal hanya sebagian lapisan saja yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk membuat bata. Menurut Yuwono sampai sekarang tidak pernah ditemukan asil sampingan/akibat dari pembuatan kanal. Adanya tanggul, talud atau turap yang peninggian bibir kanal sesungguhnya bisa menjadi bukti kuat bila memang kanal itu ada.Tapi sampai sekarang itu tak ditemukan.

Perihal Tafsir  Triloka dan Kemungkinan Anakronism

Demikian dengan dasar argumentasi perbandingan di atas, saya cenderung sepakat dengan pendapat Agus bahwa memang tidak terdapat kanal di Majapahit. Saluran air, bak-bak air, waduk , kolam-kolam, sumur-sumur memang menjadi jantung di Majapahit. Namun tidak kanal dalam artian kanal besar yang berdiameter 40 meteran. Majapahit tidak memiliki kanal yang bisa dilalui oleh perahu-perahu seperti yang pernah saya saksikan ketika mengunjungi Venesia yang umurnya ratusan tahun lebih tua dari Majapahit. Venesia dibelah oleh sebuah kanal yang sangat besar. Kanal ini boleh dibilang jalan raya utama. Di sini lalu lintas kapal-kapal motor dan speet boad sebagai transportasi umum dan transportasi pribadi lalu lalang.

Di kanan kiri kanal besar adalah kota Venesia dengan museum, gereja-gereja, kafe-kafe, pasar-pasarnya, plaza-plaza,  galeri-galeri, flat-flat, losmen-losmen, hotel-hotel, toko-toko souvenir, museum-museum. Baik sisi kiri dan kanan Venesia memiiki kanal-kanal kecil  sendiri yang bagai jaringan peredaran darah masuk sampai sudut kota  mana pun. Di perpotongan-perpotongan tertentu terdapat jembatan-jembatan yang melintasi kanal kecil. Jalan ini penghubung kawasan satu ke kawasan lain. Kanal-kanal kecil ini sendiri bisa dilalui gondola-gondola atau sampan-sampan. Sementara jalan-jalan dan jembatan-jembatan hanya bisa dilalui sepeda atau sepeda motor tidak mobil. Majapahit bukan kota dengan transportasi air sebagai transportasi utama  seperti Venesia demikian.

Betapapun sepakat dengan pendapat Agus mengenai tidak adanya kanal di Majapahit, saya ingin sedikit mengkritisi pendapat Agus mengenai pembagian wilayah lahan pemukiman berdasar konsep triloka. Seperti dikatakan di awal makalah ini, Agus berpendapat bahwa pembagian hunian antar kelas di Majapahit berdasar tingkataan letak tataran tanah: lahan uttama, madya dan nista. Kelas paling atas – kelas istana Majapahit bermukim di tanah yang agak membukit (tanah uttama), sementara bangsawan, orang-orang kaya serta kelas menengah Majapahit mendirikan rumah-rumahnya di tanah Majapahit yang  datar (tanah madya), sementara kalangan rakyat jelata –karena secara geografis lahan di Majapahit semuanya cenderung sama datarnya – maka  harus menghuni kawasan yang bagian tanahnya sengaja  direndahkan. Jalur-jalur panjang hasil potret udara Bakosurtanal menurut Agus adalah pemukiman kelas rakyat jelata yang menempati tanah-tanah yang direndahkan.

Pada titik ini menurut saya ada sedikit persoalan. Adalah kurang masuk akal jalur sedemikian panjang semuanya adalah tempat hunian kaum rakyat jelata yang disebut nista. Agus memperkirakan di masa sekarang tataran lahan uttama Majapahit berada di kawasan selatan Trowulan yang kontur tanahnya agak membukit yaitu kawasan Kedaton, Sentonorejo dan Plintahan adalah daerah uttama. Sementara kawasan lahan madya berada di lokasi tengah-tengah Trowulan yaitu kawasan Tegalan, Nglinguk dan Kraton. Adapun daerah kawasan lahan nista yang dahulu dihuni oleh rakyat jelata Majapahit letaknya sekarang berada di daerah-daerah sebelah utara Trowulan yaitu kawasan sekitar Desa Bejijong dan desa Palem.

