Melanjutkan Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari

Oleh: Fathurrochman Karyadi*

Pada 28 April 2026, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud RI) menggelar Peringatan 400 Tahun Kelahiran Syekh Yusuf al-Makassari di Masjid Agung Banten Lama. Acara ini juga diisi dengan diskusi intelektual oleh Oman Fathurahman, Muzdalifah Sahib, Upi Asmaradhana, pameran manuskrip, pertunjukan musik religi oleh Debu, Tari Rampak Bedug, Tari Ratoh Jaroe, dan pembacaan puisi kebangsaan oleh Ferry Sandi.

Yang menarik dalam acara ini, Menbud Fadli Zon dalam sambutannya menyampaikan rencana pembangunan Museum Syekh Yusuf al-Makassari di Cape Town, Afrika Selatan. Ini patut dibaca sebagai langkah penting dalam diplomasi kebudayaan Indonesia. Tentunya, museum tidak hanya akan menjadi representasi sejarah, tetapi juga penghubung antara Nusantara dengan Afrika Selatan, dua wilayah yang pernah dipertautkan oleh kisah pengasingan, perjuangan, dan penyebaran ilmu pengetahuan.

Dalam konteks global hari ini, kehadiran rumah budaya di luar negeri memang menjadi strategi yang semakin dibutuhkan. Ini menandai bahwa sejarah Indonesia tidak berhenti di batas geografisnya, melainkan menjalar ke berbagai belahan dunia melalui tokoh-tokohnya. Tokoh bernama lengkap Muḥammad Yūsuf bin ‘Abd-Allāh Abū al-Maḥāsin al-Tāj al-Khalwatī al-Manjalāwī al-Maqāṣarī Al-Bantanī (1626-1699) ini merupakan salah satu titik paling kuat dari jejaring itu, seorang ulama, sufi, sekaligus pejuang yang jejaknya melintasi Gowa, Banten, Sri Lanka, hingga Cape Town. Ia juga merupakan tokoh yang menyandang gelar pahlawan nasional di dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan.

Di balik apresiasi tersebut, ada satu pekerjaan yang tidak kalah penting, bahkan lebih menentukan dalam jangka panjang, yakni membangun ekosistem keberlanjutan dari warisan intelektual yang hendak dihadirkan melalui museum itu. Sebab museum, seindah dan semegah apa pun, pada dasarnya adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Sejarah mencatat bahwa orang-orang Nusantara yang tiba di Afrika Selatan bukanlah perantau dalam pengertian biasa. Mereka adalah kelompok yang dipindahkan secara paksa oleh kolonial Belanda, termasuk para ulama yang dianggap berpengaruh. Dalam keterasingan itu, mereka justru membangun komunitas, mempertahankan Islam, dan bahkan menjadi bagian awal dari penyebaran Islam di wilayah tersebut. Dari sinilah kemudian lahir komunitas yang kini dikenal sebagai “Cape Malay” atau masyarakat Nusantara di Cape Town.

Saya pernah menemukan catatan lama dari Mohammad Kazem dalam Majalah Al-‘Irfān yang terbit pada 1928. Majalah asal Lebanon itu mencatat bahwa keberadaan orang Nusantara di Afrika Selatan sering luput dari perhatian. Padahal, mereka bukan hanya hadir sebagai jejak sejarah, tetapi juga sebagai penerus tradisi yang tetap hidup. Syekh Yusuf sendiri, yang diasingkan ke Cape Town pada akhir abad ke-17, memainkan peran penting dalam membangun fondasi spiritual dan intelektual komunitas tersebut.

Jejak interaksi Syekh Yusuf di Hadramaut Yaman juga dicatat oleh Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad (1634-1720) dalam kitabnya al-Nafāis al-‘Ulwiyyah fī al-Masāil al-Ṣūfiyyah. Ia menyebut bahwa Syekh Yusuf memberikan banyak pengaruh tasawuf kepada komunitas di Yaman dengan membacakan karya-karya sufisme Ibnu ‘Arabi (1165-1240). Ini menjadi jejak historis yang mengagumkan, ulama sekaliber al-Haddad yang karyanya dibaca banyak umat muslim dunia, mengutip nama Syekh Yusuf dengan lugas.

