Sajak-sajak Samsudin Adlawi
PADA LUPA
Pada lupa aku jatuh
Tersungkur di dasar jurang
Pada jurang ada alir
Mengular nun jauh
Airnya hitam tak tertembus
Retina mata telanjang
Aku menggedor kelambu hitam
Yang membekap tubuh
Dengan rapal pengakuan dan
Penyucian pemilik raga dan semesta
Di puncak kepasrahan
Setitik cahaya menetes di atas kepala
Hitam lenyak seketika
2024 – 2025,
the sunrise of java.
SENANDUNG PILU ACEH
: Pilu 20 tahun tanpa tepi
Gelombang itu datang tak diundang
Bergulung-gulung, bekejaran menuju pantai
Melanting tinggi kemudian, beriuh gemuruh
Menggulung apa saja, menjemput apa saja:
Kapal, perahu, pohon, gedung, kendaraan, binatang, dan
Masa depan. Lalu semua ditelannya dalam-dalam
Seperti raksasa, tangan gelombang itu berkelat cepat
Secepat kilat, menjemput ratusan ribu nyawa
Pulang ke surga
Kemarin pilu datang lagi
Tanpa diundang, tanpa dikhayal
Ia berlari kencang, menerjang
Dalam amuk bah membandang
2024 – 2025,
the sunrise of java.
BELAJAR MENGENALI TUHAN
Jangan tanya aku tentang
Tuhan. Aku masih belajar
Membaca mengeja meraba
Arti belaian manja semilir angin
Kumerasa ada yang sedang
Mengalirkan bisik kasih sayang ke
Daun telinga
2025,
the sunrise of java.
BUJUK RAYU
Subuh runtuh
Menimbun miliaran doa
Dalam masjid dan surau
Bujuk rayu antre di depan altar
Langit ketujuh
Mengiba dalam linang
Air mata
Tuhan kiranya sudi memberi
Penghapus daki, pencuci
Hati
2025.
the sunrise of java.
DALAM DARAHKU
Bapak dan ibuku mengalir
dalam darahku
Antre merambat di belakang
kakek dan nenek moyangku
Merah darahku merah darah mereka
mendaging menulang merangkai
tubuhku
Saat sepi menghampiriku
kudengar lirih bisik
bapak ibu kakek nenek
moyangku
: aku selalu menjagamu
Sejak itu aku percaya diri
melangkah dengan pasti
menggapai puisi paling puisi
2024 – 2025,
the sunrise of java.
DEGUP TASBIH
Bacalah, baca!
Niscaya kau akan tahu
Rahasia di balik warna-
Warni bulu burung
Bacalah, baca!
Niscaya kau akan mengerti
Rahasia di balik setiap
Kepak sayap burung
Bacalah, baca!
Niscaya kau akan tahu
Degup tasbih dalam
Jantung burung
Sedebar hati gunung-
Gunung di pagi dan
Petang
2024 -2025,
the sunrise of java.
BAYANGAN MENGINTIP
Matahari celingak celinguk di atas kepala
Tak kunjung menemukan bayangnya sendiri
Siapa telah membakarnya?
Ia
2025,
the sunrise of java.
YUNUSKAN AKU
Suaraku bergema hebat
Mencairkan gelap berangkap-
Rangkap. Laksana Yunus
Melanting dari mulut paus
Merobek tiga gelap berlapis
2025,
the sunrise of java.
MERAYU MALAIKAT
Sebelum terbang ke langit tujuh
Bentangkan sayapmu
Kan kuselipkan selembar
Rindu paling biru. Teruntuk
Kinasihku
2025,
the sunrise of java.
—
SAMSUDIN ADLAWI lahir pada 1970 di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Menjadi ketua DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Banyuwangi periode 2015 – 2019 dan ketua Dewan Pengarah DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Banyuwangi periode 2019 – 2024.
Puisinya ‘’Di Balik Lipatan Peci Ismail Marzuki’’ terpilih sebagai 115 Karya Terbaik pada Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi Tahun 2021 dengan tema: Kenangan tentang Taman Ismalil Marzuki dalam Rentang Tahun 1968 – 2018. Puisinya ‘’Yakni Nietzshe Ternyata Injil’’ Terpilih sebagai Peringkat 22 dari 100 Puisi untuk 100 Tahun Chairil Anwar Tahun 2022, Penerima penghargaan ‘’Tokoh Inspirator Pengembangan Budaya Daerah Banyuwangi’’ dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2011. Penerima penghargaan ‘’Tokoh Pendorong Perkembangan Sastra Indonesia Modern di Banyuwangi’’ dari Hasnan Singodimayan Centre pada 2012. Karya puisinya sudah diterbitkan dalam empat buku antologi puisi tunggal. Yakni, Jarang Goyang (2009), Haiku Sunrise of Java (2011), Selingkar Pedang Jalan Pulang (2018), Ribang Kala Aksa (2020), Rahim Suci Bunda Sri Tanjung (2022), dan Yo Mung (2025). Beralamat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, Gedung Grha Pena Banyuwangi, Jalan Brawijaya 77, Kebalenan, Banyuwangi, Jatim, WA +62 812496 1975.