Menurut saya di sini pendapat Agus agak menampilkan anakronisme sejarah terutama tatkala menyebut kawasan desa Bejijong sekarang – dahulu adalah kawasan nista yang menjadi lahan hunian kaum rendahan Majapahit. Desa Bejijong faktanya adalah desa tua yang ratusan tahun sudah ada sebelum Majapahit berdiri. Di Desa Bejijong pernah ditemukan prasasti tembaga Alasantan yang bertarikh 939 M. Prasasti ini dikeluarkan oleh Mpu Sindok. Mpu Sindok memerintahkan agar tanah yang berada di kawasan Alasantan dijadikan tanah sima atau tanah suci. Prasasti ini artinya kurang lebih ditulis 500 tahun sebelum Majapahit dibangun. Dalam prasasti itu disebutkan kata Warahu atau Wanaru yang disebut sebagai bangunan suci keagamaan.

Para epigraf memperkirakan bangunan suci bernama Waharu itu adalah asal muasal Candi Brahu – candi Majapahit  yang lokasinya tak jauh dari Bejijong. Itu artinya jauh sebelum didirikan Candi Brahu, lokasi tempat berdirinya Candi Brahu sudah menjaadi lokasi bangunan suci. Candi Brahu di zaman Majapahit dengan kata lain memiliki kesinambunangan dengan bangunan suci Warahu pada zaman Mpu Sindok, sebuah kesinambungan yang berumur ratusan tahun.  Kita dapat membaca: masyarakat keagamaan Majapahit adalah masyarakat yang senantiasa menjaga kesinambungan atau kontinuitas beragama. Tempat-tempat suci pada zaman sebelum Majapahit seperti Waharu diirenovasi, diperbarui  dijadikan bangunan suci baru pada zaman Majapahit. Berdasar analisa ini maka dari itulah saya melihat pandangan Agus yang menempatkan lokasi Desa Bejijong sebagai lahan berkarakter nista adalah meleset. Tidak mungkin daerah yang tadinya uttama kemudian menjadi daerah nista. Apalagi nama candi yang berada di lokasi Bejijong masih melanjutkan nama bangunan suci sebelumnya.

Harap diingat juga Desa Bejijong adalah desa yang dianggap warga menjadi lokasi petilasan Raden Wijaya bersama permaisuri dan selir-selirnya. Bila kita berkunjung ke Desa Bejijong terdapat kompleks  pemakaman bernama Siti Hinggil. Di situ terdapat beberapa nisan. Pertama nisan yang dianggap merupakan nisan Raden Wijaya. Makamnya lebih besar dan panjang dibanding nisan-nisan lain yang ada di situ. Kemudian terdapat empat makam lain, yaitu: Permaisuri  pertama, Garwo Padmi Gayatri, dua istri selir, Garwo Selir Ndoro Pethak dari Cina dan Garwo Selir Ndoro Jinggo; serta Abdi Kinasih atau abdi dalem Keraton Majapahit. Meskipun makam-makam tersebut pasti bukan makam sesungguhnya Raden Wijaya dan permaisurinya – karena secara logika jasad Raden Wijaya di zaman dahulu pasti dibakar karena beragama Hindu, namun dapat dibaca –dipilihnya kawasan Bejijong sebagai lokasi makam Raja tentu mengandaikan sejarah Bejijong adalah sejarah kawasan mulia atau kawasan uttama bukan kawasan nista.

