Sisa Piala Dunia : Lewat Valencia, Spanyol Juara!

Oleh Agus Dermawan T.*

Piala Dunia 2026 berakhir. Tim nasional Argentina dikalahkan tim nasional Spanyol. Spanyol pun juara dunia. Warga Spanyol bilang: generasi masa kini (yang diwakili Argentina) sudah ditaklukkan oleh generasi masa depan (yang diwakili Spanyol). Komplek arsitektur neo futuristik Ciudad de las Artes y las Ciences di Kota Valencia adalah lambang spiritnya.

—————–

HOLA! Dalam keramaian Piala Dunia 2026 mendadak diketemukan foto istimewa: Lionel Messi sedang memandikan Lamine Yamal yang masih bayi. Foto tersebut dibikin oleh Joan Monfort untuk kebutuhan pembuatan kalender tahunan yang diinisiasi UNICEF dan Yayasan F.C. Barcelona. Kita tahu, pada 19 tahun kemudian Yamal bermain di tim Spanyol, dan mengalahkan tim Argentina yang dimotori Lionel Messi dengan skor 1-0 dalam laga fantastis pada 19 Juli.

Banyak interpretasi dan firasat atas foto itu. Yang paling mengkristal adalah keyakinan bahwa Yamal menyapa Lionel Messi dengan senyuman “mengalahkan”. Senyuman itu mengatakan bahwa pada waktunya Lionel Messi akan segera sekadar jadi “ayah”, dan singgasana sepak bola akan segera berpindah ke lapangan pemegang masa depan.

Dan lantaran momen itu terjadi di  Camp Nou milik Klub Barcelona, maka yang terbicarakan adalah Barcelona, Barça, Barcelona, Barça, sambil sekali-sekali Madrid. Padahal dalam skuad Spanyol tidak sedikit yang datang dari klub lain, seperti F.C.Valencia, misalnya. Dari klub prestisius ini terbilang nama Cristhian Mosquera, Javi Guerra dan Ferran Torres. Bahkan satu-satunya gol Torreslah yang menjadi kunci kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026.

Tim nasional Spanyol merayakan kemenangan dalam Piala Dunia 2026 di Stadion New York/New Jersey, Amerika Serikat, 19 Juli. (Foto: Dokumen)

Spirit Santiago Calatrava

Menyebut nama F.C.Valencia berarti menyentuh kota Valencia yang terletak di Spanyol Timur, di pesisir Laut Mediterania. Dan saat membicarakan Valencia mau tak mau akan tergunjingkan pula sehampar kota satelit di kawasan Camino de las Moreras. Kota itu bernama Ciudad de las Artes y las Ciences (Kota Pusat Seni dan Ilmu Pengetahuan), yang dibangun dari imajinasi banal Santiago Calatrava, seorang insinyur sipil, arsitek dan perupa kelahiran Valencia, 1951.

Sehampar kota yang konsep pendiriannya jauh melampaui zaman. Dan spirit progresifnya sangat mempengaruhi pikiran-pikiran generasi anak muda Spanyol era milenial, yang di dalamnya menyelip dominan generasi sepak bola.

Ciudad ini – yang memenangi Prince of Astrurias Award for The Arts 1999 – merupakan antitesa dari selera Spanyol yang bertahan pada kuno-kuno (monumen, arsitektur, sastra, seni rupa dan sebagainya). Pilihan dan tampilan yang menyebabkan Spanyol, yang diwakili Madrid, dijuluki “Senora Viejo” atau “Nyonya Tua”. (Baca Lamine Yamal,“La Furia Espanola, sampai Guernica, BWCF, 19 Juli 2026).

 Santiago Calatrava berkata bahwa kota yang berdiri di atas area 375.000 meter persegi ini diberangkatkan dari omon-omon. Sehingga yang muncul adalah bangunan yang serba ganjil dan tak terduga. Dan lantaran omon-omon itu berpusar kepada imajinasi liar, maka yang berdiri di situ adalah gedung-gedung yang bentuknya mengambil citra apa saja. Meski beberapa bisa dikenali: seperti potongan sayap burung pelikan, ubur-ubur, lintah yang sedang bertapa. Atau ikan hiu, yang difungsikan sebagai Museum Reina Sofia cabang Valencia.

Satu distrik di Spanyol yang dipenuhi gedung-gedung klasik, sehingga disebut sebagai “Nyonya Tua”. (Foto: Agus Dermawan T)

Salah satu gedung di kompleks Ciudad de las Artes y las Ciencia. Bangunan neo futuristik ciptaan Santiago Calatrava, yang layak dijuluki “Nona Belia”. (Foto : Agus Dermawan T)

Kota ini semakin khayal ketika dilengkapi dengan “aksesori” yang menawarkan fantasi. Ratusan air mancar sekali waktu muncrat dengan tidak tentu waktunya. Musik mengiringi tiba-tiba. Sementara kolam biru yang menghampar merefleksikan bangunan-bangunan di atasnya, lewat air yang kadang berpendar tanpa “mohon ijin”. Hal lain, kota absurd ini suatu kali tampak sangat indah. Namun di kala lain “ngeri-ngeri sedap”,  karena mendadak menjelma jadi hewan purba yang siap melahap.

Turis seluruh dunia – termasuk saya –  berbaris mengunjungi Ciudad de las Artes y las Ciences. Semua sah untuk duduk terpana di tepian kolam sambil terus menatap gedung Prince Philip Science Museum yang mirip kerangka satwa antah berantah yang menjulur begitu panjangnya.

