Ketika Homerus Berjumpa Walmiki dan Abiyasa dalam “The Odyssey”
Oleh Agus Dermawan T.
Film monumental dan laris, The Odyssey, sangat menarik dicermati. Apalagi ketika dalam kisah Yunani kuno ini ada sejumlah adegan sangat mirip dengan Ramayana dan Mahabharata.
————
FILM The Odyssey beredar pada tengah Juli 2026. Film hebat yang digarap oleh Christhoper Nolan, 56 tahun, sutradara film Oppenheimer (2024) sang pemenang Oscar. Film Odyssey diisi peran apik Matt Damon (sebagai Odisseus), Tom Holland (Telemachus), Anne Hathaway (Penelope), Lupita Nyong’o (Helena), dan Zendaya (Athena).
Durasi film ini 172 menit. Panjang memang. Namun terhitung sangat pendek apabila dibanding naskah aslinya yang membutuhkan waktu baca normal 9 jam.

Homerus, penyair abad ke-8 SM, yang diyakini sebagai pengarang cerita Odyssey dan Iliad. (Foto: Dokumen).
Odyssey adalah epos Yunani Kuno abad ke-13 SM. Pengarang mahacerita dalam bentuk puisi ini pernah sangat lama tidak diketahui. Meski pada abad ke-19 mulai diyakini bahwa itu karya Homerus, penyair buta yang hidup pada abad ke-8 SM. Dan semakin dipercaya ketika arkeolog Jerman Heinrich Schliemann memberi bukti. Walaupun kemudian – seperti ditulis National Geographic – dikoreksi oleh sejarawan Adam Nicolson. Sehingga dikatakan bahwa nama Homerus hanyalah fiktif. Nama itu sekadar label agar kisahOdyssey mempunyai pemilik.
Termasuk episode awalnya : Iliad. Cerita seru ihwal si cantik Helena, isteri Raja Menelaus dari Sparta yang diculik dan akan diperisteri oleh Paris, pangeran Kerajaan Troy, atau Troya.
Di luar urusan siapa pengarangnya, Odyssey mengisahkan patriot Yunani, Odisseus. Raja dari Ithaca ini berhasil meluluh lantakkan Kerajaan Troya lewat pertempuran brutal dan penuh siasat, yang dikenal sebagai Perang Kuda Troya, bagai tertulis dalam kisah Iliad itu. Dalam peperangan ini Odisseus secara kasar menebas leher patung Athena, dewi agung Yunani.
Usai memenangi perang Odisseus tidak segera pulang ke Yunani, namun mengembara bersama pasukannya. Tujuannya, enurut satu versi: mencari dan mengagresi wilayah baru yang bisa dikuasai, untuk kemudian disatukan dalam Kerajaan Yunani Raya. (Perilaku yang lalu ditiru oleh Raja Makedonia Alexander Agung pada 350 SM, dan berusaha diadopsi secara serampangan oleh Presiden Donald Trump pada abad ke-21).
Namun Odisseus lupa bahwa setelah menebas leher patung Athena ia sesungguhnya telah dikutuk para dewa. Sementara hasratnya untuk mengagresi negeri orang juga tanpa persetujuan para penguasa semesta. Pengembaraan itu pun mendapat hambatan luar biasa.
Ketika di darat, Odisseus dan pasukannya menderita kelaparan. Mereka lantas membunuh satwa apa saja untuk dimakan. Odisseus kalang kabut, sehingga menusuk satu-satunya mata Polyphemus, sehingga putera Dewa Poseidon ini menjadi buta. Poseidon yang murka lantas menurunkan badai laut tiada tara.
Masuknya Ramayana
Pada suatu kali pasukan lapar Odisseus mendarat di Aerare. Di pulau kosong itu pasukan Odisseus diberi makan dan kemudian disihir jadi babi oleh Circe (Samantha Morton), yang ternyata emak-emak misterius suruhan para dewa. Sementara Odisseus dipancing agar terpisah dari pasukan lewat kijang kencana jinak merpati. Kijang itu berusaha ditangkap oleh Odisseus. Tapi kijang terus berlari menjauh. Sampai akhirnya kijang terbunuh oleh anak panah. Odisseus terperanjat ketika melihat kijang yang mati itu menjelma jadi manusia. Tak dijelaskan, manusia jelmaan kijang ini dari mana, apa dan suruhan siapa.