Jika kita mengunjungi Desa Bejijong kita juga bisa mampir ke  Maha Vihara Majapahit. Ini adalah Vihara baru. Vihara ini dibangun oleh Bante Viriyanadi Mahathera pada tahun 1989. Luas vihara ini 20.000 M persegi. Bahkan mungkin akan makin luas. Tatkala beberapa waktu lalu saya hendak menginap di vihara ini, saya mendengar pihak vihara berniat membeli lagi  tanah-tanah di belakang vihara. Artinya di masa depan vihara ini akan makin luas kompleksnya. Yang menjadi pertanyaan saya mengapa Bante Viriyanadi memilih lokasi di Desa Bejijong ini sebagai lokasi Maha Vihara? Dan mengapa pihak vihara sekarang ingin terus memperluas lokasi vihara dengan membeli tanah-tanah di belakang? Saya bertanya-tanya pastilah ada yang istimewa di tanah lokasi tempat  Maha Vihara Majapahit dibangun. Tapi apakah itu?    

Mahavihara Majapahit

Papan Lokasi Mahavihara Majapahit. Foto oleh Yono Ndoyit

Vihara Majapahit

Vihara Majapahit (1). Foto oleh Yono Ndoyit

Saya mendapat jawabnya ketika saya hendak memasuki aula ruang doa utama, yang letaknya terdapat di tengah-tengah vihara. Di depan pintu aula terdapat rak-rak untuk meletakkan sepatu atau sandal. Juga terdapat rak lain yang berisi buku-buku kecil. Di situ disediakan buku-buku kecil berisi sutra-sutra doa, Dhammapada dan paritta-paritta yang boleh diambil siapapun yang masuk ke aula. Saat saya hendak mengambil buku-buku paritta itu, di rak itu juga disediakan kopian sebuah artikel berbahasa Inggris.  Yang mengejutkan artikel itu adalah artikel: Amrit Gomperts, Arnoud Haag dan Peter Carey berjudul: The Sage Who Divided Java in 1052. Maclaine Pont’s Exvacation of Mpu Bharadah’s Hermitage-Cemetry at Lemah Tulis in 1925. Mengapa artikel Peter Carey dan kawan-kawan yang dimuat di Jurnal Bijdragen Tot Deal, KITLV, Belanda itu dibagi dan disarankan dibaca kepada mereka yang hendak berdoa di aula utama Maha Vihara Majapahit?

Vihara Majapahit

Vihara Majapahit (2). Foto oleh Yono Ndoyit

Setelah saya baca di rumah artikel itu saya menemukan hal menarik yang mungkin dalam hal ini makin bisa menepis pendapat Agus Aris Munandar bahwa kawasan Bejijong di masa lalu adalah kawasan nista. Artikel Amrit Gomperts, Arnoud Haag dan Peter Carey itu berbicara tentang sebuah eksvakasi yang dilakukan Maclaine Pont – pelopor studi Majapahit di kawasan Bejijong yang jarang diketahui. Berdasarkan manuskrip dan catatan harian Maclaine Pont yang belum pernah dipublikasikan – Gomperts dan kawan-kawan mendapat data bahwa Maclaine Pont pernah melakukan penelitian dan penggalian di tahun 1925 di kawasan pekuburan Desa Kedung Wulan kawasan Bejijong mencari lokasi di mana Arca Joko Dolog aslinya diletakkan. Arca Joko Dolog adalah arca yang dibuat di zaman Kertanegara dan memiliki  pedestal berupa  prasasti – yang disebut prasasti Wurare.

Arca Joko Dolog sendiri adalah arca setinggi 1,7 meter. Arca ini berwujud seorang biku gundul tengah dalam posisi bermeditasi. Jari jemari tangan sang biku dalam posisi bhumi sparsa mudra. Atau menunjuk ke tanah. Di pedestal arca Joko Dolog itu terdapat inskripsi berbahasa Jawa kuno yang menerangkan Mpu Bharada membagi Jawa menjadi Janggala dan Panjalu. Dalam inskripsi itu juga disebut nama tempat diltahbiskannya arca yaitu: Wurare. Sebelum arca itu dipindahkan Belanda ke Surabaya, arca itu berada di kawasan Bejijong trowulan. Gomperts menerangkan Maclaine Pont memiliki pendapat bahwa Wurare sesungguhnya adalah julukan lokasi pertapaan Mpu Bharadah. Kertanegara melakukan penghormatan di bekas pertapaan Mpu Bharadah. Mpu Bharadah adalah mpu penting  yang hidup  di zaman Airlangga, ratusan tahun sebelum Kertanegara. Kertanegara di situ menahbiskan  arca Joko Dolog. Berbeda dengan pendapat umum arkeolog sekarang yang berpendapat bahwa arca Joko Dolog adalah arca yang menyimbolkan Kertanegara, Maclaine Pont saat itu justru menafsirkan arca Joko Dolog adalah arca yang menampilkan sosok Mpu Bharadah.