Warga Spanyol menjadikan kawasan ini sebagai kota perbandingan: betapa “Sang Nyonya Tua” yang kemarin dijunjung-junjung, kini sudah punya anak “Nona Belia Valencia” yang bukan main jelita.

Itu sebabnya Santiago Calatrava lantas dijuluki oleh banyak pengamat sebagai  “Fantasia Escandalosa” atau “Pengkhayal Keterlaluan”. Seniman yang memberangkatkan ciptaannya dari kegilaan khayalan. Sehingga di dalamnya (sekaligus) tersurat ketertiban dan keliaran. Kecantikan dan keanehan. Imajinasi dan kenyataan. Kenyamanan dan gangguan. Dan tentu, masa depan yang meninggalkan masa sekarang.

Bentuk-bentuk arsitekturnya yang organik dan bersifat biomimikri menghadirkan obyek yang asyik dan misterius dipandang. Walau yang terhadir selalu saja menumbuhkan tanda tanya yang berkepanjangan. Namun yang utama, semua itu dibikin menyatu dalam harmoni.

“Ciudad de las Artes y las Ciences bukan hanya bentuk, tapi filosofi. Kota ini adalah buku bagi generasi baru untuk melakukan lompatan yang tak pernah dilakukan orang. Untuk menangkap rahasia era masa depan,” tulis Sara Gonzáles dalam buku Valencia Viva (2012). Pemahaman generasi baru atas filosofi Ciudad ini ditunjukkan oleh skuad La Furia Roja Espanola, yang kemarin jadi juara.

Arsitek, insinyur sipil dan perupa Santiago Calatrava, pembangun simbol masa depan bangsa Spanyol. (Foto : Dokumen)

Pemandangan malam hari di Ciudad de las Artes y las Ciences.  Bayangan fantastis bangunan di kolam. (Foto: Dokumen)

Sepak bola Star Trek

Filosofi Santiago yang dikelindani kegilaan khayalan ini (sangat diduga) diam-diam diterapkan dalam prinsip-prinsip sepak bola Spanyol. Lalu  diam-diam diajarkan oleh coach Luis de la Fuente, untuk dijalankan oleh sang kapten Rodri, Yamal, Cucurella dan kawan-kawannya.

Seperti seni arsitektur kontemporer Santiago, Fuente menerapkan kerapihan dalam kekacauan, kehebohan dalam ketenangan, kecepatan dalam kesantaian. Semua pemain dibiarkan liar dengan imajinasinya. Dibiarkan berkembang secara organik. Dibiarkan bergerak seperti biomimikri, sehingga selalu menyatu dengan lapangan. Namun, meski berlari di tengah berbagai kontradiksi, tim tetap kompak bekerja dalam kesatuan, sehingga menghadirkan harmoni dalam permainan.

Ujungnya, yang tersaji adalah atraksi cantik, tapi tak terjelaskan maksudnya. Karena yang terjadi beringsut antara menghibur (penonton) dan pengelabuhan, antara pertunjukan dan penipuan. Suatu hal yang terbukti membingungkan lawan. Menarik, “rahasia dari masa depan” itu dibungkus oleh gaya penguasaan bola, gaya tiki taka, serta taktik pertahanan yang sudah klasik dan melegenda.

Itu sebabnya tim negara mana pun tak mampu membobol gawang Spanyol – kecuali satu – sepanjang putaran Piala Dunia 2026. Sementara Spanyol memasukkan 14 gol.

Bahkan Lionel Mesi pun kemudian terkecoh. Betapa bayi yang belum lama ia mandikan, ternyata sudah berada nun jauh di masa depan sana, dengan meninggalkan dirinya yang masih berlari-lari di masa sekarang.

Gedung mirip lintah bertapa di komplek Ciudad de las Artes y las Ciences, Valencia. (Foto : Agus Dermawan T).

Pada suatu kali saya menunjukkan album foto perjalanan kepada cucu, Rian Artemis Sebastian, mahasiswa fakultas perfilman di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang. Ketika sampai pada foto-foto Ciudad de las Artes y las Ciences, si cucu terpana. “Ha ha, tempat ini adalah salah satu stasiun pasukan angkasa luar dalam film Star Trek!” serunya. Memang, film garapan J.J.Abrams tahun 2009 dan 2013 tersebut memakai komplek itu sebagai setting. Padahal film menceritakan kejadian dunia antariksa pada puluhan tahun akan datang.

Ketika dihubungkan dengan filosofi “menangkap masa depan”, dan dikaitkan dengan Star Trek, maka sepak bola Spanyol generasi Yamal  sudah sampai para era Kapten James Tiberius Kirk, Mr. Spock dan lain-lain itu. Sementara Argentina misalnya, masih berada di era masa kini, sambil ajeg mempertonton taktik viveza criolla dan la scaloneta yang sudah dikenal siapa saja.

Ujung kalam adalah sisa Piala Dunia. Perayaan kemenangan Spanyol tentu tidak hanya dirayakan di Barcelona, Madrid, Sevilla, Bilbao, San Sebastian. Tapi juga di Valencia, kota yang memberi inspirasi dan filosofi sehingga menjadi juara. Viva Espana!*

*Agus Dermawan T. Kritikus seni, penulis buku dan pelancong, yang sekali waktu menonton sepak bola.