Pangeran Kecil, Totto-chan dan Sekolah Kita
Oleh: Punawan Andra
Setiap awal tahun ajaran, ada pemandangan yang hampir selalu berulang. Pagi-pagi, anak-anak datang dengan seragam baru, sepatu yang masih bersih, tas yang tampak lebih besar daripada tubuh mereka. Sebagian berjalan dengan penuh semangat. Sebagian lainnya menggenggam tangan orang tua lebih erat, bahkan menangis ketika harus berpisah di gerbang sekolah.
Hari pertama sekolah biasanya dipahami sebagai awal sebuah perjalanan pendidikan. Anak mulai mengenal guru, teman, ruang kelas, jadwal pelajaran, aturan dan berbagai pengetahuan baru. Namun, ada sesuatu yang sering luput dari perhatian. Hari pertama sekolah juga merupakan salah satu momen ketika seorang anak mulai berhadapan dengan cara orang dewasa dalam melihat dunia.
Antoine de Saint-Exupéry pernah menggambarkan persoalan ini dengan sederhana melalui buku Pangeran Kecil (The Little Prince/Le Petit Prince). Sang pencerita mengisahkan ketika masih kecil ia menggambar seekor ular boa yang sedang menelan seekor gajah. Ia menunjukkan gambar itu kepada orang dewasa.
Mereka justru melihatnya sebagai sebuah topi. Ketika ia membuat gambar bagian dalam ular boa agar orang dewasa memahami apa yang sebenarnya terjadi, ia malah disarankan meninggalkan kegiatan menggambar dan mempelajari hal-hal yang dianggap lebih berguna.
Masalahnya bukan karena orang dewasa tidak bisa melihat. Mereka justru melihat dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Bentuk itu segera dikenali sebagai topi. Selesai. Mereka tidak merasa perlu bertanya apa yang mungkin berada di dalamnya.
Cara Melihat Dunia
Di situlah persoalan pendidikan menjadi menarik. Anak datang ke sekolah dengan dunia yang belum sepenuhnya selesai. Ia melihat, bertanya, membayangkan dan menghubungkan berbagai hal dengan caranya sendiri. Sekolah kemudian memperkenalkannya pada nama, kategori, aturan, ukuran dan jawaban yang benar. Semua itu tentu diperlukan. Tanpa pengetahuan dan keteraturan, pendidikan akan kehilangan arah.
Tetapi persoalannya adalah ketika kategori tersebut bukan lagi menjadi alat untuk memahami dunia, melainkan menjadi satu-satunya cara untuk melihat dunia.

Antoine de Saint-Exupéry pernah menggambarkan persoalan ini dengan sederhana melalui buku Pangeran Kecil (The Little Prince/Le Petit Prince). Sang pencerita
Dalam keadaan seperti itu, pendidikan bisa perlahan-lahan mengubah anak. Ia belajar bukan hanya bahwa dua ditambah dua sama dengan empat, tetapi juga bahwa jawaban tertentu lebih diterima daripada jawaban lain. Ia belajar bahwa pertanyaan tertentu dianggap penting, sementara pertanyaan lainnya dianggap tidak perlu. Ia belajar bahwa gambar harus menyerupai sesuatu, bahwa tulisan harus mengikuti bentuk tertentu, dan bahwa keberhasilan dapat diukur melalui angka.
Anak akhirnya tidak hanya belajar tentang dunia. Ia belajar bagaimana dunia seharusnya dilihat.
Di sinilah kisah Totto-chan menjadi penting. Dalam buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika bersekolah di Tomoe Gakuen. Totto-chan bukan anak yang mudah mengikuti aturan sekolah. Ia banyak bertanya, bergerak, berbicara dan melakukan hal-hal yang menurut ukuran sekolahnya terdahulu dianggap mengganggu.
Namun, ketika bertemu kepala sekolah Sosaku Kobayashi di Tomoe Gakuen, ia menemukan pengalaman yang berbeda. Alih-alih segera menilai dirinya sebagai anak bermasalah, Kobayashi bersedia mendengarkan ceritanya. Bahkan ia membiarkan Totto-chan berbicara panjang.
Adegan sederhana itu sebenarnya menyimpan gagasan pendidikan yang besar. Sebelum mendidik seorang anak, orang dewasa perlu bersedia mendengarkan bagaimana anak tersebut melihat dunianya.
Mendengarkan Anak
Tomoe Gakuen tentu bukan model yang bisa begitu saja dipindahkan ke sekolah kita. Tetapi pengalaman Totto-chan memberi pertanyaan penting: apakah sekolah kita cukup bersedia mendengarkan anak sebelum sibuk mengajarinya?
Pertanyaan ini terasa relevan setiap kali tahun ajaran baru dimulai. Kita sering berbicara tentang bagaimana membuat anak nyaman memasuki lingkungan sekolah. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap masa pengenalan lingkungan sekolah juga semakin diarahkan agar tidak menjadi ruang perpeloncoan dan ketakutan. Pada akhirnya, sekolah memang harus menjadi tempat yang aman bagi anak.
Namun, keramahan sekolah tidak semestinya berhenti pada tidak adanya bentakan atau perpeloncoan. Ada bentuk kekerasan yang lebih halus dan sering tidak dianggap sebagai kekerasan, yaitu ketika cara berpikir anak terus-menerus dikoreksi hanya karena berbeda dari cara berpikir orang dewasa.
Anak yang terlalu banyak bertanya disebut cerewet. Anak yang sulit diam dianggap tidak disiplin. Anak yang memberikan jawaban berbeda dianggap tidak memahami soal. Anak yang menggambar sesuatu secara tidak lazim dianggap tidak memiliki kemampuan. Anak yang belajar dengan cara berbeda segera dibandingkan dengan anak lain.
Pelan-pelan, anak belajar satu hal yang mungkin tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran – jangan melihat terlalu jauh dari jawaban yang sudah tersedia.
Padahal, kebudayaan manusia justru tumbuh dari kemampuan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Banyak penemuan, karya seni, gagasan dan perubahan sosial bermula dari seseorang yang tidak puas dengan jawaban yang sudah dianggap selesai.
Karena itu, persoalan sekolah bukan apakah anak harus belajar aturan atau tidak. Tentu ia harus belajar. Persoalannya adalah apakah aturan tersebut membantu anak memahami dunia atau justru membuat dunia menjadi semakin sempit.
Kita membutuhkan sekolah yang mampu mengajarkan pengetahuan tanpa mematikan rasa ingin tahu. Sekolah yang mengenalkan jawaban, tetapi tetap memberi tempat bagi pertanyaan. Sekolah yang mengajarkan anak membaca apa yang sudah diketahui, sekaligus berani melihat apa yang belum diketahui.
Hari pertama sekolah dengan demikian bukan sekadar hari ketika anak mengenakan seragam dan memasuki kelas. Ia adalah awal dari proses panjang ketika seorang anak belajar berhadapan dengan dunia orang dewasa.
Pada saat itulah kita perlu berhati-hati. Jangan sampai pendidikan membuat anak terlalu cepat menjadi orang dewasa yang hanya mampu melihat apa yang sudah diberi nama.
Sebab mungkin tugas sekolah bukan membuat semua anak melihat gambar yang sama, melainkan membantu mereka melihat lebih banyak kemungkinan di dalam sebuah gambar.
Sebelum seorang anak belajar mengatakan, “Itu topi”, mungkin kita perlu memberinya cukup waktu untuk bertanya: “Benarkah hanya itu yang ada di sana?”
*Purnawan Andra, bekerja di Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, penerima fellowship Humanities & Social Science di Universiti Sains Malaysia.