Secara etimologis Wurare berasal dari kata Awu Rare atau abu anak-anak. Sebagai penganut Budhisme Tantrayana, tempat pertapaan Mpu Bharadah  adalah sebuah pertapaan yang dilengkapi pekuburan . Menurut Gomperts dan kawan-kawan dalam eksvakasinya  di kawasan Kedung Wulan, Bejijong Maclaine menemukan sebuah pasu berisi abu jenasah anak-anak atau awu rare. Hal itu  secara kuat meyakinkan Maclaine Pont  bahwa arca Joko Dolog memang lokasi awalnya diletakkan di pertapaan kuburan.

Kembali pada mengapa artikel Amrit Gomperts dan kawan-kawan ini diletakan di depan hall utama Maha Vihara Majapahit dan fotokopiannya boleh diambil siapapun yang ingin beribadah di sana. Itu ternyata pihak vihara menyakini bahwa area lokasi yang ditempati oleh Maha Vihara kini sesungguhnya termasuk bagian area lokasi pertapaan Mpu Bharadah zaman dulu. Area yang ditempati oleh Maha Vihara Majapahit sekarang dengan kata lain adalah areal sakral Budhisme sejak ratusan tahun lalu. Sekali lagi ini menunjukkan, bahwa kawasan Bejijong bukan merupakan kawasan nista namun justru kawasan uttama yang dipercaya sakral sejak zaman Mpu Sindok-Erlangga-Singosari sampai Majapahit.

Saya lihat untuk mendukung teori tidak adanya kanal di Majapahit, Agus menggunakan artikel Amrit Gomperts, Arnould Haag dan Peter Carey lain. Yaitu artikel yang berjudul: Stutterheim Enigma: The Mystery of His Mapping of The Majapahit Kraton at Trowulan in 1941. Dalam artikel ini memang Amrit Gomperts dan kawan-kawan menolak kemungkinan adanya kanal di Majapahit. Namun Agus tidak melengkapi bacaannya dengan artikel Amrit Gomperts, Arnould Haag dan Peter Carey di atas: The Sage Who Divided Java in 1052. Maclaine Pont’s Exvacation of Mpu Bharadah’s Hermitage-Cemetry at Lemah Tulis in 1925. Saya melihat dua artikel dari ketiga sejarawan itu merupakan rangkain studi mereka atas Trowulan.     

Demikianlah tiga argumentasi saya di atas berusaha menunjukkan bahwa bagaimana di masa lalu daerah Bejijong adalah kawasan uttama bukan kawasan nista sebagaimana yang dinyatakan Agus.   Yang juga harus diingat pada masa Majapahit di luar kota Trowulan pun terdapat pemukiman-pemukiman. Adalah lebih masuk akal konsentrasi pemukiman masyarakat jelata tersebar di luar pusat Trowulan bukan di jantung Trowulan. Sementara di dalam pusat Trowulan  lebih banyak kalangan kelas menengah atau kelas pekerja professional bukan kawasan sudra. Daerah pinggiran kota Majapahit sendiri adalah daerah pertanian yang telah mapan di Jawa Timur sebelum masa Majapahit. Pada masa Mpu Sindok abad ke­10 Masehi telah dibangun sistem irigasi di daerah hulu Sungai Brangkal. Waduk­ waduk kuno dan bendungan kuno misal banyak dijumpai di sebelah tenggara Trowulan. Adalah masuk akal di luar pusat kota Trowulan terdapat banyak pemukiman.   

