Film Shawshank Redemption, Penjara Kita dan Kelas di Baliknya
Oleh: Purnawan Andra*

Sumber: https://posteritati.com/
Ada satu adegan dalam The Shawshank Redemption (1994) yang sederhana, tetapi penting untuk memahami film itu. Dalam frame ditampilkan para narapidana bekerja memperbaiki atap penjara di tengah panas. Andy Dufresne (yang diperankan oleh Tim Robbins) mendengar percakapan kepala sipir tentang pajak warisan, lalu menawarkan keahliannya sebagai akuntan. Sebagai imbalan, ia meminta bir untuk teman-temannya.

Sumber: https://screenrant.com/
Para narapidana kemudian duduk di atas atap, minum bir, bercakap-cakap, dan menikmati matahari. Mereka masih berada di dalam penjara. Namun, untuk sesaat, pengalaman mereka terhadap ruang itu berubah.
Adegan tersebut bukan sekadar jeda dari cerita tentang kehidupan penjara. Cara kamera menempatkan tubuh para narapidana di atas atap, jauh dari sel dan jeruji, membuat ruang menjadi bagian dari cerita tentang kebebasan.

Sumber: https://www.cinemablend.com/
Penjara bukan hanya tembok yang mengurung tubuh. Ia juga menentukan ruang mana yang boleh dimasuki, siapa yang boleh berada di dalamnya, dan pengalaman seperti apa yang mungkin terjadi di sana.
Di sinilah kekuatan sinematik The Shawshank Redemption. Film yang memegang skor 9.3/10 dan secara konsisten menduduki peringkat #1 dalam daftar Top 250 Movies di IMDb, mengalahkan film-film legendaris lainnya seperti The Godfather dan The Dark Knight ini menjelaskan bahwa penjara tidak hanya menjadi latar. Ia menjadi sebuah dunia sosial.
Lihat tokoh Red atawa Ellis Boyd Redding (Morgan Freeman). Ia dikenal sebagai orang yang bisa mendapatkan barang dari luar. Dalam ruang yang tertutup, kemampuan memperoleh sesuatu menjadi sumber posisi sosial. Barang-barang yang tampak biasa di luar penjara menjadi bernilai karena tidak mudah diperoleh di dalamnya. Red memiliki jaringan, dan jaringan itu memberinya kekuasaan.

Sumber: https://screenrant.com/
Andy, bankir yang dihukum penjara seumur hidup di penjara Shawshank State Penitentiary karena dituduh membunuh istri dan selingkuhannya, meskipun ia bersikeras dirinya tidak bersalah itu, mempunyai modal yang berbeda. Ia memiliki pengetahuan. Kemampuan akuntansinya membuatnya dibutuhkan kepala sipir.
Ia memperoleh akses ke ruang dan pekerjaan yang tidak dimiliki semua narapidana. Pada saat yang sama, kepala sipir menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan keuangan yang justru bertentangan dengan hukum yang seharusnya ia tegakkan.
Dengannya, film Produksi Castle Rock Entertainment dan disutradarai Frank Darabont ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada pertentangan antara narapidana dan sipir. Di dalam penjara terbentuk tata sosial sendiri. Ada ruang yang berbeda, benda yang bernilai, orang yang menguasai akses, dan hubungan yang menentukan siapa memperoleh apa.
Tembok tidak menghapus status sebagai masyarakat. Ia justru memindahkan masyarakat ke dalam ruang yang lebih tertutup.
Membaca Penjara
Cara membaca penjara semacam ini menjadi menarik ketika kita melihat temuan Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong. Pada 23 September 2026, Ombudsman menemukan lebih dari 10 bangunan yang tampak seperti rumah kluster atau homestay. Di dalam salah satunya terdapat ruang tamu, kamar, televisi, kulkas dan meja makan. Ditemukan pula fasilitas kebugaran dan pembangunan simulator golf. Tim Ombudsman juga menemukan kendaraan mewah dan akses keluar dari kawasan tersebut.
Pada 30 September, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menyatakan bangunan yang diperiksa tidak termasuk dalam APBN dan tidak berizin. Pemeriksaan gabungan kemudian dilakukan untuk mendalami keberadaan bangunan dan fasilitas tersebut.
Tentu, seluruh dugaan itu masih harus dibuktikan. Tetapi justru di sinilah film membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar daripada sekadar, “Mengapa ada fasilitas mewah di penjara?” Apa arti sebuah ruang ketika ia berada di dalam penjara?
Sofa, kulkas, televisi atau simulator golf bukan hanya benda. Dalam kehidupan sosial, benda juga membawa tanda. Rumah, mobil, pakaian dan perabot dapat menunjukkan kelas, selera dan kemampuan seseorang mengakses kenyamanan. Karena itu, ketika benda-benda semacam itu muncul secara khusus di dalam lembaga pemasyarakatan, ia tidak hanya berbicara tentang fasilitas. Ia berbicara tentang posisi sosial.
Di luar penjara, perbedaan ruang adalah bagian biasa dari kehidupan kelas. Ada rumah sederhana, apartemen, vila, hingga hotel. Tetapi penjara memiliki logika berbeda. Ia adalah ruang yang secara sengaja dibatasi negara. Karena itu, perbedaan pengalaman hidup di dalamnya tidak semestinya ditentukan oleh kemampuan membeli kenyamanan.
Di sinilah kasus Cibinong menjadi lebih dari perkara hunian mewah. Jika pemeriksaan membuktikan adanya fasilitas atau perlakuan khusus yang diperoleh melalui uang, hubungan atau penyalahgunaan kewenangan, yang muncul bukan sekadar pelanggaran tata kelola. Yang muncul adalah kelas sosial di dalam penjara.
Orang-orang sama-sama berstatus warga binaan, tetapi menjalani kehidupan yang berbeda. Yang satu mengalami keterbatasan ruang dan fasilitas. Yang lain memiliki ruang privat dan kenyamanan yang menyerupai kehidupan di luar penjara. Secara hukum, hukuman mungkin sama. Tapi pengalaman sosial menjalaninya berbeda.
Di titik ini, Shawshank Redemption menjadi penting bukan karena Cibinong “mirip” Shawshank. Film yang diadaptasi dari novela karya Stephen King berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption (1982) itu memberi kita cara melihat bahwa penjara selalu memiliki kehidupan di balik aturan resminya. Ketika akses terhadap barang, ruang, pekerjaan atau kekuasaan tidak terbagi secara setara, terbentuklah hierarki baru.
Ironinya, penjara yang dimaksudkan untuk membatasi kebebasan justru dapat menjadi tempat berlangsungnya kebebasan versi lain. Yaitu kebebasan mengakses ruang, barang dan kenyamanan bagi mereka yang mempunyai posisi tertentu.

