Rumah Seribu Kisah
Oleh HMMC J WIRTJES XVI (YANCE)*
Di Medan tidak ada rumah lain selain rumah Bang Jim Siahaan yang menyimpan ribuan kisah drama kemanusiaan. Rumah yang sudah berusia seabad itu terletak di jalan Letjend R Suprapto No 11, Medan.Hal itu dapat terjadi berkat ribuan artefak yang tersimpan di sana. Pada kesempatan ini saya menampilkan satu kisah yang ada di balik satu artefak yang ada di rumah Bang Jim.
Kisah ini melekat pada beberapa potong batu granit bekas lantai yang dipasang di Perisai Plaza, jalan Pemuda. Perisai Plaza merupakan pusat perbelanjaan yang beken di Medan pada dekade terakhir abad XX sampai dekade pertama abad XXI. Sejak beberapa tahun lalu Perisai Plaza sudah sekarat, tinggal menunggu mati total. Ketika akan dihancurkan, beberapa tukang berinisiatif mengantarkan beberapa kepingan lantai granit berukuran besar ( lebih kurang 2,,5 x 1,2 meter ) ke rumah Bang Jim. Menurut para tukang, mereka sudah tahu nama beken Bang Jimmy Siahaan sebagai kolektor benda antik dan mungkin suka dengan barang peninggalan Perisai Plaza yang diresmikan pada bulan Desember 1988 (saya hadir di acara peresmian itu).
Lantai granit itu oleh Bang Jim dijadikan alas meja panjang, dan itu adalah sebuah gagasan cerdas. Ketika duduk menghadapi hidangan kopi di atas meja granit, pikiran saya menerawang, berimajinasi merekonstruksi kisah di balik meja granit itu.
Pada dekade 80 an di wilayah perbukitan di Jawa bagian selatan terdapat konsesi penambangan galian C (granit). Sekelompok pekerja dengan gergaji mesin bermata baja mengiris dinding bukit dan memotong balok balok batu granit. Kemudian balok balok batu granit itu dimuat ke truk pengangkut untuk dibawa ke pabrik pengolahan milik PT Internusa Keramik Alamsari ( produsen granit terkemuka di Republik) di Kawasan Industri Palm Manis Jatiuwung, Tanggerang, yang jaraknya ratusan Km dari tempat penambangan. Granit terbentuk karena proses tekanan tinggi dan suhu tinggi yang berlangsung pada jutaan tahun lalu. Bahan dasar pembentuk granit adalah feldspar dengan kadar bervariasi (65 – 90%), kuarsa (10 – 35%), mika, amfibol dan mineral lainnya. Ada juga granit yang dihasilkan melalui proses fabrikasi dengan komposisi tanah lempung putih, feldspar, silika, kaolin, dolomit yang dipanaskan dengan suhu di atas 1200°C.
Di pabrik, granit alam di bentuk dalam berbagai ukuran, dipolish, sehingga tampil dalam beragam corak / warna sesuai dengan tampilan batuan granit di penambangan. Dalam proses pengambilan bahan baku, pengangkutan, pengolahan, ada saja peluang terjadinya kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas. Dari pabrik, granit diangkut ke pelabuhan Tanjung Priok dan selanjutnya diangkut dengan kapal kargo / kontainer menuju pelabuhan Belawan. Setelah tiba di dermaga peti kemas Gabion, granit diangkut ke gudang, kemudian diangkut ke Perisai Plaza. Granit itu kemudian dipasang oleh tangan tukang terampil yang khusus didatangkan dari Jawa. Para tukang itu bekerja tekun dengan harapan dapat membawa pulang upah cukup besar untuk menafkahi keluarganya.
Setelah semua pekerjaan selesai, pada bulan Desember 1988 diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Sumatra Utara Raja Inal Siregar. Pada saat peresmian, pada sore hari, turun hujan lebat. Pengunjung yang berjumlah ribuan orang terjebak di gedung. Mereka berjalan hilir mudik. Saya salah satu pengunjung yang mengamati perilaku para petugas CS (Cleaning Service) dan pengunjung. Tiap 15 menit petugas mengepel lantai yang kotor, karena bekas jejak tapak sepatu pengunjung. Mereka bekerja penuh semangat membersihkan lantai granit. Selama puluhan tahun beroperasi, tidak terhitung banyaknya gerak maju mundur kain pel di atas lantai granit itu. Lantai granit itu menjadi saksi bisu beragam peristiwa yang terjadi di atasnya. Termasuk ribuan transaksi bisnis yang sudah berlangsung di Perisai Plaza. Lantai granit itu sendiri sudah memberikan manfaat pada ribuan pekerja di tambang, pengangkutan, pabrik, tukang / buruh bangunan pedagang, pramuniaga, pekerja CS. Termasuk jadi saksi drama percintaan di kalangan sesama pekerja di gedung itu.
Pada suatu siang, saya berkunjung ke Perisai Plaza. Di salah satu lantai saya melihat seorang petugas CS (puteri) sedang mengepel lantai. Saya perhatikan dia sering menyeka air matanya. Agaknya dia bekerja dalam keadaan sedih. Saya mendekatinya, mengajaknya bicara sejenak. Saya bertanya apa yang membuatnya sedih. Setelah ditanya beberapa kali, dia mengatakan bahwa dia baru diputuskan hubungan oleh kekasihnya sesama karyawan tanpa alasan jelas. Saya berusaha mehiburnya agar melupakan kejadian tadi dan tetap semangat bekerja.
Di rumah Bang Jimmy, saya menatap lantai granit itu sambil menerawang beragam petistiwa yang terkait dengan benda itu. Benda yang tampaknya biasa, ternyata menyimpan banyak kisah anak manusia. Di rumah Bang Jimmy tersimpan ribuan artefak yang tentunya juga menyimpan ribuan kisah. Setiap benda apapun dan bagaimanapun bentuknya, pasti melewati lintasan proses yang sama, dimulai dari penambangan bahan baku, pengangkutan dari penambangan ke pabrik pengolahan, kemudian dipasarkan, lalu terjadi transaksi antara penjual dengan pembeli. Kemudian digunakan sesuai dengan fungsinya. Setelah melewati jangka waktu tertentu, benda itu akan rusak, pecah, hsncur, lalu dibuang ke tempat pembuangan sementara dan tempat pembuangan akhir. Sebuah benda apa saja pasti melewati proses yang panjang. Dalam proses itu terselip beragam peristiwa / kejadian dramatis, tragis, gembira, silih berganti. Sungguh menarik dan menyenangkan melihat, mengamati dan mempelajari aneka ragam artefak di rumah Bang Jim Siahaan yang saya beri julukan RUMAH SERIBU KISAH. Pada kesempatan lain saya akan berkisah tentang nekara perunggu, setrika kuno.
Salam sehat dari Meneer XVI di De La Rive Ouest
—
*Konsultan Manajemen Lingkungan dan teknik lingkungan, Sistem standardisasi Internasional, manajemen risiko, kebencanaan, manajemen sumberdaya budaya.



