Di Antara Modernitas dan Tradisi: Pembacaan Kota dalam YUTFest 2026

Oleh : Fitri Bima Asih*

Di tengah laju perkembangan kota yang semakin cepat, seni pertunjukan sering kali hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai ruang untuk membaca ulang kehidupan manusia. Kota-kota modern tumbuh dengan gedung tinggi, pusat ekonomi, jalan yang padat, dan ritme hidup yang bergerak nyaris tanpa jeda. Namun di balik perkembangan itu, muncul pertanyaan yang jarang disadari: apakah manusia masih memiliki ruang untuk mengenali dirinya sendiri di tengah arus modernitas yang terus menekan?

Pertanyaan semacam inilah yang menjadi salah satu napas utama dalam pelaksanaan Yogyakarta Urban Teater Festival (YUTFest) 2026 yang digelar oleh Taman Budaya Yogyakarta. Festival yang berlangsung pada 6–8 Mei 2026 di Gedung Concert Hall TBY tersebut menjadi salah satu ruang penting bagi para seniman teater untuk membaca fenomena sosial yang terjadi di Yogyakarta hari ini.

Mengusung tema “Pembacaan Atas Kota”, YUTFest 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan teater sebagai tontonan artistik, tetapi juga sebagai medium refleksi sosial. Kota dipahami bukan hanya sebagai wilayah fisik yang dipenuhi bangunan dan kendaraan, melainkan sebagai ruang hidup tempat manusia berhadapan dengan perubahan budaya, pergeseran nilai, hingga krisis identitas.

Tahun ini menjadi momentum penting bagi festival tersebut karena untuk pertama kalinya nama Gelar Teater Linimasa resmi berubah menjadi Yogyakarta Urban Teater Festival. Perubahan ini bukan hanya pergantian istilah, melainkan bagian dari transformasi konsep festival yang lebih luas. Dukungan pendanaan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik BOP Museum dan Taman Budaya membuka peluang bagi penyelenggara untuk memperluas pendekatan artistik dan memperkuat gagasan kuratorial festival.

Kepala TBY, Purwiati, menjelaskan bahwa festival tahun ini dirancang dengan sistem seleksi yang lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dari 25 proposal kelompok teater yang masuk, hanya enam kelompok yang terpilih untuk tampil di panggung utama festival. Pemilihan tersebut didasarkan pada kekuatan gagasan, relevansi isu yang diangkat, hingga keberanian eksplorasi artistik yang ditawarkan masing-masing kelompok.

Langkah kuratorial yang lebih selektif ini menunjukkan bahwa festival teater hari ini tidak lagi hanya menilai pertunjukan dari sisi estetika semata. Teater mulai dipandang sebagai bagian dari praktik intelektual dan sosial yang mampu membaca perubahan masyarakat secara lebih dalam.

Kurator festival, Elyandra Widharta, menyebut bahwa istilah “urban” dalam festival ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kehidupan kota modern. Urban dipahami sebagai situasi sosial yang memengaruhi cara manusia hidup, berpikir, dan berinteraksi. Dalam konteks Yogyakarta, urbanitas tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik kota, tetapi juga dari perubahan pola hidup masyarakatnya.

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota budaya yang memiliki akar tradisi kuat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kota ini juga mengalami pertumbuhan urban yang pesat. Ruang-ruang publik berubah fungsi, kawasan budaya mulai berhadapan dengan industri pariwisata, dan masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi yang semakin kompleks. Situasi tersebut melahirkan berbagai kegelisahan sosial yang kemudian diterjemahkan oleh para seniman melalui bahasa pertunjukan.

“Teater menjadi cara untuk membaca ulang realitas. Ia tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menawarkan sudut pandang baru terhadap kehidupan sehari-hari,” ujar Elyandra.

Dari enam kelompok yang tampil dalam festival tersebut, salah satu karya yang paling menarik perhatian hadir pada hari terakhir pelaksanaan festival, Jumat, 8 Mei 2026. Kelompok Mendak Creativ membawakan pertunjukan bertajuk Bayang yang Berjalan, sebuah karya teater kontemporer yang menggabungkan simbol-simbol tradisi dengan persoalan kehidupan urban masa kini.

Pertunjukan ini disutradarai oleh Fitri Bima Asih, seorang dalang perempuan kelahiran Gunungkidul, 30 Januari 1998. Kehadiran Fitri dalam YUTFest 2026 menjadi menarik karena ia tidak hanya bertindak sebagai sutradara, tetapi juga tampil langsung sebagai aktor di atas panggung. Dalam pertunjukan tersebut, ia membawa latar tradisi wayang ke dalam pendekatan teater kontemporer yang lebih eksperimental dan simbolik.

Di tengah dunia seni pertunjukan modern, pilihan menggunakan wayang sebagai elemen utama bukanlah sesuatu yang sederhana. Wayang selama ini identik dengan tradisi klasik Jawa yang sarat pakem dan nilai filosofis. Namun dalam Bayang yang Berjalan, wayang tidak dihadirkan sebagai bentuk nostalgia budaya semata. Ia diposisikan sebagai simbol yang hidup dan masih memiliki relevansi terhadap kehidupan manusia modern hari ini.