Matt Damon sebagai Odisseus dalam film The Odyssey, 2026. (Foto : Universal Studio’s)
Sampai di sini penonton yang memahami kisah Ramayana akan terpana. Lantaran adegan itu mirip benar dengan cerita kijang dalam mahakarya Hindu gubahan Walmiki tahun 300 SM itu.
Dalam Ramayana diceritakan bahwa pada suatu hari Sri Rama, Dewi Sinta dan Laksmana bertamasya. Di tepian hutan Dandaka Sinta melihat kijang kencana yang cantik. Ia minta kepada Rama untuk menangkap, agar kemudian bisa dibawa ke istana. Rama menuruti permintaan. Kijang terus diburu. Namun si kijang dengan langkah menggoda lari selalu. Sampai akhirnya Rama emosi. Kijang itu dipanah, dan kena. Kijang merintih, tergeletak di tanah dan…. menjelma jadi sesosok raksasa. Ternyata si raksasa adalah Kala Marica, paman dan sekaligus patih Rahwana dari Kerajaan Alengka. Kala Marica memang disuruh Rahwana agar menyamar jadi kijang untuk memancing Rama. Tujuannya supaya Rahwana, yang menyamar sebagai kakek tua, bisa menculik Sinta dengan leluasa.
Pertanyaannya, apakah Christhoper Nolan menyisipkan unsur Ramayana dalam Odysseynya? Atau Walmiki dahulu kala menyontek karangan Homerus? Atau penyadur dan penafsir cerita yang menyelipkan adegan Ramayana dalam karya literer Homerus? Kita boleh menduga-duga.
Sayembara busur panah
Kembali ke film. Akhirnya Odisseus sampai juga ke Ithaca. Di kerajaan ini Penelope, isteri Odisseus, sedang “dikepung” oleh para pelamar, yang mengingini kecantikannya dan kerajaannya. Odisseus yang menyamar sebagai pengemis menyelidiki kesetiaan Penelope. Ia lantas bertemu dengan puteranya, Telemachus, yang tidak mengenalinya, karena ditinggal sejak bayi. Telemachus diminta untuk menggelar kompetisi memasang tali busur, dan sekalian kompetisi memanah dengan busur itu. Yang dipakai adalah busur yang selama ini disimpan oleh Penelope, yang tak lain adalah busur milik Odisseus.
Para pelamar yang sebagian besar sangar itu berkompetisi. Tak ada satu pun yang kuat memasang tali. Sampai akhirnya si pengemis maju, dengan dorongan lelaki tua buta bernama Eumaeus (John Leguizamo). Di tengah olok-olok dan hinaan, si pengemis, atau Odisseus, berhasil memasang tali dan memanah tepat sasaran. Istana pun gaduh, gempar dan terjadilah kerusuhan.
Sampai di sini, mereka yang faham kisah Mahabharata akan terperenyak. Bukankah adegan itu sangat mirip dengan episode “Sayembara Keahlian Senjata Para Pengeran Kuru?”
Dalam Mahabharata ciptaan Bagawan Abiyasa abad ke-4 M itu dikisahkan bahwa Drupadi yang cantik jelita sedang diperebutkan banyak pangeran. Ayah Drupadi, Prabu Drupada, Raja Kerajaan Panchala, berinisiatif menggelar sayembara mengangkat busur panah bernama Gandhiwa yang bukan main beratnya. Siapa yang bisa mengangkat busur, dan sekalian membidikkan panah ke sasaran, adalah yang berhak atas Drupadi.
Para pangeran dari segala penjuru ikut sayembara. Begitu pula para murid Pendeta Durna dari kelompok Dinasti Kuru, atau Kurawa dan Pandawa. Tak ada yang kuat mengangkat busur itu, kecuali Karna. Namun Karna buru-buru didiskualifikasi karena persoalan kasta. Arjuna tahu situasi dan keharusan pengastaan itu. Ia lalu menyamar menjadi brahmana, kasta utama. Busur itu lantas diangkat dengan mudah, dan panah diluncurkan tepat sasaran. Drupadi pun jadi isterinya. Heit, dalam Mahabharata juga ada lelaki tua buta yang bernama Destarata.
Pertanyaannya, adakah Christopher Nolan sengaja memetik adegan wiracerita Mahabrahata itu untuk penutup film Odyssey? Atau memang ada kesamaan antara Odyssey dan Mahabharata? Atau Mahabharata yang tercipta jauh abad setelah Odyssey, yang meniru? Masih dicari jawabannya.

Lukisan legendaris Picasso, Guernica, 1938. Dipengaruhi bentuk-bentuk lukisan Peter Paul Rubens. (Foto: Agus Dermawan T).

Lukisan Peter Paul Rubens, Consequences of War, ciptaan 1638-1639, yang mempengaruhi lukisan Guernica Picasso. (Foto : Agus Dermawan T)
Reminiscence atau peniruan?
Namun bahwa karya seni besar bisa terpengaruh karya besar, atau karya seni populer meniru karya yang sudah populer, adalah biasa. Para ahli menghaluskan fenomena ini dengan sebutan reminiscence, mengulang yang teringat dari masa silam. Sengaja atau tak sengaja.
Contoh. Kita tahu Guernica adikarya Picasso tahun 1938 itu mengambil unsur-unsur utama lukisan Peter Paul Rubens, Consequences of War, bikinan 1638-1639. Pokok dari lukisan Guernica, yakni orang terkapar pada sisi kiri bawah, anak dan ibu menjerit, serta gambaran orang berteriak sambil mengangkat tangan di sisi kanan atas, adalah gestur milik Rubens. Meski digubah dalam beda gaya oleh Picasso.
Karya seni rupa kontemporer populer Agapethus A.Kristiandana, Baik Boeroek Tanah Airkoe (2008) adalah “meniru” karya seni rupa fotomontasi seniman Belanda Timm Ulrichs, Europe op de stier (Eropa dalam pundak kejayaan), 1970-1972. Timm melukis peta Eropa Barat dengan warna hitam di tubuh sapi gemuk yang berkulit putih. Sementara Agapethus melukis peta Indonesia dalam warna merah di kulit sapi berwarna putih.

Patung Baek Boeroek Tanah Aerkoe karya Agapethus A. Kristiandana (2008). Sapi dengan belang peta Indonesia. (Foto: Agus Dermawan T).

Seni grafik karya Timm Ulrichs dari Jerman, Europe op de stier” ciptaan 1970-1972. Sapi dengan belang peta Eropa. (Foto: Agus Dermawan T)
Pengaruh mempengaruhi, comot mencomot, peniruan gaya (pastiche) dan plagiarisme agaknya merupakan simpang siur yang niscaya dalam penciptaan seni dunia. Apalagi dalam dunia film yang memposisikan penulis cerita dan sutradara sebagai penafsir, dengan berlindung di bawah kata: diilhami, dikembangkan atau diinspirasi. *
*Agus Dermawan T. Kritikus seni, penulis buku, yang suka nonton film.