Pada titik ini misalnya menarik untuk membaca artikel Nurhadi Rangkuti: Batas kota Majapahit. Nurhadi Rangkuti memperkirakan empat batas kota Trowulan adalah empat bangunan pura Siwais yang letaknya di pinggiran Trowulan. Antara lain: Di bagian tenggara  Situs Lebakjabung (Kecamatan Jatirejo, Mojokerto), di bagian barat daya situs Sedah atau Situs Yoni Gambar (Kecamatan Mojowarno, Jombang) dan di bagian barat laut  Situs Klinterejo (Kecamatan Sooko, Mojokerto). Di ketiga situs tersebut terdapat sisa-sisa kompleks bangunan pemujaan bersifat Hindu. Ketiganya juga memiliki sebuah yoni berhias raya yang satu sama lain morfologinya serupa. Seakan-akan ketiga yoni itu memang penanda perbatasan. Namun tidak ada sisa-sisa bangunan untuk menandakan tapal batas keempat

Menggunakan bantuan GPS (Global Positioning System), Nurhadi Rangkuti menarik garis dari Situs Lebak Jabung ke arah Situs Klinterejo dan Situs Sedah, diperoleh satu garis ke utara dan satu garis ke barat. Dari Lebak Jabung ke Situs Klinterejo, berjarak sekitar 11 km ke arah utara dengan kemiringan 10 derajat, sedangkan dari Lebak Jabung ke Situs Sedah berjarak sekitar 9 km ke arah barat dengan kemiringan 5 derajat. Berdasarkan pengukuran jarak dan arah ketiga situs satu sama lain, lokasi pura keempat perbatasan  Majapahit dapat dicari di sekitar Tugu dan Badas, di wilayah Kecamatan Sumobito, Jombang. Lokasi itu dekat dengan sudetan Sungai Konto yang berhubungan dengan Sungai Watudakon

Menurut Nurhadi Rangkuti  berdasarkan jarak dan keletakan empat situs (Sedah, Lebakjabung, Klinterejo dan Badas­Tugu) yang mengikuti arah mata angin, diperkirakan luas Kota Majapahit, yaitu 11 km x 9 km, memanjang utara­selatan. Penempatan pura­pura di pinggiran kota berfungsi pula sebagai tanda batas kota Majapahit. Saya memperkirakan di luar tapal batas pura di Sedah, Lebakjabung, Klinterejo dan Badas-Tugu itu pasti terdapat pemukiman-pemukiman. Temuan saluran-saluran air kuno pada Juni  2019 di   Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang yang telah disebut di bagian tengah artikel ini membuktikan bahwa di tempat yang agak jauh dari Trowulan juga terdapat pemukiman yang menggunakan tata pengelolaan air. Saya beranggapan masyarakat jelata Majapahit justru banyak mendirikan hunian di luar tapal batas Majapahit.

Kesimpulan

Makalah sederhana ini  menyetujui pendapat Agus Aris Munandar yang mengatakan bahwa tidak ada apa yang disebut kanal-kanal besar di Majapahit. Sebagaimana juga dinyatakan geoarkeolog UGM Susetyo Edi Yuwono lokasi Trowulan dipilih sebagai Ibukota Majapahit antara lain karena kondisinya yang paling aman dari ancaman banjir. Trowulan adalah wilayah interfluve dengan kerapatan pola aliran paling rendah. Iklim di Trowulan adalah iklim yang bukan bercurah hujan tinggi bahkan sering mengalami defisit hujan. Secara logika maka tidak masuk akal bila Trowulan memerlukan jejaring kanal sebesar itu di tengah pusat kraton. Pengendalian air pada musim hujan maupun kemarau di Situs Trowulan tidak memerlukan upaya se-ekstrim pembuatan kanal-kanal besar itu. Jika upaya itu  ditempuh berarti telah terjadi kesalahan dalam memilih Trowulan sebagai lokasi Ibukota Majapahit.