Dalam hal ini, museum mendapat urgensinya sebagai memorial. Agar tidak berhenti sebagai monumen statis, museum perlu diiringi dengan gerakan intelektual yang dinamis. Kita bisa belajar dari tradisi keilmuan Islam di pusat-pusat klasik seperti Baghdad, Mesir, dan Hijaz, di mana sebuah karya tidak berhenti pada penulisnya, tetapi terus hidup melalui sharḥ  (komentar), ḥāshiyah (catatan pinggir), dan bahkan manẓūmah (versifikasi ulang dalam bentuk puisi). Dalam konteks filologi Nusantara, manuskrip Syekh Yusuf perlu disunting kembali dalam edisi lengkap yang kemudian diterjemah dalam berbagai bahasa.

Tradisi ini menarik untuk dijadikan inspirasi dalam membaca ulang karya-karya Syekh Yusuf. Selama ini, kita lebih sering mengenalnya sebagai tokoh sejarah atau pahlawan, tetapi belum banyak mendengar bagaimana karya-karyanya dikaji secara serius, dikomentari, atau bahkan diajarkan secara sistematis dalam tradisi akademik. Padahal, di situlah daya tawar yang sebenarnya dari sebuah warisan intelektual.

Setidaknya karya-karya Syekh Yusuf pernah dikaji secara filologis oleh Tudjimah (1987), Abu Hamid (1994), Nabila Lubis (1992), dan M. Adib Misbachul Islam (2005). Sementara untuk ulasan biografi Syekh Yusuf tak terhingga jumlahnya, ada Ian Duncan Colvin (1909), Drewes (1926), Azyumardi Azra (1993), Sastri Sunarti (2008), dan sebagainya.

Bayangkan jika karya, kiprah, dan sejarah Syekh Yusuf lebih masif untuk dijadikan objek kajian dan sharḥ di berbagai kampus, baik di Indonesia maupun di luar negeri, bukanlah sesuatu yang mustahil. Justru peluang besar terbuka. Manuskrip-manuskripnya dapat diedisi kritis, diterjemahkan, lalu dijadikan bahan kajian lintas disiplin mulai dari tasawuf, sejarah intelektual, hingga studi diaspora. Dengan demikian, museum di Cape Town tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi pintu masuk dari jaringan pengetahuan yang terus bergerak.

Lebih jauh lagi, jika langkah ini dikembangkan secara serius, bukan tidak mungkin akan lahir pusat studi atau bahkan institusi pendidikan yang berfokus pada warisan Syekh Yusuf dan jaringan intelektual Nusantara di Afrika Selatan. Gagasan tentang pendirian lembaga pendidikan, entah dalam bentuk pusat riset, program studi, atau universitas, dan juga program beasiswa dapat menjadi tahap lanjutan dari diplomasi budaya yang lebih substantif.

Dengan cara itu, hubungan Indonesia dan Afrika Selatan tidak hanya dibangun melalui simbol, tetapi juga melalui pertukaran ilmu, gagasan, dan generasi. Mahasiswa, peneliti, dan ulama dari kedua wilayah dapat saling terhubung, menghidupkan kembali jalur intelektual yang pernah terputus.

Arkian, museum tetap penting, bahkan sangat penting sebagai penanda, pengingat, sekaligus pintu masuk bagi publik untuk mengenal sosok besar Syekh Yusuf. Tetapi di saat yang sama, perlu diiringi oleh upaya yang lebih bertahan namun berjangka panjang, menghidupkan tradisi ilmu yang pernah dibangun para pendahulu.

Sebab warisan terbesar Syekh Yusuf bukan hanya makamnya di Cape Town, melainkan gagasan dan karya-karyanya yang masih menunggu untuk terus dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan. Kita berharap ada makna paling dalam dari membangun “rumah budaya” bukan sekadar menghadirkan masa lalu, tetapi memastikan tetap hidup di masa depan. Melahirkan sosok-sosok muda pejuang, intelek, religius, dan diaspora sekaliber Syekh Yusuf al-Makassari.

*Fathurrochman Karyadi Filolog, Penulis Novel ‘Ziarah’ (2025), dan Pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)