Fitri melihat Yogyakarta sebagai kota yang sedang berada di antara dua dunia. Di satu sisi, kota ini terus berkembang menuju modernitas dengan segala kemajuan teknologi, ekonomi, dan industri kreatif. Namun di sisi lain, Yogyakarta juga masih menyimpan jejak tradisi yang begitu kuat. Dua situasi tersebut sering kali berjalan beriringan, tetapi juga menciptakan ketegangan yang tidak selalu disadari masyarakat.

Kegelisahan itu kemudian diterjemahkan ke dalam pertunjukan Bayang yang Berjalan. Wayang hadir sebagai metafora masa lalu yang terus mengikuti langkah kehidupan manusia modern. Bayangan-bayangan tradisi muncul di tengah tubuh manusia urban yang sibuk bergerak mengejar ritme zaman.

Dalam pertunjukan tersebut, tubuh aktor menjadi ruang pertarungan antara kesadaran personal dan tekanan sistem sosial. Gerak tubuh yang repetitif, ritme visual yang intens, serta penggunaan simbol-simbol wayang menciptakan suasana yang puitis sekaligus mencekam. Penonton diajak memasuki dunia yang terasa akrab, tetapi sekaligus menghadirkan keganjilan.

Melalui karya ini, Fitri ingin menunjukkan bahwa manusia modern sering kali hidup dalam keadaan yang terasing dari dirinya sendiri. Kehidupan urban membuat manusia terjebak dalam rutinitas yang berjalan terus-menerus tanpa sempat mempertanyakan makna hidup yang dijalani. Teknologi, pekerjaan, media sosial, dan tuntutan ekonomi perlahan membentuk sistem yang mengendalikan kesadaran manusia secara tidak langsung.

Situasi tersebut sebenarnya menjadi fenomena sosial yang banyak dibahas dalam kajian masyarakat modern. Dalam kehidupan urban, manusia cenderung mengalami percepatan ritme hidup yang berdampak pada cara mereka membangun relasi sosial maupun memahami identitas dirinya sendiri. Manusia dipaksa terus produktif, terus bergerak, dan terus mengikuti perkembangan zaman. Akibatnya, ruang refleksi menjadi semakin sempit.

Kondisi itu tergambar kuat dalam Bayang yang Berjalan. Pertunjukan ini tidak menawarkan alur cerita linear yang mudah ditebak. Sebaliknya, ia bekerja melalui atmosfer, simbol, dan pengalaman visual. Penonton tidak diberi jawaban pasti mengenai siapa tokoh utama atau bagaimana akhir cerita berlangsung. Semua dibiarkan terbuka agar penonton dapat membangun tafsirnya masing-masing.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bagaimana teater kontemporer hari ini bergerak melampaui fungsi naratif tradisional. Teater tidak lagi hanya berfokus pada cerita yang utuh, tetapi juga pada pengalaman emosional dan kesadaran penonton selama menyaksikan pertunjukan.

Kehadiran Fitri sebagai dalang perempuan juga memberi dimensi penting dalam pembacaan karya ini. Dunia pedalangan selama bertahun-tahun identik dengan dominasi laki-laki. Namun generasi baru seniman seperti Fitri menunjukkan bahwa tradisi dapat dibaca ulang melalui perspektif yang lebih terbuka dan inklusif.

Ia tidak menempatkan wayang sebagai benda museum yang hanya dijaga bentuknya, melainkan sebagai medium yang bisa berdialog dengan persoalan kontemporer. Dalam tangannya, wayang berubah menjadi simbol sosial yang hidup, bergerak, dan mampu berbicara tentang kegelisahan manusia modern.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa generasi muda seniman Yogyakarta hari ini tidak lagi melihat tradisi sebagai sesuatu yang harus dipertahankan secara kaku. Tradisi justru dipahami sebagai sumber gagasan yang dapat terus dikembangkan sesuai konteks zaman. Cara pandang semacam ini penting karena membuat kebudayaan tetap hidup dan relevan dengan masyarakatnya.

YUTFest 2026 pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar festival seni pertunjukan. Ia menjelma ruang dialog antara tradisi dan modernitas, antara tubuh manusia dan kota, antara masa lalu dan masa kini. Festival ini menunjukkan bahwa teater masih memiliki kekuatan untuk membaca perubahan sosial secara mendalam.

Di tengah kehidupan yang semakin digital dan serba cepat, teater menghadirkan pengalaman yang berbeda: perjumpaan langsung antara manusia dengan manusia lainnya. Panggung menjadi ruang untuk merasakan ulang emosi, kegelisahan, bahkan kesadaran yang selama ini tertutup oleh rutinitas sehari-hari.

Melalui karya seperti Bayang yang Berjalan, publik diajak melihat bahwa perkembangan kota tidak selalu identik dengan kemajuan yang utuh. Di balik modernitas, ada manusia yang perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Ada tradisi yang masih berjalan diam-diam mengikuti kehidupan masa kini. Dan ada kesadaran yang mungkin mulai memudar di tengah sistem kehidupan yang terus bergerak tanpa henti.

Ketika lampu panggung padam dan pertunjukan selesai, pertanyaan yang ditinggalkan karya ini justru terasa semakin kuat: apakah manusia modern hari ini benar-benar berjalan menuju kehidupan yang lebih sadar, atau sebenarnya hanya sedang menjadi bayangan yang terus bergerak mengikuti arah zaman?

 

*Fitri Bima Asih – Mahasiswa Program Pascasarjana Seni ISI Yogyakarta Jurusan Tata Kelola Seni