Sesungguhnya sebelum Agus Aris Munandar mengemukakan teori tentang tidak adanya kanal di Majapahit, Dr. Herman Slamet dalam disertasinya di UGM tahun 1999 berjudul: Tata Ruang Kota Majapahit:Analisis keruangan Bekas kerajaan Hindu abad XIV Di Trowulan Jawa Timur juga sudah mengatakan bahwa jalur-jalur itu tidak bisa langsung dipastikan sebagai kanal. Apa yang paling penting dari potret udara Bakosurtanal menurut Herman Slamet adalah foto udara tersebut mengungkapkan  konfigurasi keruangan kota Majapahit yang tergambarkan sebagai pola ruang rektilinier dan berbentuk pola papan catur (grid pattern). Pola grid itu semuanya berjumlah 9 kotak. Hanya saja karena Herman Slamet bukan arkeolog dia tidak menafsirkan lebih jauh grid-grid itu secara konseptual. Sementara sebagai arkeolog yang selalu melihat ada keterkaitan antara konsep keagamaan dengan situs dan artefak, Agus Aris Munandar menafsirkan 9 kotak grid itu sebagai wujud pembagian lahan berdasarkan konsep Sanga Mandala seperti yang dilihatnya di Bali.

Makalah ini sepeti ditunjukkan di atas agak keberatan dengan analisa Agus ini. Terutama dikarenakan  lokasi-lokasi yang disebut Agus sebagai wilayah nista dalam perjalanan sejarah dari era Mpu Sindok-Erlangga-Singosasari justru merupakan wilyah uttama atau  wilayah suci. Demikianlah kesimpulan makalah ini. Hasil potret udara Bakosurtanal sendiri bukannya tanpa pertanyaan. Geoarkeolog UGM Susetyo Edi Yuwono misalnya berpendapat sejumlah linggan dan bekas linggan (tempat pembuatan batu bata) di Situs Trowulan juga meningggalkan alur memanjang dengan dinding-dinding teratur mengikuti batas-batas persil lahan.

Fitur yang ditinggalkan oleh kegiatan penambangan tanah tersebut memiliki kemiripan pola dengan kenampakan bekas kanal yang tertangkap foto udara maupun citra satelit. Sangat memungkinkan tafsir terhadap potret udara tersebut salah. Segmen yang ditafsirkan dari foto udara sebagai jaringan kanal justru berupa alur positif (jalan) yang posisinya lebih tinggi dibandingkan lahan di sekitarnya. Bila memang katakanlah pendapat Susetyo Edi Yuwono ini benar, maka konsep  Triloka dan Sanga Mandala yang dirumuskan Agus Aris Munandar menurut saya makin bisa diragukan.

——                           

*Seorang Penghayat Kebatinan 

——-

Daftar Pustaka

Rangkuti, Nurhadi (2014) Batas Kota Majapahit dalam Majapahit Bekas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota, Editor Prof.Dr.Inajati Andrisijanti, penerbit Keppel Press Yogja.

Arifin, Karina (1983) Waduk dan Kanal di Pusat Kerajaan Majapahit Trowulan Jawa Timur, Skripsi jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Rahardjo, Wanny Wahyudi (2001) Pengelolaan Air di bekas Kota Majapahit, Fakultas sastra Universitas Indonesia.

Mundardjito, Prof.Dr (1997) Pemukiman Masa Majapahit di Situs Trowulan, Mojokerto, Pusat Kajian Humaniora, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Munandar, Agus Aris (2013) Tak Ada kanal di Majapahit, Penerbit Wedatama Widya Sastra

Munandar, Agus Aris (2014) Air dan Kosmologi di Situs Majapahit, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Gomperts, Amrits ,Arnould Haag, Peter Carey (2012) The Sage Who Divided Java in 1052. Maclaine Pont’s Exvacation of Mpu Bharadah’s Hermitage-Cemetry at Lemah Tulis in 1925, Jurnal Bijdragen Tot Deal, KITLV,Netherland.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *