Masyarakat Urban dan Gema Kreativitas Pengarang Muda
Oleh: M. Rifdal Ais Annafis*
Dengan sedikit terpukau, saya ingat betul apa yang digambarkan Goenawan ketika ia memutuskan menjadi penyair: Ia tekun membaca dan berkenalan dengan buku tipis Tifa Penyair dan Daerahnya, milik H.B. Jassin, seorang kritikus sastra yang teguh dan berpengaruh. Di buku tersebut, untuk memasuki gelanggang sastra, setidaknya seorang penyair perlu menguasai tiga disiplin ilmu yakni psikologi, filsafat, dan sosiologi.
Saya paham betul, Jassin seorang yang berdedikasi dan murni terhadap kesusastraan Indonesia. Saya paham, agaknya kita semua, upaya Jassin dalam membebani kerja kreatif pengarang membuahkan hasil matang dan menggairahkan. Kendati demikian, mengapa seorang yang memilih jalan menyair harus menguasai hal itu?
Belakangan saya sadar. Nampaknya, hasrat yang dilemparkan Jassin kepada kita mempengaruhi setiap produk kreatif pengarang, terlebih seperti pengakuan Chairil Anwar awal Juni 1943 ketika menyampaikan pidato kebudayaan di Angkatan Baru Pusat Kebudayaan Jakarta. Dengan dada bergejolak ia menyebut: seni cipta adalah “soal hidup dan mati”. Sebab spekulasi Chairil kita dapat memahami betapa kesusastraan, yang kita pegang erat itu, bukan hanya sekadar lintasan teknik dan ekspresi terhadap persoalan faktual tetapi soal pandangan hidup dan tetek-bengek lainnya yang berkaitan dengan moralitas manusia.
Penyair muda dewasa ini, agaknya boleh saya menyebut, dalam kerja kreatifnya, berkutat pada tiga disiplin ilmu yang dihamparkan Jassin: mereka memainkan persoalan psikologi masyarakat urban yang disinggungkan terhadap kredibelitas dunia kerja dan iman kepada sesuatu yang tak tampak. Kadang-kadang, mereka memberi semacam pertanyaan-pertanyaan berbau filsafat yang mengarah pada pegangan umum masyarakat urban. Di lain hal, mereka berupaya menunjukkan ironi yang menyergap komunitas masyarakatnya.
Kecenderungan tersebut sebetulnya telah tampak ketika penyair muda seperti Aan Mansyur, Norman Eriksen Pasaribu, Mario F. Lawi mencuat di gelanggang sastra Indonesia. Topik persoalan yang diangkat mereka bukan sekadar “sesuatu yang jauh” seperti pengarang-pengarang sebelumnya. Bila penyair angkatan lama memposisikan diri sebagai pemangku adat, penyair kini lebih memposisikan diri menjawab dan merekam realitas sosial masyarakatnya.
Pernyataan saya, sebetulnya tidak ingin mendiskreditkan penyair lama yang menggarap hal serupa. Tetapi sejauh telaah saya, agaknya, upaya mereka seperti katakanlah Subagio Sastrowardoyo atau Sapardi Djoko Damono, meski dengan cara pengucapan serupa, belum berupaya mempersoalkan tema-tema urban.
Saya menduga banyak hal. Gejala kebahasaan ini lahir berkat upaya Joko Pinurbo, penyair yang mangkat beberapa bulan lalu itu, dalam mendekatkan sastra kepada khalayak luas.
Aan Mansyur, dalam beberapa sajaknya kita dapat merasai hasrat dan semangat masyarakat urban itu hadir. Misalnya, “/tiap pagi aku ke kedai kopi dekat rumah /mencuri dengar kenyataan berhamburan /dari pikiran yang lebam dan belum berhenti /mencari //”semalam di dalam mimpi aku bertemu tuhan /untuk aku sembah, dia bernama sakit yang tidak ingin sembuh.” //” dalam puisi Tuhan di Kedai Kopi. Dua bait ini, saya rasa cukup merepresentasikan bagaimana kecenderungan kerja kreatif penyair muda yang terus berupaya memberi semangat urban dalam setiap karangannya.
Saya tertarik membincangkan puisi Michael Djayadi dalam kumpulan puisi pertamanya bertajuk, Sebelum Burung-burung Melawan Gravitasi (Pelangi Sastra, 2021) dengan mengambil satu puisinya untuk ditelaah berjudul, “Hal-hal Memusingkan Menjadi Dewasa” yang akan saya kutip utuh:
Hal-hal Memusingkan Menjadi Dewasa
Hal-hal memusingkan menjadi dewasa antara lain
kau mesti menghabiskan waktumu dan menghabiskannya
dengan mendirikan api unggun yang mesti terbakar meskipun
kau tau, kau tak punya kayu atau kertas
Menjadi bulan-bulanan waktu tak apa, asal
kau serius mencari cara menjadi api yang
muncul dari mana saja, meski, lagi-lagi, kau tahu
kau tak mampu menjadi kayu atau kertas.
Kau adalah api yang mereka tunggu-tunggu
saat abumu tak tersisa menjadi nyala
Puisi Micael Djayadi, nampaknya seperti yang saya sebut di awal mempersoalkan “sesuatu” yang dihadapi masyarakat urban kebanyakan. Tentang apa yang diperlukan ketika menjadi dewasa. Garapan ini berkaitan erat dengan habbitus masyarakat urban yang bersandar pada konsep kapitalis. Sistem kapitalisme, sederhananya, adalah sistem ekonomi yang memberi kendali penuh pada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi agar memperoleh keuntungan, tanpa batas, tanpa sekat, dengan aturan-aturan yang kabur.
Dampaknya, masyarakat urban, terutama yang menjadi buruh harus saling sikut dan menyingkirkan, di sisi lain terus berupaya menambah jam kantor dan melakukan upaya semaksimal mungkin terhadap pekerjaannya. Dalam puisi Hal-hal Memusingkan Menjadi Dewasa, Michael menampilkan ironi masyarakat urban dengan mengetengahkan pengorbanan terhadap apapun termasuk “/kau mesti menghabiskan waktumu,…/” untuk “/…dengan mendirikan api unggun…/”. Frasa “menghabiskan waktumu” menjadi perlambangan terhadap upaya “mendapatkan sesuatu” yaitu “api unggun yang mesti terbakar” kalimat ini sebagai alusi kebutuhan masyarakat urban.
Ironinya adalah, dari desakan-desakan “kebutuhan” masyarakat urban yang aneh dan mengkhawatirkan tersebut, “/meski kau tau,/ kau tak punya kayu atau kertas/” simbol “kayu” atau “kertas” kita ibaratkan sebagai, “si aku lirik dalam puisi tersebut tidak memiliki kesempatan untuk menghadapi dewasa.
Kendati demikian, sayangnya, penyair muda kita tidak memberikan perhatian lebih terhadap imajinasi dan kemegahan kata-kata. Seperti Michael, atau Muhamin, atau penyair muda lain. Mereka barangkali lupa, puisi, sesederhana apapun perlu mempertimbangkan daya magis dengan diksi-diksi yang mudah meninggalkan gema. Sayangnya.
Yogyakarta/Pincuk, 2024
—
*Rifdal Ais Annafis, Menggiati Teater di ISI Yogyakarta. Buku prosanya yang akan terbit, Hari yang Dikecualikan Langit dan Kisah Melankoli Lainnya. Bisa di hubungi via:No: 08812230121 Gmail: rifdalayis@gmail.com




