Pos

Rumah Proklamasi dan Ingatan Bangsa Membangun Kembali Simbol Kemerdekaan atau Membangun Masa Depan Sejarah Indonesia?

Oleh: Asfarinal* “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Kalimat yang sering dikutip dari Bung Karno tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang penghormatan kepada manusia, tetapi juga kepada ruang-ruang tempat sejarah bangsa itu dilahirkan. Sebab sejarah tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu memiliki panggung, memiliki lanskap, memiliki bangunan yang menjadi […]

Melankolia dalam Aruna dan Lidahnya

Oleh: Anton Kurnia Ada satu pertanyaan yang secara implisit terus menghantui penonton sepanjang film Aruna dan Lidahnya (2018) garapan Edwin:[1]apa yang sesungguhnya dicari oleh Aruna? Film yang diadaptasi dari novel Laksmi Pamuntjak[2] dengan judul sama (2014) ini sepintas tampak menjawab pertanyaan itu dengan sederhana: Aruna mencari comfort food yang ia rindukan tanpa tahu persis apa […]

Nonton Film Odyssey di Open Air Swiss

Oleh: Sigit Susanto Kamis, 30 Juli 2026 menjelang pukul 21.00 aku naik sepeda ontel menuju Open Air di tepi danau Zug, untuk menonton film bahasa Jerman Die Odysee (Odyssey). Seorang satpam berseragam biru memeriksa tiketku dan aku berlengggang masuk arena berpagar besi itu. Kulihat banyak orang sedang menikmati makanan dan minuman di meja-meja berpayung. Maklum […]

Kongres Kebudayaan Nusantara

Oleh: KRHA. Prof. (HC). Dr. Dimas Indianto S.* Kongres Kebudayaan Nusantara Gelombang peradaban bergerak semakin cepat melintasi batas-batas geografis, membawa ragam gagasan, selera, dan cara hidup yang menjangkau hampir seluruh ruang kehidupan. Kemajuan teknologi menghadirkan peluang yang luas, namun bersamaan dengan itu lahir kecenderungan menyeragamkan cara berpikir manusia. Tradisi lokal perlahan bergeser dari ruang hidup […]

Seni Pertunjukan dan Politik Kehadiran

Oleh: Purnawan Andra* Setiap Kamis, sekelompok orang berpakaian hitam berdiri diam di depan Istana Negara. Mereka tidak banyak berorasi, tidak keras meneriakkan slogan, suasananya bahkan nyaris seperti tidak banyak yang berbicara. Yang terutama mereka lakukan hanya berdiri sambil memegang payung hitam dan foto orang-orang terdekat mereka yang hilang hingga kini. Di tempat lain, beberapa waktu […]

Buku Koleksi Benda Seni

Oleh: Mikke Susanto* Dalam beberapa dekade muncul fenomena terbitnya buku-buku koleksi seni rupa di berbagai negara. Meskipun fenomena ini tidak sebesar bidang bisnis maupun politik, tetap perlu mendapat perhatian. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik mengoleksi tak berhenti di ranah privat dan hanya terkait dunia seni. Namun juga bergerak menjadi medan representasi kultural yang luas, bahkan […]

Losarium: Licentia Poetica untuk Menciptakan Jejak Terbuka

Oleh: Indro Suprobo* Write, form a rhizome, increase your territory by deterritorialization, extend the line of flights to the point where it become an abstract machine covering the entire plane of consistency Gilles Deleuze & Felix Guattari Kutipan pernyataan Gilles Deeuze dan Guattari ini merupakan ajakan dan tantangan bagi setiap orang untuk senantiasa menjalani proses […]

Tong Tong Nostalgia

Oleh: Agus Dermawan T. Jakarta Fair Kemayoran dibuka pada tengah Juni ini. Kita pun boleh terkenang Pasar Malam Besar Tong Tong di Den Haag, Belanda, yang puluhan tahun diselenggarakan pada bulan Juni pula. Tong Tong adalah pasar malam untuk nostalgia ratusan ribu orang Belanda yang pernah tinggal di Hindia Belanda-Indonesia, sebelum 1950. ——- INI cerita […]

Musik untuk Mencerdaskan, Musik untuk Perdamaian, dan Musik untuk Berlaga

Oleh: Ananda Sukarlan* Sebuah catatan ulangtahun Ananda Sukarlan ke-58, menyongsong Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 “Musik itu bahasa universal” adalah sebuah pernyataan yang sudah sangat kita kenal, dan sudah tidak bisa diperdebatkan lagi. Tentu ini merujuk kepada musik instrumental (tanpa teks / kata-kata yang memiliki bahasa tersendiri, yang membuatnya tidak lagi universal) seperti simfoni, rapsodia, […]

Siapa yang Berhak Memberi Cap kepada Desa?

Oleh: Purnawan Andra* Desa di Indonesia selama ini disebut sebagai akar budaya bangsa, sumber ketahanan pangan, lanskap ruang yang menjadi kebanggan dan ruang hidup identitas sosial. Desa adalah pranata hidup, basis pengetahuan, dan ensiklopedi komunal yang telah membentuk fondasi bangsa ini jauh sebelum republik ini dirumuskan. Namun, logika pembangunan hari ini kerap melihat desa secara […]