Puisi-Puisi Rifqi Septian Dewantara

Merayakan Kekalahan

Kodeks-kodeks yang tercecer melalui transmisi digital,
algoritma terjebak; mencari makna distorsi dan kegagalan

Bukannya kecewa, untuk mengungkapkan hal ini
sebagai konstruksi diri yang semakin kuat
Dalam setiap bug teknologi,
aku; seperti menemukan celah untuk masa kini

Aku terjun bebas di jalur pengaman kode,
melompati satuan komputasi bit dan byte;
menyusuri aliran data yang tak terhingga,
berkelebat dalam dunia maya yang tak terduga

Kekalahan bukan berarti penghabisan,
tapi tercipta untuk merayakan transformasi!
kecerobohan sistem, kesalahan sintaksis–menari dan menciptakan bahasa biner yang berkilau

Aku seperti menemukan potensi yang tak terbatas
terhubung dengan jaringan tak terlihat
mereplikasi, merekonstruksi, memodifikasi bahasa tanpa rekaan.

2023

Anggap Saja

Anggap saja semua bukan mimpi
khayalan terjadi di kenyataan
alur waktu yang tak lurus
terhempas multidimensi dan bertubrukan

Anggap saja kita tak terikat
bebas berkelana seenaknya
dalam anggapan menemukan kebebasan
menjadi pencipta dalam perjalanan yang tak terbatas

Anggap saja kita dapat memainkan waktu–semua variasi identity, menjadi tubuh milik bersama.

2023

Tubuhku Tidak Pernah Ditemukan

Tubuhku terpisah; seperti buronan yang tak pernah ditemukan
hilang entah ke mana, tak ada petunjuk yang tersisa,
hanya cerita kosong yang menggelayut di media massa

Mereka kemudian mengidentifikasi dengan mata penuh tanya
jejak yang lenyap, jejak yang tak terbaca
“di hutan belantara kah? atau palung membidik jurang?”
tubuhku adalah teka-teki; menjelma asap—berkabut, hangus begitu saja..

Tidak ada petunjuk; terkatup
seperti cerita yang tak pernah usai—dalam takdir yang suram

Tubuhku mungkin tercecer, hanyut dalam kegelapan, dalam alam tak kasat mata, berdiam diri dengan angan yang menggeladrah

Di ketiadaan, mungkin masih hadir, tetapi
hadir dalam cerita-cerita aku yang terbentang jauh

Tubuhku memang tak pernah ditemukan, namun cerita harus tetap hidup
mengalir di alam puisi yang tak pernah terdengar, dalam kata-kata yang belum selesai

Menggantung.

2023

Apokaliptik

Ingin kuhapus
semua arsip-arsip
datakrasi tentang diriku
di kepala orang-orang yang pernah bertukar; temu pikiranku

Ingin kubuang semuanya
ke sebuah tempat
di mana penampungan limbah
bernama kesalahan
menjadi tumpukan dosa rekaman hidup

Seribu kebaikan musnah
Tak ada satu pun kenangan
yang dapat mereka jangkau dalam masa lalu

Masa kini dan masa depan
Seperti penumbra yang mengaburkan emosi mereka.

Tak ada permintaan maaf
Semua menolak pengampunan.

Luluh lantak!

2023

Lengang Tanpa Perayaan

Satu waktu, aku meminta ruang

Engkau beri ruang, aku pinta jarak
Engkau beri jarak, aku butuh waktu
Engkau beri waktu, aku menghilang

Aku hilang
waktu lengang
arah membentang..

2023

Tanpa Tujuan

Tanah yang tak berujung,
adalah kumbara tak terbatas

Langit di atas membentang luas
pun ombak laut yang menghempas

Aku tak memiliki peta atau kompas
hanya sebuah intuisi yang mengarah jelas

Setiap langkah punya penemuan baru
setiap sejarah punya petualangan umat yang pernah diasingkan.

2023

Hikikomori

Suara hati yang terperangkap; bergema—terpantul oleh dinding kekalutan. Sendirian terisolasi, tenggelam menjauh, memudar di keramaian umat, terkunci, diikat kegelapan

Di luar; dunia terus berputar. Waktu berputar dengan sibuk—berlarian mencuri zaman

Aku tak menemukan jalan setitik pun. Berharap di depan mataku, ada instalasi rehabilitasi berdempetan seperti toko mainan

Melangkah dan maju sedikit demi sedikit, untuk memulai perjalanan hidup yang baru.

2023

Rusak! Rusak! Rusak!

Ada teriakan tak terkendali
di luka-luka tiap peristiwa, menghancurkan segala wujud—menyekar semua jiwa berpagut

Bangunan-bangunan tinggi rubuh tak berdaya,
beton retak, tembok robek, rusak tak terperi

Puing-puing nikel menari di atas mata, merayap di setiap sudut—luka ekologi;
hutan-hutan membabat dirinya sendiri, sungai-sungai menampung darah, juga bumi tercekik limbah dan polusi

“Rusak! Rusak! Rusak!” jeritan itu tak terdengar

Batin manusia telah terbelah, dibukanya bahasa tubuh yang terluka,
kejahatan merajalela, moral terkoyak-koyak
kemanusiaan hancur gugur, terkubur, dipupuk keegoisan
rusaknya nurani, mengedepankan kebodohan

Namun di antara kehancuran, ada harapan yang berkecamuk
suara-suara berani yang menentang kelalaian
menjadi seruan perubahan

“Rusak! Rusak! Rusak!” kali ini terdengar
selekasnya kami hidupkan kembali dunia yang gelap.

2023

 

Rifqi Septian Dewantara, asal Balikpapan, Kalimantan Timur, Mei 1998. Karya-karyanya pernah tersebar di sejumlah media daring seperti Media Indonesia, Borobudur Writers and Cultural Festival, Redaksi Marewai, Menjadi Manusia, Nalar Politik, Qureta, dll. Kini, bergiat dan berkarya di Halmahera.