Pos

Seni Mewarga: Catatan Jakarta International Performing Arts (JIPAF) 2026

Oleh: Hikmat Darmawan* Bagian Kedua dari Dua Tulisan  Bentuk: AI, Arsip, dan Batas Pertunjukan yang Baur Bagi sebagian, tubuh selalu bergulat dengan kata. Teater Pungo, dalam Interstice, menghadirkan tubuh fisik dan tubuh yang dibicarakan. Pembicaraan verbal, menggunakan kata-kata. Pertunjukan dimulai dengan ketiadaan yang fisik, sebuah suara mendahului. Beberapa penonton celingukan, dan sang suara mengomentari celingukan […]

Seni Mengganggu Jakarta: Catatan Jakarta International Performing Arts (JIPAF) 2026[1]

Oleh: Hikmat Darmawan*   Bagian Pertama dari Dua Tulisan Pengalaman penting dalam festival ini buat saya adalah merasakan langsung bagaimana sebuah festival seni pertunjukan kontemporer bisa menjadi praksis kongkret membangun pengetahuan bersama warga. Saya menikmati ketika anak-anak SMP 1 Cikini dan ibu-ibu kampung Kalipasir juga para guru dan pejabat Dinas tertawa-tawa menonton Flying Balloons Puppet […]

Sekolah Tanpa Seni: Ketika Imajinasi Menjadi Hak Istimewa

Oleh: Karen Hardini   Di balik riuh rendah sistem full day school, sebuah gejala laten pelan-pelan membesar. Meski jadwal sekolah sudah menyita hampir seluruh hari, para orang tua (baca: keluarga muda) justru kian gencar mencari ruang tambahan bagi buah hatinya. Selepas bel pulang, anak-anak diajak beralih ke studio seni—seni rupa misalnya, mulai dari menggambar, mewarnai, […]

(Festival) Tari dan Produksi Pengetahuan

Oleh: Purnawan Andra *   Dalam dua dekade terakhir, ekosistem festival tari di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Indonesian Dance Festival (IDF) tetap menjadi rujukan utama bagi tari kontemporer Indonesia, sementara sejumlah festival lain, termasuk Jakarta International Contemporary Dance Festival (JICON), mulai menghadirkan ruang-ruang baru bagi pertunjukan, percakapan, lokakarya, dan kolaborasi lintas negara. Perkembangan […]

L.K. Ara dan Poetika Kesetiaan: Membaca Dunia Puitik Seorang Maestro dari Tanah Gayo

oleh: Abdul Wachid B.S.* Mengapa L.K. Ara Perlu Dibaca Kembali Penganugerahan Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada L.K. Ara membuka kembali percakapan mengenai salah satu penyair yang telah menempuh perjalanan panjang dalam sastra Indonesia. Namun, penghargaan semacam itu sesungguhnya bukan titik akhir pembacaan, justru kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana dunia puitik yang dibangun L.K. […]

Kongres Kebudayaan Nusantara 2026: Kerinduan Pada Akar Lampau

Oleh: Chrisman Hadi Nanti pada 8 Agustus 2026 sejumlah pemangku adat, penghayat kepercayaan, budayawan, seniman, akademisi, sejarawan, peneliti dan komunitas kebudayaan dari berbagai daerah direncanakan berkumpul di Malang dalam Kongres Kebudayaan Nusantara. Perhelatan yang diselenggarakan Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tersebut membawa harapsn besar: Menggali kembali nilai-nilai peradaban Nusantara sebagai fondasi pembangunan […]

Performance Art, Politik & Kita di Antaranya

Oleh: Purnawan Andra* Kita hidup di zaman yang semakin sulit membedakan kenyataan dan pertunjukan. Hampir setiap hari publik disuguhi peresmian proyek, kunjungan kerja, konferensi pers, dan berbagai seremoni kenegaraan yang diproduksi dengan estetika visual yang semakin canggih. Politik tidak lagi hanya bekerja melalui kebijakan, tapi juga melalui citra. Yang diperebutkan tidak sekedar keputusan, tapi juga […]

Suatu Kali Seperjalanan dengan Mas Nasirun

Oleh: Hairus Salim HS* Perupa Nasirun (1965-2026) adalah manusia yang unik. Unik dalam pengertian tidak seperti orang kebanyakan. Di antaranya, ia tidak memiliki dan tidak menggunakan telpon genggam pribadi, sesuatu yang amat langka sekarang ini. Tentu saja ia bisa beli, yang ter-up date dan termahal sekali pun. Tapi itu tadi, ia tidak merasa perlu memiliki […]

Khotbah Nasirun

Oleh: Agus Dermawan T. Nasirun, kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 1965, wafat pada 1 Agustus 2026 di Yogyakarta. Perupa amat terkenal ini memberangkatkan karyanya dari dua tradisi yang diturunkan orang tuanya. Ibunya, Supiyah, wanita berlatar Sunda Wiwitan. Ayahnya, Samrustam, orang Jawa yang meniti tradisi dengan kedalaman. Nasirun banyak mewariskan rupa seni dan cerita kehidupan. ————- SAYA […]

Membaca Kota dari Cikini; Seni, Kampung Kota, dan Infrastruktur Pengetahuan Kebudayaan Urban

Oleh: Dr. Iwan Gunawan Jika seseorang berjalan kaki dari arah bioskop Metropole ke arah Cikini, terus menuju Patung Pak Tani, ia akan melewati jejak-jejak sejarah Jakarta dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Di sepanjang perjalanan itu berdiri gedung-gedung yang menjadi saksi perkembangan kota, bioskop tua, pasar tradisional, sekolah, kolam renang hotel, pusat kesenian, kawasan […]