Pertemuan Imajiner Ki Hadjar Dewantara dengan The Beatles
Oleh: Bambang Supriadi ICS

“Dua Panggung” – Olahan Bambang Supriadi
Ada kebohongan yang sudah terlalu lama diterima sebagai kebenaran. Bahwa orisinalitas lahir begitu saja. Bahwa para seniman besar suatu pagi bangun tidur, lalu dunia berubah karena mereka memiliki ilham yang tidak pernah dimiliki orang lain.
Omong kosong.
Setiap nada yang mengubah sejarah, setiap lukisan yang mengguncang zaman, serta setiap film yang menggeser cara kita memandang kehidupan, hampir selalu berawal dari seseorang yang dengan rakus menyerap karya orang lain. Bukan untuk mencuri, melainkan untuk memahami bagaimana keajaiban itu bekerja.
Kita terlalu sering memuja hasil akhir dan melupakan ruang latihan. Di sanalah revolusi sebenarnya terjadi. Bukan di panggung megah dengan lampu yang menyilaukan, tetapi di ruang pengap yang dipenuhi suara gitar fals, tangan yang mulai pegal, catatan yang dicoret berulang kali, serta kegagalan yang tidak pernah diberitakan.
Kreativitas, pada dasarnya, bukanlah kilatan petir. Ia adalah pekerjaan kasar. Maka jangan heran jika benang merah yang menghubungkan Ki Hadjar Dewantara dengan empat pemuda Liverpool tampak mustahil pada pandangan pertama. Yang satu berbicara tentang pendidikan bangsa yang masih dijajah, sementara yang lain memainkan musik rock and roll di klub malam yang bau asap rokok dan tumpahan bir.
Dua dunia. Dua bahasa. Dua sejarah. Namun sesungguhnya mereka sedang mengucapkan kalimat yang sama: bahwa manusia tidak pernah benar-benar menciptakan sesuatu dari kehampaan. Ia selalu memulai dari sesuatu yang telah lebih dahulu ada.
Ki Hadjar Dewantara memahami hukum itu jauh sebelum istilah creative adaptation memenuhi buku teori kreativitas. Ia merumuskannya dengan kesederhanaan: niteni, nirokake, nambahi.
Tiga kata. Namun tiga kata itu menyimpan seluruh perjalanan lahirnya kebudayaan. Perhatikan. Tiru. Lalu tambahkan dirimu sendiri. Sesederhana itu, dan sesulit itu. Karena dunia modern sering salah memahami kata meniru. Kata itu diperlakukan seperti dosa intelektual, seolah setiap bentuk pengaruh adalah bukti bahwa seseorang gagal menjadi dirinya sendiri.
Padahal justru sebaliknya. Yang berbahaya bukanlah meniru. Yang berbahaya adalah berhenti pada tiruan.
Dalam gagasan Ki Hadjar Dewantara, meniru bukan tindakan pasif. Ia adalah disiplin berpikir, sebuah cara memasuki logika sebuah karya dari dalam sampai kita memahami bukan hanya bentuknya, melainkan juga denyut yang menghidupinya. Setelah itu, barulah seseorang berhak meninggalkan gurunya.
Di sinilah pendidikan berubah menjadi pembebasan. Bukan menghasilkan manusia yang pandai mengulang, melainkan manusia yang mampu menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ironisnya, pelajaran sesederhana ini justru sering hilang di dalam ruang kelas modern. Kita mengejar jawaban, padahal Ki Hadjar mengejar proses.
Menyontek saat ujian gagal karena ia melompati perjalanan. Jawaban diperoleh, tetapi pikiran tidak pernah bertumbuh. Yang dipinjam hanyalah hasil akhirnya, sementara seluruh petualangan menuju pengetahuan dibuang begitu saja.
Dan sejarah selalu membalas cara berpikir seperti itu. Karena sejarah tidak pernah diubah oleh para penyalin. Ia diubah oleh mereka yang berani menyerap, membongkar, lalu membangun kembali dunia dengan suara mereka sendiri.
Lalu datanglah empat anak muda dari Liverpool. Bukan pahlawan, belum. Mereka bahkan belum memiliki lagu yang benar-benar bisa mereka sebut milik sendiri. Yang mereka miliki hanyalah gitar, keberanian yang sering lebih besar daripada kemampuan, serta rakusnya telinga terhadap musik Amerika seperti Chuck Berry, Little Richard, Carl Perkins, dan Buddy Holly.
