Di Desa Tambi Puspasari Mancari Diri
Oleh: Supali Kasim*
Pencarian apa bagi penari Ni Kadek Yulia Puspasari di Desa Tambi?
Awalnya ia menunjukkan gerak tari Pendet. Hanya berbusana biasa, bukan busana tari Bali. Gamelan yang mengiringi juga berasal dari audio sederhana, tetapi menggema. Puspasari seakan-akan menunjukkan perjalanan awalnya memang berakar dari Bali. Tetapi, di sini, terlihat sekali ia tidak mengabarkan sebagai “selamat datang” semata. Ia seakan-akan ingin mengembalikan pada akarnya, Pendet sebagai bagian dari hubungan transendental. Bagaimana ritual itu memiliki kaitan erat antara langit dan bumi, sang pencipta dan manusia, dalam gerak yang lebih impresif.



Publik di Desa Tambi, Sliyeg, Indramayu memang disuguhi panorama yang tidak biasa. Di sanggar tari Mulya Bhakti itu dalam keseharaian bernuansa tari topeng dengan panca wanda atau lima karakter. Anak-anak dan remaja berlatih tari dari nomor klana, tumenggung, rumyang, samba, hingga nomor yang perenungan, panji. Malam itu (18/07/2026) suguhan gerak Pendet seperti menyentak. Ada sesuatu yang berbeda dalam bunyi-bunyian maupun gerakan, terutama gerak kepala, kipas di tangan, dan lirik mata yang menarik.
Anak-anak dan remaja yang berada di sisi blandongan yang disulap menjadi pentas pertunjukan terpesona pada titik di tengah pentas itu. Para orang tua dan masyarakat umum yang berada di hadapannya, seperti menemukan atmosfer yang lebih kaya. Belum terpuaskan oleh panorama itu, Puspasari kemudian mengganti gerak yang lain, Legong.
Tari Legong dengan Gamelan Dermayon
Tersembul penegasan, bahwa ia adalah perempuan Bali yang diekspresikan dalam gambaran feminin dan luwes, dan terikat pada struktur sosial maupun kultural. Tubuh yang gemulai sebagai “leg” berpadu dengan harmoni alam dari suara gamelan sebagai “gong”. Harmoni itu bahkan lebih meluas, ketika ia minta pada panjak (pengrawit) gamelan sanggar tari Mulya Bhakti untuk mengiringinya. Bunyi-bunyian gamelan Dermayon itu kemudian menyatu padu dengan geraknya dalam Legong.


Mungkin pula suasana manunggal itu memiliki latar yang tidak hanya dari sisi seni suara. Lebih dari itu seperti mengungkapkan latar histori yang pernah memiliki akar yang serupa. Latar bernuansa Kerajaan Majapahit (abad ke-15) merupakan salah satu yang menjadi akulturasi di Bali. Di wilayah Indramayu, pantai utara Jawa Barat, tepatnya hilir sungai Cimanuk, seperti dicatat Tome Pires pada tahun 1513-1515 dalam Suma Oriental yang dibukukan Armado Cortesao, sebagai wilayah perbatasan Jawa dan Sunda, Kerajaan Jawa dan Kerajaan Sunda. Pada catatan kaki disebutkan, raja pada Kerajaan Jawa itu adalah Prabu Vojyaya, yang diinterpretasikan sebagai Prabu Brawijaya.
Tidak heran pula bisa bahasa daerah Jawa yang berkembang di Indramayu memiliki akar dari bahasa Jawa kuno, sebagaimana pula bahasa Bali. Meskipun berada di Provinsi Jawa Barat yang mayoritas berbahasa Sunda, justru bahasa Jawa di Indramayu adalah mayoritas dengan sekitar 90% penduduknya menggunakan bahasa Jawa dialek Indramayu. Beberapa kata yang memiliki kesamaan dengan Bali, bisa disebutkan antara lain biyang (ibu), cager (andal), kebek (penuh), dum (bagi), émpér (serambi), ika (itu), kadung (terlanjur), kalenger (pingsan), alang-alang/lalang (ilalang), endas/tendas (kepala), manjing (masuk), rabi (istri), umah (rumah), adol (jual), dan lain-lain.
Epos Panji sebagai Kontemplasi
Bagi Ni Kadek Puspasari mungkin ada daya tarik tersendiri untuk melakukan penjelajahan di tanah Dermayu. Desa Tambi, salah satu desa di antara 317 desa dan kelurahan di Kabupaten Indramayu yang diselaminya, seperti membuka ruang pencarian jati dirinya. Ia memang berdarah Bali, tetapi juga raga dan jiwanya juga tumbuh dan berkembang di Solo. Ia juga menemukan ruang kontemplasi cerita rakyat Panji, yang memiliki latar epos abad ke-11 dan abad ke-12 pada masa Kerajaan Daha (Kediri). Namun, pada episode itu ia teringat pula pada tari kekebyaran.
Karakter tokoh seperti Panji Asmarabangun atau Inu Kertapati, Dewi Sekartaji atau Dewi Candrakirana, hingga Panji Semirang yang telah mempertautkan hatinya, menjadi ruang pencarian jati dirinya. Secara latar folklor, gerak tari pada nomor Panji menggambarkan sosok Panji Asmarabangun atau Inu Kertapati. Samba menggambarkan Raden Gunungsari, saudara Dewi Sekartaji atau Candrakirana. Rumyang sebagai Dewi Sekartaji atau Candrakirana. Tumenggung mempersonifikasikan seorang patih dari Kerajaan Jenggala. Klana, sebaliknya, yaitu mengambil peran sebagai tokoh antagonis yang menggambarkan penguasa Bantarangin yang jatuh cinta dan tergila-gila pada Candrakirana.
Namun latar itu kemudian memperoleh tafsir yang lain ketika berada di Indramayu, yaitu lebih puitis dengan tafsir sebagai latar eksistensi. Panca wanda lebih menitikberatkan pada proses keberadaan manusia dari lahir sebagai bayi yang bersih tanpa dosa (panji), masa kanak-kanak yang ceria (samba), masa remaja yang serba ingin mengetahui tetapi masih samar-samar (rumyang), sebagai manusia dewasa yang memiliki cita dan karsa (tumenggung), hingga menjadi penguasa yang justru merasa telah memiliki segalanya dengan angkuh tak tertandingi (klana).
Sebagai suatu proses kehidupan, panca wanda juga ditafsirkan sebagai sirkular yang dimulai dari karakter manusia yang bergerak sembarang dalam pengembaraan (klana). Lalu ia menemui masa yang agak teratur dan ritmis menjalani kehidupan (tumenggung). Perjalanan berikutnya adalah seperti terjadi das sein atau kenyataan pada satu sisi, dan das sollen atau harapan pada sisi yang lain dalam langkah-langkahnya (rumyang). Masa pemikiran mulai terjadi ketika apa yang ia lihat harus direnungkan lebih dalam, sehingga gerak kehidupan seperti monoton (samba). Puncaknya adalah masa perenungan secara mendalam, diam, dan impresif untuk menemukan dirinya sendiri (panji).
Epos Panji di Indramayu bukan hanya terdapat dalam tari topeng, namun juga pada seni wayang golek cepak/menak. Jika di wilayah kultural Pansundan wayang golek memanggungkan cerita Mahabharata dan Ramayana, wayang golek di Indramayu menampilkan tiga jenis cerita, yaitu panji, menak, dan babad.

