Lamine Yamal, “La Furia Espanola”, sampai Guernica
Oleh Agus Dermawan T.*
“Kemarahan Spanyol”, sebagaimana tertulis dalam moto tim nasional sepak bola Spanyol, tidak terpresentasi pada kota-kota di Spanyol. Negeri maestro dalam menjajah ini ternyata ramah.
————–
HOLA! Salah satu negara yang saya kagumi adalah Spanyol. Kekaguman ini dipicu oleh tiga hal.
Pertama, Spanyol adalah bangsa penjajah yang bukan main kekuasaannya. Bayangkan, sejak 1692 sampai 1898 Spanyol telah menguasai 20 negeri!
Kedua, lantaran lagu-lagu Spanyol yang melodius dan dinamis, seperti Macarena, Besame Mucho, La Bamba. Dan terutama lagu La Paloma ciptaan Sebastian Iradier tahun 1890. Satu lagu yang selalu dimainkan dan dinyanyikan oleh big band Irama Teratai pimpinan Goentoro Tantono, ayah saya, yang aktif berpentas pada 1960 sampai 1967 di Rogojampi dan Banyuwangi.
Ketiga, karena sepak bolanya. Pada tahun 1920-an Spanyol telah memiliki maestro sepak bola yang sangat dikenal di seluruh dunia. Dia adalah Ricardo Zamora, yang dijuluki El Divino atau Sang Dewa. Saya tahu nama Ricardo Zamora dari ayah. Sementara ayah tahu nama itu dari pelukis besar S. Sudjojono, yang pada tahun 1930-an bertugas sebagai guru Taman Siswa di Rogojampi. Di kota kecil mungil berpeta “satu jalan lurus” ini Sudjojono mendirikan kesebelasan Laar (artinya: Ekor). Ayah adalah bagian dari kesebelasan itu, jadi kiper.
Maka diam-diam Spanyol menyelip di hati saya. Saya pun jalan-jalan ke Spanyol. Banyak tempat tersinggahi. Meski yang utama adalah Barcelona dan Madrid, yang kebetulan kota sepak bola.

Para pemain Spanyol sedang bergembira setelah mencetak gol dalam Piala Dunia 2026. (Foto : Dokumen).
Cinta di Barcelona
Barcelona adalah kota yang amat bangga dengan bangunan klasiknya. Sehingga turis diajak menatap gapura kemenangan perang Arc de Triomf, yang merupakan pengindahan gapura semacam di Paris. Sagrada Familia, basilika berarsitektur organik rancangan Antoni Gaudi, yang baru rampung setelah dikerjakan dalam waktu hampir satu setengah abad
Untuk memberikan jeda atas yang serba bercitra “kuno”, Barcelona membuat bangunan kontemporer. Collserola Tower misalnya, yang seperti belalang raksasa. Agbar Tower, gedung berlantai 40 berbentuk runcing peluru yang bercahaya penuh warna. Atau Fondació Joan Miró, museum lukisan Miro yang arsitekturnya imut dan lucu.
Dan tentu – ini dia – stadion sepak bola Camp Nou, yang modelnya molek seperti mangkuk makanan astronot bintang lain. Camp Nou stadion milik Klub Barcelona, atau Barça. Klub raksasa pelahir Pau Cubarsi, Pedri, Dani Olmo, Ferran Torres, Eric Garcia, Gavi dan penjaga gawang Joan Garcia, yang pada Piala Dunia 2026 menjadi skuad Spanyol utama. Tak terkecuali penyerang paling berbahaya Lamine Yamal Nasraoui Ebana, 19 tahun.
Bahkan dalam klub ini pernah bergabung Lionel Messi pada 2000 sampai 2004. Lionel Messi tetap dielu-elukan di Barcelona. Walaupun beberapa kali, termasuk dalam Piala Dunia 2026, Lionel cum Argentina menjadi lawan gila Spanyol di lapangan. Karena itu toko suvenir di Museum Barça menjual jersey Barça bernomer magis 10, yang dulu dipakai Lionel Messi.
Barcelona memang mempesona di semua sisinya. Sehingga benar belaka lagu cinta Barcelona yang digubah Fariz RM: “Gemerlap pesta kota, getar flamenco mengalun jiwa.” Lagu yang dirilis tahun 1988 dan moncer di udara.
Namun di balik yang serba cantik itu diam-diam ada yang terasa kurang dari Barcelona. Setidaknya setelah saya (dan semua orang) teringat akan sebutan atau moto timnas Spanyol, yakni “La Furia Espanola” yang artinya “Kemarahan Spanyol”, atau “La Furia Roja”, atawa “Kemarahan si Merah”. Sebagaimana yang dilambangkan lewat jersey timnas Spanyol yang selalu didominasi warna merah api menyala-nyala. Di Barcelona yang halus dan feminin, kalimat yang menggaungkan mentalitas petarung perang itu serta merta tenggelam.

