Kepala Desa Ujung yang ditumpulkan

Oleh: Pietra Widiadi*

Dalam beberapa waktu ini, penulis bolak-balik ke desa-desa di pulau-pulau kecil di Selat Madura. Perjalanan ini, mengemban kegiatan mendukung Lembaga Swadaya Masyarakat, atau disebut juga organisasi non pemeintah (NGO) di pulau Sapudi, pulau Raas, pulau Mandangin, pulau Gili Raja dan Gili Genting. Perjalanan atas nama dial, pusat pembelajaran metode pendamping masyarakat di Gunung Kawi.

Melihat desa-desa yang di pulau yang berbeda, seperti masuk dalam lapisan labirin. Desa-desa ini unik, prosperity dengan kekayaan alam dan tradisi. Salah satunya adalah sistem pemeliharaan sapi untuk karapan sapi di Sapudi. Sapi dan kambing pedaging di Raas, serta ikan Kembung di Mandangin.

Pulau Sapudi

Alam yang dibayangkan kering dan panas menyengat serta batuan kapur bukan dominasi di Sapudi. Pulau ini terdapat 2 kecamatan dengan 18 desa, dengan 1 kecamatan menjadi pusat lalu lalang warga belanja kebutuhan sehari-hari, yaitu dea Gayam, kecamatan Gayam.  Di pulau ini, ada tiga dermaga untuk lalu lalang kapal peumpang atau kapal barang.

Sudah ada penginapan kecil yang dikelola oleh rumah tangga, semacam homestay dan semacam guesthouse. Mungkin sangkaan bahwa masyarakat Madura itu tidak bersihan, akan sirna saat menginap di penginapan-penginapan kecil itu. Cara menghitungnya juga unik, perkepala 100 ribu semalam, dengan kopi dan teh pagi hari.

Apakah panas, jawabnya iya panas tapi mata disejukkan oleh begitu banyaknya pohon asam yang makin hari makin berkurang karena dimanfaatkan untuk arang. Panas dan sejuk karena semilir angin perpaduan yang mengherankan. Di beberapa desa selain pohon Asem Jawa, Sukun juga tumbuh dengan rimbunnya.

Misalnya di Astana (makam) Adaipoday, tokoh leluhur yang memulai kehidupan di Pulau itu di lestarikan. Astana tinggi, banyak orang menyebutnya seperti itu dan memang di ketinggian pulau Sapudi. Di situ, Sukun dan Asam Jawa berpadu menaungi permukiman yang sebagian kecil masih mempertahankan model tanea lajeng, haitu peemukiman keluarga yang terdiri dari rumah induk beberapa rumah tangga, mushola dan dapur bersama dalam satu pekarangan.

Pulau Mandangin

Keindahan ini, juga dapat dinikmati di Mandangin, pulau kecil hanya satu desa, dengan kepadatan yang sangat rapat, yaitu 12.000 jiwa perkilo meter persegi. Mungkin Mandangin, salah satu pulau yang menyaingin Haiti sebuah negara pulau kecil di berhimpit dengan Amerika. Sekitar pulau cukup bersih, karena warga menyediakan tempat sampah dari bekas galon khusus untuk mewadahi sampah plastik.

Sampah plastik berserakan di sepanjang pantai, mereka bilang kalau itu sampah yang dibawa arus, bukan sampah lokal. Sehingga pulau itu seperti kue tart yang dihiasi rumabai-rumbai dari pastik warna-warni. Mereka, warga pulau kewalahan menghadapi sampah kiriman ini.

Juga kewalahan mengatasi sampah plastik yang mereka produksi. Kalau di Pulau Jawa, masyarakat Madura perantauan jawara menjadi pengelola sampah, di pulau Mandangin seolah-olah mereka tak berdaya dengan plastik bekas itu. Sampah adalah timbunan yang makin menggunung, tapi pulau ini tetap unik.

Para nelayan mencari ikan, terutama kembung sampai di pesisir Sidoarjo di Selatan pulau. Jadi pulau ini mengirim ikan Kembung hasilntangapan mereka. Sepertinya mereka spesialis menangkap ikan Kembung.

Pulau Raas

Sedangkan pulau Raas, pulau yang benar-benar panas. Ekosistem hayati, tanaman hijau dan hewan liar hampir tidak ditemui lagi. Nampaknya pulau ini mulai krisis ekosistem lingkungan. Menurut orang-orang di sana dalam suatu pertemuan, dulu Asem Jawa dan Sukun cukup mendominasi, seperti di pulau Sapudi.

Pertanian tergantung hujan dan penampung air hukan pada saat kemarau untuk pertanian. Moyet sudah musnah di pulau ini, biawak makin berkurang dan unggas menurun dratis dalam satu dekade ini. Sementara tanaman pangan meningkat seperti jagung dan padi, terutama diproduksi pada musim penghujan yang sangat singkat.