Sumber: https://www.cinemablend.com/
Lebih jauh lagi, film memperlihatkan bagaimana penyimpangan dapat tumbuh bukan di luar institusi, tetapi dari dalamnya. Kepala sipir dalam Shawshank tidak meruntuhkan penjara. Ia justru menggunakan kewenangan resminya untuk membangun kepentingan pribadi. Penyimpangan menjadi mungkin ketika kekuasaan, akses dan kepentingan bertemu dalam ruang yang tertutup.
Karena itu, persoalan Cibinong tidak cukup dijawab dengan mencari siapa yang membangun bangunan itu atau siapa yang menikmati fasilitasnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana ruang semacam itu bisa hadir, bertahan, dan menjadi mungkin di dalam sebuah institusi yang memiliki aturan begitu ketat.
Memahami Kesetaraan
Sebab ketika fasilitas berbeda sudah dianggap mungkin, yang berubah bukan hanya bangunannya. Yang berubah adalah cara sebuah institusi memahami kesetaraan.
Pada akhir Shawshank Redemption, Andy menembus tembok penjara. Adegan itu menjadi simbol kebebasan karena tubuh yang selama bertahun-tahun dikurung akhirnya menemukan jalan keluar. Film menutup kisahnya dengan ruang terbuka, langit, laut dan tubuh yang tidak lagi berada di bawah pengawasan penjara.


Sumber: https://screenrant.com/
Kasus Cibinong justru mengajak kita membalik gambar itu. Bukan hanya bertanya siapa yang dapat keluar dari balik tembok, tapi apa yang dapat masuk ke dalamnya.
Jika uang, kelas, jaringan dan privilese dapat menembus tembok penjara, maka yang bermasalah bukan sekadar bangunan yang berdiri di baliknya. Tembok itu mungkin masih kokoh. Yang perlahan runtuh adalah gagasan bahwa ketika seseorang masuk penjara, hukum semestinya tidak mengenal kelas.
Dan mungkin di situlah sebuah film lama memberi kita pertanyaan yang kontekstual, yang sangat baru: jika penjara pun dapat memiliki kelas, maka sebenarnya siapa yang sedang dikurung oleh hukum?
Hingga kini, di negeri ini, pertanyaan itu masih terbantun-bantun membentur tembok (penjara). Tak menemu jawaban pasti.
*Purnawan Andra, pegiat Diskusi Kajian Kebudayaan (Dikbud) “Tangga Kebon” Jakarta, Pamong Budaya pada Kementerian Kebudayaan.