Lionel Messi didampingi Sheila Ebana, ibunda Lamine Yamal, sedang memandikan Lamine Yamal (9 bulan) tahun 2008. Kini kedua lelaki itu bertemu sebagai lawan di lapangan. (Foto : UNICEF Katalonia)

Patung Mistos, karya Claes Oldenburg di Barcelona yang menggambarkan perahu korek api yang siap mendatangi dan membakar apa saja dan siapa saja. Dianggap sebagai lambang “kemarahan Spanyol”. (Foto : Agus Dermawan T)
Jadi sebenarnya, di Spanyol sebelah mana “La Furia Espanola” dan “La Furia Roja” bisa dirasa-rasa? Seorang pegawai hotel menjawab, mungkin saja spirit itu ada pada patung monumen Claes Oldenburg. Monumen yang menggambarkan perahu sedang memuat batang-batang korek api yang siap disulut. Sementara seorang pemandu wisata bilang seenaknya, “Spirit itu mungkin ada di Madrid!”
Dengan modal percaya, kaki pun menuju ke Madrid.
Ternyata ketemu Nyonya Tua
Di Madrid, di kawasan Bulecar Castelana, saya clingak-clinguk di tepian jalan. Melihat saya rada bingung, seorang polisi datang menghampiri. “Anda mau ke mana?” Saya menjawab, “Mencari monumen yang menggambarkan La Furia Espanola”. Polisi itu tertawa. Ia mengatakan bahwa Madrid adalah kota sangat lama, sehingga sering dijuluki Nyonya Tua. Maka, mana bisa seorang nyonya tua marah-marah? Atas jawaban itu muncul pertanyaan dalam hati. Lantaran setahu saya, Nyonya Tua itu julukan terkenal untuk kesebelasan Juventus, Itali.
Nyonya Tua atau Senora Viejo Madrid terpresentasi dalam seni lama (arsitektur, lukisan, patung, sastra). Itu sebabnya di kota ini didirikan Plaza de Espana, sehampar taman luas yang melindungi Monumen Cervantes. Kita tahu, Miguel de Cervantes (1547-1616) adalah novelis, pengarang drama dan penyair yang amat terkenal dengan karangannya, Don Quixote.
Monumen ini sangat indah. Di bagian puncak tampak patung dua anak sedang membaca buku. Di bawahnya terlihat sang pujangga Cervantes sedang duduk anggun dengan tangan kanan memegang manuskrip. Sedang di bagian pelataran terlihat patung Don Quixote dan sahabatnya, Sancho Panza, sedang mengendarai kuda. Yang unik, patung monumen ini boleh dipanjati oleh anak-anak, karena memang difungsikan sebagai obyek potret-potretan.
Yang tak kalah menarik (dan tua) adalah Plaza de Cibeles yang diaksentuasi patung Dewi Cibeles, rancangan Jose Hermosilla dan Ventura Rodriguez pada abad 18. Di plaza ini kesebelasan Real Madrid yang sedang menang selalu bikin perayaan. Di sini bek kiri Marc Cucurella, jagoan Spanyol dalam Piala Dunia 2026, sering berteriak “Somos campeones!” Kami juara!

Madrid yang dipenuhi bangunan berarsitektur klasik, sehingga dijuluki Nyonya Tua. (Foto : Agus Dernawan T).