Nama tersebut bukan sekadar koleksi piringan hitam. Mereka adalah ruang kelas. Setiap riff gitar yang dimainkan Chuck Berry menjadi bahan pelajaran. Setiap lengkingan Little Richard menjadi pekerjaan rumah. Setiap harmoni Everly Brothers dibongkar seperti seorang mekanik membongkar mesin mobil hanya untuk mengetahui mengapa ia bisa melaju sekencang itu.
Begitulah mereka belajar. Bukan di universitas atau konservatorium, melainkan di panggung kecil yang bahkan mungkin tidak akan dilirik orang hari ini. Ironisnya, dunia sering salah mengingat bagian ini.
Kita mengenang The Beatles sebagai simbol orisinalitas, padahal mereka memulai karier sebagai peniru yang sangat baik. Dan justru karena itulah mereka akhirnya menjadi orisinal. Ada ironi yang indah di sana. Orang yang takut dipengaruhi sering kali tidak pernah menghasilkan sesuatu yang baru. Sebaliknya, mereka yang berani tenggelam dalam pengaruh justru menemukan suara mereka sendiri.
Ki Hadjar Dewantara barangkali akan tersenyum melihat kisah itu. Karena tanpa pernah bertemu John Lennon atau Paul McCartney, ia sudah memahami mekanisme yang sedang bekerja.
Niteni.
Mereka mendengarkan. Mereka mengamati. Mereka menyerap. Bukan hanya melodinya, melainkan cara gitar berbicara, cara vokal menekan emosi, serta cara sebuah lagu membuat orang berhenti menari hanya untuk mendengarkan. Lalu datang tahap berikutnya.
Nirokake.
Mereka memainkan semuanya, lagu demi lagu, malam berganti malam, sampai jari mereka hafal sebelum pikiran mereka sempat berpikir. Di sinilah sebagian orang berhenti, karena meniru terasa aman tanpa risiko dan tanpa kemungkinan gagal. Tetapi The Beatles tidak tinggal di sana. Mereka bergerak, dan itu membuat seluruh perbedaannya. Hamburg menjadi universitas mereka, sementara The Cavern Club menjadi laboratorium mereka.
Tidak ada ijazah maupun dosen. Yang ada hanya panggung sempit, asap rokok yang memenuhi ruangan, keringat yang menetes dari langit rendah, serta penonton yang tidak peduli apakah band di atas panggung akan menjadi legenda beberapa tahun kemudian.
Mereka hanya ingin musik yang hidup. Malam berganti malam, The Beatles memainkan lagu yang sama, tetapi lagu tersebut perlahan berhenti menjadi milik penciptanya. Temponya berubah, harmoninya bergeser, gitarnya mulai terdengar lebih tajam, vokalnya lebih liar, dan energinya lebih muda.
Sedikit demi sedikit, lagu Chuck Berry mulai berbicara dengan aksen Liverpool.
Dan di situlah keajaiban sebenarnya terjadi. Bukan ketika mereka berhenti meniru, melainkan ketika tiruan itu perlahan kehilangan wajah aslinya. Apa yang keluar dari panggung The Cavern bukan lagi salinan. Ia telah mengalami metabolisme.
Musik Amerika masuk ke tubuh empat anak muda Inggris, lalu keluar dalam bentuk yang sama sekali berbeda. Itulah yang sering gagal dipahami ketika orang berbicara tentang kreativitas. Kreativitas bukanlah penolakan terhadap pengaruh, melainkan kemampuan mencerna pengaruh. Persis seperti tubuh yang mengubah makanan menjadi darah, otot, dan tenaga. Tidak ada seorang pun yang menyebut darah kita sebagai tiruan dari nasi yang kita makan.
Begitu pula sebuah karya. Pengaruh bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Pengaruh adalah bahan baku. Yang menentukan bukan apa yang masuk, melainkan apa yang berhasil kita ubah.
Dan pada titik itu, tanpa mereka sadari, empat anak Liverpool tersebut telah memasuki tahap yang dijelaskan Ki Hadjar Dewantara puluhan tahun sebelumnya. Bukan sekadar memainkan musik, melainkan mulai menemukan diri mereka sendiri.