Sementara air bersih tawar masih bisa ditemui, mungkin sisa-sisa penyimpanan dari pohon besar pelindung air, seperti Asem Jawa dan Sukun, yang buahnya algi in dan disebut dengan super food. Setiap area yang ditumbuhi Asem Jawa dan Sukun, dengan mudah ditemukan sumber air, agau tanah yang basah dan lembab.

Klèbun ujung perubahan

Relasi yang berkembang di masyarakat, didominasi dengan model patron-client yang kental. Model ini memang bergaya feodal, bahwa pimpinan selalu benar dan kaya, dan dipatuhi. Termasuk didalamnya pak Klebun, atau kepala desa dalam perangkat pemerintahan moderen saat ini.

Klèbun merupakan bahasa Madura yang secara harfiah memiliki difinisi dan makna yang sama dengan kepala desa. Jabatan ini merujuk pada pimpinan pemerintahan tingkat desa. Posisi itu sekarang dapat diduduki seseorang melalui proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Jadi caranya pemilihannya sudah masuk dalam kategori demokratis, seperti pemilihan presiden.

Dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Madura, Klebun bukan sekadar jabatan administratif pemerintah. Posisi ini menempatkan Klebun sebagai sosok elite lokal yang sangat dihormati, dituakan, dan menjadi rujukan utama warga dalam menyelesaikan berbagai masalah di tingkat akar rumput.

Klebun adalah tokoh yang berkembang dari perpaduan antara kekuatan formal (sebagai kepala desa) dan karisma/pengaruh kultural. Dalam kultur Madura, seorang tokoh yang menjadi klebun biasanya memiliki beberapa karakteristik kuat. Seorang klebun yang disegani sering kali memiliki latar belakang atau afiliasi kuat dengan budaya blater, yaitu  tokoh informal yang dihormati karena keberanian, pengaruh sosial, ketangkasan fisik, dan kharisma. Meski sekarang ketangkasan fisik tidak lagi jadi ukuran.

Fenomena baru yang muncul adalah memiliki kemampuan ekonomi, biasanya punya usaha atau seorang pengusaha atau saudagar. Kemampuan ekonomi yang kuat, bisa dilihat dari Klebun di desa Alasmalang dan desa Guwa-guwa atau desa Tonduk di pulau Putri. Mereka adalah pemilik madura mart di Jawa, pengusaha ekspor ikan laut, atau pengusaha transportasi. Umumnya mereka cukup inovatif dalam membangun desa, meski itu dibangun karena kemampuan jaringan ekonomi yang dimiliki.

Di tingkat desa, klebun sering kali berbagi panggung pengaruh dengan Kiai (simbol pemuka agama). Masyarakat Madura sangat mematuhi dawuh (perintah) kiai untuk urusan moral, dan sekaligus bersandar pada klebun (serta blater) untuk urusan perlindungan dan ketertiban sosial. Seorang klebun yang diakui sebagai tokoh akan menjadi tempat mengadu masyarakat, penengah konflik antar-warga, dan pelindung keamanan lokal di wilayahnya.

Ujung yang tumpul

Sejak era periode Jokowi, desa seperti kebanjiran duit melalui skema Dana Desa. Desa-desa di pulau-pulau ini. Hampir selama 10 tahun dimanjakan dana pembangunan lebih dari 1 milyar. Mereka digembleng untuk mempertanggungjawabkan dana yang terima dalam tata kelola pemerintahan yang baik. Di mana prinsip partisipasi, transparansi dan tanggunggugat jadi pegangan.

Mendadak tahun 2026 ini, dana yang mereka turun drastis menjaSdi 300 juta. Menurut salah satu Klebun, “duit segitu, hanya cukup untuk urusan administrasi”. SSelain dana desa (DD) mereka menerima skema Alokasi Dana Desa (ADD) yang merupakan bagian dari Dana Alokasi Umum (DAU) dari Pemerintah Kabupaten, atau kucuran lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Propinsi. Kesempatan lain bisa diperoleh kalau mereka memiliki kreativitas dalam mendapatkan Pendapatan Desa (PD).

Di pulau-pulau ini, mereka hidup berdampingan dengan wilayah pengeboran minyak yang dikelola oleh vendor dari SKK-Migas yang disebut dengan mitra pengadaan Kontrak Kontraktor Kerja Sama (K3S). Kedekatan ini, disebut dengan area ring 1 terdampak operasional yang dilakukan oleh K3S tersebut. Dengan demikian pembangunan publik, atau penguatan kapasitas masyarakat dapat diperoleh atas dukungan dana CSR atau dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

Jadi desa mendapatkan dukungan pembangunan dan pendapatan desa dari beberapa skema tadi. Dalam satu tahun ini yang paling “happening“, kata Gen Z adalah menurunnya DD hanya 300 juta. Ini mengakibatkan kepala desa yang ujung tombak pembangunan di desa atau di akar rumput menjadi tumpul.