Marc Cucurella yang jadi bintang skuad Spanyol dalam Piala Dunia 2026 dengan jersey berwarna merah, simbol “Kemarahan Spanyol” (Foto : Dokumen)
Yang tak boleh dilewatkan adalah Plaza de Toros, meski nggak bagus-bagus amat. Plaza de Toros adalah bangunan yang didirikan pada abad 18, untuk pertunjukan matador. Di arena ini muncul nama-nama matador top, semisal Juan Belmonte, Cagancho, Dominuin, Manuel “El Cordobes” Benitez. Toros artinya perkelahian melawan banteng. Sementara orang yang melawan banteng disebut torero.
Plaza de Toros memang punya daya tarik khusus. Di situ ada Museo Taurino yang berisi benda-benda memorabilia para matador. Seperti aneka foto, patung, buku, pakaian, pedang, sepatu, bendera, selendang merah (lagi-lagi merah) yang bikin si banteng marah-marah. Tak terkecuali kepala-kepala banteng yang berhasil dijagal di arena. Kepala-kepala hewan segede karung kopra itu diopset dan dipajang di dinding.
Sementara di pelataran plaza para wisatawan dipikat sejumlah kios yang menjual tandamata. Di antaranya menawarkan poster-poster pertunjukan matador. Di dalam poster itu wisatawan bisa “jadi matador” dengan cara menyelipkan namanya sendiri di tengah nama-nama matador legendaris yang sudah tercetak. Nama itu dicetak dengan menggunakan stempel karet. Satu poster kertas berukuran 90 x 40 cm berharga 6 euro, atau sekitar Rp.130.000,- Kenang-kenangan yang terhitung murah, karena tak ada duanya di dunia!
Predikat “Nyonya Tua” ternyata tidak hanya berpaut dengan seni rupa dan sastra. Makanan pun dimasukkan sebagai bagian ruh kuno kota Madrid. Tak percaya? Berjalanlah ke Jalan Calle de Cuchilleros, tak jauh dari Plaza Mayor. Dan carilah bangunan nomer 17. Di situ tampak Restaurante Botin. Inilah rumah makan paling tua di dunia, karena didirikan pada tahun 1725. Selama 300 tahun restoran ini tak pernah tutup, dengan tempat yang di situ-situ juga. (Maka kalahlah usia restoran Wong Fu Kie di Jakarta, yang “baru” berusia 101 tahun). Karena itu Restaurante Botin masuk Guinness Book of Records.
Syahdan sangat banyak pesohor yang menjadi pelanggannya. Dari Ernest Hemingway, pengarang Amerika penerima Nobel 1954 sampai selebritas 1980-an Robert Redford. Artis masa kini yang terkesima dengan cita-rasa Botin di antaranya adalah Julia Robert, Antonio Banderas, Penelope Cruz, Javier Bardem.
Mendengar mitosnya saja lidah ini terasa terus menari. Sementara membaca harga menunya dompet di kantong mendadak joget. Untuk menu edisi Spring-Summer, dengan sajian gazpacho (semangkuk sup dingin ala Andalusia), roasted suckling pig, es krim, roti, setengah gelas wine, sebotol bir atau air putih, Restaurante Botin menarif 63,10 euro, atau sekitar Rp.1.250.000,- Rupanya resto ini punya semboyan: makin tua makin besar duitnya.
Kembali ke marah
Lalu, di mana jadinya “Kemarahan Spanyol”? Tak terjumpa. Karena istilah ini ternyata hanya untuk mengingat kehebatan militer Spanyol abad ke-17, yang agresif menjajah wilayah Eropa dan lantas ke seluruh dunia. Konon, dulu, untuk memotivasi para tentara, komandan selalu menegaskan rumus: dengan kemurkaan tak alang kepalang pasukan bisa bertarung sampai menang.

Penulis di bawah monumen petualangan Don Quixote, untuk mengabadikan nama pengarang besar Miguel de Cervantes. (Foto : Iliana)

Lukisan Pablo Picasso, Guernica, 1937. Gambaran kemarahan dan kebencian warga sipil Spanyol kepada pasukan Nazi dan Itali. (Foto : Agus Dermawan T).
Namun kalau pun ingin mendapatkan bukti sedikit “La Furia Espanola”, bolehlah melihat lukisan Francisco de Goya, El tres de Mayo de 1808 (Pembunuhan 3 Mei 1808), yang terpajang di Museo Naćional del Prado. Lukisan ciptaan 1814 ini menceritakan proses eksekusi brutal pasukan Napoleon kepada warga sipil Spanyol di Madrid. Goya menggambarkan kemarahan (dan kebencian) hebat warga Spanyol kepada Pasukan Napoleon.
Yang lain adalah lukisan Guernica, ciptaan Pablo Picasso tahun 1937, yang terpajang di Museo Naćional Centro de Arte Reina Sofia. Dalam bidang hampir delapan meter Picasso menggambarkan kemarahan (dan penderitaan) dahsyat warga sipil di Basque yang diserbu dan dibom oleh Nazi dan Itali pada 26 April 1937.
Ujung kalam, “La Furia Espanola” sekarang ada di lapangan bola MetLife – New York/New Jersey, Amerika Serikat, saat Spanyol berhadapan dengan Argentina di Piala Dunia, 20 Juli 2026.
Adios. Nos vemos! *
*Agus Dermawan T. Kritikus seni, pelancong, penulis buku budaya, yang sekali-sekali menonton sepak bola.