Lalu sesuatu berubah. Tidak dramatis, tidak ada petir, dan tidak ada suara sangkakala. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang tiba-tiba muncul di kepala empat anak muda itu: mengapa kita terus memainkan lagu orang lain?
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi sejarah sering kali memang dimulai dari pertanyaan yang tampak sederhana. Mereka sudah memainkan ratusan lagu. Mereka tahu bagaimana membuat penonton berteriak, tahu kapan gitar harus menjerit, serta tahu kapan tempo harus dipercepat agar ruangan yang mulai lelah kembali hidup.
Tetapi semua itu masih milik orang lain. Mereka adalah aktor yang luar biasa, namun belum memiliki naskah sendiri. Di sinilah tahap ketiga itu datang.
Nambahi.
Bukan sekadar menambahkan nada atau mengganti akor, melainkan menambahkan diri mereka sendiri. Inilah bagian yang paling sulit. Karena siapa pun bisa belajar teknik, tetapi tidak semua orang berani memperdengarkan suaranya sendiri kepada dunia. Mungkin itulah sebabnya begitu banyak musisi yang menjadi pemain hebat, tetapi begitu sedikit yang benar-benar mengubah sejarah. Sebab sejarah tidak bergerak karena keterampilan, melainkan bergerak karena keberanian.
John Lennon dan Paul McCartney mulai menulis. Masih canggung, masih sederhana, kadang terlalu manis, dan kadang terlalu lurus. Namun untuk pertama kalinya, lagu tersebut tidak datang dari Memphis maupun Chicago. Lagu itu lahir dari Liverpool, dari pengalaman mereka sendiri, dari kegelisahan mereka sendiri, serta dari aksen mereka sendiri.
Lalu lahirlah Love Me Do. Bukan sebuah revolusi yang langsung mengguncang bumi, melainkan lebih tepat disebut sebagai sebuah ketukan pertama. Pelan, tetapi cukup keras untuk membuat orang mulai menoleh. Sesudah itu semuanya bergerak semakin cepat.
Please Please Me, lalu From Me to You, kemudian She Loves You. Tiga kata sederhana: Yeah Yeah Yeah. Dan tiba-tiba dunia terdengar berbeda. Yang menarik bukan hanya karena lagu tersebut menjadi hit, sebab musik populer memang selalu menghasilkan lagu populer. Yang luar biasa adalah kenyataan bahwa jutaan orang sedang mendengarkan hasil dari sebuah proses belajar.
Mereka sebenarnya sedang mendengarkan Tri-N tanpa pernah mengenal istilah itu. Mereka mendengarkan hasil dari orang yang pernah meniru, yang pernah gagal, dan yang pernah memainkan lagu orang lain ratusan kali, hingga kemudian memiliki keberanian mengatakan: sekarang dengarkan lagu kami.
Di titik inilah kreativitas memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya. Ia tidak pernah memutus hubungan dengan masa lalu, melainkan justru berdialog dengannya.
Setiap karya besar membawa jejak karya sebelumnya. Tetapi jejak itu tidak lagi tampak sebagai bayangan, melainkan telah melebur menjadi identitas baru. Persis seperti benih yang tidak pernah lagi terlihat setelah berubah menjadi pohon. Tak seorang pun berdiri di bawah pohon mangga sambil berkata: lihat, itu masih bijinya. Karena biji telah menyelesaikan tugasnya.
Begitu pula pengaruh. Ia tidak dimaksudkan untuk dipamerkan, melainkan untuk ditransformasikan. Dan di situlah Ki Hadjar Dewantara berbicara melampaui zamannya. Ia tidak sedang mengajarkan cara menjadi murid. Ia sedang mengajarkan cara berhenti menjadi murid, cara mengambil semua yang telah dipelajari, lalu berjalan sendirian tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka yang menunjukkan jalan.
Mungkin di sinilah kita selama ini keliru membaca Ki Hadjar Dewantara. Kita mengingatnya sebagai tokoh pendidikan, padahal ia sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar. Ia sedang berbicara tentang bagaimana manusia menciptakan dirinya sendiri. Pendidikan, dalam pengertiannya, tidak pernah berhenti di dalam ruang kelas.