Ada salah satu kepala desa membandingkan dengan kepala SPPG, satuan pelayanan pemenuhan gizi yang menerima hak 6 juta, dan kepala juru masak SPPG mendapat hak sekitar 3 juta. Maka sebagai Klebun, saya setara dengan kepala juru masak, sebesar 3 juta. Mereka dapat bersih, kalau Klebun gak bisa.

Dia mencontohkan lagi, kalau mengunjungin warga yang sakit tidak kurang keluar 1 juta rupiah. Karena saat berkunjung ke RS di Kecamatan, di sana ketemu warga lain yang sakit, atau keluarga yang menunggu si pasien, maka saya akan membantu mereka, saya tidak bisa tak peduli. Belum lagi kalau ada sengketa utang-piutang, saya bisa yang menutup utang mereka.

Permasalahan desa bukan hanya soal dana 300 juta, atau dana PPM, program pelibatan dan pengembangan masyarakat dari SKK Migas, katanya. Tapi juga soal perceraian, keributan rumah tangga, sengketa lahan dan waris. Soal kerugian saat panen gagal. Jadi Klebun harus digdaya, jauh melebih pejabat manapun.

Kami ujung tombak, tapi kebijakan yang ada membuat kami tumpul. Kami diminta jujur tapi pendapatan kami sangat kecil, sedangkan kami punya keluarga yang juga diurus. Maka jujur hanya jejalan jajanan yang gak bergizi. Kejujuaran tidak akan bisa bertahan, kalau kami menanggung beban pembangunan bangsa di desa kami tanpa ada penerimaan yang cukup.

Sedangkan kegiatan desa saat ini, seperti ngantor di kota. Kalau jam 12 setelah jam makan siang, kami tidak hadir lagi di kantor desa maka kami diangap pemalas, tidak disiplin bahkan dianggap membangkang. Sementara kebutuhan pembangunan tidak memadai untuk membangun. Saat ini, kami jadi berpikir bagaimana merencanakan pembangunan cukup satu agenda saja perencanaan yg bisa digunakan untuk 8 tahun masa jabatan kepala desa.

Salah satu jalan misalnya kami akan memadukan proses pendanaan PPM SKK Migas, dalam skema PTK-017/2025 dengan musrenbang yang merujuk pada Permendagrib114/2014. Tentu dalam pendanaan seperti ini, pertanggungjawaban bisa dipisah atau disatukan tergantung dari pemberi dana. Sementara jangkauan kami dalam pembangunan desa, tidak bisa sampai dengan pembuat kebijakan di SKK Migas.

Keindahan yang tidak dirawat

Keindahan pulau-pulau ini, kehebatan para perantaunya yang menjadi jawara saudagar sarungan karena mampu punya inovasi dengan menciptakan Madura Mart, yang buka 25 jam dan tutup saat kiamat, lambat laun akan pudar. Di Raas saja hampir 50% penduduk merantau ke Bali sebagai pedagang asesori, di Jakarta dan sekitarnya membuka Masura Mart. Sehingga desa-desa di Raas, di pulau Sapudi juga banyak ditemukan rumah-rumah bak istana kosong, atau dihuni oleh para lansia atau anak-anak yang ditinghal merantau.

Rumah tersebut sengaja dibangun besar dari hasil jerih payah merantau dan hanya ditempati saat pemiliknya pulang kampung. Di lain pihak, desa kapasitas desa yang terbatas, sementara tugas bisa hampir 24 jam melayani masyarakat seperti Madura Mart, dan tanpa didukung kapasitas fiskal yang cukup maka yang terjadi adalah pembiaran.

Ini seperti sebuah taman yang tidak dirawat, kejujuran yang tergadaikan dan penelantaran fasilitas publik dan kerusakan ekosistem lingkungan karena dimusnahkan. Seperti sebuah era tanpa perhatian pada warganya. Klebun tidak mengeluh, tetap saja bekerja ngantor meski tidak full, karena warga dilayani dari kediaman mereka.

Staf diijinkan pulang, karena harus memberi makan ternak dan ngolah lahan yg masih produktif atau kelaut mencari ikan. Kecukupan yang menjadi subsisten, semuanya dilakukan hanya untuk mencukup diri dan keluarga. Komoditi yang diproduksi tidak sempat didagangkan.

*Pietra Widiadi (founder pendopo kembangkopi, tempat belajar membangun warga, sosiolog praktisiz dan fasilitator pendidik pembangunan warga)