Chekov, Saya, dan Lanskap Prosa Realis
Oleh: M. Rifdal Ais Annafis*
Lewat tengah hari, di bawah beringin yang menjulang, adegan Laptev dan Yulia Sergeyevna dalam salah satu novel terkenal Anton Chekov berjudul Tiga Tahun terjemahan Sapardi Djoko Damono, memberondong kepala saya.
Itu barangkali hari tercerah dalam hidup saya. Hari itu, saya seolah takjub akan adegan pendek yang bergerak lambat-lambat.
Di sisi kanan gelanggang Fakultas Pertunjukan ISI Yogyakarta yang telah lama ditinggalkan, ada tempat duduk dari semen dan ketika saya menempatinya, sekitar tiga meter ke selatan, seorang gadis yang saya taksir memiliki garis keturunan Tionghoa selalu menggenggam kertas putih tebal untuk membuat sketsa terlihat serius merenung dan sesekali melirik aktivitas nirmakna saya.
Saya duga, gadis yang memiliki rambut hampir menyentuh pinggang tersebut menaruh perhatian pada saya. Dan sialnya, perasaan ganjil dan aneh tiba-tiba menyergap saya. Setelah beberapa hari adegan serupa terulang, saya akhirnya membuat peruntungan untuk berkenalan dengannya. Dan begitulah, kami akhirnya sering bertukar buku juga cerita.
Tetapi Laptev, dalam novel Anton Chekov, tak melakukan hal tersebut. Laptev dalam tiga bab awal diperkenalkan menjadi seorang adik yang baik dan merawat Nina Fyodorovna, kakaknya. Dan gadis yang ditaksir Laptev adalah anak seorang dokter yang mencoba jadi juru selamat kakak perempuannya tersebut.
Di suatu kunjungan sang dokter untuk melihat perkembangan kakaknya, entah mengapa tiba-tiba Laptev berpikir untuk bertamu ke rumah Yulia Sergeyevna. Itu kali pertama Laptev akhirnya berani bercakap dengan perempuan yang lekat di kepalanya. Kendati demikian, setelah Laptev dipersilakan masuk, di tangga menuju ruang tamu, ia melamar Yulia Sergeyevna dengan tergesa-gesa dan tentu saja, ia ditolak mentah-mentah.
Adegan melankolik yang digambarkan Anton Chekov dalam novel tersebut, entah mengapa, malah melekat kuat dalam pikiran saya. Dan mudah di tebak, saya akhirnya belajar memperlakukan perempuan yang baru saya kenal dengan baik dan tak tergesa meski gejolak dada saya hampir menyerupai Laptev, barangkali.
Adegan macam ini, dalam novel Chekov, seolah tak memerlukan perlambangan yang bejibun, tetapi dapat memikat setiap pembaca. Dan saya sepakat, apa yang diciptakannya ini, seperti yang digambarkan Vladimir Nabokov ketika mengomentari salah satu cerpen Chekov berjudul, Seorang Perempuan dan Anjing Kecil berujar: “…Ini adalah salah satu cerita terhebat yang pernah ditulis”.
Anton Pavlovich Chekov lahir di Taganrog, sebuah pelabuhan tidak terkenal di desa kecil Laut Azov, Rusia Selatan. Ia lahir tanggal 29 Januari 1860 dan terkenal sejak kecil membuat komentar satir juga tampil di pertunjukan teater. Dalam beberapa literatur, Chekov sudah mencintai teater dan sastra sejak kecil. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah operet Elena si Cantik karya Jacques Offenbach.
Ia termasuk anak yang beruntung sebab, setelah menyelesaikan sekolah Gimnasium, ia diterima di Jurusan Kedokteran di Universitas Negara Moskow.
Dalam ingatan saya yang memar, tak banyak naskah Anton Chekov yang saya ingat. Beberapa di antaranya hanya berupa judul saja. Misalnya, Novel berjudul Duel atau kumpulan cerita pendek bertajuk Aneka Cerita atau naskah dramanya yang populer berjudul Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri.
Tetapi segera setelah itu, seperti pengakuan saya di awal, konsep yang ditawarkannya menjadi sangat memikat sebab ia memiliki satu teknik bernama “senjata Chekov”. Hal ini bermula ketika ia memberi nasihat kepada penulis lain dalam surat pada tahun 1889. Ia dalam suratnya, berujar pada Aleksandr Semenovich Lazarev, seorang penulis drama muda waktu itu.
“Seorang tidak boleh menaruh senapan yang terisi peluru di panggung jika
tidak ada seorang pun yang berpikir untuk menembakkannya. “
Teknik mengarang bertajuk “senjata Chekov” ini sering dipakai pengarang-pengarang yang percaya bahwa detail dalam tulisan itu sangat penting. Tidak ada elemen yang berdiri sendiri. Setiap fragmen, selalu berjalin-kelindan satu sama lain.
Lain dari itu, saya terpukau untuk naskah-naskah Anton Chekov. Agaknya, sebagai mahasiswa teater, naskah Chekov tidak boleh tidak perlu dipelajari ulang.
Ia yang terkenal juga sebab keterlibatannya dengan Teater Seni Moskow itu, mengakui betul bahwa karangannya berangkat dari gaya penulisan realisme. Gaya penceritaan yang menempatkan realitas dengan muka dan sifat yang semirip mungkin. Di dalam setiap naskah, ia mengupayakan aliran kesadaran yang berfokus pada pikiran dan perasaan si narator.
Gaya semacam ini, seperti telaah saya terhadap Milan Kundera, menjadi berhasil sebab menyisipkan ironi dan lelucon. Kekuatan semacam ini menjadi penting diupayakan ketika modernisme mulai digalakkan di dunia barat. Chekov, barangkali, memang betul menjadi salah satu pengarang paling penting dua abad ini.
Di lain sisi, seperti yang saya singgung, gaya Chekov dalam menghidupkan naskah lakon perlu di tilik ulang. Apakah naskah lakon post-modern masih mengupayakan hal demikian atau malah silau dengan upaya tata artistik belaka? Pertanyaan sederhana tersebut agaknya hadir setelah usaha-usaha menonton pertunjukan yang saya lakukan beberapa tahun ini. Dan saya pun merasa gamang, sejauh mana pertunjukan panggung akan dilirik. Sejauh mana.
Yogyakarta, 2024-2026
*Rifdal Ais Annafis, menggiati seni Teater di ISI Yogyakarta. Buku prosanya yang akan terbit adalah Hari yang Dikecualikan Langit & Kisah Melankoli Lainnya.