Ia terjadi di studio musik, ruang penyuntingan, lokasi syuting, bengkel, hingga di dapur. Di mana pun seseorang bersedia belajar dengan sungguh-sungguh. Karena pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan proses mengubah pengaruh menjadi identitas.
Maka Tri-N bukan sekadar metode belajar. Ia adalah siklus kehidupan kreatif. Lihat, serap, tiru, pertanyakan, ubah, tambahkan, lalu lepaskan.
Begitulah kebudayaan bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak ada peradaban yang lahir sendirian. Renaissance berdiri di atas Yunani dan Romawi. Jazz lahir dari pertemuan luka, harapan, serta tradisi Afrika. Rock and roll tumbuh dari blues. The Beatles tumbuh dari rock and roll Amerika. Dan setelah itu, dunia belajar dari The Beatles.
Begitulah mata rantai kebudayaan bekerja. Tidak pernah terputus dan tidak pernah benar-benar dimulai dari nol. Yang berubah hanyalah siapa yang sedang memegang obor.
Ironisnya, zaman sekarang justru sering terjebak pada obsesi menjadi sepenuhnya orisinal, seolah dipengaruhi orang lain adalah aib. Padahal tidak ada seniman besar yang datang tanpa silsilah. Tidak ada pemikir besar yang berpikir di ruang hampa, dan tidak ada kebudayaan yang tumbuh tanpa akar.
Yang membedakan seorang pencipta dengan seorang penyalin bukanlah ada atau tidaknya pengaruh, melainkan keberanian mengolah pengaruh itu menjadi sesuatu yang tidak lagi meminta izin kepada masa lalunya.
Di titik itulah kemerdekaan yang dimaksud Ki Hadjar Dewantara menemukan maknanya. Kemerdekaan bukan berarti berjalan sendirian. Kemerdekaan adalah kemampuan berjalan dengan kaki sendiri setelah belajar dari begitu banyak jejak yang pernah lebih dahulu melintasi jalan itu.
Barangkali itulah pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari pertemuan imajiner antara seorang pendidik dari Yogyakarta dan empat musisi dari Liverpool. Mereka tidak pernah saling mengenal, tidak pernah berbicara, bahkan hidup dalam ruang sejarah yang berbeda. Namun keduanya memahami satu hal yang sama: bahwa karya yang paling orisinal bukanlah karya yang lahir tanpa pengaruh, melainkan karya yang berhasil membuat kita lupa dari mana semua pengaruh itu berasal.
Pada akhirnya, dunia selalu ditenun dengan cara yang sama. Bukan oleh jalinan benang yang berdiri sendiri, melainkan oleh benang yang saling bersilang, saling menyentuh, serta saling meminjam kekuatan hingga melahirkan pola yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Begitu pula kebudayaan. Ia bukan monumen yang dibangun oleh satu orang jenius, melainkan percakapan panjang yang melintasi abad. Seseorang mengamati, seseorang meniru, seseorang menambahkan, lalu orang lain melanjutkannya. Demikian seterusnya.
Ki Hadjar Dewantara memahami bahwa pendidikan bukanlah upaya mencetak manusia yang seragam. The Beatles membuktikan bahwa kreativitas bukanlah usaha memutus hubungan dengan masa lalu. Keduanya, dengan bahasa yang berbeda, sedang mengajarkan pelajaran yang sama: bahwa kebebasan tidak pernah lahir dari kehampaan. Ia lahir dari keberanian mengolah warisan menjadi kemungkinan baru.
Mungkin karena itulah benang merah selalu tampak sederhana. Ia tidak pernah mendominasi seluruh tenunan, melainkan hanya hadir secukupnya. Namun ketika benang itu dicabut, seluruh pola kehilangan maknanya. Demikian pula dengan perjalanan manusia.
Kita tidak dikenang karena seberapa banyak pengaruh yang kita tolak. Kita dikenang karena apa yang berhasil kita tambahkan kepada dunia. Karena pada akhirnya, sejarah tidak bertanya dari siapa kita belajar. Sejarah hanya bertanya:
“Apa yang telah kita wariskan setelah proses belajar itu selesai?”
***
*Bambang Supriadi, Indonesian Cinematographers Society.