Fase-fase dalam topeng panca wanda mungkin pula bagi Ni Kadek Purnamasari menjadikannya lebih menyelami sebagai ritme hidupnya. Dalam kontemplasi di wilayah geografis, kultural, maupun transendental, baik di Solo, Bali, daerah-daerah lai di Indonesia, hingga Pracis ia mengalami proses itu menuju kematangan.
‘Midang Sore’ dalam Oase Estetika
Pada acara Midang Sore di Desa Tambi yang digawangi maestro tari topeng Mimi Wangi Indriya itu, aura pencarian diri juga berlanjut dalam skala global. Apa lagi ia juga hidup di Eropa yang memiliki latar kultural berbeda. Mungkin pula simbol itu terlihat ketika ia selesai menarikan gerak tari klasik daerah Bali dan Dermayu ditemani penari lainnya dari sanggar Mulya Bhakti, Tri Novita Sari. Kemudian Puspasari mencopot bajunya, dan tampak pula baju lainnya. Beberapa nomor tari ia suguhkan, dari mulai jenis kontemporer, modern, hingga ke neo klasik.

Perjalanan tersebut memang ia lakukan. Ketika pada neo klasik, ada pemikiran dan pertanyaan, kenapa harus cantik? Kenapa harus pakai sepatu? Ini, yang kemudian memicu lahirnya tari modern. Namun, strukturnya bukan yang sudah jadi. Di situ juga mengharuskan adanya eksplorasi. Hasilnya adalah tiap orang menjadi dirinya sendiri, karena didukung oleh naluri yang lebih leluasa.
Bagi Mimi Wangi Indriya, acara bulanan Midang Sore awalnya ditujukan kepada anak-anak sanggarnya, terutama dalam pertunjukan kenaikan tingkat. Pada perjalanan berikutnya terdapat penambahan bobot dengan hadirnya beberapa rekan penari, koreografer, dan seniman lainnya dari berbagai daerah, kota, dan negara lain. Acara pun menjadi lebih ekspresif dan apresiatif. Pada acara tersebut seperti muncul adanya oase yang menjadikan penonton ingin menyegarkan pikiran dan rasa estetikanya.
Warga desa juga seperti membandingkan berbagai jenis tari maupun kesenian lainnya. Sebab, tidak hanya pada penari dan koreografer dari berbagai wilayah yang tampil pada acara bulanan itu. Di situ seringkali pula tampil seniman lainnya, dari seni teater, sastra, musik, maupun rupa.
Dalam khazanah Jawa Indramayu, midang berarti pertemuan secara santai dalam suatu tempat sederhana di lingkungan para tetangga. Sore adalah waktu, yang boleh dikatakan durasinya berbeda dengan skala nasional. Sore berjangka waktu antara pukul 16.00 hingga pukul 21.30. Setelah jam tersebut disebut bengi/wengi (malam).
Midang Sore di Desa Tambi sangat mungkin telah mengantarkan penari Ni Kadek Puspasari menemukan dirinya dalam kontemplasi secara geokultural.***
*Supali Kasim, penikmat seni, sastrawan, tinggal di Indramayu.





